Aku muncul dengan mobil baru dan penampilan memukau. Mertua yang dulu menghinaku kini menunduk, tak berdaya di depan pintu rumahku.

Malam itu, untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, Asri dan Desi tidur tanpa bisa memerintah Binar melakukan apa pun.

Tidak ada suara pintu kamar yang dibanting untuk memanggilnya. Tidak ada pakaian kotor yang dilempar ke depan kamar. Tidak ada piring bekas makan yang sengaja ditinggalkan di meja dengan harapan Binar akan membereskannya.

Rumah itu masih sama, tetapi suasananya telah berubah sepenuhnya.

Binar bukan lagi perempuan yang berjalan menunduk sambil menahan tangis. Ia kini bergerak tenang, percaya diri, seolah setiap sudut rumah itu benar-benar tunduk kepadanya.

Pagi-pagi sekali, suara ketukan keras terdengar di pintu kamar Desi.

“Bangun,” ucap Binar dari luar.

Desi membuka pintu dengan wajah kusut.

“Ini masih jam lima pagi, Mbak.”

“Dulu kamu juga sering membangunkanku jam segini hanya karena seragam kuliahmu belum disetrika. Sekarang giliranmu belajar bangun pagi.”

Desi mendengus kesal, tetapi ketika melihat tatapan Binar yang dingin, ia memilih diam.

“Bersihkan ruang tamu, sapu lantai, lalu masak untuk kamu dan Ibu. Bahan makanan ada di kulkas.”

“Aku nggak bisa masak.”

“Belajar.”

“Aku nanti telat kuliah.”

“Kalau begitu bangun lebih pagi.”

Desi memandang ibunya yang baru keluar dari kamar, berharap mendapat pembelaan.

“Binar, jangan keterlaluan. Desi itu kuliah. Dia harus fokus belajar.”

Binar tersenyum tipis.

“Dulu waktu aku sakit pun Ibu tetap menyuruhku masak, mencuci, dan membersihkan rumah. Ibu bilang perempuan yang baik harus bisa mengurus rumah. Sekarang kenapa aturan itu nggak berlaku untuk anak perempuan Ibu sendiri?”

Asri terdiam.

Binar berjalan menuju dapur, mengambil segelas air, lalu kembali menatap mereka.

“Aku nggak menyiksa kalian. Aku cuma berhenti melayani kalian.”

Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi entah mengapa membuat Asri merasa jauh lebih terhina dibandingkan ketika Binar membentaknya di depan Ayu.

Hari-hari berikutnya menjadi mimpi buruk bagi Asri dan Desi.

Desi yang biasanya hanya tahu meminta mulai harus mencuci pakaiannya sendiri. Beberapa bajunya luntur karena salah mencampur warna. Nasi yang dimasaknya pernah terlalu lembek, pernah pula setengah matang. Tangannya beberapa kali melepuh karena terkena minyak panas.

Asri, yang terbiasa duduk sambil menonton televisi, mulai mengeluh karena rumah tidak pernah sebersih ketika Binar masih mengurus semuanya.

Namun, Binar tidak lagi peduli.

Setiap pagi ia pergi dengan pakaian rapi. Kadang ia mengendarai mobilnya sendiri, kadang dijemput seorang pria bernama Bagas yang selalu tampak sopan dan profesional.

Hal itu membuat Desi semakin penasaran.

“Mbak kerja di mana sekarang?” tanyanya suatu sore.

Binar yang sedang memeriksa dokumen di meja makan mengangkat wajah.

“Kenapa?”

“Cuma tanya.”

“Dulu kamu nggak pernah peduli aku punya mimpi atau nggak. Kenapa sekarang penasaran?”

Desi menggigit bibir.

“Aku cuma heran. Dari mana Mbak dapat mobil dan baju mahal?”

“Dari hasil kerja.”

“Kerja apa?”

Binar menutup map di depannya.

“Pekerjaan yang dulu nggak bisa kulakukan karena waktuku habis untuk mengurus kalian.”

Belum sempat Desi bertanya lagi, suara motor berhenti di depan rumah. Aryan datang dengan wajah kusut dan pakaian yang tidak serapi biasanya.

Asri langsung menyambut anaknya.

“Kamu kenapa? Kok kelihatan capek?”

“Aku baru selesai wawancara kerja.”

“Bagaimana hasilnya?”

Aryan menghela napas.

“Mereka bilang akan menghubungi lagi.”

Binar tertawa kecil tanpa mengalihkan pandangan dari dokumen.

Aryan menoleh tajam.

“Apa yang lucu?”

“Nggak ada. Aku hanya heran. Dulu kamu bilang laki-laki harus punya harga diri. Sekarang kamu bahkan hidup dari rumah istri keduamu.”

“Jaga ucapanmu, Binar.”

“Kenapa? Salah?”

Aryan mendekatinya.

“Kamu pikir hanya karena sekarang punya uang, kamu bisa merendahkanku?”

Binar berdiri perlahan.

“Aku nggak merendahkanmu. Aku cuma mengatakan kenyataan. Rasanya nggak enak, ya, ketika orang lain mengingatkan kita tentang keadaan kita?”

Aryan mengepalkan tangan, tetapi tidak berani berbuat lebih jauh.

Asri segera berdiri di antara mereka.

“Sudah. Jangan bertengkar. Aryan datang bukan untuk cari masalah.”

“Lalu untuk apa?” tanya Binar.

Aryan menelan ludah.

“Aku mau bicara berdua sama kamu.”

“Nggak ada yang perlu dirahasiakan.”

“Aku bilang aku mau bicara berdua.”

Binar menatapnya beberapa detik, lalu berjalan menuju teras. Aryan mengikuti.

Begitu pintu tertutup, Aryan langsung merendahkan suaranya.

“Aku butuh bantuan.”

Binar hampir tertawa, tetapi menahannya.

“Bantuan apa?”

“Ayu butuh biaya pemeriksaan kandungan. Aku belum dapat kerja. Tabunganku juga hampir habis.”

“Lalu?”

“Pinjamkan aku uang.”

Binar menatap suaminya seolah baru mendengar lelucon.

“Kamu datang ke rumahku, setelah menikahi perempuan lain, lalu meminta uang untuk membiayai kehamilan istri keduamu?”

“Aku akan mengembalikannya.”

“Dengan apa?”

Aryan diam.

“Dengan gaji dari pekerjaan yang belum tentu kamu dapat?”

“Jangan sinis. Anak yang dikandung Ayu juga anakku.”

“Ya. Anakmu. Bukan tanggung jawabku.”

Aryan menarik napas panjang.

“Aku masih suamimu.”

“Benar. Dan itu satu-satunya alasan kamu masih berani berdiri di sini.”

Wajah Aryan memerah.

“Kamu berubah sejak kenal Bagas, ya?”

Binar menyipitkan mata.

“Jangan bawa nama orang lain.”

“Apa dia yang kasih kamu uang? Mobil itu juga dari dia?”

Binar menatap Aryan dengan jijik.

“Pikiranmu selalu sama. Kalau perempuan berhasil, pasti karena laki-laki. Dulu kamu menganggapku nggak berguna karena aku nggak bekerja. Sekarang setelah aku punya penghasilan, kamu menuduhku macam-macam.”

“Kalau begitu jelaskan!”

“Kenapa aku harus menjelaskan hidupku pada laki-laki yang bahkan nggak pernah menanyakan apakah aku masih punya mimpi?”

Aryan kehilangan kata-kata.

Sebelum pergi, ia menatap Binar dengan penuh ancaman.

“Kamu akan menyesal sudah mempermalukanku seperti ini.”

Binar tersenyum.

“Aku sudah terlalu lama menyesal karena menikah denganmu.”

Dua hari kemudian, masalah datang tanpa peringatan.

Asri menerima telepon dari Aryan. Suara anaknya terdengar panik.

“Bu, Ayu masuk rumah sakit.”

Asri langsung berdiri.

“Kenapa?”

“Dia pendarahan. Dokter bilang kondisinya lemah.”

“Astaga. Rumah sakit mana?”

Setelah mendengar alamatnya, Asri dan Desi segera bersiap. Mereka hendak keluar ketika Binar baru pulang.

“Mau ke mana?”

“Ayu masuk rumah sakit,” jawab Asri singkat.

Binar menatap mereka tanpa ekspresi.

“Kami butuh mobilmu,” lanjut Asri.

“Pesan taksi.”

“Ini keadaan darurat.”

“Dulu waktu aku demam tinggi dan minta diantar ke dokter, Ibu bilang aku cuma cari perhatian.”

Asri menahan emosi.

“Jangan ungkit masa lalu terus.”

“Kalau masa lalu nggak penting, kenapa kalian baru berubah setelah hidup kalian susah?”

Desi mulai menangis.

“Mbak, tolong. Bagaimanapun itu calon keponakanku.”

Binar menatap Desi, lalu mengambil kunci mobil dari tas.

“Ayo.”

Mereka tiba di rumah sakit ketika Aryan sedang mondar-mandir di depan ruang pemeriksaan. Wajahnya pucat.

“Dokter bilang Ayu butuh tindakan secepatnya,” ucap Aryan.

“Anaknya bagaimana?” tanya Asri.

“Belum tahu.”

Seorang perawat datang membawa berkas.

“Keluarga pasien diminta segera menyelesaikan administrasi awal.”

Aryan menerima kertas itu. Wajahnya berubah ketika melihat jumlah yang harus dibayar.

“Berapa?” tanya Asri.

Aryan tidak menjawab.

Binar mengambil berkas itu dari tangannya.

“Lima belas juta.”

Asri menatap Aryan.

“Kamu punya uang?”

Aryan menggeleng perlahan.

Semua mata beralih kepada Binar.

Untuk beberapa detik, Binar hanya diam.

Ia sebenarnya bisa membayar jumlah itu tanpa kesulitan. Namun, luka selama tiga tahun membuat tangannya terasa berat.

Aryan mendekat.

“Binar, tolong.”

Itulah pertama kalinya ia mendengar Aryan meminta dengan nada serendah itu.

“Bukan untuk Ayu,” lanjut Aryan. “Untuk anakku.”

Binar memandang pintu ruang tindakan. Ia teringat pada malam ketika dirinya pernah pingsan di dapur karena kelelahan. Saat itu Aryan tetap pergi menemui Ayu dengan alasan ada pekerjaan penting. Asri bahkan menuduhnya pura-pura sakit.

Namun, bayi di dalam kandungan Ayu tidak bersalah.

Binar mengambil kartu dari dompetnya.

“Aku bayar.”

Aryan menatapnya tidak percaya.

“Tapi ini bukan bantuan gratis,” lanjut Binar. “Kamu akan menandatangani surat pengakuan utang.”

“Binar, ini bukan waktunya…”

“Justru sekarang waktunya. Aku sudah terlalu sering dimanfaatkan atas nama keluarga.”

Aryan mengepalkan rahang, lalu akhirnya mengangguk.

Beberapa jam kemudian, dokter keluar.

“Ada kabar baik. Kondisi pasien sudah stabil. Janinnya juga masih bisa dipertahankan, tetapi pasien harus banyak istirahat dan menghindari stres.”

Semua orang menghela napas lega.

Saat mereka masuk ke kamar, Ayu menatap Binar dengan wajah pucat.

“Kamu ngapain di sini?”

“Dia yang bayar biaya rumah sakitmu,” jawab Desi.

Ayu langsung menatap Aryan.

“Kamu minta uang ke dia?”

“Aku nggak punya pilihan.”

Wajah Ayu berubah keras.

“Jadi sekarang aku punya utang sama perempuan ini?”

Binar meletakkan tas di kursi.

“Bukan kamu. Aryan yang punya utang.”

“Aku nggak butuh belas kasihanmu.”

“Tenang. Aku juga nggak sedang berbelas kasihan. Aku hanya nggak mau anak yang nggak bersalah jadi korban kebodohan orang tuanya.”

Ayu terdiam, tetapi matanya penuh kebencian.

Sejak hari itu, hubungan Aryan dan Ayu mulai retak.

Ayu terus menuntut Aryan mendapatkan pekerjaan. Ia juga semakin curiga setiap kali Aryan datang menemui ibunya di rumah Binar.

Sementara itu, kehidupan Binar justru semakin baik.

Suatu pagi, sebuah papan nama baru dipasang di depan rumah. Asri membaca tulisan itu dengan dahi berkerut.

“Dapur Binar, Katering dan Makanan Rumahan.”

Desi terkejut.

“Mbak buka usaha?”

Binar mengangguk.

“Sudah berjalan sejak beberapa bulan lalu. Rumah ini akan jadi dapur produksi.”

“Berarti selama ini mobil dan uang Mbak dari usaha ini?”

“Bukan hanya ini. Aku juga punya kerja sama dengan beberapa kantor dan rumah sakit.”

Desi terdiam kagum.

Baru saat itulah mereka memahami bahwa Bagas bukan kekasih Binar, melainkan investor yang membantu mengembangkan bisnisnya.

Beberapa hari kemudian, pegawai mulai berdatangan. Rumah yang dulu dipenuhi perintah dan hinaan kini berubah menjadi tempat kerja yang sibuk.

Binar mempekerjakan Desi paruh waktu untuk membantu administrasi.

“Aku dibayar?” tanya Desi ragu.

“Tentu. Selama kamu bekerja dengan benar.”

Untuk pertama kalinya, Desi menerima uang dari hasil usahanya sendiri. Ia mulai memahami betapa beratnya mendapatkan uang dan betapa kejamnya sikapnya dahulu kepada Binar.

Suatu malam, Desi masuk ke kamar Binar.

“Mbak.”

“Ada apa?”

“Aku mau minta maaf.”

Binar menghentikan pekerjaannya.

“Aku dulu sering memperlakukan Mbak seperti pembantu. Aku pikir karena Mbak nggak kerja, berarti Mbak nggak punya nilai. Ternyata aku salah.”

Mata Desi mulai berkaca-kaca.

“Aku nggak minta Mbak langsung memaafkan. Aku cuma mau bilang aku menyesal.”

Binar menatapnya lama.

“Penyesalan nggak mengubah masa lalu, Desi. Tapi bisa mengubah masa depan kalau kamu sungguh-sungguh.”

Desi mengangguk sambil mengusap air matanya.

Berbeda dengan Desi, Asri masih sulit mengakui kesalahannya.

Sampai suatu sore Aryan datang membawa koper.

Ayu berdiri di belakangnya dengan wajah marah.

“Bawa ibu dan adikmu keluar dari sini!” bentak Ayu. “Aku sudah muak. Setiap hari kamu datang ke rumah ini. Orang-orang mulai bilang kamu masih berharap pada istri pertamamu.”

Aryan mencoba menenangkannya.

“Ayu, jangan buat keributan.”

“Aku mau cerai!”

Asri keluar dari rumah dan terkejut.

“Apa maksudmu?”

Ayu menatapnya tajam.

“Semua ini gara-gara Ibu. Aryan nggak pernah bisa lepas dari keluarganya. Aku nggak mau hidup begini.”

“Ayu, kamu sedang hamil,” ucap Aryan.

“Justru karena aku hamil, aku harus memikirkan masa depan anakku. Kamu nggak punya pekerjaan, punya utang, dan selalu bergantung pada perempuan itu.”

Ayu menunjuk Binar yang berdiri tenang di ambang pintu.

“Kamu bilang dulu akan menceraikannya setelah dapat kerja. Nyatanya sampai sekarang kamu masih jadi suaminya.”

Aryan menunduk.

Binar melangkah maju.

“Kalau masalahnya hanya perceraian, aku sudah menyiapkan berkasnya.”

Semua orang terdiam.

Binar mengeluarkan map dari tas.

“Aku sudah mengajukan gugatan cerai.”

Aryan menatapnya tajam.

“Kamu serius?”

“Sangat serius.”

“Lalu rumah ini?”

“Rumah ini milikku secara sah. Bisnis ini juga milikku. Utangmu tetap harus dibayar.”

Aryan membuka mulut, tetapi tidak ada kata yang keluar.

Asri tiba-tiba menangis.

“Binar, jangan cerai dari Aryan. Dia masih sayang sama kamu.”

Binar menoleh kepada mertuanya.

“Bukan sayang, Bu. Dia hanya kehilangan tempat untuk kembali.”

Asri menggenggam tangan Binar.

“Ibu salah. Ibu akui Ibu salah. Jangan hancurkan keluarga ini.”

Binar perlahan melepaskan tangannya.

“Keluarga ini sudah hancur sejak kalian menganggapku bukan manusia.”

Sidang perceraian berlangsung cepat karena Aryan tidak memiliki alasan kuat untuk mempertahankan pernikahan. Beberapa bulan kemudian, putusan resmi keluar.

Di luar ruang sidang, Aryan berdiri menatap Binar yang mengenakan setelan kerja sederhana namun elegan.

“Apa kamu bahagia sekarang?” tanyanya.

Binar menatapnya tenang.

“Bukan bahagia karena meninggalkanmu. Aku bahagia karena akhirnya menemukan diriku sendiri.”

Aryan menunduk.

“Aku menyesal.”

“Aku tahu.”

“Apa nggak ada kesempatan lagi?”

Binar menggeleng.

“Memaafkan bukan berarti harus kembali.”

Binar berjalan meninggalkannya.

Di depan gedung pengadilan, Bagas sudah menunggu bersama beberapa pegawai. Hari itu mereka akan menandatangani kontrak besar dengan jaringan rumah sakit nasional.

Namun, sebelum masuk ke mobil, Binar melihat Asri berdiri beberapa meter darinya.

Mantan mertuanya itu tampak jauh lebih tua. Wajahnya tidak lagi penuh kesombongan.

“Binar,” panggil Asri pelan.

Binar berhenti.

“Ibu sudah dapat tempat kontrakan kecil. Desi juga akan tinggal bersama Ibu. Kami nggak akan merepotkanmu lagi.”

Binar mengangguk.

“Jaga kesehatan, Bu.”

Asri menahan tangis.

“Terima kasih karena tetap menolong kami meskipun kami sudah jahat padamu.”

Binar tersenyum tipis.

“Aku menolong bukan karena kalian pantas mendapatkannya. Aku menolong karena aku nggak mau berubah menjadi orang seperti kalian dulu.”

Binar masuk ke mobil.

Ketika kendaraan itu bergerak meninggalkan halaman pengadilan, Aryan dan Asri hanya bisa berdiri memandanginya.

Mereka pernah mengira Binar tidak memiliki apa-apa karena ia tidak punya gaji, tidak punya jabatan, dan tidak berani melawan.

Mereka baru menyadari bahwa yang mereka hina selama ini bukan perempuan lemah.

Binar hanya seseorang yang terlalu lama bersabar.

Dan ketika kesabarannya berakhir, ia tidak membalas dengan kehancuran.

Ia membalas dengan keberhasilan.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang