Aku lalu kembali ke tempat cuci piring. Aku kembali membuat piring-piring dan peralatan masak aku buat kembali menjadi kotor. Enak saja Mama mertua bersama dengan Mas Rendi dan Nia duduk santai bersama dengan orang lain sementara aku seperti bab u.

Aku menatap kosong ke arah tudung saji yang telah terbuka. Perutku yang sejak tadi berteriak minta diisi kini terasa semakin perih. Bau sisa masakan masih memenuhi dapur, tetapi tidak ada sebutir nasi pun yang tersisa untukku.

Mama mertuaku berdiri di ambang pintu sambil melipat kedua tangan di dada. Wajahnya sama sekali tidak menunjukkan rasa iba.

“Tinggal di sini harus kerja. Kalau tidak mau kerja jangan harap kamu bisa makan!”

Aku mengangkat kepala perlahan. Entah kenapa, untuk pertama kalinya aku tidak merasa ingin menangis. Yang muncul justru rasa lelah yang sudah terlalu lama kupendam.

“Baik, Ma.”

Jawabanku membuat beliau sedikit terkejut.

“Baik apa?”

“Aku mengerti.”

Aku menutup kembali tudung saji itu, mengambil segelas air putih, lalu meminumnya sampai habis. Setelah itu aku berjalan kembali ke kamar tanpa membantah sedikit pun.

Di dalam kamar, aku membuka laci meja kecil di samping tempat tidur. Di sana masih tersimpan laptop kerjaku dan beberapa dokumen penting perusahaan. Sudah hampir satu tahun aku tidak benar-benar fokus bekerja sejak menikah dengan Rendi. Semua penghasilanku habis untuk membantu suami dan keluarga mertuaku.

Ironisnya, mereka selalu menganggap aku hanya perempuan kampung yang menumpang hidup.

Aku tersenyum pahit.

“Kalau saja mereka tahu siapa yang selama ini membuat hidup mereka berubah.”

Tanganku membuka aplikasi mobile banking.

Aku menatap satu per satu riwayat transfer.

Transfer untuk cicilan rumah.

Transfer biaya renovasi.

Transfer pembelian AC.

Transfer motor Nia.

Transfer modal usaha Mama.

Transfer biaya pengobatan ayah mertua sebelum beliau meninggal.

Nominalnya membuatku sendiri terdiam.

Selama sebelas bulan menikah, lebih dari delapan ratus juta rupiah telah keluar dari rekeningku.

Bukan karena mereka memintanya secara langsung. Tetapi karena Rendi selalu berkata bahwa keluarga harus saling membantu.

Aku percaya.

Sekarang aku sadar, hanya aku yang terus memberi.

Malam itu juga aku menghubungi Maya, sahabat sekaligus direktur HR di perusahaan tempatku bekerja.

“Halo, Tar. Akhirnya kamu telepon juga.”

“Aku mau kembali aktif penuh mulai minggu depan.”

“Kamu serius?”

“Iya.”

“Jabatanmu masih kami simpan. Bos bahkan beberapa kali menanyakan kapan kamu kembali.”

Aku tersenyum tipis.

“Terima kasih sudah menungguku.”

Setelah menutup telepon, aku langsung mengirim email kepada bagian keuangan.

Mulai bulan depan seluruh gajiku akan masuk ke rekening pribadiku, bukan lagi rekening gabungan yang selama ini bisa diakses Rendi.

Aku juga menghentikan seluruh pembayaran otomatis untuk rumah itu.

Selesai.

Aku tidur dengan perasaan yang jauh lebih tenang.

Keesokan paginya, seperti biasa Mama mengetuk pintu sejak pukul lima.

“Tara! Bangun! Cuci baju! Masak! Pel!”

Aku membuka pintu sambil mengenakan pakaian kantor.

Mama langsung terdiam.

“Kamu mau ke mana?”

“Kerja.”

“Kerja? Siapa yang mengizinkan?”

“Aku tidak membutuhkan izin siapa pun untuk bekerja.”

Mama mendengus.

“Kalau kamu pergi, siapa yang mengurus rumah?”

“Ada Mama, ada Nia, ada Mas Rendi.”

“Tugas perempuan itu mengurus rumah!”

Aku tersenyum tipis.

“Kalau begitu Nia juga perempuan.”

Wajah Mama langsung memerah.

Nia yang baru keluar kamar ikut menyela.

“Mbak Tara egois banget sih!”

Aku menoleh.

“Nia, motormu masih atas namaku. Jangan terlalu keras bicara.”

Seketika wajahnya berubah pucat.

Rendi yang baru keluar dari kamar mandi langsung bertanya, “Maksudmu apa?”

“Aku hanya mengingatkan.”

Hari itu aku tetap berangkat.

Di kantor, semua orang menyambutku hangat.

“Selamat datang kembali, Bu Tara!”

“Project kita akhirnya lengkap lagi.”

“Klien dari Singapura sudah menunggu presentasi Ibu.”

Aku kembali duduk di ruang kerjaku yang selama ini tetap dipertahankan.

Bosku masuk sambil tersenyum.

“Saya senang akhirnya kamu kembali. Perusahaan kehilangan banyak sejak kamu cuti panjang.”

Beliau lalu menyerahkan sebuah map.

“Ada kabar baik. Dewan direksi menyetujui promosimu menjadi Regional Business Development Manager.”

Aku hampir tidak percaya.

“Mulai bulan depan gajimu naik hampir dua kali lipat.”

Aku mengucapkan terima kasih berkali-kali.

Hari itu aku pulang dengan hati yang ringan.

Namun suasana rumah langsung berubah tegang.

“Tara!”

Rendi melempar amplop tagihan listrik ke meja.

“Kenapa pembayaran listrik gagal?”

“Karena aku menghentikan auto debit.”

“Kenapa?”

“Karena itu rekeningku.”

“Kamu kan istriku!”

“Aku memang istrimu, bukan mesin ATM.”

Mama ikut datang.

“Kurang ajar! Uangmu ya uang suamimu!”

Aku menatap mereka satu per satu.

“Kalau begitu, gaji Mas Rendi juga uangku, kan?”

Mereka terdiam.

“Tapi selama ini Mas Rendi bahkan tidak pernah memberiku uang belanja.”

Rendi mulai kehilangan kesabaran.

“Kamu berubah sejak kemarin!”

“Aku tidak berubah.”

“Lalu?”

“Aku hanya berhenti bodoh.”

Malam itu kami bertengkar hebat.

Beberapa hari kemudian masalah semakin besar.

Motor Nia ditarik leasing.

Nia menangis histeris.

“Mbak! Tolong bayarin!”

Aku menggeleng.

“Bayar sendiri.”

“Jahat!”

“Waktu membeli motor kalian bilang aku keluarga. Sekarang saat membayar cicilan aku cuma menantu.”

Mama ikut memaki-maki.

Namun aku tetap diam.

Seminggu kemudian rumah kembali gaduh.

Kali ini karena bank datang.

Rupanya sebagian renovasi rumah menggunakan pinjaman dengan jaminan penghasilan tambahan yang selama ini berasal dari rekeningku.

Karena aku menghentikan pembayaran, cicilan mulai menunggak.

Rendi panik.

“Tara, tolong bantu sekali lagi.”

Aku menatap suamiku lama.

“Mas, pernahkah kamu bertanya apakah aku lelah?”

Rendi menunduk.

“Maaf.”

“Pernahkah kamu bertanya kenapa setiap malam aku menangis di kamar mandi?”

Tidak ada jawaban.

“Pernahkah kamu membelaku saat Mama menghinaku?”

Sunyi.

Air mata mulai mengalir di wajah Rendi.

“Aku salah.”

Aku menggeleng pelan.

“Penyesalan itu datang setelah semuanya terlambat.”

Hari-hari berikutnya aku memilih tinggal sementara di apartemen milik perusahaan.

Aku membutuhkan ruang untuk berpikir.

Tiga minggu berlalu.

Suatu sore Rendi datang menemuiku.

Penampilannya jauh berbeda.

Wajahnya kusut.

Tubuhnya lebih kurus.

“Aku sudah keluar dari rumah Mama.”

Aku diam.

“Aku baru sadar selama ini aku selalu menjadi anak, bukan suami.”

Aku tetap tidak menjawab.

“Aku mulai menyewa kontrakan kecil.”

“Aku juga sudah membayar sendiri cicilan yang tertunda.”

“Aku meminta Mama dan Nia mulai mengurus rumah mereka sendiri.”

Aku masih memandangnya tanpa ekspresi.

“Aku tidak datang untuk memintamu pulang.”

“Lalu?”

“Aku hanya ingin meminta maaf.”

Ia mengeluarkan sebuah map.

“Aku sudah membalik nama motor Nia.”

“Rekening kita sudah dipisah.”

“Rumah juga akan kujual supaya semua utang lunas.”

Tangannya gemetar.

“Aku ingin memperbaiki diriku, meski mungkin kamu tidak akan pernah kembali.”

Aku menerima map itu tanpa berkata apa-apa.

Beberapa bulan berlalu.

Aku melihat perubahan Rendi bukan hanya lewat kata-kata, tetapi lewat tindakan.

Ia bekerja lebih keras.

Tidak lagi membiarkan ibunya mengatur hidupnya.

Ia menyewa rumah sederhana.

Belajar memasak sendiri.

Mengurus semua keperluannya tanpa menyuruh siapa pun.

Suatu hari, tanpa sengaja aku bertemu Mama di rumah sakit.

Beliau tampak jauh lebih tua.

Ketika melihatku, beliau menundukkan kepala.

“Maafkan Mama.”

Aku terdiam.

“Setelah kamu pergi, baru Mama sadar tidak ada yang pernah sebaik kamu.”

Air mata beliau jatuh.

“Mama terlalu sibuk melihatmu sebagai menantu, bukan sebagai manusia.”

Aku menghela napas panjang.

“Maaf memang tidak bisa menghapus luka, Ma.”

Beliau mengangguk pelan.

“Tapi Mama tetap ingin mengatakannya.”

Beberapa bulan kemudian, setelah melalui banyak percakapan, konseling pernikahan, dan perubahan nyata dari Rendi, aku memutuskan memberinya satu kesempatan terakhir.

Bukan karena aku lupa semua luka.

Melainkan karena kali ini ia benar-benar belajar menghargai pasangannya.

Sejak hari itu ada satu aturan yang kami pegang.

Tidak ada lagi pekerjaan rumah yang menjadi beban satu orang.

Tidak ada lagi uang yang dianggap milik salah satu pihak.

Tidak ada lagi kalimat bahwa menantu harus mengabdi tanpa batas.

Karena rumah tangga bukan dibangun oleh siapa yang paling banyak berkorban, melainkan oleh dua orang yang saling menghormati.

Dan sejak hari aku berhenti menjadi pembantu di rumah sendiri, saat itulah aku akhirnya kembali menjadi diriku sendiri.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang