Maria menutup kedua telapak tangannya di depan wajah. Setelah selesai berdoa, ia mengusap wajahnya perlahan dengan senyum tipis yang dipenuhi harapan. Begitu membuka mata, ia terkejut karena melihat sepasang sandal pria masih berada tepat di depan pintu musala. Ia buru-buru berdiri, mengira semua orang sudah pulang. Saat melangkah keluar, pandangannya bertemu dengan Fattah yang sedang merapikan rak Al-Qur’an.
Jantung Maria langsung berdegup kencang.
“Astaghfirullah… Mas Fattah belum pulang?”
Fattah tersenyum tipis.
“Belum. Tadi ada beberapa mushaf yang perlu dirapikan.”

Maria mengangguk gugup. Wajahnya terasa panas. Dalam hati ia terus mengulang doa agar Fattah tidak mendengar apa pun yang baru saja ia ucapkan.
“Sudah selesai doanya?” tanya Fattah.
“Iya.”
“Semoga Allah mengabulkan.”
Maria tersenyum canggung.
“Aamiin.”
Sepanjang perjalanan pulang, Maria terus memikirkan ucapan itu. Kalimat sederhana tersebut membuatnya tersenyum sendiri. Ia sama sekali tidak menyadari bahwa beberapa saat sebelum meninggalkan musala, Fattah sempat mendengar potongan terakhir doanya.
“…nggak papa ibunya galak ya Allah, aku sudah hafal ayat kursi.”
Kalimat itu membuat Fattah tidak mampu menahan senyum. Sudah lama ia tidak menemukan doa yang sejujur dan selugu itu.
Namun, senyum itu segera hilang ketika ia mengingat nasihat ibunya.
“Jangan asal memilih perempuan hanya karena kasihan.”
Kalimat tersebut terus terngiang di kepalanya.
Hari-hari berikutnya berlalu dengan cepat.
Maria semakin rajin mengikuti kajian. Ia mulai mengenakan pakaian yang lebih longgar. Sesekali ia mencoba memakai pashmina ketika menghadiri pengajian perempuan, meski belum berani memakainya setiap hari.
Perubahan kecil itu tidak luput dari perhatian Bu Nur.
Suatu sore, ketika Fattah pulang dari mengajar mengaji, ibunya tiba-tiba berkata, “Perempuan mualaf itu masih sering ke musala.”
“Iya.”
“Dia masih mengejarmu?”
Fattah tersenyum kecil.
“Saya nggak tahu, Bu.”
“Kamu jangan kasih harapan.”
“Saya juga nggak pernah kasih.”
Bu Nur menghela napas.
“Ibu cuma ingin kamu dapat istri yang sudah matang agamanya.”
Fattah diam cukup lama.
“Lalu kalau ada orang yang sedang berusaha menjadi lebih baik, apa dia nggak pantas diberi kesempatan?”
Bu Nur menoleh.
“Itu maksudmu apa?”
“Nggak ada apa-apa.”
Jawaban itu justru membuat Bu Nur semakin penasaran.
Beberapa minggu kemudian, musala mengadakan bakti sosial untuk warga sekitar yang rumahnya terdampak banjir. Semua jamaah ikut bergotong royong.
Maria datang paling pagi.
Ia membantu membungkus sembako, mengangkat kardus, hingga membagikan makanan tanpa banyak bicara.
Di tengah kesibukan, seorang ibu tua tiba-tiba terpeleset.
Maria menjadi orang pertama yang berlari.
“Ibu nggak apa-apa?”
Perempuan tua itu meringis kesakitan.
Tanpa berpikir panjang, Maria melepas jaketnya lalu melipatnya sebagai alas kepala perempuan tersebut sambil memanggil ambulans.
Saat itulah Bu Nur melihat semuanya.
Tidak ada kamera.
Tidak ada orang yang memuji.
Maria bahkan tidak tahu kalau dirinya sedang diperhatikan.
Ia hanya sibuk menenangkan perempuan tua itu sambil menggenggam tangannya.
“Nggak usah takut ya, Bu. Ambulans sebentar lagi datang.”
Bu Nur memandang gadis itu cukup lama.
Entah mengapa, untuk pertama kalinya ia melihat sesuatu yang berbeda.
Bukan pakaian.
Bukan rambut.
Melainkan ketulusan.
Malam harinya, Bu Nur duduk sendiri di ruang tamu.
“Ayahnya Fattah dulu juga bukan orang yang langsung baik,” gumamnya pelan.
Ia teringat bagaimana almarhum suaminya belajar agama sedikit demi sedikit setelah menikah.
Air matanya menetes tanpa sadar.
Mungkin selama ini ia terlalu sibuk melihat penampilan seseorang hingga lupa memperhatikan isi hatinya.
Sementara itu, Maria sedang berada di rumah Nisa.
“Nis.”
“Hm?”
“Kalau suatu hari Mas Fattah nikah sama orang lain, menurut lo gue bakal gimana?”
Nisa menghentikan kunyahannya.
“Sedih.”
“Pasti.”
“Tapi gue yakin lo nggak bakal ninggalin Islam.”
Maria menatap sahabatnya.
“Kok yakin?”
“Soalnya dulu lo masuk Islam karena pengen kenal Allah. Mas Fattah cuma alasan awal.”
Maria terdiam.
Kalimat itu menusuk hatinya.
Malam itu ia menangis cukup lama.
Untuk pertama kalinya, dalam doanya ia tidak lagi menyebut nama Fattah.
“Ya Allah… kalau memang dia baik untuk agamaku dan hidupku, dekatkanlah. Tapi kalau bukan, jangan biarkan aku kehilangan-Mu hanya karena kehilangan dia.”
Air mata kembali jatuh.
Doa itu terasa jauh lebih berat dibanding semua doa sebelumnya.
Beberapa hari kemudian, kabar mengejutkan datang.
Joseph mengalami kecelakaan lalu lintas.
Maria langsung menuju rumah sakit.
Sahabatnya itu hanya mengalami patah tulang ringan, tetapi harus dirawat beberapa hari.
Joseph tersenyum saat melihat Maria.
“Gue masih hidup ternyata.”
“Jangan becanda.”
Joseph tertawa kecil.
“Lihat tuh.”
“Apa?”
“Doa lo berubah.”
Maria terdiam.
“Gue bisa lihat dari muka lo.”
Maria menunduk.
“Aku capek berharap sama manusia.”
Joseph mengangguk pelan.
“Itu tandanya lo mulai berharap sama Tuhan.”
Maria tersenyum sambil mengusap air mata.
Seminggu setelah Joseph keluar dari rumah sakit, musala mengadakan acara khataman Al-Qur’an.
Maria diminta membaca beberapa ayat pendek.
Tangannya gemetar.
Namun setelah menarik napas panjang, ia mulai membaca.
Suaranya memang belum sempurna.
Masih ada beberapa makhraj yang kurang tepat.
Tetapi setiap ayat dibacanya dengan penuh penghayatan.
Semua jamaah memperhatikan.
Bu Nur ikut mendengarkan.
Ketika Maria selesai membaca, suasana menjadi hening beberapa detik sebelum terdengar ucapan, “Masya Allah.”
Bu Nur menoleh.
Yang mengucapkannya ternyata Fattah.
Laki-laki itu tersenyum bangga.
“Kemajuannya cepat.”
Malam itu, setelah semua jamaah pulang, Bu Nur memanggil Maria.
Maria langsung gugup.
“Maaf kalau saya pernah membuat Ibu kecewa.”
Bu Nur justru menggenggam kedua tangan gadis itu.
“Ibu yang seharusnya minta maaf.”
Maria membelalak.
“Ibu terlalu cepat menilai kamu.”
Maria tidak mampu berkata apa-apa.
Air matanya mengalir begitu saja.
“Terima kasih karena sudah bertahan.”
Kalimat sederhana itu terasa lebih berharga daripada semua pujian yang pernah ia terima.
Beberapa bulan kemudian, Maria akhirnya memutuskan memakai hijab.
Bukan karena diminta siapa pun.
Bukan karena ingin menarik perhatian Fattah.
Melainkan karena setiap kali bercermin, ia merasa Allah telah memberinya keberanian yang selama ini ia cari.
Ketika pertama kali datang ke musala dengan hijab sederhana berwarna krem, hampir semua orang tersenyum bahagia.
Nisa bahkan langsung memeluknya.
“Gue bilang juga apa.”
Maria tertawa sambil menangis.
“Susah banget ternyata ngalahin diri sendiri.”
Di kejauhan, Fattah melihat semuanya.
Ia tidak mendekat.
Ia hanya tersenyum.
Malam harinya, Bu Nur mengetuk pintu kamar anaknya.
“Fattah.”
“Iya, Bu.”
“Ibu mau tanya.”
“Tanya apa?”
“Kamu masih belum kepikiran menikah?”
Fattah menutup buku yang sedang dibacanya.
“Sebenarnya… sudah.”
Bu Nur tersenyum.
“Dengan siapa?”
Fattah menunduk sesaat sebelum menjawab pelan.
“Dengan perempuan yang dulu setiap selesai salat selalu menyebut alamat rumah kita lengkap dalam doanya.”
Bu Nur terdiam beberapa detik.
Lalu keduanya tertawa bersamaan.
Dua bulan kemudian, Fattah bersama ibunya datang ke rumah Nisa.
Maria yang sedang membantu di dapur sama sekali tidak tahu tujuan kedatangan mereka.
Ia baru keluar ketika Nisa memanggilnya.
Begitu melihat Bu Nur membawa sebuah kotak hantaran, tubuh Maria langsung membeku.
Fattah berdiri dengan wajah tenang.
“Ada yang ingin saya sampaikan.”
Maria menahan napas.
“Dulu saya tidak pernah mendengar seluruh doa kamu.”
Maria semakin bingung.
“Saya cuma sempat mendengar bagian akhirnya.”
Fattah tersenyum hangat.
“‘Nggak papa ibunya galak ya Allah, aku sudah hafal ayat kursi.'”
Wajah Maria seketika memerah.
Semua orang di ruang tamu tertawa.
Maria menutup wajahnya karena malu.
Fattah melangkah mendekat.
“Kalau doa itu masih berlaku…”
Ia mengulurkan sebuah kotak kecil.
“…bolehkah sekarang saya yang meminta izin kepada Allah, lalu kepada orang tuamu, agar kita bisa menghafal ayat-ayat-Nya bersama seumur hidup?”
Tangis Maria pecah tanpa mampu ditahan.
Ia tidak menjawab dengan kata-kata.
Ia hanya mengangguk pelan.
Di sudut ruangan, Bu Nur memandang keduanya dengan mata berkaca-kaca.
Saat itu ia benar-benar memahami satu hal yang selama ini luput dari dirinya.
Hidayah memang bisa datang melalui nasihat.
Tetapi lebih sering, hidayah tumbuh perlahan karena kasih sayang, kesabaran, dan doa yang tidak pernah lelah mengetuk langit.
