Nama itu seperti menyambar kesadaran Ayunda di tengah gelap.
Wulan.
Perempuan yang beberapa jam lalu disebut Bu Ratna sebagai sosok yang lebih pantas mendampingi Yogi. Perempuan dengan rambut cokelat kemerahan yang pernah Ayunda temukan tersangkut di kursi mobil suaminya. Dan kini, hampir pukul satu dini hari, nama itu muncul di layar ponsel Yogi.
Ayunda tidak tidur sampai azan Subuh terdengar dari musala ujung gang.
Ia tetap berbaring membelakangi suaminya, memaksa napasnya terdengar teratur. Di sampingnya, Yogi sempat bangun dua kali untuk memeriksa ponsel. Setiap kali layar menyala, ia menutupinya dengan telapak tangan.

Pagi harinya, Yogi bersikap seolah tidak terjadi apa-apa.
Ia mengenakan kemeja biru muda, menyemprotkan parfum, lalu duduk di meja makan sambil menikmati nasi goreng buatan Ayunda.
“Kamu nggak makan?” tanyanya.
“Nanti.”
Yogi mengangguk sambil menatap layar ponselnya. Sudut bibirnya sempat terangkat ketika membaca sesuatu, tetapi segera kembali datar saat menyadari Ayunda memperhatikannya.
“Mas,” ucap Ayunda, berusaha menjaga suaranya tetap tenang. “Semalam yang kirim pesan Wulan, ya?”
Sendok di tangan Yogi berhenti.
Hanya sepersekian detik, tetapi Ayunda melihatnya.
“Kamu lihat?”
“Namanya kelihatan.”
Yogi meletakkan sendok. “Dia tanya soal laporan kantor.”
“Jam satu malam?”
“Dia lagi ada masalah dengan klien. Aku atasannya, Yun.”
“Kenapa Mas langsung merebut ponselnya?”
Wajah Yogi mengeras tipis. “Aku nggak merebut. Aku cuma nggak suka kamu memeriksa ponselku tanpa izin.”
“Aku bahkan belum menyentuhnya.”
“Ya sudah, berarti nggak ada masalah.”
Jawaban itu dingin, jauh berbeda dari pelukan hangat yang diberikannya beberapa jam sebelumnya.
Yogi berdiri, mengambil tas kerja, kemudian mengecup kening Ayunda dengan cepat.
“Aku pulang agak malam. Ada rapat.”
Ayunda menatap punggung suaminya sampai pintu tertutup.
Dulu, kalimat itu tidak pernah menimbulkan kecurigaan. Namun kini semuanya terasa seperti potongan teka-teki yang mulai menemukan bentuknya.
Rapat mendadak. Aroma parfum perempuan di mobil. Rambut cokelat kemerahan. Nama Wulan di ponsel. Dan ketenangan Yogi saat ibunya menghina Ayunda.
Ayunda duduk sendirian di meja makan. Nasi goreng di hadapannya mendingin tanpa disentuh.
Selama enam tahun menikah, ia selalu percaya bahwa rumah tangga mereka baik-baik saja. Mereka memang belum dikaruniai anak, tetapi Yogi tak pernah menyalahkannya. Setidaknya, tidak secara langsung.
Ayunda mengorbankan banyak hal demi pernikahan itu. Ia meninggalkan pekerjaannya sebagai desainer interior ketika Yogi meminta agar ia lebih fokus menjalani program kehamilan. Ia menjauh dari teman-temannya karena jadwal terapi, konsultasi dokter, dan acara keluarga Yogi. Semua ia lakukan karena percaya bahwa mereka sedang berjuang bersama.
Namun hari itu, untuk pertama kalinya, Ayunda bertanya pada dirinya sendiri.
Apakah selama ini hanya dirinya yang berjuang?
Menjelang siang, sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal.
Mbak Ayunda, maaf kalau saya lancang. Tapi saya rasa Mbak harus tahu apa yang sebenarnya terjadi. Datanglah ke Kafe Arunika pukul tiga. Duduk di meja dekat jendela lantai dua.
Tidak ada nama pengirim.
Ayunda mencoba menelepon nomor itu, tetapi tidak aktif.
Akal sehatnya menyuruh mengabaikan pesan tersebut. Namun rasa takut yang selama ini ia tekan justru mendorongnya pergi.
Pukul tiga kurang sepuluh menit, Ayunda sudah berada di lantai dua Kafe Arunika, sebuah kafe modern di kawasan Kemang. Ia memilih meja dekat jendela, sesuai petunjuk. Dari tempat itu, ia bisa melihat pintu masuk dan area parkir.
Lima belas menit berlalu.
Tidak ada siapa pun yang menghampirinya.
Saat Ayunda hampir memutuskan pulang, sebuah mobil putih berhenti di depan kafe.
Ia mengenal mobil itu.
Mobil Yogi.
Pintu pengemudi terbuka. Yogi turun sambil membawa sebuket bunga kecil. Beberapa detik kemudian, seorang perempuan keluar dari pintu penumpang.
Wulan.
Rambutnya yang cokelat kemerahan tergerai sampai bahu. Ia mengenakan blazer krem dan celana panjang hitam. Cantik, percaya diri, dan terlihat sangat akrab dengan Yogi.
Ayunda mencengkeram sisi meja.
Yogi menyerahkan bunga itu kepada Wulan. Perempuan tersebut tertawa, lalu menyentuh lengan Yogi.
Mereka masuk ke kafe.
Ayunda ingin berdiri dan menghadang mereka. Namun tubuhnya tidak bergerak. Jantungnya berdetak begitu keras hingga suara di sekelilingnya seperti menghilang.
Yogi dan Wulan memilih meja di sudut lain, terhalang rak tanaman. Mereka tidak menyadari keberadaan Ayunda.
Ayunda menyalakan perekam suara di ponselnya, kemudian berjalan pelan mendekati meja kosong di balik rak.
“Aku sudah bilang, kita nggak bisa terus begini,” suara Wulan terdengar.
“Aku juga sedang cari waktu yang tepat,” jawab Yogi.
“Waktu yang tepat kapan? Ibumu sudah bicara langsung sama Ayunda. Dita juga sudah mendesaknya. Tapi kamu masih saja menunda.”
Ayunda menutup mulut agar isaknya tidak terdengar.
Yogi menghela napas. “Aku nggak bisa tiba-tiba menceraikan dia. Ayunda nggak punya siapa-siapa di Jakarta.”
“Lalu aku apa?” suara Wulan meninggi. “Kamu bilang setelah hasil pemeriksaan keluar, semuanya akan selesai.”
“Hasil itu belum boleh dia tahu.”
Ayunda membeku.
Hasil pemeriksaan apa?
Wulan terdiam beberapa detik sebelum berkata, “Kamu akan terus membiarkan dia berpikir bahwa masalahnya ada pada dirinya?”
“Dokter bilang peluangku sangat kecil. Bukan berarti mustahil.”
“Masalahnya bukan cuma itu, Yogi. Kamu sudah membuat semua orang percaya Ayunda yang mandul. Ibumu menghina dia setiap kali bertemu. Kamu diam saja.”
“Aku diam supaya keadaan nggak makin rumit.”
Wulan tertawa hambar. “Bukan. Kamu diam karena lebih mudah menjadikan istrimu kambing hitam daripada mengakui bahwa masalahnya ada padamu.”
Dunia Ayunda seakan runtuh dalam satu tarikan napas.
Selama bertahun-tahun, ia menjalani berbagai pemeriksaan menyakitkan. Ia menelan obat hormonal yang membuat tubuhnya berubah. Ia menanggung pertanyaan keluarga, sindiran tetangga, dan tatapan iba. Yogi selalu berkata pemeriksaan dirinya normal.
Ternyata itu bohong.
“Aku mencintaimu,” kata Yogi pelan.
“Tapi kamu belum menceraikan dia.”
“Aku butuh waktu. Rumah itu atas nama Ayunda. Sebagian tabunganku juga tercampur dengan warisan ayahnya. Kalau aku terburu-buru, aku bisa kehilangan semuanya.”
Kalimat terakhir itu mengubah kesedihan Ayunda menjadi sesuatu yang lebih dingin.
Bukan hanya pengkhianatan.
Yogi sedang mempertahankannya demi harta.
Ayunda berdiri. Kakinya gemetar, tetapi langkahnya mantap ketika keluar dari balik rak tanaman.
Wajah Yogi seketika pucat.
“Ayunda?”
Wulan menoleh dengan mata melebar.
Ayunda meletakkan ponselnya di atas meja. Layar masih menampilkan perekam suara yang berjalan.
“Lanjutkan,” ucapnya. “Aku ingin dengar berapa lama lagi Mas berencana mempertahankan istri mandul ini demi rumah dan tabungannya.”
Yogi buru-buru berdiri. “Yun, dengarkan aku dulu.”
“Aku sudah mendengar semuanya.”
“Ini nggak seperti yang kamu pikirkan.”
Ayunda tertawa pendek. Air matanya jatuh, tetapi suaranya tetap tajam. “Kalimat itu ternyata benar-benar dipakai oleh semua laki-laki yang ketahuan selingkuh, ya?”
Wulan bangkit. “Mbak Ayunda, saya—”
“Jangan panggil aku Mbak seolah kita punya hubungan baik.”
Wulan menunduk. Untuk pertama kalinya, kesombongan di wajahnya menghilang.
Yogi mencoba meraih tangan Ayunda, tetapi ia mundur.
“Hasil pemeriksaan itu di mana?” tanya Ayunda.
Yogi diam.
“Di mana?”
“Aku bisa jelaskan di rumah.”
“Tidak ada lagi pembicaraan di rumah. Jawab sekarang.”
Wulan membuka tasnya, mengeluarkan sebuah amplop cokelat, lalu meletakkannya di meja.
“Salinannya ada di sini,” katanya lirih.
Yogi menatapnya marah. “Kamu ngapain bawa itu?”
“Karena aku capek jadi bagian dari kebohonganmu.”
Ayunda membuka amplop tersebut. Di dalamnya terdapat hasil pemeriksaan dari sebuah klinik fertilitas di Jakarta Selatan. Nama Yogi tercetak jelas di bagian atas. Kesimpulan dokter menyatakan bahwa kemungkinan Yogi memiliki keturunan secara alami sangat rendah.
Tanggal pemeriksaan itu tiga tahun lalu.
Tiga tahun.
Artinya, ketika Bu Ratna menyebut Ayunda mandul, Yogi sudah mengetahui kebenarannya. Ketika Ayunda menangis setelah program inseminasi kedua gagal, Yogi sudah tahu. Ketika ia meminta Ayunda berhenti bekerja agar tidak stres, ia juga sudah tahu.
“Kamu tahu sejak tiga tahun lalu,” bisik Ayunda.
Yogi menunduk. “Aku takut kamu meninggalkan aku.”
“Jadi kamu membiarkan keluargamu menghancurkan harga diriku?”
“Aku salah. Tapi aku benar-benar mencintaimu.”
“Mas tidak mencintaiku. Mas hanya takut kehilangan rumah, uang, dan seseorang yang selalu memaafkan Mas.”
Orang-orang di sekitar mulai memperhatikan, tetapi Ayunda tidak peduli.
Ia memasukkan hasil pemeriksaan ke dalam tas, mengambil ponselnya, lalu menatap Wulan.
“Kamu yang mengirim pesan tadi?”
Wulan mengangguk perlahan.
“Kenapa?”
Mata Wulan memerah. “Karena saya baru tahu soal hasil pemeriksaan itu minggu lalu. Yogi selama ini bilang masalahnya ada pada Mbak. Dia bilang pernikahan kalian sudah lama kosong dan hanya tinggal menunggu waktu.”
Yogi menatap Wulan tidak percaya. “Kamu sekarang menyalahkan aku?”
“Saya memang bersalah,” jawab Wulan. “Tapi setidaknya saya tidak akan terus membantu kamu menghancurkan perempuan yang tidak tahu apa-apa.”
Ayunda meninggalkan kafe tanpa menoleh lagi.
Di dalam mobil sewaan, ia menangis sampai dadanya terasa sakit. Namun di balik tangis itu, ada bagian kecil dalam dirinya yang justru merasa bebas.
Selama ini ia mengira tubuhnya gagal menjadi perempuan sempurna. Ternyata yang gagal bukan tubuhnya.
Yang gagal adalah kepercayaannya terhadap orang yang salah.
Malam itu, Yogi pulang dan mendapati pintu rumah terkunci. Koper berisi pakaian serta barang-barang pribadinya diletakkan di teras.
Ayunda berdiri di balik pintu bersama seorang pengacara perempuan bernama Ratri, sahabat lamanya yang selama ini jarang ia hubungi.
“Yun, buka pintunya. Kita selesaikan baik-baik.”
“Semua dokumen rumah, tabungan, dan bukti perselingkuhan sudah diserahkan kepada pengacara,” jawab Ayunda dari dalam. “Besok Mas akan menerima surat gugatan.”
Yogi memukul pintu. “Kamu nggak bisa mengusir aku dari rumahku sendiri!”
“Rumah ini dibeli dengan warisan ayahku sebelum kita menikah. Namanya juga atas namaku. Mas tahu itu.”
“Bu Ratna pasti nggak akan tinggal diam.”
Ayunda membuka pintu sedikit, cukup untuk memperlihatkan wajahnya.
“Katakan kepada Ibu, perempuan yang beliau anggap tidak pantas ini akhirnya belajar membela dirinya sendiri.”
Keesokan harinya, Bu Ratna dan Dita datang dengan amarah besar. Mereka menuduh Ayunda tidak tahu berterima kasih, mempermalukan Yogi, dan sengaja menghancurkan keluarga.
Namun kemarahan mereka mendadak padam ketika Ayunda meletakkan hasil pemeriksaan Yogi di atas meja.
“Ini alasan kami belum punya anak,” katanya. “Bukan karena aku.”
Bu Ratna membaca dokumen itu dengan tangan gemetar. Dita terdiam, wajahnya kehilangan warna.
Yogi yang berdiri di belakang mereka tidak sanggup menatap siapa pun.
Bu Ratna menjatuhkan kertas tersebut. “Kenapa kamu nggak pernah bilang, Yogi?”
Yogi tidak menjawab.
“Karena lebih mudah menyalahkan saya,” kata Ayunda. “Dan Ibu dengan senang hati melakukannya.”
Untuk pertama kalinya, Bu Ratna tidak punya kata-kata untuk membalas.
Proses perceraian berlangsung berbulan-bulan. Yogi beberapa kali memohon agar Ayunda membatalkan gugatan. Ia datang membawa bunga, menangis, bahkan bersumpah hubungannya dengan Wulan telah berakhir.
Ayunda tidak berubah pikiran.
Ia menjual rumah itu dan pindah ke Bandung. Dengan sisa tabungan serta pengalaman yang dulu sempat ia tinggalkan, Ayunda membuka studio desain interior kecil. Perlahan, hidupnya kembali memiliki arah.
Setahun kemudian, studionya berkembang. Ia mulai menangani proyek kafe, apartemen, dan rumah tinggal di beberapa kota.
Suatu sore, saat sedang memeriksa desain di laptop, sebuah pesan dari nomor tak dikenal masuk.
Saya Wulan. Saya hanya ingin memberi tahu bahwa Yogi akan menikah bulan depan. Bukan dengan saya. Dengan perempuan pilihan ibunya. Perempuan itu sedang hamil.
Ayunda membaca pesan tersebut dua kali.
Seharusnya berita itu menyakitinya. Namun yang ia rasakan justru kebingungan.
Jika peluang Yogi memiliki anak secara alami sangat kecil, bagaimana perempuan itu bisa hamil?
Beberapa minggu kemudian, Ratri menghubunginya.
“Yun, kamu masih menyimpan salinan hasil pemeriksaan Yogi?”
“Masih. Kenapa?”
“Aku baru bertemu salah satu mantan staf klinik itu. Ada sesuatu yang aneh. Nomor registrasi di dokumen Yogi ternyata milik pasien lain.”
Ayunda terdiam.
Setelah ditelusuri, kebenaran yang lebih mengejutkan terungkap. Hasil pemeriksaan yang selama ini disembunyikan Yogi bukanlah miliknya. Dokumen itu sengaja dipalsukan agar Ayunda percaya masalah kesuburan ada pada Yogi apabila suatu hari kebohongannya terbongkar.
Padahal, hasil pemeriksaan asli menunjukkan Yogi normal.
Lalu mengapa mereka tidak pernah memiliki anak?
Ayunda memeriksakan dirinya kembali di rumah sakit berbeda. Dokter menemukan bekas penggunaan obat hormonal dengan dosis yang tidak sesuai selama bertahun-tahun. Obat-obatan itu diberikan oleh klinik langganan yang dipilih Yogi dan direkomendasikan Bu Ratna.
Obat tersebut tidak membuat Ayunda mandul, tetapi mengacaukan siklus tubuhnya dan memperkecil peluang kehamilan selama ia mengonsumsinya.
Yogi tidak sekadar berbohong.
Ia sengaja memastikan Ayunda tidak hamil karena sejak awal ia tidak ingin memiliki anak dengannya. Ia hanya menikahi Ayunda demi mendekati ayahnya, seorang pengusaha properti yang kemudian mewariskan rumah dan sejumlah aset kepada putri tunggalnya.
Ayunda menyerahkan bukti pemalsuan dokumen dan rekam medis kepada pihak berwenang. Klinik tersebut diperiksa, sementara Yogi menghadapi proses hukum atas dugaan pemalsuan serta keterlibatannya dalam pemberian informasi medis palsu.
Pernikahan keduanya dibatalkan sebelum hari akad. Perempuan yang dikabarkan hamil itu ternyata juga menjadi korban kebohongannya.
Beberapa bulan kemudian, Ayunda berdiri di depan jendela studionya, memandangi hujan yang turun di atas Kota Bandung. Di tangannya terdapat hasil pemeriksaan terbaru.
Tubuhnya sehat.
Ia masih memiliki kesempatan untuk menjadi ibu suatu hari nanti.
Namun untuk pertama kalinya, hal itu tidak lagi menentukan nilai dirinya.
Ayunda tersenyum tipis, lalu merobek salinan lama yang selama bertahun-tahun membuatnya merasa tidak sempurna.
Ia akhirnya mengerti bahwa rumah bukanlah bangunan yang dipertahankan dengan kebohongan. Rumah adalah tempat seseorang merasa aman menjadi dirinya sendiri.
Dan kadang-kadang, untuk menemukan rumah yang sesungguhnya, seseorang harus berani meninggalkan orang yang membuatnya merasa asing di tempat yang seharusnya paling nyaman.
