Api belum sempat menjilat seluruh pakaian mahal milik Anggun ketika suara sirene memecah keheningan sore. Aku berdiri di samping tumpukan kain yang terbakar, menatap nyala merah yang menari-nari seperti kemarahan yang selama ini kupendam sendirian.
Beberapa detik kemudian, dua mobil berhenti di depan rumah. Mas Emir dan Anggun berlari keluar. Wajah perempuan itu pucat saat melihat gaun-gaunnya berubah menjadi abu.
“Sephia! Kamu benar-benar gila!” teriak Mas Emir.

Anggun menangis sambil memegangi lengannya. “Mas, semua itu dibelikan dari hasil kerjaku. Dia sengaja menghancurkan hidupku.”
Aku tertawa pendek. “Hasil kerjamu? Bukankah sebagian besar hadiah dari suamiku?”
Mas Emir melangkah mendekat, tetapi segera berhenti ketika dua orang polisi memasuki halaman bersama seorang pria berkemeja rapi yang membawa map hitam.
“Siapa yang bernama Sephia?” tanya salah satu polisi.
“Aku.”
“Kami mendapat laporan mengenai perusakan barang dan pembakaran yang berpotensi membahayakan lingkungan sekitar.”
Anggun langsung menunjukku. “Dia pelakunya, Pak. Tolong tangkap dia. Dia juga menyerang kami sejak tadi.”
Aku tidak membantah bahwa aku membakar pakaian itu. Namun sebelum polisi mengatakan apa pun, pria berkemeja rapi tadi maju.
“Saya Ardi Pranata, kuasa hukum Ibu Sephia,” katanya tenang. “Sebelum melakukan tindakan, kami meminta pemeriksaan status kepemilikan barang, lokasi kejadian, serta laporan lengkap dari pihak pelapor.”
Mas Emir mengernyit. “Kuasa hukum?”
Aku menatapnya tanpa senyum. “Kamu pikir aku datang ke sini hanya membawa emosi?”
Wajahnya berubah. Untuk pertama kali sejak aku kembali, keyakinannya mulai goyah.
Pak Ardi membuka map. “Rumah ini tercatat atas nama Ibu Sephia berdasarkan akta hibah yang sah. Kami juga memiliki bukti bahwa selama Ibu Sephia berada di luar kota untuk menjalani perawatan, beberapa barang pribadinya dipindahkan tanpa izin, sebagian dibuang, dan ruangan rumah diubah menjadi lokasi produksi sinetron.”
Polisi menoleh kepada Mas Emir. “Benar rumah ini digunakan untuk syuting?”
Mas Emir menjawab terbata-bata. “Hanya beberapa kali. Sephia tahu aku bekerja sebagai aktor.”
“Aku tahu kamu aktor,” kataku. “Tapi aku tidak pernah mengizinkan rumah ini dijadikan lokasi komersial, apalagi mengubah seluruh isinya.”
Anggun mencibir. “Tetap saja dia membakar barangku.”
“Aku siap bertanggung jawab atas kerugian yang terbukti milikmu,” jawabku. “Tapi setelah semua barangku yang kalian singkirkan juga dihitung.”
Pak Ardi menyerahkan beberapa foto kepada polisi. Itu adalah dokumentasi yang kuambil sebelum masuk rumah. Gudang belakang dipenuhi kardus berisi pakaian dan album keluarga. Sebagian barang rusak karena lembap. Ada pula foto ranjang anak-anakku yang dibongkar dan ditumpuk sembarangan.
Mas Emir menatapku tajam. “Kapan kamu mengambil foto itu?”
“Ketika kalian sibuk berpelukan di kamarku.”
Polisi meminta semua pihak menenangkan diri. Karena api sudah dipadamkan dan tidak merambat, perkara tidak langsung berakhir dengan penahanan. Kami diminta datang ke kantor polisi untuk memberikan keterangan. Namun kejutan sebenarnya belum dimulai.
Saat kami hendak berangkat, sebuah mobil produksi berhenti. Seorang sutradara, dua kru, dan seorang perempuan paruh baya keluar dengan wajah panik.
“Emir, kamu kenapa tidak mengangkat telepon?” tanya sutradara itu. “Besok rumah ini akan dipakai syuting episode akhir.”
“Tidak akan ada syuting lagi di sini,” kataku.
Sutradara itu menatapku. “Maaf, Ibu siapa?”
“Pemilik rumah.”
Semua terdiam.
Mas Emir buru-buru berkata, “Jangan dengarkan dia. Ini masalah keluarga.”
Aku mengambil salinan kontrak dari map Pak Ardi. “Masalah keluarga tidak mencakup pemalsuan tanda tangan.”
Sutradara itu merebut dokumen tersebut, lalu membacanya. Wajahnya menegang.
“Emir, ini tanda tangan istrimu, kan?”
“Ya.”
“Bukan,” jawabku. “Aku tidak pernah menandatangani kontrak penggunaan rumah ini. Pada tanggal yang tertera, aku sedang dirawat di rumah sakit di Bandung.”
Mas Emir memucat.
Anggun melepaskan tangannya dari lengan Mas Emir. “Mas, kamu bilang Sephia sudah setuju.”
“Diam dulu.”
Sutradara itu mulai marah. “Kami sudah membayar uang sewa enam bulan di muka.”
Aku menoleh kepada Mas Emir. “Berapa yang kamu terima?”
“Bukan urusanmu.”
“Rumahku disewakan tanpa izin, uangnya masuk ke rekeningmu, lalu kamu bilang bukan urusanku?”
Polisi meminta kontrak tersebut dibawa sebagai bukti tambahan. Mas Emir mencoba mempertahankan sikap angkuhnya, tetapi tangannya jelas gemetar.
Di kantor polisi, satu demi satu kebohongannya terbuka. Tanda tanganku pada kontrak memang berbeda. Rekening penerima uang sewa atas nama Mas Emir. Selain itu, terdapat kuitansi renovasi rumah yang dibayar menggunakan dana dari rekening bersama kami.
Aku menatap layar komputer yang menunjukkan aliran dana. Selama aku menjalani perawatan karena kecelakaan, Mas Emir ternyata mengambil uang hampir tujuh ratus juta rupiah. Ia mengaku uang itu digunakan untuk biaya kebutuhan rumah dan anak-anak.
“Anak-anak bahkan tidak tinggal bersamamu,” kataku.
Mas Emir menunduk.
Anak kembar kami, Raka dan Rania, selama ini tinggal bersama ibuku di Yogyakarta. Setelah kecelakaan membuat kakiku harus menjalani beberapa kali operasi, aku sengaja membawa mereka menjauh dari Jakarta. Aku tidak ingin mereka melihat pertengkaran kami. Aku masih berharap Mas Emir berubah.
Ternyata jarak justru memberinya kesempatan membangun keluarga palsu bersama Anggun.
Malam itu kami diperbolehkan pulang setelah memberikan keterangan. Mas Emir dan Anggun memilih menginap di hotel. Aku kembali ke rumah bersama Pak Ardi.
Di ruang tamu yang berantakan, aku menemukan bingkai foto pernikahanku pecah di dalam tong sampah. Aku memungutnya perlahan. Dalam foto itu, Mas Emir tersenyum begitu hangat, seolah aku adalah satu-satunya perempuan di dunia.
“Masih mencintainya?” tanya Pak Ardi.
Aku mengusap debu pada kaca yang retak. “Entahlah. Mungkin aku hanya mencintai laki-laki dalam foto ini. Bukan laki-laki yang sekarang.”
Pak Ardi menghela napas. “Besok kita lanjutkan pengajuan gugatan cerai dan pembekuan aset bersama.”
Aku mengangguk.
Namun sekitar pukul dua pagi, aku mendengar suara dari pintu belakang. Ketika turun, kulihat Anggun berdiri di dapur. Rambutnya berantakan dan matanya sembap.
“Bagaimana kamu masuk?” tanyaku.
“Aku masih punya kunci.”
“Kembalikan.”
Ia meletakkan kunci di meja, lalu tiba-tiba berlutut.
“Tolong aku, Sephia.”
Aku menatapnya tanpa iba. “Apa lagi sandiwara yang ingin kamu mainkan?”
“Aku tidak tahu soal uangmu. Aku juga tidak tahu kontrak rumah itu palsu.”
“Tapi kamu tahu dia masih suamiku.”
Anggun terdiam.
“Bangun. Aku tidak suka melihat orang berlutut hanya karena takut kehilangan kenyamanan.”
Ia bangkit perlahan. “Aku hamil.”
“Aku sudah tahu.”
“Anak ini bukan anak Mas Emir.”
Kalimat itu membuatku membeku.
Anggun menutupi wajahnya. “Aku berbohong kepadanya.”
“Kenapa?”
“Karena karierku hampir hancur. Aku terlibat hubungan dengan produser lama. Ketika aku hamil, dia menolak bertanggung jawab. Mas Emir sedang terobsesi denganku. Aku mengatakan bahwa anak ini miliknya.”
Aku menahan napas. “Lalu pernikahan kalian?”
“Itu bukan pernikahan sah. Hanya adegan sinetron yang sengaja kami buat seolah nyata untuk meyakinkan orang-orang. Tapi Mas Emir benar-benar ingin menikahiku secara siri. Sore tadi dia bahkan memanggil penghulu ke studio. Saat ijab kabul berlangsung, seseorang melempar gelas ke arahnya.”
“Siapa?”
“Aku tidak tahu. Setelah itu, dia membawaku pulang ke sini.”
Aku menatap perempuan di depanku. Kini aku memahami luka di mulut Mas Emir saat pertama kali melihatnya. Namun aku tidak merasa iba.
“Kenapa kamu mengatakan semua ini kepadaku?”
Anggun mengeluarkan telepon. “Karena Mas Emir mulai mencurigai kehamilanku. Dia memaksaku melakukan tes DNA setelah bayi lahir. Dia juga berkata jika anak ini bukan darah dagingnya, dia akan membuatku menyesal.”
“Itu urusanmu.”
“Dia punya video tentangmu.”
Aku menegang.
Anggun membuka sebuah folder tersembunyi. Di dalamnya ada video rekaman saat aku menjalani rehabilitasi. Tubuhku terlihat lemah, emosiku tidak stabil, dan beberapa kali aku menangis karena kesakitan. Video itu direkam diam-diam oleh Mas Emir.
“Dia berencana menyebarkannya,” kata Anggun. “Dia ingin membentuk opini bahwa kamu tidak waras, supaya hak asuh anak jatuh kepadanya.”
Darahku terasa dingin.
“Kenapa kamu membantuku?”
“Karena sekarang aku tahu, setelah kamu disingkirkan, aku akan menjadi korban berikutnya.”
Aku mengambil teleponnya dan menyalin semua data. Ada rekaman percakapan, bukti transfer, pesan ancaman, dan rencana Mas Emir menyuap seorang dokter untuk membuat laporan palsu mengenai kondisi kejiwaanku.
Keesokan paginya, Pak Ardi membawa bukti itu ke penyidik. Perkara yang semula hanya berhubungan dengan perusakan rumah berkembang menjadi dugaan pemalsuan dokumen, penggelapan dana, pelanggaran privasi, dan rencana manipulasi hukum.
Mas Emir ditangkap tiga hari kemudian di sebuah hotel di kawasan Kemang.
Berita itu menyebar cepat. Wajahnya muncul di berbagai portal hiburan. Kontrak sinetronnya dibatalkan. Beberapa merek memutus kerja sama. Di depan wartawan, ia terus mengatakan bahwa dirinya dijebak oleh istri yang cemburu.
Aku tidak memberikan pernyataan apa pun.
Aku hanya fokus membawa Raka dan Rania kembali pulang.
Ketika si kembar masuk ke rumah, mereka berdiri lama di ruang tamu yang masih kosong.
“Foto kami ke mana, Bunda?” tanya Rania.
Aku berjongkok dan memeluk mereka. “Nanti kita pasang foto baru.”
“Foto bersama Ayah?” tanya Raka.
Pertanyaan itu menusuk lebih dalam daripada semua penghinaan Mas Emir.
“Foto kita bertiga dulu,” jawabku.
Proses hukum berlangsung berbulan-bulan. Anggun bersedia menjadi saksi dan mengakui semua kebohongannya. Ia mengembalikan beberapa perhiasan dan barang yang dibelikan Mas Emir dari dana rekening bersama. Setelah melahirkan, hasil tes DNA membuktikan bahwa bayi itu memang bukan anak Mas Emir.
Namun kejutan terbesar muncul dalam sidang perceraian.
Pengacara Mas Emir menghadirkan seorang notaris yang mengklaim bahwa akta hibah rumah kepadaku telah dibatalkan. Mereka menunjukkan dokumen baru yang menyatakan rumah itu kembali menjadi milik Mas Emir.
Pak Ardi memeriksa dokumen tersebut dengan tenang, lalu tersenyum tipis.
“Yang Mulia, kami meminta saksi tambahan dihadirkan.”
Pintu ruang sidang terbuka.
Ibu mertua masuk dengan kursi roda.
Mas Emir berdiri begitu cepat. “Ibu?”
Perempuan yang selama ini kukira membenciku itu menatap anaknya dengan mata kecewa.
Rumah tersebut ternyata bukan dibeli Mas Emir. Rumah itu dibeli oleh almarhum ayahnya dan diwariskan kepada ibu mertua. Lima tahun lalu, ibu mertua menghibahkannya langsung kepadaku, bukan melalui Mas Emir.
“Aku memberikan rumah itu kepada Sephia karena aku tahu anakku tidak bisa dipercaya memegang harta,” katanya di depan hakim. “Dokumen pembatalan yang mereka bawa palsu. Aku tidak pernah menandatanganinya.”
Mas Emir menatap ibunya seolah dikhianati.
“Ibu membela dia?”
“Aku membela orang yang benar.”
“Ibu tahu Sephia membakar barang Anggun?”
“Aku juga tahu kamu membakar rumah tanggamu sendiri.”
Ruang sidang mendadak sunyi.
Ibu mertua kemudian mengungkap bahwa dialah yang melempar gelas saat Mas Emir hendak mengucapkan ijab kabul dengan Anggun. Ia datang ke studio setelah mendapat informasi dari salah satu kru.
“Aku tidak bermaksud melukainya parah,” katanya. “Aku hanya ingin menghentikan anakku melakukan kebodohan yang lebih besar.”
Untuk pertama kalinya, aku melihat Mas Emir kehilangan seluruh kesombongannya. Ia duduk lemas, sementara ibunya menolak menatapnya lagi.
Gugatan ceraiku dikabulkan. Hak asuh Raka dan Rania jatuh kepadaku. Rumah tetap menjadi milikku. Mas Emir diwajibkan mengembalikan dana yang digelapkannya, sementara perkara pidananya berlanjut.
Beberapa bulan kemudian, aku merenovasi rumah itu. Sofa merah dibuang. Dinding yang dipenuhi foto sinetron dicat ulang dengan warna hangat. Di ruang tamu, kupasang satu foto besar.
Bukan foto pernikahanku.
Foto itu menampilkan aku, Raka, Rania, dan ibu mertua yang duduk di tengah kami.
Anggun pindah dari Jakarta dan memilih membesarkan anaknya di kota kecil bersama keluarganya. Sebelum pergi, ia mengirimkan pesan singkat.
“Aku pernah merebut sesuatu yang kukira akan membuatku bahagia. Ternyata aku hanya merebut pintu menuju kehancuran.”
Aku tidak membalasnya.
Pada suatu sore, ketika hujan turun lembut, Mas Emir menelepon dari nomor yang tidak kukenal.
“Sephia, maafkan aku.”
Aku diam.
“Aku kehilangan semuanya.”
“Tidak,” jawabku. “Kamu tidak kehilangan semuanya. Kamu menukarnya. Kamu menukar keluarga dengan kebohongan, kehormatan dengan kesenangan sesaat, dan masa depan dengan kesombongan.”
“Bolehkah aku bicara dengan anak-anak?”
Aku memandang Raka dan Rania yang sedang belajar di meja makan.
“Nanti, ketika mereka siap.”
“Apakah kamu masih membenciku?”
Aku menatap foto lama pernikahan kami yang belum sempat kubuang. Kaca bingkainya masih retak.
“Aku sudah tidak membencimu. Kebencian membuat seseorang tetap terikat. Aku memilih bebas.”
Aku menutup telepon, lalu membawa foto itu ke halaman belakang. Bukan untuk dibakar, tetapi untuk dimasukkan ke dalam kotak penyimpanan.
Karena masa lalu tidak selalu harus dimusnahkan. Kadang-kadang, ia cukup disimpan jauh agar tidak lagi menguasai hidup kita.
Di luar, hujan semakin deras. Raka memanggilku untuk melihat tugas sekolahnya. Rania tertawa karena jawaban kakaknya salah.
Aku berjalan menghampiri mereka.
Rumah itu masih sama, tetapi tidak lagi terasa seperti tempat penuh pengkhianatan.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, rumah itu benar-benar menjadi rumah.
