Meski akhirnya Maria mendapatkan mukena yang dicari, tapi Joseph masih saja menertawakan kejadian tadi. Maria yang sedang menikmati es buah, hanya bisa pasrah melihat kelakuan sahabatnya.

Maria menatap kain putih panjang yang terbentang di lantai dengan wajah pucat. Dua tali rafia dan beberapa paku kecil terjatuh dari lipatannya, menimbulkan bunyi tipis yang terasa menyeramkan di tengah rumah kayu yang mendadak sepi.

Anak-anak yang tadi mengerubunginya langsung mundur.

“Kak,” bisik seorang bocah laki-laki, “itu kain kafan, ya?”

Maria menelan ludah. “Bukan. Ini… dekorasi minimalis.”

“Tapi mirip pocong.”

“Jangan ngomong gitu, Dek. Kakak baru belajar agama, belum siap ketemu makhluk dari alam lain.”

Belum selesai ia bicara, angin bertiup dari jendela terbuka. Salah satu ujung kain putih terangkat dan menyapu bahunya. Maria menjerit, melompat mundur, lalu menabrak tumpukan kardus berisi sembako.

Anak-anak berhamburan sambil berteriak, “Pocong! Pocong!”

Suasana basecamp yang semula tenang berubah kacau. Beberapa ibu berlari masuk sambil membawa sendok sayur dan sapu lidi. Nisa datang paling depan dengan wajah panik.

“Ada apa?”

Maria menunjuk kain di lantai. “Mas Fattah ngasih gue ini. Katanya gamis!”

Nisa mengamati kain, tali, serta paku yang berserakan. Beberapa detik kemudian ia menutup mulut, menahan tawa.

“Ini kain latar panggung, Mar.”

Maria memejamkan mata. “Jadi gue barusan takut sama background pengajian?”

Sebelum Nisa menjawab, seorang bapak bertubuh besar berlari dari arah balai desa sambil membawa gamis merah muda.

“Alhamdulillah, ketemu juga!” katanya terengah-engah. “Berarti plastiknya tertukar.”

Fattah muncul beberapa langkah di belakangnya. Begitu melihat gamis di tangan bapak itu dan kain putih di dekat Maria, ekspresinya langsung berubah.

“Ya Allah,” gumamnya. “Saya salah ambil plastik.”

Maria menyilangkan tangan di dada. “Mas Fattah hampir bikin saya viral. Mualaf baru datang ke desa, langsung cosplay jadi pocong.”

Beberapa orang tertawa. Fattah menunduk, malu sekaligus merasa bersalah.

“Maaf. Plastiknya sama-sama bening dan tadi diletakkan berdampingan.”

Bapak yang membawa gamis segera menyerahkannya kepada Maria. “Ini pasti punya Mbak. Kalau kain itu memang untuk latar panggung nanti sore.”

Maria menerima gamis merah muda tersebut, lalu menatap Fattah yang masih tampak kikuk.

“Jadi ini beneran buat saya?”

Fattah mengangguk. “Beneran. Kalau ukurannya tidak pas, mungkin bisa ditukar.”

Senyum Maria kembali mengembang. “Saya maafin, tapi ada syaratnya.”

“Apa?”

“Nanti bantu pasang kain ini. Saya trauma pegang tali sama paku.”

Fattah tertawa kecil. “Baik.”

Sejak kejadian itu, suasana di antara mereka terasa lebih cair. Maria tak lagi terlalu canggung setiap kali Fattah mendekat. Bahkan saat pembagian sembako dimulai, Fattah beberapa kali membantunya mengangkat kardus dan mengarahkan warga agar antre dengan tertib.

Namun, dari kejauhan, Nisa memperhatikan keduanya dengan sorot mata yang sulit ditebak.

Menjelang sore, hujan turun deras. Acara pengajian yang semula akan dilakukan di lapangan terpaksa dipindahkan ke balai desa. Semua orang sibuk mengangkut tikar, pengeras suara, serta bahan makanan. Maria yang belum terbiasa dengan kondisi jalan berlumpur beberapa kali hampir terpeleset.

Saat membawa dua dus air mineral, sandalnya benar-benar kehilangan pijakan. Tubuhnya terhuyung ke samping.

Sebuah tangan segera menahan lengannya.

“Hati-hati.”

Maria menoleh. Fattah berdiri sangat dekat, satu tangannya memegang dus, sedangkan tangan lain masih menopang siku Maria.

Untuk beberapa detik, suara hujan seakan menghilang.

“Terima kasih,” ucap Maria pelan.

Fattah segera melepaskan tangannya. “Jalannya licin.”

Dari balik jendela balai desa, Nisa menyaksikan kejadian itu. Ia menghela napas panjang, lalu memalingkan wajah.

Malam harinya, setelah pengajian selesai, warga menyiapkan makan bersama. Maria duduk di samping Nisa sambil menikmati nasi hangat dan ayam kecap. Ia berkali-kali melirik gamis merah muda yang masih tersimpan rapi dalam plastik di dekat tasnya.

“Seneng banget dapet gamis dari Mas Fattah?” tanya Nisa.

Maria tersenyum lebar. “Lumayan. Baru pertama kali ada cowok beliin gue baju.”

“Joseph sering beliin lo barang.”

“Joseph beda.”

“Bedanya apa?”

Maria berhenti mengunyah. “Dia sahabat gue.”

Nisa menatapnya lama. “Yakin cuma sahabat?”

Maria mengernyit. “Kenapa lo nanya begitu?”

“Enggak apa-apa.”

Namun nada suara Nisa terdengar dingin. Maria menyadarinya, tetapi memilih tidak membahas lebih jauh karena melihat orang-orang di sekitar mereka.

Perjalanan pulang dimulai setelah pukul sembilan malam. Hujan masih turun, meski tidak sederas sebelumnya. Lampu dalam bus dipadamkan agar para penumpang bisa beristirahat. Maria duduk di dekat jendela sambil memeluk tas dan plastik berisi gamis.

Ponselnya bergetar.

Pesan dari Joseph masuk.

Udah pulang belum, pocong?

Maria langsung tersenyum. Entah dari mana Joseph mengetahui kejadian kain putih itu. Kemungkinan besar Nisa sempat mengunggah videonya ke grup.

Belum. Masih di bus. Dan gue bukan pocong.

Joseph membalas dengan foto Kumis, kucing belang peliharaan kedai, yang sedang dibungkus handuk putih.

Saingan lo.

Maria menahan tawa agar tidak membangunkan penumpang lain.

Lo masih di kedai?

Iya. Tunggu kabar lo sampai rumah.

Senyum Maria perlahan memudar. Ia menatap tulisan itu lebih lama dari biasanya. Joseph memang selalu begitu. Ia tidak pernah banyak bertanya, tetapi selalu memastikan Maria aman.

“Masih chat sama Joseph?” suara Nisa muncul dari samping.

Maria mematikan layar ponsel. “Iya.”

“Dia baik banget sama lo.”

“Emang.”

“Terus kenapa lo enggak pernah mikirin perasaannya?”

Pertanyaan itu membuat Maria terdiam.

“Maksud lo?”

Nisa menatap lurus ke depan. “Semua orang bisa lihat Joseph suka sama lo. Cuma lo yang pura-pura enggak tahu.”

Maria menurunkan suaranya. “Dia enggak pernah bilang apa-apa.”

“Karena dia tahu lo suka Mas Fattah.”

Maria merasa tidak nyaman. “Nis, kenapa lo tiba-tiba ngomongin ini?”

Nisa meremas ujung kerudungnya. “Karena gue capek lihat kalian.”

“Kalian siapa?”

“Lo dan Mas Fattah.”

Maria menoleh penuh tanda tanya. Dalam cahaya redup bus, wajah Nisa terlihat tegang.

“Gue kenal Mas Fattah lebih dulu,” lanjut Nisa. “Keluarga kami juga sudah bicara soal perjodohan.”

Jantung Maria seperti jatuh.

“Perjodohan?”

Nisa mengangguk. “Belum resmi. Mas Fattah juga belum kasih jawaban. Tapi sejak lo datang, dia jadi sering nanya tentang lo.”

Maria tidak tahu harus menjawab apa. Rasa senang yang tadi memenuhi dadanya mendadak berubah menjadi rasa bersalah.

“Gue enggak tahu, Nis.”

“Sekarang lo tahu.”

Sepanjang perjalanan selanjutnya, mereka tidak lagi berbicara.

Bus tiba di halaman masjid hampir tengah malam. Satu per satu peserta dijemput keluarganya. Maria berdiri di bawah kanopi, memeluk tas sambil menunggu kendaraan daring yang ia pesan.

Fattah menghampirinya.

“Belum dijemput?”

“Saya pesan motor.”

“Malam-malam begini kurang aman. Saya antar saja.”

Sebelum Maria menjawab, Nisa muncul dan langsung berkata, “Ayahku sudah datang, Mas. Kita satu arah.”

Fattah terlihat bimbang. Maria segera mengangkat ponselnya.

“Enggak apa-apa, Mas. Driver saya sebentar lagi sampai.”

Nisa lalu berjalan menuju mobil bersama Fattah. Sebelum masuk, Fattah sempat menoleh ke arah Maria, tetapi gadis itu pura-pura sibuk melihat layar ponselnya.

Lima belas menit berlalu. Pengemudi yang dipesannya membatalkan perjalanan. Halaman masjid semakin sepi. Hanya tersisa petugas kebersihan yang sedang mengunci pintu.

Maria mencoba memesan kendaraan lain, tetapi tidak ada yang menerima.

Tiba-tiba sebuah sepeda motor berhenti di depannya. Joseph membuka helm, napasnya memburu.

“Naik.”

Maria membelalakkan mata. “Lo ngapain di sini?”

“Gue lihat lokasi yang lo kirim masih belum bergerak. Gue telepon enggak diangkat.”

“HP gue mode senyap.”

Joseph turun dan menyerahkan helm cadangan. “Ayo. Udah malam.”

Maria tidak langsung bergerak. Semua emosi yang ia tahan sejak di dalam bus mendadak terasa menyesakkan. Ia menunduk, mencoba menyembunyikan mata yang mulai panas.

Joseph memperhatikan wajahnya. “Ada apa?”

“Enggak ada.”

“Maria.”

Satu kata itu cukup membuat pertahanannya runtuh.

“Kenapa semua jadi ribet, sih?” suaranya bergetar. “Gue baru pengin belajar agama dengan tenang. Baru pengin punya hidup yang gue pilih sendiri. Tapi nyokap gue belum tahu, keluarga gue pasti marah, sekarang gue malah bikin orang lain sakit hati.”

Joseph tidak langsung bertanya. Ia hanya berdiri di sampingnya, membiarkan Maria mengeluarkan semua yang selama ini disimpan.

Maria kemudian menceritakan tentang Nisa, perjodohan Fattah, dan rasa bersalahnya. Joseph mendengarkan tanpa menyela.

Setelah selesai, Maria mengusap air matanya. “Lo juga tahu, kan? Kalau gue suka Mas Fattah.”

Joseph tersenyum tipis. “Tahu.”

“Terus kenapa lo tetap baik sama gue?”

“Karena orang berbuat baik enggak selalu harus dibayar dengan perasaan yang sama.”

Jawaban itu membuat Maria semakin sedih.

Joseph mengenakan helmnya. “Pulang dulu. Besok baru mikirin masalah dunia.”

Dalam perjalanan, Maria duduk diam di belakang Joseph. Tangannya tidak memeluk pinggang sahabatnya, hanya mencengkeram sisi jaket agar tidak jatuh. Namun untuk pertama kalinya, ia menyadari betapa sering Joseph hadir di saat semua orang lain pergi.

Saat tiba di rumah, lampu ruang tamu masih menyala.

Maria turun dari motor dan langsung membeku ketika melihat sosok mamanya berdiri di ambang pintu. Wajah wanita itu tampak pucat, matanya bergantian menatap jilbab Maria, gamis dalam plastik, lalu Joseph.

“Masuk,” katanya singkat.

Joseph hendak pergi, tetapi mama Maria menghentikannya.

“Kamu juga.”

Di ruang tamu, udara terasa lebih dingin daripada hujan di luar. Mama Maria meletakkan sebuah mukena putih di atas meja. Mukena yang sebelumnya dititipkan Joseph untuk kegiatan sosial, tetapi ternyata tertukar dan ikut terbawa pulang oleh Maria.

“Tante menemukan ini di kamar Maria,” ucapnya. “Tante juga melihat fotomu di media sosial masjid.”

Maria menunduk. Tangannya gemetar.

“Mama, aku bisa jelasin.”

“Sejak kapan?”

Maria menarik napas. “Hampir satu tahun.”

Wajah mamanya menegang. “Satu tahun kamu membohongi Mama?”

“Aku takut.”

“Kamu tahu apa yang pernah terjadi pada keluarga kita karena masalah ini!”

“Aku tahu. Tapi ini keputusan aku.”

Suara Maria pecah, tetapi ia tidak mundur. Untuk pertama kalinya, ia berani menatap mata mamanya secara langsung.

“Aku enggak pindah agama karena siapa-siapa. Bukan karena Mas Fattah, bukan karena Joseph, bukan karena teman-teman. Aku memilih karena aku merasa tenang ketika menjalaninya.”

Mamanya berdiri, lalu berjalan masuk ke kamar tanpa berkata apa pun.

Maria menutup wajahnya. “Dia pasti benci sama gue.”

Joseph masih duduk diam. “Kasih waktu.”

Beberapa menit kemudian, mama Maria kembali membawa sebuah kotak kayu tua. Ia meletakkannya di meja, lalu membuka tutupnya.

Di dalamnya terdapat sebuah Al-Qur’an kecil yang sudah menguning, beberapa surat lama, dan sebuah foto papa Maria ketika masih muda.

Maria menatap semua itu dengan bingung.

“Mama bukan marah karena kamu menjadi mualaf,” ujar wanita itu pelan. “Mama marah karena kamu merasa harus menyembunyikannya.”

Maria terpaku.

Mamanya mengambil salah satu surat. “Papamu tidak pernah meninggalkan keluarga karena agama. Dia pergi karena Mama yang mengusirnya. Bertahun-tahun Mama bilang pada semua orang bahwa dia memilih agama daripada kita. Padahal sebenarnya Mama yang tidak pernah memberinya kesempatan menjelaskan.”

Air mata mengalir di wajah wanita itu.

“Setelah dia meninggal, semua surat ini dikirimkan kepada Mama. Di surat terakhir, papamu menulis bahwa dia berharap suatu hari kamu mengenal Islam bukan lewat kebencian Mama, melainkan lewat pilihanmu sendiri.”

Maria menutup mulut, menahan tangis.

“Mama sudah tahu sejak tiga bulan lalu,” lanjut mamanya. “Mama datang ke kedai Joseph bukan untuk memastikan kamu masih pergi ke gereja. Mama ingin tahu apakah kamu menjalani pilihanmu dengan sungguh-sungguh.”

Maria menoleh kepada Joseph. Pemuda itu tampak sama terkejutnya.

“Kenapa Mama enggak langsung tanya?”

“Karena Mama takut mengulang kesalahan yang sama.”

Maria bangkit dan memeluk mamanya erat. Tangis keduanya pecah di ruang tamu sederhana itu.

Joseph berdiri perlahan, merasa momen itu bukan lagi tempatnya. Namun sebelum ia keluar, mama Maria memanggilnya.

“Joseph.”

Ia menoleh.

“Terima kasih sudah menjaga anak saya.”

Joseph tersenyum. “Maria juga banyak menjaga saya, Tante. Terutama dari pelanggan kedai yang suka ngutang.”

Maria tertawa di sela tangisnya.

Keesokan paginya, Maria menerima pesan dari Fattah. Ia menjelaskan bahwa dirinya telah menolak rencana perjodohan dengan Nisa sejak lama, tetapi keluarganya belum menyampaikan keputusan itu secara jelas. Fattah juga meminta maaf karena perhatian yang ia berikan membuat keadaan semakin rumit.

Maria membaca pesan tersebut berulang kali, lalu menatap gamis merah muda di atas tempat tidur.

Dulu, mungkin ia akan sangat bahagia menerima pengakuan itu. Namun setelah malam panjang yang mengubah hidupnya, perasaannya tidak lagi sama.

Ia membalas dengan tenang.

Terima kasih sudah jujur, Mas. Tapi saat ini saya ingin belajar menjadi diri saya sendiri dulu. Saya tidak mau menjadikan agama sebagai jalan menuju seseorang. Saya ingin menjalaninya karena keyakinan saya.

Setelah mengirim pesan, Maria mengenakan jilbab hitam pemberian Joseph. Bentuknya masih sedikit miring, tetapi ia tidak memperbaikinya terlalu lama.

Di kedai, Joseph sedang membuka pintu ketika Maria datang membawa dua bungkus cilok.

“Katanya kapan-kapan,” ujar Joseph. “Cepet banget.”

Maria menyerahkan satu bungkus kepadanya. “Gue banyak utang sama lo. Nyicil dulu.”

“Utang apaan?”

Maria tersenyum. “Utang karena lo selalu ada.”

Joseph terdiam.

Maria lalu menunjuk jilbabnya. “Cocok?”

“Agak miring.”

“Kurang ajar. Kemarin bilang cantik.”

“Cantik, tapi miring.”

Maria memukul lengannya pelan. Dari bawah meja, Kumis mengeong lalu berguling di dekat kaki mereka.

Joseph menunduk pada kucingnya. “Lihat, Mis. Manusia yang kemarin saingan sama lo akhirnya datang.”

Maria tertawa keras. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, tawanya tidak menutupi ketakutan atau kebingungan apa pun.

Di dalam tasnya tersimpan surat terakhir dari papanya. Pada bagian paling bawah, ada satu kalimat yang semalaman terus terngiang di kepalanya.

Keyakinan tidak seharusnya membuat kita kehilangan keluarga. Manusialah yang kadang menjadikannya alasan untuk berhenti saling memahami.

Maria belum tahu ke mana hidup akan membawanya. Ia juga belum tahu apakah suatu hari perasaannya kepada Joseph akan berubah menjadi sesuatu yang lebih dalam.

Namun pagi itu, sambil duduk di kedai sederhana, mengenakan jilbab hitam yang sedikit miring, dan memakan cilok bersama sahabat yang selalu menunggunya pulang, Maria akhirnya mengerti satu hal.

Kadang-kadang, yang tampak seperti kain kafan hanyalah dekorasi panggung yang tertukar. Dan yang selama ini dianggap sebagai akhir, ternyata hanyalah awal dari hidup yang baru.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang