Wisnu berdiri kaku di dekat pagar bambu, napasnya tersengal, sementara Shena masih menggenggam sapu lidi seperti hendak menyerangnya lagi. Wajah lelaki itu pucat. Matanya beberapa kali melirik ke arahku, lalu buru-buru menunduk saat pandangan kami bertemu.
Tiga tahun lalu, tatapan yang sama pernah membuatku percaya bahwa aku adalah satu-satunya perempuan dalam hidupnya. Kini, tidak ada lagi rasa hangat yang tersisa. Hanya muak.
“Aku tidak menguping,” kata Wisnu terbata. “Aku memang ingin bicara dengan Bapak.”
“Bicara apa malam-malam begini?” Bapak menatapnya tajam.
Wisnu membuka mulut, tetapi Shena lebih dulu menyela.

“Bohong! Dari tadi dia berdiri di balik pohon pisang. Begitu dengar Mbak Lina bicara soal urusan penting, dia langsung mendekat ke jendela.”
“Diam kamu!” bentak Wisnu. Untuk pertama kalinya malam itu, suaranya terdengar tegas.
Shena terperanjat. “Kamu membentakku demi dia?”
“Bukan demi siapa-siapa. Aku hanya mau bicara dengan Bapak.”
Bapak melangkah maju. “Kalau mau bicara, masuk. Jangan seperti maling.”
Kami kembali ke ruang tamu. Udara yang semula hangat berubah sesak. Shena duduk di ujung sofa sambil melipat tangan di dada. Wisnu mengambil tempat di kursi kayu, tepat berhadapan denganku. Ia tampak tidak nyaman, tetapi aku sama sekali tidak berniat menyelamatkannya dari rasa itu.
“Ada apa?” tanya Bapak.
Wisnu mengusap wajah. “Saya mau meminta waktu. Soal utang.”
Ibu langsung menatap Shena. “Utang apa?”
Shena mengalihkan pandangan.
Wisnu menarik napas panjang. “Enam bulan lalu, saya pinjam sertifikat rumah ini.”
Aku menoleh cepat ke arah Bapak dan Ibu. Wajah mereka seketika berubah.
“Pinjam?” suara Bapak meninggi. “Kapan aku pernah memberikan sertifikat rumah ini kepadamu?”
“Saya mengambilnya dari lemari.”
“Wisnu!” Ibu menutup mulutnya, nyaris tak percaya.
Bapak bangkit, tetapi aku cepat memegang lengannya. “Pak, duduk dulu.”
“Dia mencuri sertifikat rumah kita, Lina!”
Wisnu menunduk semakin dalam. “Saya terdesak. Usaha material bangunan saya rugi. Saya pikir bisa mengembalikannya sebelum Bapak tahu.”
“Lalu sekarang sertifikatnya di mana?” tanyaku.
“Di koperasi simpan pinjam.”
“Berapa utangnya?”
Wisnu tidak langsung menjawab.
“Berapa?” ulangku.
“Seratus delapan puluh juta.”
Ibu memegangi dadanya. Bapak terdiam seperti kehilangan suara.
Shena mendadak berdiri. “Bukan hanya salah Mas Wisnu! Uangnya juga dipakai untuk kebutuhan rumah, untuk Chacha, untuk biaya hidup!”
“Kebutuhan hidup apa sampai seratus delapan puluh juta?” tanyaku dingin.
Shena menggigit bibir.
Wisnu menjawab pelan, “Sebagian dipakai untuk menutup utang judi online.”
Ruangan seolah membeku.
Aku memandang Shena. Wajahnya memerah, tetapi bukan karena malu. Ia tampak marah karena rahasianya terbongkar.
“Jadi selama ini kamu berjudi?” tanya Ibu lirih.
“Cuma sekali dua kali!” Shena membela diri. “Awalnya menang. Aku pikir bisa membantu ekonomi keluarga.”
“Lalu kalah?” tanyaku.
Shena tidak menjawab.
Wisnu tertawa pahit. “Bukan cuma kalah. Dia pinjam uang ke aplikasi, ke tetangga, ke teman arisan. Waktu penagih mulai datang, saya terpaksa menutup semuanya.”
“Terpaksa?” Shena menuding suaminya. “Kamu sendiri yang menghabiskan uang usaha untuk perempuan lain!”
Wisnu berdiri. “Jangan bawa-bawa itu sekarang!”
“Kenapa? Takut Mbak Lina tahu kalau kamu masih suka selingkuh?”
Aku menutup mata sejenak. Rupanya pengkhianatan memang telah menjadi kebiasaan dalam rumah tangga mereka. Dulu Shena merebut Wisnu dariku dengan keyakinan bahwa lelaki itu akan setia kepadanya. Sekarang, ia hidup dalam ketakutan yang sama seperti yang pernah kurasakan.
Bapak memukul meja. “Cukup!”
Semua terdiam.
“Besok pagi, sertifikat itu harus kembali,” kata Bapak. “Kalau tidak, aku laporkan kalian.”
Wisnu menatapku dengan putus asa. “Tidak bisa secepat itu, Pak. Tiga hari lagi jatuh tempo. Kalau tidak dibayar, rumah ini akan disita.”
Ibu menahan tangis. “Rumah ini satu-satunya yang kami punya.”
Aku merasa dadaku panas, tetapi aku memaksa suaraku tetap tenang.
“Berapa yang harus dibayar untuk mengambil sertifikat?”
“Dengan bunga dan denda, dua ratus dua puluh juta.”
Shena menatapku penuh harap, seolah baru sadar bahwa kepulanganku mungkin bisa menyelamatkan mereka.
“Mbak pasti punya uang, kan?” tanyanya cepat. “Mbak bekerja tiga tahun di Malaysia. Mbak bisa menolong keluarga.”
Aku tertawa pelan. “Keluarga?”
“Ini rumah Ibu dan Bapak juga.”
“Kamu ingat mereka orang tuamu setelah rumahnya hampir disita?”
Shena melangkah mendekat. “Jangan sok suci. Kalau Mbak punya uang, bayar saja dulu. Nanti kami cicil.”
“Dengan apa? Utang lain?”
“Mbak memang pulang hanya untuk menghina kami?”
Aku berdiri dan mengambil map hitam dari dalam koper yang sejak tadi terletak di dekat sofa. Map itu kuletakkan di atas meja.
“Tidak. Aku pulang karena urusan ini.”
Bapak menatap map tersebut dengan dahi berkerut. “Apa itu, Nak?”
Aku membuka isinya, lalu mengeluarkan beberapa lembar dokumen.
“Tiga bulan lalu, aku menerima surat dari notaris di Jakarta. Kakek dari pihak Ibu meninggalkan sebidang tanah atas namaku di daerah Bekasi. Tanah itu sudah dibeli pengembang.”
Ibu tampak terkejut. “Tanah milik Mbah Karto?”
Aku mengangguk. “Nilainya cukup besar.”
Shena langsung mendekat. “Berapa?”
Aku menatapnya tanpa ekspresi. “Cukup untuk menebus rumah ini.”
Wajah Shena seketika berubah lega. “Nah, kan! Berarti masalah selesai.”
“Belum.”
Aku mengeluarkan satu dokumen lagi.
“Aku sudah membayar utang koperasi itu sore tadi.”
Semua orang menoleh kepadaku.
Wisnu bangkit setengah berdiri. “Apa?”
“Dalam perjalanan dari bandara, aku menemui pengurus koperasi. Sertifikat rumah ini sudah aman.”
Aku mengeluarkan sertifikat asli dari dalam map dan menyerahkannya kepada Bapak. Tangannya gemetar saat menerimanya.
Ibu menangis lega. “Ya Allah, Lina.”
Shena tersenyum lebar. “Mbak memang baik. Aku tahu Mbak tidak mungkin membiarkan kami kesulitan.”
“Aku belum selesai bicara.”
Senyumnya perlahan menghilang.
“Utang itu sudah lunas, tetapi bukan hadiah untuk kalian. Mulai besok, rumah ini akan dialihkan atas nama Ibu dan Bapak berdua. Tidak ada lagi satu pun dari kalian yang bisa meminjam sertifikat tanpa persetujuan keduanya.”
Bapak menatapku penuh haru, tetapi Shena langsung membantah.
“Lalu kami tinggal di mana?”
“Kamu dan Wisnu punya rumah kontrakan sendiri.”
“Itu sempit!”
“Masih lebih baik daripada rumah ini disita karena kesalahan kalian.”
Shena mengepalkan tangan. “Mbak sengaja pulang untuk mengusirku?”
“Aku pulang untuk menyelamatkan Ibu dan Bapak.”
“Chacha bagaimana? Dia cucu mereka!”
Nama Chacha membuat Ibu terlihat goyah. Aku sudah menduga Shena akan menggunakan anaknya sebagai tameng.
“Chacha boleh datang kapan saja. Tapi kamu dan Wisnu harus belajar menanggung akibat dari perbuatan kalian sendiri.”
Wisnu menatapku lama. “Lina, kita bisa membicarakan ini baik-baik.”
“Jangan panggil namaku seolah kita masih dekat.”
“Aku hanya ingin berterima kasih.”
“Tidak perlu.”
Shena mendadak meraih dokumen di atas meja, tetapi aku lebih cepat menahannya.
“Kamu pikir setelah membawa banyak uang, kamu bisa mengatur hidup semua orang?” bentaknya.
“Bukan uang yang memberiku hak. Perbuatanmu yang membuatmu kehilangan kepercayaan.”
“Aku adikmu!”
“Adik yang tidur dengan tunanganku seminggu sebelum pernikahan.”
Ibu menutup matanya. Bapak menunduk.
Selama tiga tahun, tidak seorang pun berani mengucapkan kebenaran itu terang-terangan. Semua orang menyebutnya kesalahan, kekhilafan, atau takdir. Padahal itu pengkhianatan.
Shena terdiam sesaat, lalu tertawa kecil. “Ternyata Mbak masih belum bisa melupakan.”
“Aku sudah melupakan Wisnu. Tapi aku tidak akan melupakan cara kalian menghancurkan harga diriku, lalu menyuruhku diam agar keluarga tidak malu.”
Wajah Wisnu semakin pucat.
Aku melanjutkan, “Besok pagi kalian harus keluar dari rumah ini.”
Shena menatap Ibu. “Ibu diam saja?”
Air mata mengalir di wajah Ibu. “Untuk kali ini, dengarkan Mbakmu.”
Shena seperti baru saja ditampar. “Ibu memilih dia?”
“Ibu memilih yang benar.”
Shena berlari masuk ke kamarnya. Pintu dibanting keras. Wisnu menyusul tanpa berkata apa-apa.
Malam itu aku tidak bisa tidur. Dari kamar sebelah terdengar pertengkaran mereka. Shena menangis, Wisnu membentak, lalu suara benda pecah terdengar beberapa kali. Aku hanya berbaring memandangi langit-langit, mencoba meyakinkan diri bahwa keputusanku benar.
Pagi-pagi sekali, aku terbangun karena suara teriakan Ibu.
Aku berlari keluar kamar. Pintu belakang terbuka lebar. Lemari kayu di ruang tengah terbongkar. Uang tunai milik Bapak yang disimpan dalam kaleng biskuit hilang.
“Shena tidak ada!” kata Ibu panik. “Chacha juga dibawa!”
Wisnu keluar dari kamarnya dengan wajah kusut. “Mobil saya juga tidak ada.”
Aku menatapnya tajam. “Kamu tidak ikut?”
“Dia pergi tanpa bilang.”
Saat itu ponselku berdering. Nomor tidak dikenal.
“Apakah ini keluarga Shena?” tanya suara pria di seberang.
“Iya.”
“Ibu Shena mengalami kecelakaan di jalan raya dekat pasar. Kendaraannya menabrak pembatas jalan.”
Darahku seolah berhenti mengalir.
“Bagaimana keadaan anaknya?”
“Anaknya selamat. Mereka sudah dibawa ke rumah sakit.”
Kami semua bergegas ke rumah sakit kecamatan. Di ruang gawat darurat, Chacha duduk dalam pelukan perawat. Anak berusia lima tahun itu menangis ketakutan, tetapi tubuhnya hanya mengalami lecet ringan.
Shena terbaring di ranjang dengan perban di kepala. Ia sadar, tetapi wajahnya pucat.
Saat melihatku, air matanya langsung mengalir.
“Mbak,” panggilnya lirih.
Aku berdiri di samping ranjang, tidak tahu apa yang harus kukatakan.
“Aku mau pergi ke Surabaya,” katanya terputus-putus. “Aku mau menjual mobil untuk bayar utang lain.”
“Utang apa lagi?”
Shena menutup wajahnya. “Aku pinjam uang atas nama Ibu.”
Ibu terhuyung dan hampir jatuh jika Bapak tidak menopangnya.
“Berapa?” tanyaku.
“Delapan puluh juta.”
Aku menahan napas. “Untuk judi lagi?”
Shena menggeleng pelan. “Bukan.”
Ia melirik Wisnu.
“Untuk membayar perempuan yang dihamili Mas Wisnu.”
Wisnu membeku.
Bapak langsung menatapnya dengan murka. “Apa?”
Wisnu mundur selangkah. “Itu bohong.”
Shena meraih ponselnya yang retak dari atas meja kecil. Dengan tangan gemetar, ia membuka beberapa pesan dan menyerahkannya kepadaku. Di sana ada foto hasil pemeriksaan kehamilan, percakapan tentang uang, dan janji Wisnu untuk meninggalkan Shena.
Aku membaca semuanya tanpa suara.
Tiga tahun lalu, Shena percaya ia telah memenangkan seorang lelaki dariku. Hari itu, di rumah sakit, ia akhirnya menyadari bahwa lelaki yang direbut dengan pengkhianatan tidak akan berubah menjadi setia hanya karena telah dinikahi.
Wisnu mencoba mengambil ponsel, tetapi Bapak menepis tangannya.
“Keluar,” kata Bapak.
“Pak, dengarkan dulu.”
“Keluar dari keluarga kami!”
Wisnu memandangku, seolah berharap aku membelanya. Aku hanya menatapnya datar.
Ia akhirnya pergi dengan langkah cepat, meninggalkan Shena yang menangis tanpa suara.
Beberapa jam kemudian, dokter mengatakan kondisi Shena tidak serius. Ia hanya perlu dirawat dua hari untuk observasi. Aku duduk di samping ranjangnya saat Ibu dan Bapak membawa Chacha membeli makanan.
“Mbak,” katanya pelan, “kenapa Mbak masih menolong rumah itu setelah semua yang kulakukan?”
Aku menatap jendela. Matahari pagi menyinari halaman rumah sakit yang basah oleh hujan semalam.
“Aku tidak menolongmu. Aku menolong Ibu dan Bapak.”
“Aku pantas dibenci.”
“Aku memang pernah membencimu.”
“Sekarang?”
Aku menoleh kepadanya. Wajah adikku tampak rapuh, jauh berbeda dari perempuan angkuh yang menyambutku kemarin.
“Sekarang aku hanya kasihan.”
Shena menangis semakin keras.
“Aku iri pada Mbak,” katanya. “Sejak kecil semua orang bilang Mbak lebih pintar, lebih cantik, lebih bisa diandalkan. Saat Wisnu mendekatiku, aku merasa akhirnya ada sesuatu yang bisa kurebut darimu.”
“Kamu tidak merebut hadiah, Shena. Kamu mengambil masalah yang seharusnya tidak pernah kubawa ke pernikahan.”
Ia menutup matanya, seolah kalimat itu menghantam lebih keras daripada kemarahan.
“Apa Mbak bisa memaafkanku?”
Aku terdiam lama.
“Memaafkan bukan berarti semuanya kembali seperti dulu.”
Shena mengangguk sambil menangis.
“Aku akan membantumu menyelesaikan utang atas nama Ibu,” lanjutku. “Tapi setelah itu, kamu harus bekerja dan mengembalikannya sedikit demi sedikit. Kamu juga harus bercerai dari Wisnu jika memang itu pilihanmu sendiri, bukan karena aku.”
“Aku tidak punya keahlian.”
“Kamu pandai memasak. Dulu rujak buatanmu selalu lebih enak daripada buatanku.”
Untuk pertama kalinya, bibirnya membentuk senyum kecil di tengah air mata.
Enam bulan kemudian, rumah Ibu dan Bapak telah direnovasi sederhana. Atap bocor diganti, dinding dicat ulang, dan televisi tabung yang lama akhirnya digantikan televisi baru.
Shena membuka warung rujak dan makanan rumahan di depan rumah kontrakannya. Aku membantunya membeli peralatan, tetapi ia mengelola semuanya sendiri. Perlahan, ia mulai membayar utangnya.
Wisnu tidak pernah kembali. Perempuan yang dihamilinya ternyata juga meninggalkannya setelah mengetahui semua kebohongannya. Usaha materialnya bangkrut, dan kabar terakhir menyebutkan ia bekerja serabutan di kota lain.
Aku memilih menetap di Indonesia dan menggunakan sebagian uang warisan untuk membuka usaha penyalur tenaga kerja resmi. Aku ingin perempuan-perempuan yang hendak bekerja ke luar negeri tidak mengalami penipuan seperti yang pernah kusaksikan selama di Malaysia.
Suatu sore, aku duduk di teras bersama Ibu dan Bapak. Dari seberang jalan, Shena datang membawa sepiring rujak mangga. Chacha berlari di belakangnya.
“Kurang cabai, Mbak?” tanyanya sambil meletakkan piring di meja.
Aku mencicipinya, lalu menggeleng.
“Kurang gula.”
Shena tertawa kecil. “Dari dulu seleramu memang aneh.”
Ibu dan Bapak ikut tertawa. Suara itu memenuhi halaman rumah yang dulu nyaris hilang karena keserakahan dan kebohongan.
Aku memandang wajah-wajah di hadapanku. Luka memang tidak selalu hilang. Beberapa tetap tinggal sebagai bekas, mengingatkan kita tentang orang yang pernah kita percayai dan kesalahan yang pernah kita lakukan.
Namun hari itu aku mengerti, pulang bukan berarti kembali menjadi orang yang sama.
Pulang adalah keberanian untuk menatap luka lama, mengambil kembali apa yang hampir dirampas, lalu memilih hidup tanpa terus membawa kebencian.
Dan terkadang, orang yang paling membutuhkan kesempatan kedua bukanlah orang yang menyakiti kita.
Melainkan diri kita sendiri.
