Mangkuk sayur lodeh itu masih tergeletak di atas meja ketika pintu rumah kembali sepi. Aku memandang ayam, tempe, dan sayuran yang baru kubeli. Untuk pertama kalinya sejak menikah dengan Hamzah enam bulan lalu, aku merasa tidak ingin lagi menangis. Aku hanya lelah.
Aku mulai membersihkan ayam, mengiris bawang merah, bawang putih, cabai, dan serai. Tangan yang selama ini dianggap tidak becus memasak mulai bergerak pelan mengikuti resep dari ponselku. Aroma tumisan pertama memenuhi dapur kecil rumah kontrakan kami.
Aku tersenyum tipis.
Ternyata memasak tidak sesulit yang selalu dikatakan ibu mertuaku.
Sore itu Hamzah pulang lebih awal. Begitu membuka pintu, dia berhenti melangkah.

“Kamu masak?”
“Iya.”
Dia menghirup aroma masakan.
“Wangi.”
Aku tidak menjawab. Aku hanya meletakkan sepiring nasi dan ayam kecap di atas meja.
Hamzah duduk, lalu mulai makan.
Suapan pertama membuatnya berhenti.
“Ini… kamu yang masak?”
“Iya.”
“Enak.”
Aku mengangguk pelan.
“Tapi…” lanjutnya, “besok tidak usah masak lagi. Kasihan Ibu nanti sudah masak.”
Aku menurunkan sendokku.
“Mas, kalau aku bisa masak sendiri, kenapa Ibu masih harus memasak setiap hari?”
“Itu kan bentuk perhatian Ibu.”
“Perhatian atau ingin mengatur rumah tangga kita?”
Hamzah langsung meletakkan sendok.
“Jangan bicara begitu tentang Ibu.”
Aku menarik napas panjang.
“Aku tidak sedang menghina beliau. Aku hanya ingin menjadi istri yang benar-benar mengurus suamiku.”
Hamzah berdiri tanpa menghabiskan makanannya.
“Kamu terlalu banyak berpikir.”
Dia keluar lagi menuju rumah ibunya.
Aku hanya tertawa kecil.
Masakan yang katanya enak tadi ternyata tetap tidak bisa mengalahkan perkataan ibunya.
Sejak hari itu aku mulai memasak setiap hari.
Anehnya, setiap kali Hamzah pulang dari rumah ibunya, selalu ada komentar.
“Hari ini Ibu bilang gulai kamu terlalu encer.”
“Ibu bilang sambalnya terlalu pedas.”
“Ibu bilang ayamnya terlalu kering.”
Aku bingung.
Aku tidak pernah mengirimkan masakanku ke rumah ibu.
Lalu bagaimana beliau bisa tahu?
Sampai suatu siang aku menemukan jawabannya.
Aku lupa membawa dompet dan kembali ke rumah. Dari luar jendela aku melihat Hamzah sedang membuka panci, mengambil sedikit lauk menggunakan wadah kecil, lalu berjalan menuju rumah ibunya.
Aku terdiam.
Jadi selama ini…
Dia membawa contoh masakanku untuk dinilai.
Dadaku terasa sesak.
Malamnya aku bertanya.
“Mas, setiap hari kamu kasih masakanku ke Ibu?”
Hamzah terlihat gugup.
“Cuma sedikit.”
“Buat apa?”
“Ya… biar Ibu kasih pendapat.”
“Pendapat?”
“Ibu lebih berpengalaman.”
Aku tertawa pelan.
“Berarti selama ini aku bukan sedang belajar menjadi istri. Aku sedang ikut lomba memasak di depan ibumu.”
Hamzah terdiam.
“Aku hanya ingin masakan kita dinilai lebih baik.”
“Rumah tangga kita juga mau dinilai beliau setiap hari?”
Pertanyaan itu membuat Hamzah kehilangan kata-kata.
Hari-hari berikutnya aku memilih diam.
Aku berhenti berdebat.
Aku tetap memasak.
Tetap membersihkan rumah.
Tetap mencuci pakaian.
Tetapi aku tidak lagi berharap Hamzah akan berpihak kepadaku.
Suatu sore, Mbak Dita datang lagi.
Dia melihatku sedang membuat donat.
“Kamu belajar dari mana?”
“Dari YouTube.”
Dia mencicipi satu.
Matanya langsung membesar.
“Ya Allah, ini enak banget.”
“Benarkah?”
“Iya.”
Aku tertawa kecil.
“Berarti lidahku mulai normal.”
Mbak Dita ikut tertawa, tetapi kemudian wajahnya berubah serius.
“Reni…”
“Iya?”
“Sebenarnya Mbak mau minta maaf.”
Aku menatapnya.
“Dulu Mbak pikir Ibu benar.”
“Maksudnya?”
“Mbak baru sadar setelah kejadian sayur basi.”
Dia menunduk.
“Selama ini setiap menantu baru selalu dibanding-bandingkan.”
Aku terdiam.
“Mbak juga pernah mengalami.”
“Kok tidak pernah cerita?”
“Mbak malu.”
Dia menghela napas panjang.
“Dulu Ibu juga selalu bilang Mbak boros. Masakan Mbak tidak enak. Tidak becus jadi istri.”
“Lalu?”
“Mbak menyerah.”
Aku memegang tangannya.
“Makasih sudah jujur.”
Air mata Mbak Dita jatuh.
“Tapi Hamzah lebih susah daripada suami Mbak.”
“Kenapa?”
“Karena Hamzah terlalu takut mengecewakan Ibu.”
Kalimat itu terus terngiang di kepalaku.
Beberapa minggu kemudian Hamzah menerima bonus kantor hampir sepuluh juta rupiah.
Aku mengetahuinya karena tanpa sengaja melihat slip gaji di tasnya.
Malam itu aku menunggu.
“Mas, bulan ini dapat bonus ya?”
Hamzah tampak kaget.
“Iya.”
“Berapa?”
“Sedikit.”
“Berapa?”
“Lima juta.”
Aku tahu dia berbohong.
Aku tidak membahasnya lagi.
Keesokan paginya aku melihat Hamzah menyerahkan sebuah amplop tebal kepada ibunya.
Aku tidak ikut mendekat.
Namun dari kejauhan aku mendengar suara ibu.
“Kurang.”
Hamzah langsung mengeluarkan uang lagi dari dompetnya.
Aku tidak percaya dengan apa yang kulihat.
Malamnya listrik rumah kami tiba-tiba padam.
Aku mengecek meteran.
Token habis.
Padahal uang lima ratus ribu yang diberikan Hamzah sudah kugunakan untuk membayar listrik minggu lalu.
Aku meneleponnya.
“Mas, listrik mati.”
“Nanti ya.”
“Pulangnya jam berapa?”
“Mas lagi di rumah Ibu.”
Aku menunggu sampai pukul sebelas malam.
Dia baru pulang sambil membawa beberapa kantong belanja.
“Itu apa?”
“Belanja buat Ibu.”
Aku melihat token listrik belum dibeli.
“Mas…”
“Ada apa?”
“Rumah kita gelap.”
“Nanti besok.”
Aku tidak sanggup lagi menahan air mata.
“Mas, rumah kita gelap, tapi rumah Ibu terang. Kita kehabisan beras, tapi dapur Ibu penuh. Aku cuma minta kamu lihat rumahmu sendiri.”
Hamzah diam.
Aku masuk kamar.
Besok paginya aku mengambil keputusan yang tidak pernah kubayangkan.
Aku melamar pekerjaan.
Sebuah toko roti rumahan sedang mencari pegawai.
Pemiliknya seorang perempuan paruh baya bernama Bu Rina.
Dia mencicipi donat buatanku.
“Kamu pernah sekolah tata boga?”
“Tidak.”
“Kalau begitu kamu berbakat.”
Aku diterima hari itu juga.
Aku tidak memberi tahu Hamzah.
Sebulan kemudian penghasilanku mulai stabil.
Aku diam-diam membeli kulkas kecil.
Kompor baru.
Rice cooker.
Semuanya dari hasil kerjaku sendiri.
Saat Hamzah melihat barang-barang baru itu, dia terkejut.
“Dari mana uangnya?”
“Aku kerja.”
“Kok tidak bilang?”
“Kalau aku bilang, nanti pasti Ibu melarang.”
Hamzah tidak membantah.
Karena dia tahu itu benar.
Beberapa hari kemudian ibu datang.
Begitu melihat dapur kami yang kini rapi dan lengkap, wajahnya berubah.
“Kamu kerja?”
“Iya.”
“Siapa yang izinkan?”
“Aku tidak melakukan hal yang salah.”
“Kamu membuat Hamzah terlihat tidak mampu.”
Aku tersenyum.
“Bukan begitu, Bu. Saya hanya ingin membantu rumah tangga kami.”
“Tidak usah sok mandiri.”
Aku menatap beliau dengan tenang.
“Selama ini saya berusaha menjadi menantu yang baik.”
Ibu mendengus.
“Tapi Ibu tidak pernah menganggap saya bagian dari keluarga.”
Suasana mendadak hening.
Hamzah yang baru pulang berdiri di depan pintu.
Dia mendengar semuanya.
Aku melanjutkan.
“Saya tidak pernah melarang Mas Hamzah membantu Ibu.”
“Tapi rumah tangga kami juga butuh perhatian.”
“Kalau setiap keputusan harus menunggu persetujuan Ibu, lalu kapan kami belajar menjadi keluarga sendiri?”
Ibu hendak menjawab.
Namun Hamzah lebih dulu berbicara.
“Bu…”
Suara itu terdengar berbeda.
Lebih tegas.
“Selama ini Hamzah salah.”
Ibu menoleh kaget.
“Hamzah terlalu bergantung sama Ibu.”
“Berani kamu melawan Ibu?”
“Bukan melawan.”
Hamzah menggenggam tanganku.
“Hamzah cuma baru sadar.”
“Sadar apa?”
“Selama ini yang selalu pulang ke rumah Ibu bukan anak yang berbakti.”
Dia menarik napas panjang.
“Tapi suami yang lalai.”
Air mata ibu mulai menggenang.
Hamzah melanjutkan dengan suara bergetar.
“Reni tidak pernah meminta hidup mewah.”
“Dia cuma ingin punya rumah tangga sendiri.”
“Aku yang gagal memberikannya.”
Ruangan itu sunyi.
Untuk pertama kalinya sejak menikah, Hamzah berdiri di sampingku, bukan di belakang ibunya.
Ibu perlahan duduk di kursi.
Wajahnya terlihat jauh lebih tua daripada biasanya.
Setelah beberapa menit, beliau berkata lirih,
“Dulu… ayah Hamzah juga seperti itu.”
Kami semua menoleh.
“Nenek Hamzah mengatur semuanya.”
“Ayah Hamzah tidak pernah membelaku.”
“Sampai akhirnya beliau meninggal, aku baru punya rumah sendiri.”
Air mata beliau jatuh tanpa bisa ditahan.
“Aku tidak sadar… ternyata aku melakukan hal yang sama pada kalian.”
Tidak ada yang berbicara.
Hamzah memeluk ibunya.
Aku ikut mendekat.
Hari itu tidak ada permintaan maaf yang panjang.
Tidak ada pelukan dramatis.
Namun sejak hari itu, tidak pernah lagi ada semangkuk sayur basi yang dikirim ke rumahku.
Tidak pernah lagi masakanku dibawa diam-diam untuk dinilai.
Dan yang paling membuatku tersenyum, setiap awal bulan Hamzah kini selalu meletakkan seluruh gajinya di atas meja sambil berkata,
“Ini uang kita. Kita atur bersama.”
Baru saat itulah aku benar-benar merasa menikah, bukan dengan seorang anak laki-laki yang masih bergantung pada ibunya, melainkan dengan seorang pria yang akhirnya mengerti bahwa berbakti kepada orang tua tidak pernah berarti mengabaikan keluarga yang telah dipilihnya sendiri.
