Aku meninggalkan rumah sakit dengan satu tujuan yang membuat langkahku tetap tegak meski tubuhku hampir roboh karena lelah.
Malam itu, aku tidak datang ke rumah Deras untuk menangis, memohon, atau menuntut belas kasihan. Aku datang sebagai seorang ibu yang baru saja mendengar putrinya sendiri meminta ayah baru karena terlalu takut pada ayah kandungnya.
Setiap lampu jalan yang kulewati terasa seperti potongan ingatan yang menamparku satu per satu. Hari ketika Deras pertama kali menggendong Flora. Hari ketika dia berjanji akan menjadi ayah terbaik. Hari ketika pernikahan kami hancur dan dia tetap bersikeras ingin mendapat hak kunjungan.
Aku pernah mengira perceraian akan mengakhiri penderitaanku.

Ternyata penderitaan itu hanya berpindah ke tubuh anakku.
Rumah Deras masih terang ketika aku tiba. Mobilnya terparkir di halaman, berdampingan dengan mobil milik orang tuanya. Dari luar terdengar suara televisi dan tawa kecil.
Tawa.
Mereka masih bisa tertawa ketika Flora sedang menunggu operasi di rumah sakit.
Aku menekan bel berkali-kali sampai pintu dibuka oleh Kina. Wajahnya berubah tegang saat melihatku.
“Tera? Kamu ngapain malam-malam begini?”
“Panggil Deras.”
“Deras sedang istirahat.”
“Anakku juga seharusnya sedang istirahat. Bukan terbaring di rumah sakit karena cedera yang dia dapatkan di rumah ini.”
Kina memucat.
“Apa maksudmu?”
Aku mendorong pintu lebih lebar dan masuk tanpa menunggu izin. Deras keluar dari ruang tengah dengan kaus hitam dan celana pendek. Di belakangnya, ibu dan ayahnya berdiri dengan wajah tidak senang.
Deras menatapku tajam.
“Kamu kenapa datang dan bikin keributan?”
Aku mengeluarkan amplop hasil pemeriksaan dokter, lalu melemparkannya ke meja.
“Flora akan dioperasi besok pagi.”
Ruangan itu mendadak sunyi.
Deras melihat amplop tersebut, tetapi tidak langsung menyentuhnya.
“Operasi apa?”
“Cedera di perutnya menyebabkan perdarahan internal. Dokter menemukan memar lama dan baru di tubuhnya. Mau aku jelaskan satu per satu, atau kamu masih ingin berpura-pura tidak tahu?”
Wajahnya berubah.
“Aku tidak pernah memukul Flora.”
“Aku belum bilang kamu yang memukul.”
Deras terdiam.
Jawabannya terlalu cepat. Terlalu defensif.
Aku memandang Kina. Perempuan itu segera memalingkan wajah.
“Siapa yang menyentuh anakku?”
“Jangan asal menuduh,” kata ibu Deras. “Flora memang anak yang aktif. Bisa saja dia jatuh.”
“Jatuh berkali-kali di tempat yang berbeda?”
“Anak kecil sering terbentur.”
“Anak kecil tidak menciptakan lebam berbentuk jari di lengannya sendiri.”
Kina semakin pucat.
Deras berjalan mendekat. “Kamu datang ke sini untuk apa? Mengancam kami?”
“Aku datang untuk mendengar kebenaran.”
“Sudah kubilang aku tidak tahu apa-apa.”
Aku menatapnya lurus.
“Flora bilang kamu ingin membuangnya ke panti asuhan karena dia nakal dan suka mencuri.”
Deras seketika membeku.
Tidak ada lagi suara televisi. Tidak ada yang bergerak. Bahkan Kina yang sejak tadi gelisah kini berdiri seperti patung.
Aku tahu.
Kalimat itu memang pernah diucapkannya.
“Kamu bilang begitu kepada anak berusia lima tahun?” tanyaku.
Deras mengusap wajahnya kasar.
“Aku cuma menakut-nakuti supaya dia mengaku.”
“Mengaku soal apa?”
“Dia mengambil gelang milik Kina.”
Aku menoleh kepada Kina. “Gelang?”
Kina menjawab lirih, “Gelang emas pemberian Deras hilang.”
“Dan kalian menuduh Flora?”
“Dia ada di kamar kami hari itu,” kata Deras. “Tidak ada orang lain.”
“Jadi kamu meneriakinya, mengancam membuangnya, lalu apa? Memukulnya?”
“Aku tidak memukul!”
Suara Deras menggelegar.
Aku tidak mundur.
“Kalau bukan kamu, siapa?”
Tidak ada jawaban.
Aku memandang mereka satu per satu. Ayah Deras menghindari tatapanku. Ibunya mengepalkan tangan. Kina menunduk. Hanya Deras yang masih berusaha mempertahankan wajah marahnya, seolah kemarahan bisa menutupi ketakutan.
“Aku sudah melapor,” kataku.
Mereka serentak menatapku.
“Polisi akan meminta keterangan setelah operasi Flora selesai. Rumah sakit juga sudah mencatat dugaan kekerasan terhadap anak.”
Ibu Deras melangkah maju.
“Kamu mau menghancurkan keluarga ini hanya karena beberapa lebam?”
Aku tertawa pendek karena tidak percaya.
“Beberapa lebam?”
“Jangan berlebihan. Kami juga keluarganya.”
“Keluarga tidak membuat anak merasa harus mengganti ayah agar bisa selamat.”
Deras menatapku dengan mata merah.
“Jangan bawa-bawa hak asuh.”
“Aku tidak perlu membawanya. Kamu sendiri yang baru saja menghancurkan hakmu sebagai ayah.”
Kina tiba-tiba menangis.
Tangisnya membuat semua orang menoleh.
“Aku tidak sengaja,” katanya.
Dadaku langsung terasa dingin.
Deras menatapnya. “Kina, diam.”
“Aku benar-benar tidak sengaja.”
Aku mendekatinya perlahan.
“Apa yang kamu lakukan pada Flora?”
Kina menggeleng cepat. “Aku cuma kesal. Aslan menangis terus, gelangku hilang, rumah berantakan. Flora juga tidak mau mengaku.”
“Mengaku sesuatu yang tidak dia lakukan?”
“Aku pikir dia yang mengambilnya.”
“Apa yang kamu lakukan?”
Kina mundur satu langkah.
“Aku menarik tangannya. Dia melawan. Lalu dia menendang kotak mainan Aslan.”
“Kina,” Deras memperingatkan.
Namun Kina terus bicara, mungkin karena rasa bersalah sudah terlalu lama menekannya.
“Aku mendorongnya.”
Aku menahan napas.
“Ke mana?”
Kina menutup mulutnya sendiri, air matanya jatuh semakin deras.
“Ke sudut meja.”
Dunia seakan berhenti.
Aku membayangkan tubuh kecil Flora membentur sudut furnitur, lalu menahan sakit sendirian. Aku membayangkan dia menangis, sementara orang-orang dewasa di rumah ini sibuk menuduhnya sebagai pencuri.
“Setelah itu?” tanyaku.
“Kami pikir dia cuma memar.”
“Kami?”
Aku menoleh kepada Deras.
“Kamu tahu?”
Deras mengepalkan rahangnya.
“Aku pulang setelah kejadian.”
“Dan kamu melihat lukanya?”
“Dia masih bisa berjalan.”
Aku menatap laki-laki yang pernah kunikahi itu. Untuk pertama kalinya, aku tidak melihat sisa lelaki yang pernah kucintai. Yang kulihat hanya seseorang yang memilih kenyamanan rumah barunya daripada keselamatan putrinya sendiri.
“Dia bilang perutnya sakit?” tanyaku.
Deras tidak menjawab.
“Dia menangis?”
Diam.
“Dia minta pulang?”
Masih diam.
Aku merasakan tanganku gemetar.
“Jawab aku!”
“Iya!” bentaknya. “Dia minta pulang. Tapi aku pikir dia cuma cari perhatian.”
Kalimat itu jauh lebih kejam daripada pengakuan Kina.
Kina mungkin mendorong Flora dalam ledakan emosi. Namun Deras melihat anaknya terluka, mendengar tangisnya, dan tetap memilih untuk tidak membawanya ke dokter.
“Kamu meninggalkannya dalam keadaan sakit?”
“Aku berniat mengantarnya besok pagi.”
“Tapi kamu mengirimnya pulang kepadaku tanpa mengatakan apa pun.”
“Aku tidak tahu lukanya separah itu.”
“Kamu tidak mau tahu.”
Deras terdiam.
Aku mengangkat ponsel dan menunjukkan rekaman suara yang sudah aktif sejak aku berdiri di depan pintu.
Wajah mereka berubah drastis.
“Kamu merekam kami?” tanya ibu Deras.
“Aku datang ke sini bukan hanya sebagai ibu yang marah. Aku datang untuk mengumpulkan bukti.”
Deras bergerak hendak merebut ponselku, tetapi aku mundur.
“Sentuh aku, dan aku pastikan malam ini kamu ikut diperiksa polisi.”
Ayah Deras akhirnya bicara.
“Kita bisa menyelesaikan ini secara kekeluargaan.”
Aku menatapnya tajam.
“Flora juga keluarga kalian. Kenapa saat dia kesakitan tidak ada yang berpikir menyelesaikannya secara kekeluargaan?”
Tidak ada yang mampu menjawab.
Aku bersiap pergi ketika terdengar suara benda jatuh dari kamar belakang. Seorang pengasuh keluar sambil menggendong Aslan yang baru terbangun.
Perempuan itu menatap kami dengan takut.
“Maaf, Bu. Saya tidak sengaja menjatuhkan botol.”
Saat dia hendak kembali, mataku menangkap sesuatu di pergelangan tangannya.
Sebuah gelang emas.
Kina juga melihatnya.
Wajahnya langsung berubah.
“Itu gelangku!”
Pengasuh itu membeku.
“Bukan, Bu. Ini punya saya.”
“Jangan bohong!”
Kina meraih tangannya dan menarik gelang itu. Di bagian dalam terdapat ukiran kecil berbentuk huruf K dan D.
Gelang yang membuat Flora dituduh mencuri.
Pengasuh itu mulai menangis.
“Saya cuma pinjam, Bu. Saya mau kembalikan.”
Kina menamparnya.
Suara tamparan itu memecah keheningan.
Aku tidak peduli pada pertengkaran mereka. Pikiranku hanya tertuju pada Flora.
Dia tidak mencuri.
Dia sudah mengatakan kebenaran sejak awal.
Namun tak seorang pun mempercayainya.
Deras melihat gelang itu seakan baru menyadari seluruh kebodohannya.
“Tera…”
“Jangan panggil namaku.”
“Aku tidak tahu.”
“Itulah masalahmu. Kamu selalu tidak tahu. Tidak tahu anakmu takut. Tidak tahu dia terluka. Tidak tahu dia tidak bersalah. Tapi kamu selalu punya cukup keyakinan untuk menyalahkannya.”
Aku berjalan menuju pintu.
“Tera, tunggu.”
“Apa lagi?”
Deras menatapku dengan wajah hancur.
“Boleh aku melihat Flora?”
Aku memandangnya lama.
“Besok, setelah operasinya, polisi mungkin akan memberimu kesempatan melihatnya. Tapi sebagai ayah, malam ini kamu sudah kehilangan hak itu.”
Aku keluar sebelum amarahku mengalahkan akal sehat.
Di dalam mobil, aku akhirnya menangis.
Bukan tangis lemah. Bukan tangis seorang perempuan yang patah hati karena mantan suaminya. Aku menangis karena anakku harus menanggung akibat dari kesalahan orang dewasa. Karena aku terlambat membaca ketakutan di matanya. Karena selama ini dia tersenyum agar aku tidak khawatir.
Ketika kembali ke rumah sakit, lorong sudah sepi.
Aku membuka pintu ruang rawat perlahan.
Sunny tertidur di kursi dengan kepala bersandar ke dinding. Kostum kelinci itu terlipat di meja. Flora tidur sambil memeluk boneka kelinci pemberiannya.
Aku mendekat dan melihat tangan Flora menggenggam ujung lengan kemeja Sunny.
Seolah bahkan dalam tidur, dia ingin memastikan orang baik itu tidak pergi.
Sunny terbangun saat aku duduk.
“Sudah selesai?”
Aku mengangguk.
“Siapa yang melakukannya?”
“Kina mendorongnya. Deras tahu Flora terluka, tapi tidak membawanya ke dokter.”
Rahang Sunny mengeras.
“Ada bukti?”
“Ada rekaman.”
“Bagus.”
Aku menatap Flora.
“Ternyata gelang yang dituduhkan dicuri Flora diambil pengasuh mereka.”
Sunny mengembuskan napas panjang.
“Jadi dia disakiti karena kesalahan yang tidak dia lakukan.”
Aku mengangguk, lalu menutup wajah dengan kedua tangan.
“Aku tidak tahu bagaimana menjelaskan semua ini kepadanya.”
Sunny diam beberapa saat.
“Jangan jelaskan semuanya sekarang.”
Aku menoleh.
“Cukup bilang bahwa dia tidak salah. Anak kecil tidak membutuhkan semua detail keburukan orang dewasa. Dia hanya perlu tahu bahwa ada seseorang yang mempercayainya.”
Aku memandangnya.
“Kenapa kamu tahu harus berkata apa?”
Sunny tersenyum tipis.
“Karena dulu tidak ada yang mengatakan itu kepadaku.”
Untuk pertama kalinya, aku melihat retakan di balik ketenangannya. Ternyata lelaki yang selalu tampak kukuh itu juga membawa luka yang tidak pernah diceritakan.
Sebelum aku sempat bertanya, Flora bergerak pelan dan membuka mata.
“Bunda sudah pulang?”
“Iya, Sayang.”
“Bunda menang?”
Aku menahan air mata.
“Bunda menemukan kebenarannya.”
“Flora nggak mencuri.”
“Bunda tahu.”
“Bunda percaya?”
Aku menggenggam tangannya.
“Bunda selalu percaya sama Flora.”
Matanya berkaca-kaca.
“Terus Ayah?”
Aku tidak tahu harus menjawab apa.
Sunny berdiri, lalu berjongkok di sisi ranjang agar sejajar dengannya.
“Ayahmu mungkin belum tahu caranya menjadi orang yang baik,” katanya lembut. “Tapi itu bukan salah Flora.”
Flora menatapnya lama.
“Om Sunny percaya Flora?”
“Percaya.”
“Walau Flora nakal?”
“Nakal dan jahat itu berbeda. Anak nakal masih bisa belajar. Orang jahat biasanya tidak mau mengakui kesalahan.”
Flora berpikir sejenak, lalu mengangguk.
“Kalau Om Sunny salah, Om mau ngaku?”
Sunny melirikku.
“Kalau Bundamu yang marah, aku akan mengaku sebelum ditanya.”
Flora tertawa kecil.
Pagi harinya, operasi Flora berlangsung hampir dua jam. Aku menunggu di depan ruang operasi bersama Sunny. Tidak ada keluarga Deras yang datang. Namun tepat ketika dokter keluar dan mengatakan operasi berjalan baik, dua polisi muncul dari ujung lorong.
Di belakang mereka ada Deras.
Tangannya tidak diborgol, tetapi wajahnya pucat dan langkahnya berat.
Dia menatapku.
“Aku datang untuk memberi keterangan.”
Aku tidak menjawab.
Deras menunduk.
“Dan aku akan mengakui semuanya.”
Aku menatapnya dengan curiga.
“Apa yang membuatmu berubah?”
Dia mengeluarkan sebuah amplop dari tasnya.
“Setelah kamu pergi, aku memeriksa kamera pengawas di rumah.”
Aku mengambil amplop itu. Di dalamnya ada salinan gambar dari kamera ruang keluarga.
Gambar pertama menunjukkan Kina menarik lengan Flora.
Gambar kedua menunjukkan Flora terbentur meja.
Namun gambar terakhir membuat tubuhku membeku.
Deras terlihat berdiri di ujung lorong.
Dia menyaksikan semuanya sejak awal.
“Kamu bilang baru pulang setelah kejadian,” kataku.
Air matanya jatuh.
“Aku bohong.”
Aku tidak mampu bicara.
“Aku melihat Kina mendorong Flora,” lanjutnya. “Aku bisa menghentikannya. Tapi aku diam karena takut pernikahanku hancur lagi.”
Aku menatap lelaki itu seolah sedang melihat orang asing.
“Jadi kamu memilih mempertahankan istrimu dengan mengorbankan anakmu?”
Deras menunduk semakin dalam.
“Aku tidak pantas minta maaf.”
“Benar.”
“Aku juga tidak akan menuntut hak kunjungan.”
Aku memejamkan mata sesaat.
Bukan karena lega. Tidak ada kemenangan dalam cerita ini. Yang ada hanya seorang anak yang kehilangan kepercayaan kepada ayahnya, seorang ayah yang terlambat menyadari kesalahannya, dan seorang ibu yang harus belajar bahwa melindungi anak kadang berarti berdiri melawan seluruh keluarga.
Deras mengikuti polisi pergi.
Beberapa jam kemudian, Flora sadar dari obat bius. Hal pertama yang dilihatnya adalah boneka kelinci di samping bantal. Hal kedua adalah Sunny yang tertidur dengan posisi tidak nyaman di kursi.
Flora tersenyum lemah.
“Bunda…”
“Iya?”
“Kayaknya aku nggak perlu ayah baru sekarang.”
Aku terkejut.
“Kenapa?”
Dia menunjuk Sunny.
“Om Sunny sudah capek jagain kita. Nanti kalau langsung jadi ayah, dia bisa pingsan.”
Sunny membuka mata.
“Saya belum tidur.”
Flora terkikik.
“Om dengar ya?”
“Semua.”
Aku menggeleng, tetapi bibirku ikut tersenyum.
Sunny berdiri dan merapikan selimut Flora. Gerakannya canggung, tetapi hati-hati.
“Cepat sembuh,” katanya. “Setelah itu, kita cari monster lain untuk dikalahkan.”
Flora mengulurkan jari kelingking.
“Janji?”
Sunny mengaitkan jari kelingkingnya.
“Janji.”
Aku memandang mereka dan tiba-tiba memahami sesuatu.
Keluarga tidak selalu dibentuk oleh darah. Kadang keluarga terbentuk dari seseorang yang memilih tinggal ketika yang lain pergi. Dari seseorang yang percaya ketika yang lain menuduh. Dari seseorang yang menjaga tanpa diminta.
Flora mungkin kehilangan sosok ayah yang selama ini dia kenal.
Namun hari itu, dia tidak kehilangan keluarga.
Dia justru menemukan bahwa rumah bukanlah tempat yang dibangun oleh dinding, nama belakang, atau hubungan darah.
Rumah adalah tempat di mana seorang anak tidak perlu takut dibuang hanya karena dianggap melakukan kesalahan.
Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku merasa kami akhirnya sedang berjalan pulang.
