“Tahan sedikit. Ini akan terasa pe r ih,” bisik Aidan pelan.

Saya melangkah mundur satu langkah. Dadaku naik turun, sementara udara dingin dari pegunungan yang menyusup ke dalam tenda medis terasa jauh lebih ringan dibanding tatapan Kapten Ryu yang membeku di depanku.

Pria itu tidak segera menjawab. Tatapannya tetap terpaku padaku, seolah sedang berusaha mengendalikan sesuatu yang jauh lebih berbahaya daripada medan perang yang baru saja kami lewati.

“Apa kau sudah selesai?” tanyanya akhirnya.

“Tidak.”

“Selesaikan.”

“Aku bertanya sesuatu.”

“Kau tidak berada dalam posisi untuk menginterogasiku.”

Aku mengembuskan napas panjang. “Kalau begitu jangan perlakukan semua orang seolah mereka pion yang bisa kau geser sesuka hati.”

Rahangnya mengeras.

“Aidan hanya membantuku.”

“Dia terlalu dekat denganmu.”

Jawaban itu keluar begitu cepat hingga bahkan Ryu sendiri tampak sedikit terkejut.

Aku tertawa pendek, pahit.

“Akhirnya jujur juga.”

“Aku tidak cemburu.”

“Tapi semua orang bisa melihatnya.”

Suasana di dalam tenda mendadak sunyi. Beberapa perawat militer yang sejak tadi berpura-pura sibuk langsung menundukkan kepala. Tak ada satu pun yang berani mengangkat wajah.

Kapten Ryu menghela napas pelan.

“Ikut aku.”

“Aku sedang bertugas.”

“Itu perintah.”

Tanpa menungguku menjawab, ia berbalik dan keluar dari tenda.

Aku mengejarnya hingga ke sisi belakang klinik lapangan. Di sana hanya ada lampu sorot redup, suara generator, dan angin malam yang membawa aroma tanah basah.

Begitu kami berhenti, Ryu masih membelakangiku.

“Aku memang tidak suka melihat pria lain menyentuhmu.”

Aku terdiam.

“Tapi bukan karena ego.”

“Lalu karena apa?”

Ia memejamkan mata beberapa detik sebelum akhirnya berbalik.

“Karena aku hampir kehilanganmu sore tadi.”

Aku mengernyit.

“Apa maksudmu?”

“Saat ledakan terjadi di sektor utara, namamu muncul dalam laporan korban.”

Jantungku serasa berhenti berdetak.

“Aku melihat sendiri daftar itu.”

Suara Ryu mulai bergetar tipis, sesuatu yang belum pernah kulihat sejak pertama kali bertugas bersamanya.

“Selama lima belas menit aku percaya kau sudah mati.”

Aku membisu.

“Aku berlari ke lokasi tanpa rompi antipeluru. Aku bahkan tidak membawa pengawal.”

Aku menatap wajahnya lebih lama.

Untuk pertama kalinya, topeng komandan yang selalu dingin itu retak.

“Aku menemukan dokter lain yang tubuhnya tertimbun reruntuhan. Seragamnya penuh darah. Dari belakang… aku mengira itu kau.”

Aku menggigit bibir.

“Aku tidak pernah takut menghadapi peluru,” lanjutnya lirih. “Tapi hari itu aku takut melihat wajah mayat itu.”

Dadaku terasa sesak.

Semua kemarahan yang sejak tadi memenuhi kepalaku perlahan berubah menjadi kebingungan.

“Kenapa kau tidak pernah mengatakan ini?”

“Aku tidak pandai menjelaskan perasaan.”

“Itu bukan alasan untuk menghukum bawahannya.”

Ryu kembali diam.

Beberapa detik kemudian ia menghela napas.

“Yang itu memang salahku.”

Kalimat sederhana itu membuatku benar-benar kehilangan kata-kata.

Kapten Ryu tidak pernah meminta maaf.

Tidak pernah.

Tepat saat suasana mulai melunak, suara alarm darurat meraung dari arah markas utama.

Semua lampu merah berkedip bersamaan.

“Serangan!” teriak seseorang.

Ryu langsung berubah menjadi komandan lagi.

“Masuk ke bunker!”

Belasan prajurit berlarian.

Aku ikut bergerak, tetapi baru beberapa langkah terdengar ledakan keras dari arah selatan.

Tanah berguncang.

Asap hitam membumbung tinggi.

“Itu sektor tempat Aidan!” seruku.

Ryu langsung mengangkat radio.

“Komando ke seluruh unit. Laporkan situasi sektor selatan.”

Suara radio hanya dipenuhi dengungan.

Tidak ada jawaban.

Ryu mengepalkan tangan.

“Aku sendiri yang ke sana.”

“Aku ikut.”

“Tidak.”

“Di sana ada korban.”

“Kau tetap di sini.”

Aku menatapnya tajam.

“Kalau ada yang terluka, mereka membutuhkan dokter, bukan hanya tentara.”

Ryu menghela napas pendek.

“Lima orang ikut denganku. Dokter Alana tetap di tengah formasi.”

Konvoi kecil kami melaju menggunakan kendaraan lapis baja.

Sepanjang perjalanan, suara tembakan masih terdengar bersahutan.

Saat tiba di sektor selatan, pemandangan di depan kami membuat semua orang membeku.

Parit yang sedang digali Aidan telah runtuh akibat ledakan.

Puluhan prajurit tertimbun tanah.

“Aidan!” teriakku.

Aku melompat turun bahkan sebelum kendaraan berhenti sempurna.

Kami menggali dengan tangan kosong.

Beberapa menit kemudian terdengar suara lemah dari balik reruntuhan.

“Di sini…”

Aidan berhasil ditemukan.

Bahunya terluka parah, tetapi ia masih sadar.

Namun sebelum sempat bernapas lega, seorang prajurit berlari sambil membawa sesuatu.

“Kapten!”

Ia menyerahkan sebuah alat komunikasi yang rusak.

“Ini ditemukan dekat titik ledakan.”

Ryu mengambilnya.

Layar kecil itu masih menyala.

Di sana terlihat rekaman kamera pengintai.

Seseorang sedang memasang bahan peledak beberapa jam sebelum ledakan terjadi.

Orang itu mengenakan seragam militer.

“Bukan musuh…” gumam salah satu prajurit.

Ruang di sekitar kami mendadak sunyi.

Pelakunya berasal dari dalam markas sendiri.

Ryu memperbesar gambar.

Wajah pria itu tertutup masker.

Tetapi ada satu tanda yang sangat mencolok.

Jam tangan edisi khusus yang hanya dimiliki para perwira senior.

“Pengkhianat…” bisiknya.

Berita itu segera mengguncang seluruh markas.

Mulai malam itu, tidak ada lagi yang saling percaya.

Semua komunikasi diperiksa.

Semua perwira diinterogasi.

Bahkan Ryu sendiri harus menyerahkan senjatanya sementara penyelidikan berlangsung.

Dua hari kemudian, seorang penyelidik militer dari Jakarta tiba menggunakan helikopter.

Namanya Kolonel Adrian.

Pria berusia lima puluhan itu terkenal tidak pernah gagal mengungkap kasus sabotase.

Setelah memeriksa rekaman, ia langsung menggelar rapat darurat.

“Hanya ada tujuh orang yang memiliki akses ke gudang bahan peledak.”

Semua nama ditampilkan.

Termasuk Kapten Ryu.

Ruangan langsung gaduh.

Beberapa perwira mulai saling berbisik.

Aku menatap Ryu.

Ekspresinya tetap datar.

Kolonel Adrian memandang semua orang satu per satu.

“Laporan terakhir menunjukkan akses gudang dibuka menggunakan kartu identitas milik Kapten Ryu pukul 18.47.”

Aku spontan berdiri.

“Itu tidak mungkin.”

Kolonel menoleh.

“Kau yakin?”

“Saat jam itu Kapten sedang bersamaku di klinik.”

“Apakah ada saksi?”

Aku terdiam.

Kami memang hanya berdua saat itu.

Kesunyian itu justru membuat tuduhan semakin berat.

Ryu tidak membela dirinya.

Ia hanya berkata singkat, “Lanjutkan penyelidikan.”

Malam itu ia resmi dicopot sementara dari jabatan komandan.

Aidan yang sudah mulai pulih mendatangiku.

“Aku tidak percaya Kapten melakukannya.”

“Aku juga.”

“Lalu bagaimana membuktikannya?”

Aku mengingat sesuatu.

Rekaman CCTV klinik.

Setiap pasien yang masuk selalu terekam.

Aku berlari menuju ruang administrasi.

Setelah mencari hampir satu jam, akhirnya kutemukan rekaman malam itu.

Di layar terlihat jelas.

Pukul 18.43.

Ryu masuk ke klinik.

Pukul 19.18.

Ia baru keluar.

Selama waktu yang sama, kartu identitasnya digunakan di gudang amunisi.

Artinya hanya ada satu kemungkinan.

Seseorang telah menggandakan kartu akses miliknya.

Kolonel Adrian langsung memerintahkan pemeriksaan ulang.

Tim forensik digital menemukan fakta baru.

Beberapa minggu sebelumnya sistem keamanan markas diretas dari komputer administrasi.

Pelakunya sengaja menyalin data akses seluruh perwira.

Lingkaran tersangka menyempit.

Hingga akhirnya seorang teknisi komunikasi bernama Dimas mencoba melarikan diri menggunakan kendaraan logistik.

Ia berhasil ditangkap di pos pemeriksaan.

Di dalam tasnya ditemukan uang tunai dalam mata uang asing, alat pengganda kartu akses, dan dokumen rencana penyerangan.

Seluruh markas akhirnya mengetahui kebenaran.

Ledakan itu memang dirancang untuk menghancurkan pertahanan dari dalam.

Ryu dibebaskan dari semua tuduhan.

Namun yang paling mengejutkan bukanlah itu.

Sebelum dibawa pergi, Dimas tertawa pelan.

“Kalian menangkapku.”

Ia memandang Ryu dan kemudian menoleh kepadaku.

“Tapi orang yang memesan semua ini tidak pernah berada di medan perang.”

Semua orang terdiam.

“Siapa?” bentak Kolonel Adrian.

Dimas hanya tersenyum.

“Orang yang selama ini kalian hormati.”

Ia menolak mengatakan nama itu sampai akhir.

Kasus sabotase memang berhasil diungkap, tetapi dalang sebenarnya masih bebas.

Beberapa minggu kemudian, markas kembali tenang.

Aku sedang membereskan peralatan medis ketika seseorang datang membawakan secangkir kopi hangat.

Ryu.

Ia berdiri canggung, sesuatu yang lebih sulit kulakukan bayangkan daripada melihatnya menghadapi hujan peluru.

“Aku masih harus belajar meminta maaf,” katanya pelan.

Aku menerima kopi itu.

“Dan belajar mempercayai orang lain.”

Ia mengangguk.

“Termasuk mempercayaimu.”

Aku tersenyum tipis.

“Kalau begitu jangan hukum Aidan lagi hanya karena dia membantuku.”

Ryu mengembuskan napas lalu tersenyum kecil, senyum pertama yang benar-benar tulus sejak kami bertemu.

“Besok pagi aku akan membatalkan hukuman tambahannya.”

Aku mengangguk.

Di balik tenda medis, matahari mulai terbit perlahan, menyinari markas yang perlahan bangkit dari luka-lukanya.

Perang mungkin belum benar-benar selesai. Dalang pengkhianatan masih bersembunyi di balik bayang-bayang kekuasaan. Namun pagi itu aku menyadari satu hal.

Luka terdalam bukan selalu berasal dari peluru, melainkan dari rasa takut kehilangan seseorang yang tidak pernah berani kita akui begitu berharga. Dan terkadang, keberanian terbesar seorang prajurit bukanlah menghadapi musuh di medan tempur, melainkan menurunkan egonya untuk mengatakan bahwa ia tidak ingin kehilangan orang yang dicintainya lagi.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang