Ayunda menatap layar ponselnya cukup lama setelah mengirim balasan singkat kepada suaminya. Hatinya terus berkata ada sesuatu yang tidak beres, tetapi pikirannya memaksa untuk percaya. Bukankah Wulan sendiri yang menenangkannya? Bukankah sahabat terbaiknya itu selalu menjadi tempatnya berbagi selama bertahun-tahun?
Malam itu ia tertidur dengan mata yang masih basah.
Sementara di apartemen, Yogi sama sekali tidak memikirkan istrinya. Ia justru memeluk Wulan sambil membicarakan masa depan mereka.
“Aku capek hidup begini,” kata Wulan pelan. “Aku nggak mau selamanya jadi perempuan kedua.”
Yogi menghela napas panjang.

“Aku cuma butuh waktu.”
“Kamu sudah bilang begitu hampir setahun.”
Yogi terdiam. Ia tahu Wulan benar. Hubungan yang awalnya hanya pelarian karena merasa rumah tangganya membosankan kini berubah menjadi keterikatan yang sulit diputus.
“Aku akan bicara sama Ayunda.”
“Kapan?”
“Secepatnya.”
Wulan mengangguk, tetapi diam-diam senyum kecil muncul di sudut bibirnya. Kalimat itu sudah cukup. Tinggal menunggu waktu.
Esok paginya, Ayunda menyiapkan sarapan seperti biasa. Yogi turun dengan wajah lelah, seolah benar-benar baru pulang dari lembur.
“Kamu belum tidur?” tanya Ayunda.
“Baru beberapa jam.”
Ayunda tersenyum tipis.
“Aku buatkan sup kesukaanmu.”
Yogi hanya mengangguk tanpa banyak bicara.
Saat Yogi mandi, Ayunda membereskan jas yang dipakai semalam. Lagi-lagi ia menemukan aroma parfum perempuan yang tidak pernah ia gunakan. Kali ini bukan hanya sehelai rambut, tetapi bekas lipstik yang sangat samar di bagian dalam kerah.
Tangannya gemetar.
Namun ia tetap memasukkan jas itu ke keranjang cucian tanpa berkata apa-apa.
Siangnya, Wulan datang ke rumah membawa buah-buahan.
“Promil harus banyak makan yang sehat,” katanya sambil memeluk Ayunda.
Ayunda membalas pelukan itu. Entah mengapa tubuh sahabatnya terasa asing.
“Kamu baik banget sama aku.”
“Kamu juga.”
Wulan menatap foto pernikahan yang terpajang di ruang tamu. Di foto itu Yogi menggenggam tangan Ayunda sambil tersenyum bahagia.
Tak ada seorang pun yang menyangka laki-laki di dalam bingkai itu semalam tidur di apartemennya.
Beberapa hari kemudian, Ayunda menerima telepon dari rumah sakit. Hasil pemeriksaan menunjukkan peluangnya untuk hamil semakin kecil karena kondisi kesehatannya.
Sepanjang perjalanan pulang ia menangis sendirian.
Malamnya ia ingin bercerita kepada Yogi, tetapi suaminya kembali pulang larut.
“Aku capek. Besok aja ya.”
Kalimat itu lagi.
Ayunda hanya mengangguk.
Seminggu setelahnya, ia tanpa sengaja melihat notifikasi transfer di tablet keluarga yang masih tersambung ke rekening bersama.
Lima puluh juta rupiah.
Penerima: Wulan Pradipta.
Jantung Ayunda berdetak sangat keras.
Ia mencoba mencari penjelasan.
Mungkin pinjaman.
Mungkin investasi.
Mungkin alasan lain.
Namun ketika ia membuka riwayat transfer beberapa bulan terakhir, ternyata bukan sekali.
Sepuluh juta.
Dua puluh lima juta.
Delapan puluh juta.
Totalnya hampir lima ratus juta rupiah.
Tangannya langsung dingin.
Malam itu untuk pertama kalinya Ayunda tidak menangis.
Ia justru merasa pikirannya menjadi sangat tenang.
Ia menghubungi seorang penyelidik swasta yang direkomendasikan rekan kantornya.
“Aku hanya ingin tahu kebenarannya.”
Dua minggu kemudian, sebuah amplop cokelat tiba di mejanya.
Di dalamnya terdapat puluhan foto.
Yogi menggandeng tangan Wulan di pusat perbelanjaan.
Yogi memeluk Wulan di lobi apartemen.
Yogi memasangkan kalung emas di leher Wulan.
Foto terakhir membuat dunia Ayunda runtuh.
Yogi dan Wulan keluar dari hotel sambil tertawa.
Tanggal pada foto itu adalah hari ulang tahunnya.
Ayunda tidak menjerit.
Tidak pula menangis.
Ia hanya menutup mata beberapa detik.
Lalu tersenyum.
Senyum yang bahkan membuat dirinya sendiri terkejut.
Malam itu, saat Yogi pulang, meja makan sudah dipenuhi makanan favoritnya.
“Ada apa?” tanya Yogi.
“Aku cuma pengen makan bareng.”
Mereka makan dalam suasana yang aneh.
Ayunda begitu tenang hingga membuat Yogi merasa tidak nyaman.
Sebelum tidur, Ayunda berkata pelan.
“Mas…”
“Iya?”
“Kalau suatu hari aku pergi, kamu bakal nyesel nggak?”
Yogi tertawa kecil.
“Kamu ngomong apa sih.”
Ayunda hanya tersenyum.
Beberapa hari kemudian, ia diam-diam menemui seorang pengacara.
Semua bukti perselingkuhan diserahkan.
Seluruh transaksi keuangan.
Foto.
Video.
Rekaman percakapan.
Bahkan data pengeluaran perusahaan milik Yogi yang ternyata dipakai membiayai kehidupan mewah Wulan.
Pengacara itu memandang Ayunda cukup lama.
“Ibu benar-benar ingin bercerai?”
“Iya.”
“Tidak ingin mempertahankan?”
Ayunda menggeleng.
“Saya cuma tidak ingin terus hidup bersama orang yang sudah berhenti menghargai saya.”
Sebulan kemudian surat gugatan cerai resmi didaftarkan.
Yogi terkejut.
“Apa ini?”
“Aku minta cerai.”
“Kamu gila? Gara-gara gosip?”
Ayunda meletakkan semua foto di atas meja.
Wajah Yogi langsung pucat.
Di saat yang sama, Wulan datang ke rumah karena sudah dijanjikan makan malam bersama.
Begitu melihat foto-foto itu, langkahnya langsung terhenti.
Ayunda menoleh.
“Masuk saja. Bukankah rumah ini juga sudah sering kamu datangi?”
Suasana mendadak membeku.
Yogi mencoba menjelaskan.
“Ayun, dengarkan aku dulu.”
“Aku sudah terlalu lama mendengarkan.”
Wulan maju selangkah.
“Maaf…”
Ayunda mengangkat tangan.
“Jangan minta maaf. Perselingkuhan itu dilakukan oleh dua orang. Tidak ada yang lebih bersalah.”
Perceraian berlangsung cepat.
Yogi keluar dari rumah dengan membawa keyakinan bahwa Ayunda tidak akan sanggup hidup tanpa dirinya.
Ia langsung tinggal bersama Wulan di apartemen mewah.
Beberapa minggu pertama semuanya terasa indah.
Namun perlahan masalah mulai muncul.
Wulan terbiasa hidup mewah.
Setiap bulan pengeluarannya sangat besar.
Yogi mulai kesulitan karena beberapa klien perusahaan mendadak membatalkan kerja sama.
Ia tidak tahu bahwa semua itu bukan kebetulan.
Suatu pagi ia datang ke kantor dan mendapati ruangannya kosong.
Para investor menarik modal.
Bank membekukan fasilitas kredit.
Proyek-proyek besar dibatalkan.
“Apa yang sebenarnya terjadi?” teriak Yogi.
Manajernya hanya menunduk.
“Pak… perusahaan yang menguasai sebagian besar kontrak kita memutus kerja sama.”
“Perusahaan mana?”
Nama yang disebut membuat Yogi membeku.
PT Arunika Global.
Perusahaan investasi terbesar yang selama ini menjadi tulang punggung bisnisnya.
Yogi segera meminta pertemuan.
Begitu pintu ruang rapat terbuka, napasnya seakan berhenti.
Ayunda duduk di kursi paling depan.
Bukan sebagai tamu.
Melainkan sebagai Direktur Utama.
Di sebelahnya duduk beberapa komisaris.
Salah satunya adalah seorang pria paruh baya yang tersenyum hangat kepada Ayunda.
“Ayah…” bisik Yogi.
Pria itu mengangguk pelan.
“Akhirnya kita bertemu lagi.”
Yogi benar-benar tidak mengerti.
Ayunda menatap mantan suaminya dengan tenang.
“Selama ini kamu selalu mengira aku hanya ibu rumah tangga yang hidup dari uangmu.”
Yogi tidak mampu berkata apa-apa.
Ayunda melanjutkan.
“Ayahku memang sengaja menyembunyikan identitas keluarga kami sejak awal. Beliau ingin tahu apakah ada laki-laki yang mencintaiku karena diriku, bukan karena kekayaan kami.”
Ruangan menjadi sunyi.
“Kamu lulus pada awalnya,” kata Ayunda. “Karena itu ayah membantu perusahaanmu diam-diam melalui investasi. Semua kontrak besar yang kamu banggakan berasal dari jaringan perusahaan keluarga kami.”
Wajah Yogi berubah pucat.
“Tapi setelah kamu mengkhianatiku, ayah menghentikan seluruh dukungan.”
Komisaris lain membuka sebuah map.
“Selain itu, kami menemukan penyalahgunaan dana perusahaan untuk kepentingan pribadi. Nilainya mencapai miliaran rupiah.”
Yogi terduduk lemas.
Ia baru menyadari bahwa hadiah, apartemen, mobil, dan seluruh kemewahan yang ia berikan kepada Wulan sebenarnya berasal dari dana yang seharusnya digunakan untuk bisnis.
Semua bukti sudah lengkap.
Tak ada yang bisa dibantah.
Beberapa bulan kemudian, perusahaan Yogi resmi dinyatakan bangkrut.
Wulan pergi tanpa berpamitan.
Ia meninggalkan sebuah pesan singkat.
“Aku nggak mau hidup susah.”
Yogi hanya tertawa pahit membaca kalimat itu.
Perempuan yang dulu ia pilih ternyata mencintai kenyamanan, bukan dirinya.
Di sisi lain, Ayunda mulai menjalani hidup baru.
Ia kembali memimpin berbagai proyek sosial milik keluarganya.
Suatu sore, ketika berjalan keluar dari kantor, ia melihat Yogi duduk sendirian di halte bus.
Wajahnya jauh lebih tua.
Tatapan matanya kosong.
Yogi berdiri ketika melihat Ayunda.
“Ayun… maafkan aku.”
Ayunda berhenti beberapa langkah darinya.
“Aku sudah memaafkanmu.”
Mata Yogi berbinar.
“Benarkah?”
“Iya.”
“Lalu… masih ada kesempatan buat kita?”
Ayunda menggeleng pelan.
“Memaafkan bukan berarti mengulang kesalahan yang sama.”
Ia tersenyum, lalu masuk ke mobil yang menunggunya.
Yogi hanya bisa memandang mobil itu perlahan menghilang di tengah kemacetan Jakarta.
Barulah saat itu ia memahami satu hal yang datang terlambat.
Yang menghancurkan hidupnya bukan perceraian.
Melainkan kesombongannya sendiri karena mengira perempuan yang selalu setia menunggunya tidak akan pernah mampu hidup tanpa dirinya.
Padahal sejak awal, Ayunda tidak pernah kehilangan apa pun.
Justru dialah yang kehilangan satu-satunya orang yang benar-benar pernah mencintainya tanpa syarat.
