Malam itu, Isa Sutanto bersumpah pada dirinya sendiri bahwa tidak ada seorang pun yang boleh mengetahui apa yang baru saja terjadi di toilet SPBU Jalan Merdeka. Bukan karena harga dirinya hancur akibat tak sanggup menahan pedasnya ayam rica-rica, melainkan karena satu kesalahan kecil saja bisa meruntuhkan sandiwara terbesar yang telah ia bangun selama berbulan-bulan.
Wildan berdiri di luar toilet sambil menghela napas panjang. Ketika Isa akhirnya keluar dengan wajah pucat dan rambut sedikit berantakan, ia langsung mendorong kursi roda mendekat.
“Tuan, duduk.”
Isa melirik sekeliling. Area SPBU sudah sepi. Ia segera duduk kembali di kursi roda sebelum ada orang yang melihat.

“Besok jangan pernah biarkan aku makan makanan seperti itu lagi.”
Wildan hampir tertawa.
“Yang memaksa makan tadi siapa?”
Isa hanya mendesah. Untuk pertama kalinya sejak kecelakaan yang mengubah hidupnya, ia rela menyiksa dirinya sendiri demi mempertahankan senyum seorang perempuan.
Di sisi lain, Ana tidak bisa tidur.
Ucapan Isa terus berputar di kepalanya.
“Aku lebih suka asisten yang setia daripada yang punya gelar tinggi tapi bermuka dua.”
Tidak ada seorang pun yang pernah mengatakan hal seperti itu kepadanya.
Sejak kecil ia selalu dibandingkan dengan Nadine.
Nadine cantik.
Nadine pintar.
Nadine membanggakan.
Sedangkan dirinya hanyalah anak yang keberadaannya dianggap noda dalam keluarga.
Namun malam ini, seseorang justru melihat nilai dirinya.
Air mata mengalir tanpa ia sadari.
Bukan karena sedih.
Tetapi karena sudah terlalu lama ia lupa bagaimana rasanya dihargai.
Pagi berikutnya rumah keluarga Darmasto kembali dipenuhi suara pertengkaran.
“Ana!”
Suara keras Bu Ratna membuat Ana bergegas turun.
“Mulai hari ini kamu berhenti kerja?”
“Iya, Bu.”
“Bagus. Jadi sekarang kamu bisa mulai membersihkan seluruh rumah. Jangan kira hanya karena akan menikah dengan keluarga kaya kamu bisa ongkang-ongkang kaki.”
Ana mengangguk tanpa membantah.
Ia sudah terbiasa.
Namun baru beberapa menit kemudian sebuah mobil hitam berhenti di depan rumah.
Wildan turun terlebih dahulu.
“Selamat pagi. Saya datang menjemput Nona Ana.”
Bu Ratna langsung memasang senyum manis.
“Oh, silakan masuk.”
Wildan menggeleng sopan.
“Maaf, saya hanya menjalankan perintah Tuan Isa.”
Ana segera keluar membawa tas kecilnya.
“Nona, mulai hari ini Anda bekerja di kantor.”
Bu Ratna langsung memotong.
“Bekerja? Bukannya nanti setelah menikah tinggal menikmati uang suaminya?”
Wildan tersenyum tipis.
“Tuan Isa mengatakan calon istrinya harus memiliki kemampuan sendiri.”
Kalimat sederhana itu membuat wajah Bu Ratna langsung berubah.
Ana berpamitan singkat lalu masuk ke dalam mobil.
Begitu kendaraan menjauh, Nadine yang baru turun dari lantai dua mendengus sinis.
“Percuma saja. Paling seminggu juga dipecat.”
Gedung Sutanto Group menjulang tinggi di pusat Jakarta.
Ana menatap bangunan itu dengan napas tercekat.
Ia bahkan belum pernah masuk ke mal mewah.
Sekarang ia justru akan bekerja di salah satu perusahaan terbesar di Indonesia.
Begitu pintu lift terbuka, puluhan karyawan langsung menundukkan kepala.
“Selamat pagi, Pak Isa.”
Ana terkejut.
Isa hanya mengangguk dingin.
Sikapnya berubah seratus delapan puluh derajat dibanding saat mereka makan bersama semalam.
Aura dinginnya membuat seluruh lantai terasa membeku.
Wildan berbisik pelan.
“Di kantor beliau memang seperti ini.”
Isa berhenti di depan ruang kerjanya.
“Mulai hari ini Ana bekerja sebagai asisten pribadi saya.”
Seluruh ruangan mendadak sunyi.
Beberapa sekretaris saling berpandangan.
Mereka belum pernah melihat seorang gadis berpakaian sederhana langsung diangkat menjadi asisten utama direktur utama.
Bisik-bisik mulai terdengar.
“Siapa dia?”
“Katanya calon istri Pak Isa.”
“Serius?”
“Kelihatannya biasa sekali.”
Isa mendengar semuanya.
Namun ia tidak mengatakan apa pun.
Ia justru menyerahkan sebuah tablet kepada Ana.
“Pelajari jadwal hari ini.”
Ana menerima tablet itu dengan gugup.
“Lima belas menit lagi kita rapat.”
Ana mengangguk.
Namun saat membuka jadwal, wajahnya langsung pucat.
Puluhan agenda.
Belasan nama klien asing.
Ratusan istilah bisnis yang sama sekali tidak ia mengerti.
Tangannya mulai gemetar.
Isa memperhatikannya diam-diam.
“Takut?”
Ana menggeleng pelan.
“Saya hanya takut mengecewakan Tuan.”
“Kalau begitu belajar.”
Jawaban singkat itu justru membuat Ana menghela napas lega.
Ia tidak dimarahi.
Ia diberi kesempatan.
Beberapa jam kemudian rapat berlangsung.
Ana hanya berdiri di belakang Isa sambil mencatat.
Awalnya semuanya berjalan lancar.
Sampai salah satu direktur senior sengaja menjatuhkan berkas ke lantai.
“Aduh.”
Ia melirik Ana.
“Tolong ambilkan.”
Ana membungkuk mengambil berkas.
Belum sempat berdiri, pria itu tersenyum mengejek.
“Calon istri direktur ternyata tetap cocok jadi pelayan.”
Beberapa orang tertawa kecil.
Ana menggigit bibirnya.
Belum sempat ia menjawab, suara Isa terdengar datar.
“Pak Hendra.”
Pria itu langsung menoleh.
“Saya ingin bertanya.”
“Iya, Pak.”
“Berapa laba divisi Anda bulan lalu?”
Pak Hendra langsung gugup.
“Eee…”
“Berapa target kuartal berikutnya?”
Ia semakin panik.
Isa menatapnya tanpa ekspresi.
“Kalau pekerjaan sendiri saja tidak hafal, sebaiknya jangan sibuk mengomentari pekerjaan orang lain.”
Ruangan langsung membisu.
“Dan satu lagi.”
Isa menatap seluruh peserta rapat.
“Siapa pun yang menghina asisten saya, berarti menghina keputusan saya.”
Tidak ada lagi yang berani bersuara.
Ana menunduk.
Dadanya terasa hangat.
Untuk kedua kalinya seseorang membelanya tanpa meminta imbalan.
Sore hari, ketika mereka hendak pulang, Wildan menerima telepon.
Wajahnya langsung berubah.
“Tuan.”
“Ada apa?”
“Nona Nadine datang.”
Isa mengangkat alis.
“Suruh naik.”
Tak lama kemudian pintu terbuka.
Nadine masuk dengan gaun mahal dan senyum percaya diri.
“Isa.”
Isa tetap membaca dokumen.
“Ada perlu?”
“Aku hanya ingin memastikan kamu baik-baik saja.”
“Tidak perlu.”
Nadine mendekat.
“Masih marah?”
Isa akhirnya mengangkat kepala.
“Apa ada alasan aku harus tidak marah?”
Nadine tersenyum manis.
“Aku tahu kamu kecewa karena aku menolak lamaranmu.”
Isa tertawa pelan.
Suara tawanya justru membuat Nadine merasa tidak nyaman.
“Kamu terlalu percaya diri.”
Nadine mengernyit.
“Maksudmu?”
“Aku memang pernah mencintaimu.”
Nadine kembali tersenyum.
“Tuh, kan.”
“Tapi itu dulu.”
Senyumnya langsung membeku.
Isa melanjutkan dengan suara dingin.
“Orang yang aku kenal dulu tidak akan menghina orang lain demi merasa lebih tinggi.”
“Itu hanya bercanda.”
“Ana menangis setiap kali kamu bercanda.”
Ruangan kembali sunyi.
Nadine mencoba mengendalikan emosinya.
“Jadi sekarang kamu membela adikku?”
“Bukan.”
Isa berdiri perlahan menggunakan tongkat di samping meja.
Nadine membelalak.
Ia tidak menyangka Isa mampu berdiri beberapa detik.
Meski kemudian Isa kembali bertumpu pada kursi.
“Aku membela perempuan yang tahu arti menghargai orang lain.”
Nadine menatap kaki Isa tanpa berkedip.
Sesuatu terasa aneh.
Namun sebelum sempat berpikir lebih jauh, Isa sudah kembali duduk.
“Kamu boleh pulang.”
Nadine keluar dengan wajah merah padam.
Namun satu pertanyaan terus mengganggunya.
Mengapa tadi Isa bisa berdiri?
Malam harinya Isa menerima laporan dari tim keamanan.
“Hasil penyelidikan tentang kecelakaan enam bulan lalu sudah keluar.”
Isa membuka map hitam itu perlahan.
Foto-foto kecelakaan memenuhi meja.
Mobilnya.
Truk.
Jejak rem.
Rekaman GPS.
Lalu satu foto membuat matanya membeku.
Di belakang lokasi kecelakaan terdapat sebuah mobil sport merah.
Nomor polisinya sengaja disamarkan.
Namun bentuk velgnya sangat khas.
Isa mengenalnya.
Mobil itu milik Renan.
Pria yang kini menjadi kekasih Nadine.
“Tidak mungkin…”
Ia membaca laporan berikutnya.
Ada transaksi uang dalam jumlah besar yang dikirim ke rekening sopir truk beberapa hari sebelum kecelakaan.
Pengirimnya menggunakan perusahaan cangkang.
Tetapi penyelidik berhasil menemukan pemilik manfaat sebenarnya.
Isa menatap nama yang tercetak di halaman terakhir.
Tangannya mengepal begitu kuat hingga kertas itu kusut.
Selama ini semua orang mengira kecelakaan itu hanyalah musibah.
Padahal seseorang telah merencanakannya dengan sangat rapi.
Dan orang yang paling diuntungkan setelah kecelakaan itu ternyata bukan pesaing bisnis keluarga Sutanto.
Melainkan orang yang selama ini setiap hari tersenyum di depan keluarganya sendiri.
Isa menutup map itu perlahan.
Tatapannya berubah dingin.
“Aku sudah menemukanmu.”
Di tempat lain, Renan sedang menikmati makan malam bersama Nadine tanpa menyadari bahwa permainan yang selama ini ia kira sempurna mulai retak.
Sementara Ana duduk di kamarnya, tersenyum kecil sambil memandangi kartu identitas karyawan pertamanya.
Ia sama sekali belum tahu bahwa tanpa sengaja dirinya telah melangkah masuk ke dalam pusaran konspirasi besar yang hampir merenggut nyawa pria yang sebentar lagi akan menjadi suaminya.
