Aku menatap layar laptop tanpa berkedip.
Nominal yang tertera membuat dadaku sesak.
Transfer Berhasil: Rp1.500.000.
Penerima: Dita Maharani.
Waktu: 06.15 WIB.
Di bawahnya hanya ada satu pesan singkat dari Dita.
Terima kasih ya, Mas. Aku janji nanti malam nggak akan bikin Mas kecewa.
Tanganku langsung membeku di atas touchpad.

Kalimat itu jauh lebih menyakitkan daripada nominal uang yang hilang.
Selama ini aku masih berusaha mencari pembenaran untuk suamiku. Mungkin dia hanya membantu karyawan yang sedang kesulitan. Mungkin semuanya hanya kebetulan.
Tetapi pesan itu menghapus semua kemungkinan baik yang selama ini kupelihara.
Aku menarik napas panjang, lalu memotret layar menggunakan ponselku. Semua percakapan kusimpan. Bukti transfer, isi chat, bahkan foto profil Dita yang sedang tersenyum mengenakan blazer kantor.
Belum sempat aku menutup browser, notifikasi baru muncul.
Mas Bima mengetik.
Aku menahan napas.
“Udah bangun belum? Jangan lupa sarapan. Nanti malam aku jemput ya.”
Dita langsung membalas.
“Mas takut ketahuan sama Mbak Naya?”
“Tahu apa dia? Dia terlalu percaya sama aku.”
Aku membaca kalimat itu berkali-kali.
Ada sesuatu yang mati di dalam diriku saat itu juga.
Bukan cinta.
Melainkan kepercayaanku.
Aku menutup laptop perlahan.
Di ruang tengah, Rara sedang tertawa melihat kartun favoritnya. Gadis kecil berusia enam tahun itu sama sekali tidak tahu bahwa dunia ibunya baru saja runtuh.
Aku memeluknya dari belakang.
“Mama kenapa?”
“Nggak apa-apa, Sayang.”
“Kok Mama dingin?”
Aku mencium rambutnya.
“Tiba-tiba Mama pengin peluk Rara aja.”
Rara tersenyum polos.
Kalau bukan karena anak ini, mungkin sejak lama aku sudah pergi.
Siang harinya aku sengaja menghubungi sahabat lamaku, Lestari, yang bekerja sebagai auditor internal di sebuah perusahaan besar.
“Lest, aku butuh bantuan.”
“Bantu apa?”
“Aku cuma mau tahu… kalau seseorang sering transfer uang diam-diam, biasanya jejaknya bisa kelihatan nggak?”
Lestari tertawa kecil.
“Kalau rekeningnya sendiri, pasti ada mutasi. Kenapa?”
“Nggak apa.”
“Naya.”
Nada suaranya berubah serius.
“Kamu lagi ada masalah rumah tangga?”
Aku terdiam cukup lama.
“Iya.”
Sore itu aku bertemu dengannya di sebuah kafe.
Semua bukti kuperlihatkan.
Lestari membaca chat satu per satu tanpa menyela.
Semakin lama wajahnya semakin serius.
“Naya.”
“Iya?”
“Ini bukan pertama kalinya.”
Aku mengernyit.
“Maksudmu?”
“Nomor referensi transfer.”
Aku menatapnya bingung.
“Kalau transaksi rutin dilakukan lewat daftar penerima favorit, nomor referensinya biasanya berurutan. Yang ini sudah terlalu tinggi.”
Jantungku langsung berdetak lebih cepat.
“Kamu bilang uang sekolah Rara sering kurang?”
Aku mengangguk.
“Listrik juga pernah telat dibayar?”
“Iya.”
“Mas Bima juga pernah bilang bonus kantor dipotong?”
“Iya.”
Lestari mengembuskan napas panjang.
“Kayaknya selama ini bukan cuma satu juta lima ratus.”
Aku pulang dengan kepala penuh pertanyaan.
Malamnya Mas Bima datang membawa sekotak martabak.
Seolah tidak terjadi apa-apa.
“Nih, favorit kamu.”
Aku tersenyum tipis.
“Makasih.”
“Kok hari ini baik banget?”
“Emang aku biasanya jahat?”
Dia tertawa.
“Nggak juga.”
Aku sengaja bersikap seperti biasa.
Aku memasakkan makan malam.
Menyiapkan kopi.
Bahkan membantunya mengambil handuk.
Mas Bima terlihat jauh lebih santai.
Ia sama sekali tidak menyadari bahwa setiap gerak-geriknya sedang kuperhatikan.
Saat ia mandi, ponselnya bergetar.
Nama Dita muncul.
Aku tidak mengangkatnya.
Namun layar menampilkan isi pesan.
Mas, dia udah percaya lagi belum? Besok apartemennya jangan lupa ya.
Apartemen?
Aku langsung memotret layar.
Beberapa menit kemudian Mas Bima keluar sambil mengelap rambut.
“Kok melamun?”
“Nggak.”
“Tadi ada chat?”
“Nggak ada yang penting.”
Ia mengambil ponselnya tanpa curiga.
Malam itu aku hampir tidak tidur.
Keesokan paginya, setelah mengantar Rara ke sekolah, aku mengikuti mobil Mas Bima menggunakan taksi online.
Ia tidak menuju kantor.
Ia justru berhenti di sebuah apartemen mewah di Jakarta Selatan.
Beberapa menit kemudian Dita datang.
Mereka masuk bersama.
Tanganku gemetar.
Aku sudah menduga.
Tetapi melihatnya dengan mata sendiri terasa jauh lebih menyakitkan.
Aku memotret semuanya.
Saat hendak pergi, seorang petugas keamanan menghampiriku.
“Maaf, Bu. Ada yang bisa dibantu?”
Aku tersenyum.
“Saya cuma memastikan alamat unit.”
Petugas itu mengangguk ramah.
“Kalau Unit 1708 milik Pak Bima ya? Beliau memang sering datang.”
Aku menoleh cepat.
“Sering?”
“Iya. Sudah hampir setahun.”
Hampir setahun.
Artinya semua kebohongan selama ini sudah berlangsung sangat lama.
Aku pulang tanpa air mata.
Yang tersisa hanya kemarahan yang sangat tenang.
Selama beberapa hari berikutnya aku mulai mengumpulkan semua dokumen keluarga.
Sertifikat rumah.
Buku tabungan.
BPKB mobil.
Slip gaji.
Laporan pajak.
Di sanalah aku menemukan sesuatu yang lebih mengejutkan.
Cicilan apartemen itu ternyata dibayar menggunakan rekening bersama kami.
Setiap bulan.
Jumlahnya hampir delapan juta rupiah.
Aku terduduk lemas.
Berarti bukan hanya uang sekolah Rara.
Bukan hanya uang belanja.
Selama ini aku ikut membayar tempat perselingkuhan suamiku.
Malam Minggu berikutnya Mas Bima berkata ingin lembur.
Aku hanya mengangguk.
Begitu mobilnya keluar, aku menelepon seseorang.
“Bisa mulai sekarang.”
“Siap, Bu.”
Orang itu adalah pengacara yang dikenalkan Lestari.
Ia sudah menyiapkan seluruh proses gugatan sejak beberapa hari lalu.
Semua bukti sudah lengkap.
Foto.
Mutasi rekening.
Percakapan.
Rekaman CCTV apartemen yang berhasil diperoleh secara resmi melalui pengelola setelah proses permintaan hukum.
Seminggu kemudian keluarga besar berkumpul di rumah mertuaku karena ulang tahun beliau.
Semua hadir.
Adik ipar.
Sepupu.
Paman.
Bibi.
Mas Bima tampak santai seperti biasa.
Di tengah acara, ibu mertuaku tersenyum.
“Naya, kamu kelihatan lebih kurusan.”
Aku tersenyum.
“Mungkin lagi banyak pikiran, Bu.”
“Jangan terlalu banyak drama.”
Mas Bima ikut tertawa.
“Maklumlah, Bu.”
Semua orang ikut tersenyum.
Aku berdiri perlahan.
“Kalau begitu, hari ini sekalian saja kita selesaikan semuanya.”
Semua mata langsung memandangku.
Aku mengeluarkan sebuah map cokelat.
“Ini mutasi rekening.”
Kubuka lembar pertama.
“Ini cicilan apartemen.”
Lembar kedua.
“Ini bukti transfer ke Dita.”
Lembar ketiga.
“Ini foto saat Mas Bima masuk apartemen bersama Dita.”
Ruangan langsung sunyi.
Wajah Mas Bima berubah pucat.
“Naya, kamu jangan ngaco.”
Aku menatapnya lurus.
“Aku belum selesai.”
Kubuka amplop terakhir.
“Dan ini surat gugatan cerai yang sudah didaftarkan kemarin.”
Ibuku mertua berdiri.
“Mustahil!”
Aku menyerahkan semua bukti kepadanya.
Beliau membaca satu demi satu.
Tangannya mulai gemetar.
“Ini… ini…”
Mas Bima berusaha merebut dokumen itu.
“Cukup!”
Aku mundur selangkah.
“Jangan sentuh aku lagi.”
Semua orang terdiam.
Tidak ada lagi yang membelanya.
Tidak ada lagi alasan tentang blender.
Tidak ada lagi cerita soal lembur.
Tidak ada lagi kebohongan mengenai uang sekolah Rara.
Mas Bima perlahan duduk.
Wajahnya benar-benar kehilangan warna.
“Naya… aku bisa jelasin.”
Aku menggeleng pelan.
“Tidak perlu.”
“Demi Rara.”
“Justru demi Rara.”
Aku menatap matanya untuk terakhir kalinya sebagai seorang istri.
“Aku ingin anakku tumbuh bersama seorang ibu yang dihargai, bukan yang setiap hari diajari memaafkan penghinaan.”
Aku berbalik meninggalkan rumah itu.
Di luar, hujan mulai turun.
Rara menggenggam tanganku.
“Mama…”
“Iya?”
“Kita mau ke mana?”
Aku tersenyum sambil mengusap kepalanya.
“Kita pulang.”
“Ini bukan rumah kita?”
Aku memandang langit yang mulai gelap.
“Rumah bukan tempat yang paling mewah.”
“Lalu apa?”
“Rumah adalah tempat yang tidak membuat kita takut menjadi diri sendiri.”
Rara mengangguk meski mungkin belum sepenuhnya mengerti.
Beberapa bulan kemudian pengadilan memutuskan hak asuh Rara jatuh kepadaku.
Mas Bima diwajibkan menanggung nafkah anak setiap bulan.
Apartemen yang selama ini dibayarnya diam-diam akhirnya dijual untuk melunasi sebagian utang yang selama ini ia sembunyikan.
Dita mengundurkan diri dari kantor tidak lama setelah perselingkuhan mereka terbongkar.
Sementara aku memilih memulai hidup baru.
Tidak mudah.
Tetapi setiap kali melihat Rara berlari pulang dari sekolah dengan wajah ceria, aku tahu semua luka itu tidak sia-sia.
Hari ketika aku menemukan jepit rambut mutiara di mobil ternyata bukan hari ketika keluargaku hancur.
Hari itu justru menjadi awal ketika aku berhenti membohongi diriku sendiri.
Karena pengkhianatan memang menyakitkan, tetapi tetap tinggal bersama seseorang yang terus-menerus mengkhianati adalah luka yang jauh lebih dalam. Dan kadang, keberanian terbesar bukanlah mempertahankan sebuah rumah tangga, melainkan berani meninggalkan hubungan yang sejak lama sudah berhenti menjadi rumah.
