“Sebenarnya yang mengambil uang ratusan juta milik Mbak Nadia adalah suami Mbak sendiri. Bukti cctv sudah sangat jelas. Jadi sekarang keputusan ada di tangan Anda. Tetap lanjut jalur hukum, atau diselesaikan secara kekeluargaan,” ucap polisi.

“Mas! Jawab aku!” teriak Nada, suaranya bergetar menahan amarah dan kekecewaan yang sudah berada di ujung tanduk. Ketukan jari Raka di lantai berhenti seketika. Pria itu menelan ludah dengan susah payah, bahunya merosot seolah menanggung beban yang teramat berat.

Perlahan, Raka merogoh saku celananya. Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia mengeluarkan sebuah ponsel pintar lalu meletakkannya di atas meja kecil di sebelah ranjang. Layar ponsel itu masih menyala, menampilkan grafik merah dengan angka-angka taruhan yang berkedip-kedip, dikelilingi oleh puluhan grup Telegram berisi tautan-tautan situs judi slot online.

“Aku… aku tidak bisa berhenti begitu saja, Nad,” bisik Raka terbata-bata, suaranya nyaris tak terdengar. “Ada utang lain di luar sana. Pinjaman online. Kalau aku tidak melunasinya hari ini, mereka mengancam akan menyebar data kontak kantorku.”

Dunia Nada terasa runtuh seketika. Sembilan puluh lima juta rupiah yang ia kumpulkan dari keringatnya sendiri—bekerja lembur sebagai kasir supermarket demi impian memiliki rumah kecil di pinggiran kota—ternyata bukan hanya habis untuk satu kali kebodohan. Itu adalah puncak dari gunung es kehancuran finansial yang sengaja disembunyikan suaminya.

“Pinjol?” Nada mengulang kata itu dengan nada dingin yang mengerikan. Ia merasa seperti sedang melihat orang asing, bukan pria yang dinikahinya tiga tahun lalu dengan janji-janji manis kesetiaan. “Berapa banyak lagi uang yang sudah kamu hancurkan di belakangku, Mas? Berapa?!”

Raka menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Isakan tertahan akhirnya lolos dari celah jarinya. “Empat puluh juta… dari tiga aplikasi berbeda. Aku terjerat lingkaran setan ini, Nad. Setiap kali aku kalah, aku meminjam untuk menutupinya. Begitu terus sampai uang tabunganmu kubawa kabur karena aku benar-benar putus asa.”

Malam itu, kamar tidur mereka berubah menjadi ruang pengadilan tanpa palu hakim. Tidak ada lagi teriakan atau makian dari Nada. Kemarahannya telah menguap, digantikan oleh ketenangan yang jauh lebih menakutkan. Ia sadar, mempertahankan pernikahan dengan seorang pecandu yang tidak memiliki niat tuntas untuk sembuh sama saja dengan membiarkan hidupnya ikut diseret ke dalam jurang kebangkrutan.

Keesokan paginya, matahari belum sepenuhnya naik ketika suara ketukan tegas terdengar di pintu depan rumah mereka. Raka, yang sejak semalam duduk termangu di sofa ruang tamu tanpa tidur sedikit pun, terlonjak kaget. Nada melangkah melewati suaminya dengan langkah pasti, membuka pintu dan mendapati dua orang berseragam polisi berdiri di sana, didampingi oleh ketua RT setempat.

“Bagaimana, Ibu Nada? Apakah ada titik terang untuk penyelesaian secara kekeluargaan, atau kita lanjutkan proses hukum sesuai laporan kemarin?” tanya petugas kepolisian paruh baya itu dengan ramah namun tegas.

Raka bangkit dari sofa, wajahnya pucat pasi. Ia menatap Nada dengan pandangan memohon, bibirnya bergerak-gerak tanpa suara, seolah meminta kesempatan terakhir yang kesekian kalinya. Ibu Raka yang tiba-tiba datang dari arah halaman luar juga ikut meratap, memegang ujung pakaian Nada dan memohon agar masalah ini tidak dibawa ke ranah hukum demi nama baik keluarga.

Nada menatap mertuanya sekilas, lalu beralih menatap Raka yang berdiri tak berdaya. Ia menarik napas dalam-dalam, menghirup udara pagi untuk terakhir kalinya sebagai seorang istri yang masih memiliki ikatan emosional dengan pria itu.

“Lanjutkan proses hukumnya, Pak,” ucap Nada dengan suara lantang dan tanpa ragu sedikit pun.

Suasana seketika membeku. Ibu Raka menjerit histeris dan jatuh bersimpuh di lantai, sementara Raka tertegun dengan mata melotot tidak percaya. Polisi langsung mengangguk tegas, memberi isyarat kepada rekan di belakangnya untuk mendekat.

“Keputusan yang tepat untuk melindungi hak hukum Anda, Bu. Mari, Saudara Raka, ikut kami ke polsek untuk dimintai keterangan lebih lanjut mengenai penggelapan dana dan bukti transaksi ilegal,” ujar petugas sambil menunjukkan surat tugas resmi.

Borgol besi terpasang di pergelangan tangan Raka. Pria itu tidak melakukan perlawanan sama sekali; tubuhnya lemas seolah seluruh Tulang di badannya mendadak lenyap. Saat digiring keluar melewati pintu depan, Raka sempat menoleh ke arah Nada untuk terakhir kalinya. Tidak ada kemarahan di mata Nada, hanya ada sisa-sisa iba yang sangat tipis dan dingin.

Beberapa bulan berlalu sejak hari penangkapan itu. Proses perceraian mereka berjalan cepat karena Raka tidak memiliki daya untuk membela diri di persidangan agama, sementara proses hukum atas kasus penggelapan uang terus bergulir di pengadilan negeri. Rumah impian yang dulu dicita-citakan memang gagal terwujud, namun Nada tidak pernah menyesali keputusannya.

Suatu sore, di sela-sela kesibukannya menata ulang hidup di sebuah apartemen studio sewaan yang sederhana namun bersih, Nada menerima sepucuk surat dari kantor pos. Surat itu berasal dari sebuah lembaga bantuan hukum yang mendampingi kasus pemulihan korban kejahatan finansial dan pinjaman online ilegal.

Betapa terkejutnya Nada ketika membaca isi surat tersebut. Berkat kerja sama pihak kepolisian yang membongkar sindikat server judi online tempat Raka menghabiskan uangnya, ditemukan aliran dana mencurigakan dari rekening bandar besar yang berhasil disita oleh negara. Berdasarkan putusan pengadilan, sebagian dari aset bandar judi yang disita dialokasikan untuk memulihkan kerugian para korban terdata, termasuk tabungan ratusan juta milik Nada yang selama ini dianggap telah lenyap selamanya.

Dua minggu kemudian, notifikasi SMS banking berbunyi di ponsel Nada. Angka saldo yang tertera membuat napasnya tertahan seketika. Bukan hanya uang sembilan puluh lima juta miliknya yang kembali secara utuh, melainkan beserta kompensasi dan pengembalian dari bunga pinjol yang sempat disetorkan Raka secara paksa dari rekening bersama, menghasilkan total dana yang bahkan cukup untuk melunasi uang muka sebuah rumah mungil di kawasan pinggiran kota yang selama ini ia impikan.

Nada menatap layar ponselnya lama sekali, air mata haru akhirnya tumpah bukan karena kesedihan, melainkan karena keadilan semesta yang bekerja dengan cara paling tak terduga. Di luar jendela, rintik hujan sore membasahi kota, menghapus segala sisa debu masa lalu dan menyisakan ruang bersih untuk memulai lembaran hidup yang benar-benar baru.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang