“Gak bisa dibiarkan. Mereka pikir aku bodoh?”
Galih melangkah keluar dari balik pilar dengan napas memburu. Tangannya mengepal kuat, sementara Nabila mengikuti dari belakang dengan senyum tipis yang segera ia sembunyikan.
Namun sebelum Galih sempat mendekati mobil Eka, ponselnya berdering. Nama Dokter Prasetyo muncul di layar.
“Pak Galih, ada sedikit kendala administratif. Besok pagi semua pihak diminta hadir langsung untuk menerima hasil tes. Saya harap Bapak tidak mengambil tindakan apa pun sebelum hasil resmi keluar.”
Galih menatap mobil Eka yang mulai meninggalkan area rumah sakit.
“Kenapa harus besok? Kenapa tidak sekarang?”

“Pemeriksaan ini membutuhkan verifikasi berlapis. Saya tidak ingin ada pihak yang meragukan hasilnya.”
Galih melirik Sena yang berdiri di tepi parkiran, menunggu sampai mobil Eka benar-benar menghilang di tikungan. Dalam pandangan Galih yang sudah dipenuhi kecurigaan, sikap itu tampak seperti perhatian seorang suami kepada istrinya.
“Baik,” jawab Galih dingin. “Besok saya datang.”
Ia memutus sambungan tanpa mengucapkan terima kasih.
Nabila segera meraih lengannya. “Ayah jangan percaya begitu saja. Bisa jadi mereka sengaja minta waktu semalam untuk mengubah hasilnya.”
Galih menatapnya tajam. “Apa yang harus kita lakukan?”
Nabila berpura-pura berpikir. “Bila punya kenalan yang bekerja di bagian administrasi laboratorium. Mungkin kita bisa memastikan sampelnya tidak ditukar.”
Malam itu, Galih tidak bisa tidur. Ia mondar-mandir di ruang kerja sambil meminum kopi yang sudah dingin. Bayangan Cana terus memenuhi pikirannya.
Tiga tahun lalu, saat Eka melahirkan, Galih bahkan tidak mau menggendong bayi itu. Ia hanya berdiri di depan ruang bersalin dengan wajah kaku karena termakan fitnah Nabila, yang saat itu masih menjadi sekretaris pribadinya.
Nabila menunjukkan foto Eka sedang masuk ke sebuah hotel bersama Sena. Ia juga memperlihatkan percakapan yang seolah-olah membuktikan hubungan terlarang mereka.
Galih tidak pernah memeriksa kebenaran foto itu. Ia tidak bertanya mengapa Eka datang ke hotel. Ia tidak memberi kesempatan kepada istrinya menjelaskan.
Ia hanya percaya pada kemarahannya sendiri.
Sejak saat itu, setiap tangisan Cana terasa seperti gangguan. Setiap usaha gadis kecil itu mendekat dianggap sebagai sandiwara.
Pernah suatu malam Cana berlari membawa gambar keluarga yang dibuatnya di sekolah.
“Ayah, lihat. Ini Ayah, ini Mama, ini Cana.”
Galih hanya melirik sekilas.
“Jangan ganggu Ayah bekerja.”
Cana berdiri lama di depan pintu dengan kertas yang mulai kusut dalam genggamannya. Kemudian ia berjalan pergi sambil menahan tangis.
Sekarang ingatan itu datang kembali seperti pisau yang perlahan mengiris dadanya.
“Ayah belum tidur?”
Suara Nabila membuat Galih tersentak. Perempuan itu masuk membawa segelas susu hangat.
“Bila sudah menghubungi kenalan Bila. Dia bilang hasil tes baru akan dimasukkan ke sistem besok pagi.”
“Kamu yakin dia bisa dipercaya?”
“Tentu. Dia teman lama Bila.”
Padahal tidak ada teman lama. Nabila hanya menghubungi seorang petugas administrasi bernama Rian yang terlilit utang judi daring. Dengan uang dua puluh juta rupiah, lelaki itu bersedia memberikan akses ke ruang arsip laboratorium.
Rencana Nabila sederhana. Jika hasil tes menunjukkan Cana adalah anak kandung Galih, ia akan mengganti dokumen tersebut dengan hasil palsu.
Ia tidak bisa membiarkan Galih kembali kepada Eka.
Selama tiga tahun, Nabila telah menguasai rumah, rekening, dan hampir seluruh keputusan Galih. Yuri, putranya yang selama ini ia akui sebagai anak Galih, menjadi senjata terkuat untuk mempertahankan kedudukannya.
Namun ada satu rahasia yang tidak pernah diketahui Galih.
Yuri bukan anaknya.
Menjelang tengah malam, Nabila berpamitan dengan alasan hendak menemui ibunya yang mendadak sakit. Galih tidak curiga. Pikirannya terlalu kacau untuk memperhatikan perubahan wajah perempuan itu.
Di area belakang rumah sakit, Rian sudah menunggu di dekat pintu khusus pegawai.
“Cepat. Saya cuma punya waktu lima belas menit,” katanya gelisah.
Nabila mengenakan masker dan penutup kepala. Mereka berjalan melewati lorong sempit menuju ruang administrasi laboratorium.
Rian menyalakan komputer, lalu membuka data pemeriksaan.
Nama Galih Pratama muncul bersama nama Cana Azzahra.
Nabila menahan napas ketika membaca hasil awal.
Probabilitas hubungan biologis 99,9998 persen.
Cana adalah anak kandung Galih.
Wajah Nabila langsung pucat.
“Cetak hasilnya,” perintahnya.
Rian menekan beberapa tombol. “Hasil ini sudah dikunci dokter. Saya cuma bisa cetak salinannya. Tidak bisa mengubah data di sistem.”
“Kalau dokumen fisiknya?”
“Bisa diganti, tapi nanti dokter akan melihat data asli di komputer.”
Nabila menggertakkan gigi. “Hapus datanya.”
“Gila? Itu bisa dilacak.”
Nabila mengeluarkan amplop tebal dari tasnya. “Lima puluh juta lagi.”
Rian menelan ludah. Tangannya mulai bergerak di atas papan ketik.
Namun tiba-tiba lampu ruangan menyala terang.
“Jangan bergerak.”
Suara Sena terdengar dari ambang pintu.
Di belakangnya berdiri Dokter Prasetyo, dua petugas keamanan, dan seorang polisi berpakaian sipil.
Nabila membeku.
Rian langsung mengangkat kedua tangan. “Saya cuma disuruh, Dok. Saya tidak tahu apa-apa.”
Sena berjalan masuk dengan wajah yang jauh lebih dingin daripada biasanya.
“Saya sudah menduga akan ada yang mencoba menyentuh hasil tes ini.”
Nabila berusaha tertawa. “Mas Sena salah paham. Saya cuma ingin memastikan tidak ada manipulasi.”
“Dengan menyuap petugas dan mencoba menghapus data?” tanya Dokter Prasetyo.
“Itu fitnah.”
Polisi itu memperlihatkan ponsel milik Rian. Percakapan mereka tersimpan lengkap, termasuk jumlah uang dan instruksi Nabila.
Kaki Nabila terasa lemas.
Sena menatapnya tanpa belas kasihan. “Selama tiga tahun kamu menyebarkan kebohongan. Malam ini kamu mencoba melakukannya lagi.”
Nabila segera mencari jalan keluar. “Mas Sena menuduh saya karena ingin merebut Eka dari Galih.”
Sena tersenyum tipis, tetapi matanya dipenuhi luka.
“Saya tidak pernah merebut siapa pun. Malam ketika kamu memotret saya dan Eka di hotel, kami sedang menemui dokter spesialis dari Singapura. Eka saat itu baru tahu ada kelainan pada kehamilannya. Dia merahasiakannya karena ingin memberi kejutan kepada Galih setelah kondisi janinnya stabil.”
Nabila terdiam.
“Pertemuan itu diadakan di ruang konferensi hotel,” lanjut Sena. “Ada enam orang di sana. Kamu memotong foto agar terlihat seperti kami datang berdua.”
“Itu tidak membuktikan apa-apa.”
“Percakapan yang kamu tunjukkan kepada Galih juga sudah diperiksa ahli digital. Beberapa kalimat diedit, tanggalnya diubah, dan nama pengirimnya dipalsukan.”
Nabila mundur satu langkah.
Untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa perangkap malam itu bukan dibuat untuk hasil DNA Cana.
Perangkap itu dibuat untuk menangkap dirinya.
Keesokan paginya, ruang konsultasi rumah sakit dipenuhi ketegangan. Galih datang mengenakan kemeja hitam. Nabila tidak bersamanya.
Ia baru mengetahui dari pengacaranya bahwa Nabila ditahan karena percobaan manipulasi data medis, penyuapan, dan pemalsuan bukti digital.
Galih duduk sendirian ketika Eka masuk sambil menggandeng Cana. Sena berjalan beberapa langkah di belakang mereka.
Cana langsung memilih duduk di sebelah Sena.
Gerakan kecil itu membuat dada Galih terasa hancur.
Dokter Prasetyo membuka map putih di atas meja.
“Berdasarkan pemeriksaan terhadap sampel yang diambil dengan prosedur resmi dan disaksikan semua pihak, hasilnya menunjukkan bahwa Pak Galih adalah ayah biologis Cana dengan probabilitas 99,9998 persen.”
Ruangan mendadak sunyi.
Galih menatap lembaran itu tanpa berkedip.
“Apa?”
“Cana adalah anak kandung Bapak.”
Bibir Galih bergetar. Ia menoleh kepada Eka.
“Kenapa kamu tidak memaksaku melakukan tes sejak dulu?”
Eka tertawa lirih. Namun tawanya terdengar lebih menyakitkan daripada tangisan.
“Aku memohon berkali-kali. Aku bahkan membawa surat dari rumah sakit. Kamu merobeknya di depan wajahku.”
Galih menunduk. Ingatan itu kembali.
Saat Eka mengatakan bahwa Cana adalah darah dagingnya, Galih menuduh perempuan itu sedang mencari cara mempertahankan harta.
“Aku salah,” bisiknya.
Eka menatap lurus ke arahnya. “Kesalahan adalah ketika seseorang lupa tanggal ulang tahun. Yang kamu lakukan selama tiga tahun adalah pilihan.”
Galih tidak mampu menjawab.
Ia turun dari kursinya, lalu berlutut di depan Cana.
“Cana…”
Gadis kecil itu menatapnya ragu.
“Ayah minta maaf.”
Cana memegang tangan Sena semakin erat.
Galih mengulurkan tangan. “Boleh Ayah peluk?”
Cana tidak bergerak. Wajahnya yang polos tampak kebingungan, seakan kata ayah tidak memiliki arti yang sama seperti bagi anak-anak lain.
Kemudian ia berbisik, “Om Sena gak pernah bentak Cana.”
Kalimat sederhana itu membuat Galih merasa seluruh tubuhnya runtuh.
“Ayah janji gak akan bentak lagi.”
Cana menoleh kepada Eka, meminta izin dengan tatapan. Eka tidak mengangguk dan tidak pula melarang.
Setelah beberapa detik, Cana mendekat satu langkah. Namun ketika Galih hendak memeluknya, gadis itu refleks mundur.
“Cana takut.”
Galih menutup wajah dengan kedua tangan. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, lelaki yang selalu menganggap air mata sebagai kelemahan itu menangis tanpa suara.
Sena berdiri, lalu mengajak Cana keluar bersama seorang perawat agar Eka dan Galih bisa berbicara.
Begitu pintu tertutup, Galih mengangkat wajahnya.
“Aku akan memperbaiki semuanya. Aku akan menceraikan Nabila. Aku akan pulang kepada kalian.”
“Pulang?” Eka mengulang kata itu perlahan. “Rumah itu sudah tidak ada sejak kamu mengusirku saat Cana baru berusia dua bulan.”
“Aku bisa membangunnya kembali.”
“Rumah bukan dinding, Galih. Rumah adalah rasa aman. Dan kamu menghancurkan itu.”
Galih terdiam lama.
“Aku tetap ayahnya.”
“Secara biologis, ya. Tapi menjadi ayah bukan hanya soal darah.”
Eka mengeluarkan satu map cokelat dari tasnya. Di dalamnya terdapat dokumen gugatan hak asuh, bukti pengabaian, rekaman ancaman, dan laporan psikolog anak.
“Aku tidak akan melarangmu bertemu Cana. Tapi semuanya harus melalui pengawasan psikolog sampai dia merasa aman. Bukan sampai kamu merasa dimaafkan.”
Galih menerima map itu dengan tangan gemetar.
Saat ia hendak keluar, Dokter Prasetyo kembali masuk membawa satu amplop lain.
“Pak Galih, ada satu hal lagi.”
Galih berhenti.
“Semalam, setelah Nabila ditahan, polisi menemukan dokumen pemeriksaan lama di apartemennya. Dokumen itu menunjukkan bahwa Nabila pernah melakukan tes DNA Yuri secara diam-diam dua tahun lalu.”
Wajah Galih berubah.
Dokter Prasetyo menyerahkan salinannya.
Galih membaca nama Yuri, namanya sendiri, dan kesimpulan yang tercetak jelas.
Tidak terdapat hubungan biologis.
Tangannya langsung lemas hingga kertas itu jatuh ke lantai.
“Tidak mungkin.”
Sena yang berdiri di ambang pintu menatapnya tanpa ekspresi.
“Selama ini kamu membuang anak kandungmu demi anak yang kamu anggap lebih pantas membawa namamu.”
Galih berdiri membatu.
Semua yang ia banggakan mendadak terasa kosong. Bibit, bebet, bobot yang selalu disebut Nabila ternyata hanya rangkaian kata untuk menutupi kebohongan.
Di ujung lorong, Cana berlari kecil sambil tertawa karena Sena membuat bentuk kelinci dari sarung tangan medis. Suara tawa itu terdengar begitu dekat, tetapi bagi Galih terasa seperti datang dari dunia yang tak lagi bisa ia masuki.
Ia akhirnya memahami sesuatu yang terlambat.
Darah memang dapat membuktikan siapa ayah seorang anak.
Namun darah tidak pernah bisa memaksa seorang anak merasa memiliki ayah.
