Malam itu hujan turun tanpa suara, hanya meninggalkan embun di kaca jendela kontrakan kecil di pinggiran Kota Bekasi. Namun suara piring pecah yang menghantam lantai jauh lebih memekakkan telinga daripada petir di luar sana.
“Lihat nih! Cuma masak sayur begini aja nggak becus!”
Piring kedua melayang, pecah tepat di depan kaki Rani. Perempuan berusia tiga puluh dua tahun itu memeluk putrinya yang masih berusia lima tahun sambil berusaha menahan tubuh kecil itu agar tidak melihat ayahnya yang sedang mengamuk.

“Maaf, Mas… uang belanja minggu ini memang tinggal sedikit.”
Sedikit?
Bahkan tak sampai lima puluh ribu rupiah.
Rani sengaja mengurangi lauk agar uang itu cukup membeli obat batuk untuk dirinya. Sudah dua bulan dokter puskesmas mengatakan paru-parunya mulai bermasalah akibat TBC yang tak pernah ditangani dengan baik.
Namun bagi Arga, suaminya, semua itu hanyalah alasan.
“Kalau nggak becus jadi istri, mending minggat!”
Tamparan keras membuat bibir Rani pecah. Sementara putrinya, Nisa, menangis histeris.
“Jangan pukul Mama…”
Arga justru membanting pintu dan pergi begitu saja.
Suara motor menghilang di ujung gang.
Rumah kembali sunyi.
Rani menyeka darah di sudut bibirnya lalu menggendong Nisa ke kamar.
“Maaf ya, Nak.”
Nisa menggeleng sambil mengusap pipi ibunya.
“Mama jangan nangis. Nisa nanti kerja kalau sudah besar.”
Kalimat polos itu justru membuat air mata Rani semakin deras.
Ia pernah menjadi perempuan yang memiliki segalanya.
Lulusan terbaik Fakultas Ekonomi.
Bekerja di perusahaan multinasional.
Gaji puluhan juta.
Mobil sendiri.
Semua hilang setelah menikah.
Arga memintanya berhenti bekerja dengan alasan seorang istri harus mengurus rumah.
Awalnya terdengar romantis.
Belakangan baru Rani sadar, Arga tidak ingin istrinya memiliki penghasilan sendiri.
Semakin bergantung.
Semakin mudah dikendalikan.
…
Keesokan paginya Rani berangkat mencuci pakaian di rumah Bu Sri, tetangganya.
Bu Sri selalu membayar lima puluh ribu setiap kali Rani membantu mencuci dan menyetrika.
“Ran, badanmu panas.”
“Nggak apa-apa, Bu.”
“Kamu batuk darah lagi?”
Rani tersenyum tipis.
“Nanti juga sembuh.”
Bu Sri menghela napas.
“Kamu nggak mungkin sembuh kalau terus dipukul suamimu.”
Rani hanya diam.
Ia sudah terlalu lelah menjelaskan.
Bukan sekali dua kali tetangga menyuruhnya melapor.
Namun setiap kali ia hendak pergi, Arga selalu berubah menjadi lelaki paling lembut sedunia.
Membawa bunga.
Menangis.
Berjanji berubah.
Lalu seminggu kemudian semuanya kembali seperti semula.
Sore itu saat pulang, Rani melihat mobil hitam berhenti di depan kontrakannya.
Arga turun sambil tertawa bersama seorang perempuan berpakaian mahal.
Perempuan itu memegang lengan Arga dengan sangat akrab.
“Mas…”
Arga langsung terkejut.
“Oh… ini klien kantor.”
Perempuan itu tersenyum tipis.
“Oh jadi ini istrinya?”
Tatapannya menyapu tubuh Rani dari ujung kepala sampai kaki.
“Kamu nggak bilang istrimu kelihatan seperti pembantu.”
Rani menunduk.
Arga malah ikut tertawa.
“Iya lah. Orang sakit terus.”
Perempuan itu masuk kembali ke mobil.
Sebelum pergi ia berkata pelan.
“Besok malam jangan lupa dinner.”
Mobil melaju.
Rani berdiri mematung.
Malam itu Arga pulang larut.
Bajunya dipenuhi aroma parfum perempuan.
Rani akhirnya memberanikan diri bertanya.
“Dia siapa sebenarnya?”
Tanpa menjawab, Arga langsung mendorong tubuh Rani hingga membentur lemari.
“Kamu nggak usah ikut campur urusan kantor!”
Lalu ia mengambil dompet.
“Duit belanja minggu depan.”
Ia melempar dua lembar uang dua puluh ribu.
“Cukup buat seminggu.”
Rani memandang uang itu.
Empat puluh ribu.
Untuk makan bertiga selama seminggu.
Namun saat Arga mandi, ponselnya berbunyi.
Di layar muncul pesan.
“Sayang, hotelnya sudah aku booking.”
Jantung Rani berhenti berdetak beberapa detik.
Tangannya gemetar.
Ia tidak membuka isi percakapan.
Satu kalimat itu saja sudah cukup menghancurkan sisa harapannya.
…
Beberapa hari kemudian kondisi Rani semakin buruk.
Saat sedang memasak ia tiba-tiba batuk hebat.
Darah menetes ke lantai.
Nisa menjerit.
“Mama!”
Bu Sri segera membawa Rani ke rumah sakit.
Dokter memandang hasil rontgen.
“Kenapa baru sekarang dibawa?”
Rani hanya tersenyum.
“Tidak punya biaya, Dok.”
Dokter menggeleng pelan.
“Penyakitnya masih bisa disembuhkan, tapi harus rutin minum obat.”
Bu Sri diam-diam membayar semua administrasi.
“Nggak usah dipikirin dulu.”
Rani menangis.
Sepanjang hidupnya justru orang asing yang selalu menyelamatkannya.
Bukan suaminya sendiri.
…
Malam ketika Rani pulang dari rumah sakit, rumah kosong.
Arga belum pulang.
Di meja hanya ada secarik kertas.
“Aku dinas luar kota tiga hari.”
Namun sekitar pukul sebelas malam, telepon Arga masuk.
Bukan untuk Rani.
Melainkan panggilan video yang tidak sengaja aktif.
Layar memperlihatkan Arga sedang berpesta di vila bersama beberapa temannya.
Di sampingnya duduk perempuan yang sama.
“Bro!”
Salah satu temannya tertawa.
“Istri lu masih percaya lu dinas?”
Arga ikut tertawa keras.
“Percaya lah. Dia terlalu bodoh buat curiga.”
Semua orang tertawa.
Rani mematikan layar.
Anehnya…
Ia tidak menangis.
Untuk pertama kalinya hatinya terasa kosong.
Seolah sesuatu telah mati di dalam dirinya.
…
Seminggu kemudian Bu Sri datang membawa koran.
“Ran… kamu dulu kerja di perusahaan Sentra Finance kan?”
“Iya.”
“Mereka lagi buka lowongan.”
Rani tersenyum pahit.
“Mana mungkin mereka masih mau menerima aku.”
“Coba saja.”
Malam itu Rani membuka laptop tua yang sudah bertahun-tahun rusak ringan.
Ia memperbarui CV.
Mengirim lamaran.
Lalu tidur tanpa harapan.
Tiga hari kemudian telepon berbunyi.
“Selamat siang. Apakah benar Ibu Rani Prasetyo?”
“Iya.”
“Kami mengundang Ibu untuk wawancara.”
Rani hampir menjatuhkan ponselnya.
…
Arga sama sekali tidak tahu.
Selama dua minggu Rani diam-diam mengikuti proses seleksi.
Ia meminjam pakaian Bu Sri.
Meminjam ongkos.
Bahkan berjalan hampir tiga kilometer agar bisa menghemat uang.
Hari pengumuman tiba.
“Selamat bergabung kembali, Bu Rani.”
Air matanya jatuh.
Bukan karena gaji.
Bukan karena jabatan.
Tetapi karena akhirnya ia merasa masih berharga.
…
Gaji pertama belum cair ketika Arga mengetahui semuanya.
“Kamu kerja lagi?”
“Iya.”
“Siapa yang izinin?”
Rani menatap suaminya dengan tenang.
“Aku mengizinkan diriku sendiri.”
Arga menampar meja.
“Kamu berani melawan?”
“Aku cuma ingin anakku makan.”
Arga mengangkat tangan hendak memukul.
Namun kali ini tangan itu berhenti di udara.
Rani menggenggam pergelangan tangannya.
Tatapannya berbeda.
Tidak ada lagi rasa takut.
“Kalau Mas pukul aku lagi, kali ini aku benar-benar lapor polisi.”
Arga tertawa.
“Kamu berani?”
Rani mengeluarkan ponselnya.
Memutar rekaman.
Selama beberapa minggu terakhir ia diam-diam merekam setiap ancaman dan kekerasan yang dilakukan Arga.
Wajah Arga langsung pucat.
…
Beberapa hari kemudian Rani resmi mengajukan gugatan cerai.
Arga datang ke rumah sambil menangis.
“Aku berubah.”
Rani hanya tersenyum.
“Dulu aku juga percaya.”
“Aku janji.”
“Janji yang ke berapa?”
Arga terdiam.
…
Sidang berjalan beberapa bulan.
Bukti rekaman.
Hasil visum.
Rekam medis.
Kesaksian Bu Sri.
Semuanya membuat hakim mengabulkan gugatan Rani.
Hak asuh Nisa jatuh kepadanya.
Arga diwajibkan memberi nafkah.
Namun yang paling mengejutkan terjadi setelah persidangan selesai.
Perempuan yang dulu menjadi selingkuhan Arga menghampiri Rani.
“Aku minta maaf.”
Rani menatapnya bingung.
“Aku baru tahu semua yang dia katakan tentang kamu ternyata bohong.”
Perempuan itu menyerahkan sebuah amplop.
“Aku resign dari perusahaan. Sebelum pergi aku menemukan ini.”
Isinya laporan keuangan.
Ternyata selama bertahun-tahun Arga menggelapkan dana proyek perusahaan.
Perempuan itu berkata pelan.
“Dia memakai namamu sebagai salah satu rekening penampung.”
Tubuh Rani membeku.
Untung saja ia sudah menyimpan semua bukti bahwa rekening itu digunakan tanpa sepengetahuannya.
Beberapa minggu kemudian polisi menangkap Arga di kantor.
Bukan karena laporan Rani.
Melainkan karena audit internal perusahaan.
Saat digiring keluar gedung, Arga melihat Rani berdiri di seberang jalan bersama Nisa.
Tidak ada kebencian di wajah perempuan itu.
Hanya rasa lega.
Arga menangis.
Namun semuanya sudah terlambat.
…
Dua tahun berlalu.
Rani benar-benar sembuh dari TBC setelah disiplin menjalani pengobatan.
Kariernya kembali menanjak.
Ia bahkan dipercaya memimpin divisi keuangan di perusahaan yang sama.
Suatu sore ia diminta menjadi pembicara dalam seminar tentang pemberdayaan perempuan.
Seorang peserta bertanya, “Apa yang membuat Ibu akhirnya berani keluar dari hubungan yang menyakitkan?”
Rani tersenyum.
Ia menoleh ke arah barisan depan.
Nisa duduk di sana sambil menggenggam buket bunga kecil.
“Dulu saya berpikir bertahan adalah bentuk cinta. Sampai suatu hari saya sadar, anak saya sedang belajar tentang cinta dari apa yang ia lihat setiap hari. Kalau saya terus bertahan dalam kekerasan, saya sedang mengajarkan bahwa dipukul adalah hal yang wajar. Sejak saat itu saya memutuskan berhenti menjadi korban, bukan hanya untuk diri saya, tetapi juga agar anak saya tumbuh dengan keyakinan bahwa cinta tidak pernah datang bersama rasa takut.”
Tepuk tangan memenuhi ruangan.
Di luar gedung, langit senja memancarkan warna keemasan.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Rani merasa benar-benar pulang pada dirinya sendiri.
