Aku tidak enak badan. Selain pusing, aku juga bersin-bersin. Ingus keluar dari hidung, sampai-sampai menghabiskan satu bung kus tisu isi 250 lembar.

“Tiga,” jawabku pelan.

Mas Sabda tidak langsung menanggapi. Tatapannya masih tertuju kepadaku, seolah sedang memastikan bahwa jawabanku bukan sekadar asal bicara.

“Dua perempuan, satu laki-laki?” tanyanya.

“Kenapa harus begitu?”

“Biar anak laki-lakinya bisa menjaga dua saudara perempuannya.”

Aku tertawa kecil. “Kalau malah dua laki-laki dan satu perempuan?”

“Ya tetap dijaga.”

“Kalau semuanya perempuan?”

“Aku yang jaga.”

Entah karena udara desa yang sejuk atau karena nada suaranya yang terdengar sungguh-sungguh, dadaku mendadak hangat. Lelaki yang selama ini kukira dingin dan sulit ditebak ternyata menyimpan begitu banyak perhatian dalam caranya sendiri.

Belum sempat aku menjawab, suara mobil berhenti di depan rumah. Sebuah mobil berwarna putih terparkir miring dekat gapura. Disha turun dari kursi penumpang, disusul Pandu yang terlihat kesal.

Jantungku berdegup tidak nyaman.

Disha adalah adik tiriku. Namun sejak kecil, Ibu selalu memperlakukannya seperti putri kesayangan, sedangkan aku seperti anak numpang yang harus tahu diri. Bukan karena aku anak orang lain. Kami sama-sama anak kandung Ibu, hanya berbeda ayah. Setelah Bapak kandungku meninggal, Ibu menikah lagi dengan ayah Disha. Pernikahan itu juga berakhir, dan entah bagaimana semua kekecewaan Ibu selalu dilampiaskan kepadaku.

“Kak Katya!” Disha berjalan cepat menghampiri kami. Senyumnya lebar, tetapi matanya menatap Mas Sabda terlalu lama. “Maaf telat. Mobil Pandu mogok di jalan.”

“Sudah selesai acaranya,” jawabku.

“Yah, aku ingin ikut menentukan tanggal.” Disha berdiri di sampingku. “Ini Mas Sabda, ya?”

Mas Sabda mengangguk singkat.

Disha mengulurkan tangan, tetapi Mas Sabda hanya menyatukan kedua tangannya di depan dada sebagai salam sopan tanpa menyentuhnya. Senyum Disha tampak kaku.

Pandu mendekat dan menepuk bahu Mas Sabda. “Katanya kerja di bidang bangunan?”

“Iya.”

“Jadi kontraktor?” tanya Pandu.

“Kurang lebih.”

“Proyeknya rumah-rumah kecil atau renovasi?” Pandu bertanya dengan nada meremehkan.

Mas Sabda belum sempat menjawab ketika Ibu muncul dari pintu depan.

“Pandu sekarang kerja di perusahaan properti besar di kota,” kata Ibu dengan bangga. “Gajinya tinggi. Mobilnya juga sudah punya sendiri.”

“Mobil kredit, Bu,” sela Disha.

“Semua orang juga begitu kalau baru mulai,” sahut Ibu. “Yang penting pekerjaannya jelas.”

Aku menggenggam ujung bajuku, menahan kesal. Mas Sabda justru terlihat tenang.

“Mas, kita ke kebun saja,” ajakku.

Namun Pandu tiba-tiba bertanya, “Nama perusahaan Mas apa?”

“Sabda Arsitek dan Konstruksi.”

Wajah Pandu berubah. Hanya sebentar, tetapi aku melihat jelas keterkejutannya.

“Yang kantornya di Jalan Diponegoro?” tanyanya.

Mas Sabda mengangguk.

Pandu menelan ludah. “Perusahaan yang menang tender pembangunan kompleks perkantoran baru itu?”

“Kebetulan.”

Aku menatap suamiku. Jadi proposal tender yang sedang dikerjakannya bukan proyek kecil. Dari ekspresi Pandu, proyek itu pasti bernilai besar.

Ibu masih belum memahami situasi. Ia malah tertawa kecil. “Nama usaha sekarang memang dibuat keren-keren.”

Pandu mendadak diam. Disha meliriknya, tampak penasaran.

Sore itu kami pulang setelah berpamitan. Sepanjang perjalanan, aku lebih banyak diam. Mama Rara dan Tante Ersa berbincang di kursi belakang, sementara aku memperhatikan Mas Sabda dari samping.

“Ada apa?” tanyanya tanpa menoleh.

“Mas sengaja nggak bilang soal perusahaan?”

“Kamu nggak pernah tanya.”

“Aku kira Mas kerja sebagai arsitek biasa.”

“Aku memang arsitek biasa.”

“Punya kantor dua lantai, puluhan karyawan, dan proyek besar bukan biasa.”

Mas Sabda tersenyum tipis. “Kamu menikah denganku karena mengira aku orang biasa. Aku suka itu.”

Aku terdiam.

Pernikahan kami memang tidak dimulai seperti kisah cinta kebanyakan orang. Kami menikah secara agama dua bulan lalu karena sebuah keadaan yang rumit. Saat itu Bapak jatuh sakit dan ingin memastikan aku memiliki seseorang yang bisa melindungiku. Mama Rara, sahabat lama Bapak, menawarkan putranya. Aku setuju karena lelah terus tinggal di rumah yang membuatku merasa tidak diinginkan.

Kami belum mengadakan resepsi, bahkan belum benar-benar mengenal satu sama lain. Namun semakin hari, aku mulai melihat sisi Mas Sabda yang tidak pernah ia tunjukkan di depan orang lain.

Seminggu setelah pertemuan keluarga, persiapan pernikahan mulai berjalan. Mama Rara mengambil alih sebagian besar urusan. Ia memesan dekorasi, katering, rias pengantin, sampai panggung untuk pertunjukan sinden.

Aku hanya diminta memilih warna kebaya modern yang akan kukenakan.

Disha datang ke rumah kami pada suatu siang. Aku sedang menemui penjahit bersama Mama Rara, sehingga hanya Mas Sabda yang ada di rumah.

Saat pulang, kulihat Disha duduk di ruang tamu dengan secangkir kopi. Ia mengenakan blus ketat dan riasan wajah lengkap, jauh berbeda dari penampilannya ketika di rumah Bapak.

“Kamu ngapain di sini?” tanyaku.

“Ngantar undangan contoh dari Ibu.” Disha mengangkat satu lembar kertas. “Kebetulan Mas Sabda ada.”

Mas Sabda keluar dari ruang kerja. Wajahnya datar.

“Sudah selesai?” tanyanya kepadaku.

“Sudah.”

“Aku mau kembali ke kantor.”

Ia mengambil kunci mobil, lalu menatap Disha. “Tolong lain kali beri tahu Katya sebelum datang. Aku tidak nyaman menerima tamu perempuan saat istriku tidak di rumah.”

Wajah Disha memerah. “Aku ini adiknya.”

“Justru karena kamu adiknya, kamu seharusnya menghormati rumah tangganya.”

Mas Sabda pergi tanpa menunggu jawaban.

Disha berdiri dengan wajah kesal. “Sombong banget.”

“Dia benar.”

“Kakak takut aku merebutnya?”

Aku menatap adikku. “Aku tidak takut. Tapi aku tahu kamu.”

“Apa maksudnya?”

“Kamu selalu menginginkan apa pun yang aku punya, bahkan ketika kamu tidak membutuhkannya.”

Disha tertawa sinis. “Jangan terlalu percaya diri. Aku sudah punya Pandu.”

Namun dua hari kemudian, Pandu datang menemuiku di sebuah warung kopi dekat pasar. Ia mengirim pesan berkali-kali sampai akhirnya aku setuju bertemu, hanya agar ia berhenti mengganggu.

“Aku mau bicara soal Disha,” katanya.

“Bicarakan langsung dengan dia.”

“Dia berubah sejak bertemu suamimu.”

Aku tidak terkejut.

Pandu menunjukkan layar ponselnya. Ada pesan-pesan Disha kepada seseorang yang namanya disimpan sebagai S. Isinya menanyakan jadwal kantor, kesukaan, bahkan status pernikahan Mas Sabda denganku.

“Dia pikir kalian cuma menikah karena terpaksa,” kata Pandu. “Dia bilang kalau Mas Sabda mengenalnya lebih dulu, dia yang akan dipilih.”

Aku memejamkan mata sesaat. Bukan karena cemburu, tetapi karena lelah. Sejak kecil, setiap kali aku mendapat sesuatu, Disha selalu berusaha membuktikan bahwa ia lebih pantas memilikinya.

“Kenapa kamu menunjukkan ini kepadaku?”

“Karena aku nggak mau kehilangan Disha.”

“Kalau begitu, perjuangkan hubunganmu. Jangan menyeretku.”

Aku berdiri hendak pergi, tetapi Pandu menahan lenganku.

“Ada satu hal lagi. Disha dan Ibu merencanakan sesuatu saat resepsi.”

Aku menepis tangannya. “Apa?”

“Mereka ingin mengumumkan kalau pernikahanmu tidak sah secara hukum karena belum tercatat. Ibu juga mau mengatakan bahwa biaya pesta berasal dari utang. Mereka ingin mempermalukan Mas Sabda di depan keluarganya supaya dia membatalkan pernikahan.”

Tubuhku mendadak dingin.

“Kenapa Ibu melakukan itu?”

“Disha bilang Ibu tidak pernah setuju kamu menikah lebih dulu darinya.”

Aku pulang dengan kepala penuh pertanyaan. Malamnya, aku menceritakan semuanya kepada Mas Sabda. Ia mendengarkan tanpa memotong, kemudian meletakkan ponselnya di meja.

“Kamu percaya Pandu?” tanyanya.

“Entahlah. Tapi aku percaya Ibu bisa melakukan itu.”

“Kalau begitu, kita biarkan.”

Aku terperanjat. “Dibiarkan?”

“Ya.”

“Mas, mereka mau mempermalukan kita.”

Mas Sabda menatapku tenang. “Orang yang membuat jebakan biasanya terlalu sibuk melihat korbannya sampai lupa memperhatikan lubang di bawah kakinya sendiri.”

Aku tidak benar-benar memahami maksudnya. Namun dari tatapannya, aku tahu ia sudah memiliki rencana.

Hari resepsi akhirnya tiba.

Halaman samping rumah Bapak berubah menjadi tempat pesta yang indah. Tenda putih berdiri memanjang, dihiasi bunga-bunga berwarna lembut. Panggung musik berada di sisi kanan, sementara ratusan kursi memenuhi halaman.

Aku mengenakan kebaya modern berwarna hijau zamrud. Ketika melihat pantulan diri di cermin, aku hampir tidak mengenali perempuan di hadapanku.

Mama Rara memelukku dari belakang. “Cantik sekali menantu Mama.”

Mataku berkaca-kaca. Seumur hidup, aku jarang mendengar seorang ibu mengucapkan kalimat itu kepadaku.

Acara berlangsung lancar sampai setelah sesi foto keluarga. Ibu tiba-tiba mengambil mikrofon dari pembawa acara.

“Ada sesuatu yang perlu saya sampaikan,” katanya.

Suasana perlahan hening.

Aku melihat Disha berdiri di samping panggung. Wajahnya tampak tegang, tetapi ada kepuasan di matanya.

“Sebagai ibu Katya, saya tidak ingin keluarga besar tertipu,” lanjut Ibu. “Pernikahan mereka sebenarnya belum resmi tercatat. Selain itu, pesta ini dibuat dengan biaya besar yang tidak jelas asalnya. Saya khawatir anak saya sedang menutupi utang.”

Para tamu mulai berbisik.

Bapak bangkit dari kursinya. “Murtia, cukup!”

Namun Ibu terus berbicara. “Saya hanya tidak ingin keluarga besan mengira kami mampu mengadakan pesta semewah ini.”

Aku merasa wajahku panas. Meskipun sudah mengetahui rencana itu, mendengar Ibu mengucapkannya di depan banyak orang tetap terasa seperti ditampar.

Mas Sabda menggenggam tanganku. Lalu ia meminta mikrofon.

“Terima kasih, Ibu Murtia, sudah menyampaikan kekhawatiran,” katanya tenang. “Pertama, pernikahan kami sudah resmi tercatat tiga minggu lalu.”

Seorang petugas dari Kantor Urusan Agama yang duduk di barisan depan berdiri dan mengangkat sebuah map.

“Dokumennya lengkap,” katanya.

Bisik-bisik para tamu berhenti.

“Kedua,” lanjut Mas Sabda, “seluruh biaya acara ini dibayar oleh saya dan keluarga saya. Tidak ada utang.”

Mama Rara tersenyum dari kursinya.

Wajah Ibu memucat. Namun kejutan belum berakhir.

Mas Sabda memberi isyarat kepada seorang pria berjas yang berdiri di dekat panggung. Pria itu adalah pengacara perusahaannya.

“Karena Ibu membahas soal uang,” kata Mas Sabda, “saya juga ingin menyelesaikan satu hal mengenai tanah di samping rumah ini.”

Bapak tampak bingung.

Pengacara membuka dokumen. “Tanah yang digunakan untuk acara ini sebelumnya tercatat atas nama almarhum ayah kandung Ibu Katya. Berdasarkan surat waris, tanah tersebut menjadi hak Ibu Katya setelah beliau meninggal.”

Aku menatapnya tak percaya.

Ibu mundur satu langkah. “Itu tidak benar.”

“Dokumen lama ditemukan di kantor desa,” lanjut pengacara. “Namun beberapa tahun lalu muncul surat pemindahan hak dengan tanda tangan yang diduga dipalsukan.”

Suasana langsung gaduh.

Bapak menatap Ibu dengan wajah hancur. “Murtia, kamu bilang tanah ini dibeli dari saudara mendiang suamimu.”

Ibu tidak menjawab.

Disha perlahan menjauh dari panggung, tetapi Pandu muncul dan berdiri di hadapannya.

“Jadi benar,” katanya. “Kamu dan Ibumu mau menghancurkan pernikahan kakakmu.”

“Pandu, dengarkan aku.”

“Aku sudah terlalu sering mendengarkan kebohonganmu.”

Disha menangis, tetapi Pandu pergi meninggalkannya.

Aku seharusnya merasa puas. Namun ketika melihat Ibu berdiri sendirian di tengah tatapan para tamu, yang kurasakan justru kehampaan.

Aku mengambil mikrofon dari tangan Mas Sabda.

“Aku tidak akan membahas masalah tanah ini di pesta,” kataku. “Semua akan diselesaikan secara kekeluargaan dan sesuai hukum.”

Ibu menatapku. Untuk pertama kalinya, tidak ada kebencian di matanya. Hanya ketakutan.

“Aku tidak ingin membalas Ibu,” lanjutku. “Aku hanya ingin Ibu berhenti menganggap kebahagiaanku sebagai ancaman.”

Air mata mengalir di pipi Ibu.

Acara dilanjutkan setelah suasana perlahan tenang. Musik mulai dimainkan. Para tamu kembali menikmati makanan, meskipun bisik-bisik masih terdengar di beberapa sudut.

Malamnya, setelah semua orang pulang, aku duduk bersama Mas Sabda di bawah pohon tempat kami pernah membicarakan anak.

“Mas tahu soal tanah itu sejak kapan?” tanyaku.

“Sejak Bapakmu memberikan beberapa dokumen lama kepada Mama.”

“Kenapa nggak bilang?”

“Aku ingin memastikan semuanya dulu.”

Aku menatap halaman yang mulai sepi. “Aku tidak ingin memenjarakan Ibu.”

“Aku tahu.”

“Aku juga tidak ingin mengusirnya dari rumah.”

“Itu hakmu.”

Aku menyandarkan kepala di bahunya. “Mas sebenarnya menikahiku karena kasihan?”

Sabda diam cukup lama.

“Awalnya, aku setuju karena permintaan Mama,” jawabnya jujur. “Tapi sebelum akad, aku pernah melihatmu.”

“Di mana?”

“Di depan rumah sakit. Waktu itu kamu sedang flu berat, tetapi masih membagikan makanan kepada keluarga pasien lain. Kamu bahkan memberikan jaketmu kepada seorang anak kecil yang kedinginan.”

Aku mengingat kejadian itu. Saat Bapak dirawat, aku memang pernah membagikan makanan sisa acara kantor.

“Aku tidak tahu Mas ada di sana.”

“Aku sengaja tidak memperkenalkan diri.”

“Kenapa?”

“Karena saat itu aku sudah tahu kamu calon istriku. Aku ingin melihatmu tanpa kamu tahu siapa aku.”

Aku mengangkat kepala. “Jadi Mas sudah menyukaiku sebelum menikah?”

“Jangan besar kepala.”

Aku mencubit lengannya.

Mas Sabda tertawa, lalu menggenggam tanganku. Dari saku jasnya, ia mengeluarkan sebuah kotak kecil. Di dalamnya ada kunci dengan gantungan berbentuk rumah.

“Apa ini?”

“Kunci rumah kita yang baru.”

“Kita sudah punya rumah.”

“Rumah yang lebih dekat dengan Bapakmu. Ada halaman luas, tiga kamar anak, dan satu kamar untuk orang tua kalau suatu hari Bapak ingin tinggal bersama kita.”

Aku menatapnya dengan mata panas.

“Tiga kamar anak?” tanyaku.

“Kamu sendiri yang bilang mau tiga.”

Aku tertawa sambil menangis. Di kejauhan, Ibu berdiri di depan pintu rumah. Wajahnya sembap. Ia tidak mendekat, hanya memandangku dengan penyesalan yang mungkin selama ini terlalu berat untuk diucapkan.

Aku bangkit dan berjalan menghampirinya.

Ibu menunduk. “Maafkan Ibu.”

Hanya tiga kata. Namun itulah kata-kata yang kutunggu hampir seumur hidup.

Aku tidak langsung memeluknya. Luka bertahun-tahun tidak bisa sembuh dalam satu malam. Tetapi aku menggenggam tangannya.

“Kita perbaiki pelan-pelan, Bu.”

Di belakangku, Mas Sabda menunggu tanpa mendesak. Saat itu aku menyadari bahwa rumah bukan sekadar bangunan megah, tanah luas, atau kamar yang banyak.

Rumah adalah tempat seseorang tidak perlu bersaing untuk dicintai.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku merasa benar-benar telah pulang.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang