Darah Anya mendadak berdesir hebat mendengar nama itu. Altair Dayendra. Nama yang selama ini sering disebut-sebut Anne dengan nada memuja di kampus. Laki-laki pewaris jaringan hotel mewah, mapan, berwajah tampan, dan tentu saja menjadi target utama kelicikan Anne selama ini. Selama ini Anne memasang topeng wanita lugu di hadapan Altair, memanfaatkan kekayaan pria itu untuk kesenangannya sendiri, sementara di belakang layar ia tetap menggoda ayah Anya hingga berhasil merebut posisi seorang ibu dan mengusir darah dagingnya sendiri dari rumah.
Sebuah rencana gelap seketika berkelebat di benak Anya. Rasa sakit akibat dikhianati sahabat sendiri dan dibuang oleh ayah kandung melebur menjadi satu, membakar habis sisa-sisa air mata dan menyisakan tekad baja yang dingin. Jika Anne bisa merampas apa yang paling berharga dari hidupnya, maka Anya tidak akan tinggal diam. Ia akan mengambil apa yang paling dicintai oleh Anne, membalikkan keadaan hingga perempuan manipulatif itu merasakan betapa pedihnya kehilangan segalanya di puncak kebahagiaan semu.

Keesokan paginya, ditemani Ina yang masih diliputi kekhawatiran, Anya melangkah masuk ke lobi megah hotel bintang lima tempat sahabatnya itu bekerja. Dengan balutan pakaian sederhana namun rapi, Anya mengajukan lamaran kerja langsung kepada manajer personalia. Berbekal ijazah sarjana ekonomi yang dimilikinya serta rekomendasi dari Ina, pihak hotel tidak butuh waktu lama untuk menempatkan Anya bukan sebagai pelayan dapur, melainkan sebagai asisten manajer operasional yang langsung berada di bawah pengawasan direksi utama. Takdir seolah memuluskan jalan balas dendamnya.
Hari-hari pertama bekerja dilewati Anya dengan fokus tingkat tinggi. Ia belajar dengan cepat, merapikan laporan keuangan, dan memastikan setiap detail operasional hotel berjalan sempurna. Namun, misinya yang sesungguhnya bukan sekadar mencari nafkah. Ia menunggu waktu yang tepat untuk berpapasan dengan Altair Dayendra, pria yang selama ini menjadi kekasih gelap Anne sekaligus kunci utama dari rencana pembalasannya.
Peluang itu datang pada suatu sore di ruang arsip lantai atas. Anya sedang merapikan setumpuk dokumen ketika pintu ruangan terbuka dan sesosok pria berjas rapi dengan postur tinggi tegap melangkah masuk. Aura dominan langsung menguar dari dirinya, berpadu dengan wajah tegas berahang kokoh dan sepasang mata tajam yang menyiratkan kelelahan. Altair. Pria itu tampak frustrasi sambil melonggarkan dasinya.
“Kamu karyawan baru yang diandalkan Pak Hendra itu, kan?” tanya Altair tanpa basa-basi, suaranya berat namun berwibawa.
Alih-alih merasa gentar, Anya justru menegakkan punggungnya. Ia menatap tepat ke dalam mata Altair dengan senyum tipis yang penuh misteri. Alih-alih bersikap kaku seperti pegawai pada umumnya, Anya justru mendekat dengan langkah anggun membawa secangkir kopi hitam pekat yang baru saja ia seduh.
“Anda butuh lebih dari sekadar laporan keuangan sore ini, Pak Altair. Anda butuh seseorang yang bisa diandalkan untuk membereskan kekacauan yang dibuat orang-orang terdekat Anda,” ucap Anya tenang, meletakkan cangkir itu tepat di atas meja kerja Altair.
Altair tertegun. Alis tebalnya terangkat, menatap gadis di hadapannya dengan rasa penasaran yang mendalam. Selama ini semua orang di sekitarnya selalu bersikap tunduk, takut, atau bahkan terang-terangan menjilat demi kekayaannya, termasuk Anne yang selalu merengek meminta ini dan itu setiap kali mereka bertemu. Namun gadis di hadapannya ini memiliki tatapan yang berbeda, tatapan penuh luka yang disembunyikan di balik ketenangan yang mematikan.
Sejak hari itu, hubungan profesional antara Anya dan Altair perlahan bergeser menjadi sebuah ketertarikan yang intens. Anya sering mendampingi Altair dalam berbagai rapat penting, mengurus jadwal, hingga menemaninya lembur sampai larut malam. Di balik semua itu, Anya mulai menanam benih-benih keraguan di hati Altair mengenai siapa sebenarnya Anne. Ia tidak pernah menjelek-jelekkan Anne secara langsung; sebaliknya, Anya menunjukkan kontras lewat kejujuran, kecerdasan, dan ketulusan kerjanya, membuat Altair perlahan menyadari betapa hampa dan materialistisnya hubungan yang selama ini ia jalani dengan Anne.
Anne, di sisi lain, mulai merasa ada yang tidak beres. Ia jarang bisa menghubungi Altair dengan alasan kesibukan kantor, dan yang lebih membuat darahnya mendidih, ayahnya sendiri mulai mengeluhkan sikap Anya yang kini hidup mapan dan bekerja di tempat mewah. Rasa iri dan amarah membuat Anne mendatangi hotel tempat Altair dan Anya bekerja tanpa janji, berniat memberikan kejutan manis sekaligus memamerkan statusnya sebagai nyonya muda di rumah Anya.
Hari itu, Anne melangkah dengan sepatu berhak tinggi menyusurikoridor lantai eksekutif. Dengan senyum penuh kemenangan, ia mendorong pintu ruangan pribadi Altair. Namun, apa yang ia saksikan di dalam membuat jantungnya nyaris berhenti berdetak.
Anya berdiri dekat jendela besar menghadap kota, mengenakan gaun malam elegan berwarna hitam, sementara Altair berdiri tepat di belakangnya melingkarkan tangan di pinggang gadis itu. Di atas meja kerja berserakan berkas pernikahan dan cincin berlian yang berkilau di bawah lampu ruangan.
“Anya?! Apa-apaan ini?!” jerit Anne histeris, wajahnya yang penuh riasan mendadak pias seketika. Ia menatap Altair dengan mata melotot tak percaya. “Altair! Kenapa kamu bersama perempuan sialan ini? Dia anak dari selingkuhan… maksudku, dia anak dari pria tua tak berguna itu!”
Altair melepaskan pelukannya, berbalik dengan wajah dingin tanpa ekspresi. Tatapannya pada Anne kini dipenuhi jijik yang teramat sangat.
“Aku sudah tahu semuanya, Anne,” ucap Altair dingin. “Aku tahu bagaimana caramu memeras uangku, bagaimana caramu memperlakukan Anya di rumahnya sendiri, dan bagaimana liciknya permainan ganda yang kamu mainkan selama ini. Hubungan kita selesai hari ini juga.”
Anne terhuyung mundur, napasnya memburu. Ia menatap Anya dengan kebencian yang meluap-luap. “Kamu… kamu sengaja merebut Altair dariku! Kamu perempuan tidak tahu diuntung!”
Anya melangkah maju, memamerkan senyum paling manis yang dulu pernah ia tunjukkan saat menyambut Anne di rumahnya sebelum mimpi buruk itu terjadi. Ia merapikan kerah jas Altair yang kini telah resmi menjadi suaminya secara hukum dalam sebuah pemberkatan rahasia pagi tadi.
“Kau merampas keluargaku dan rumahku, Anne,” bisik Anya tepat di telinga sahabat masa kecilnya itu dengan suara lembut namun menusuk tulang. “Maka aku mengambil masa depan dan laki-laki yang paling kau banggakan. Kita sudah buntung, dan permainan ini baru saja dimulai.”
Anne jatuh berlutut di atas lantai marmer yang dingin, meratapi kehancurannya sendiri sementara Anya berdiri tegak di samping suaminya, menatap ke luar jendela menyambut lembaran hidup baru di atas reruntuhan air mata musuhnya.
