Maria masih memegangi bahu Eyang dengan napas tersengal. Tangannya gemetar, tetapi mulutnya tetap melafalkan huruf demi huruf dari buku Iqro yang terbuka di pangkuannya.
“A… Ba… Ta… Tsa…”
Beberapa detik kemudian, suara teriakan Eyang perlahan mereda. Wanita tua itu terbatuk, lalu mengusap dadanya sendiri sambil memicingkan mata ke arah Maria.
“Kamu… ngapain, Nak?”
Maria membeku.
“Eh… Eyang sadar?”
“Iya. Memangnya kenapa kamu teriak-teriak sambil baca alfabet Arab?”
Belum sempat Maria menjawab, Nisa berlari masuk ke halaman bersama ibunya. Wajah mereka tampak panik.
“Eyang!”
Nisa langsung memeluk neneknya, sementara ibunya buru-buru memeriksa keadaan wanita tua itu.
“Alhamdulillah… sudah tenang.”

Maria masih memegang buku Iqro seperti memegang senjata.
“Aku… aku tadi udah berusaha.”
Nisa memandangnya beberapa saat, lalu tiba-tiba tertawa sampai memegangi perut.
“Lo beneran ngeruqyah Eyang pake Iqro?”
Maria mengangguk polos.
“Kan yang gue bisa cuma itu.”
Ibunya Nisa ikut tersenyum geli.
“Tidak apa-apa. Yang penting niatmu baik.”
Eyang justru menatap Maria cukup lama sebelum tersenyum hangat.
“Kamu anak yang tulus.”
Kalimat sederhana itu membuat Maria mendadak terdiam.
Sejak kecil, ia lebih sering dipanggil keras kepala, ceroboh, atau terlalu banyak bercanda. Baru kali itu ada orang yang menyebut dirinya tulus.
Malam harinya, kejadian itu sudah menyebar ke seluruh lingkungan.
Versi ceritanya pun bermacam-macam.
Ada yang bilang Maria berhasil mengusir jin hanya dengan membaca Iqro.
Ada yang bilang jin itu kabur karena kebingungan.
Ada pula yang bercanda bahwa setannya menyerah karena kasihan melihat Maria yang masih belajar mengeja.
Bahkan Fattah ikut mendengar cerita itu dari beberapa pemuda masjid.
Saat bertemu Maria keesokan harinya, ia menahan senyum.
“Katanya kemarin ada peristiwa luar biasa?”
Maria langsung menutupi wajahnya dengan kedua tangan.
“Jangan dibahas, Mas.”
“Benarkah kamu membaca Iqro sambil mengusir setan?”
Maria mengangguk pelan.
“Soalnya saya belum hafal Ayat Kursi.”
Fattah tertawa kecil, tetapi bukan mengejek.
“Kalau seseorang belum tahu, lalu berusaha dengan kemampuan terbaiknya, Allah melihat usahanya. Tapi nanti pelan-pelan kita belajar, ya.”
Ucapan itu membuat wajah Maria memerah.
Bukan karena malu semata.
Melainkan karena cara Fattah memperlakukannya.
Tidak menghakimi.
Tidak merendahkan.
Tidak pula membuatnya merasa bodoh.
Hari-hari berikutnya berlalu lebih cepat.
Maria semakin rajin belajar.
Huruf-huruf hijaiyah yang dulu tampak seperti gambar abstrak, kini mulai bisa ia baca perlahan.
Setiap sore ia datang ke rumah Nisa.
Kadang belajar wudu.
Kadang belajar salat.
Kadang hanya mendengarkan kisah para nabi.
Yang membuatnya heran adalah dirinya sendiri.
Dulu ia sulit duduk diam lima menit.
Sekarang satu jam mendengarkan kajian terasa begitu singkat.
Suatu sore, setelah selesai belajar, Fattah menghampirinya di teras.
“Maria.”
“Iya, Mas?”
“Ada yang ingin saya tanyakan.”
Maria langsung salah tingkah.
“Apaan?”
“Kamu dulu bilang tertarik masuk Islam setelah sering mendengar kajian.”
“Iya.”
“Kalau suatu hari ternyata saya menikah dengan perempuan lain, apakah kamu akan tetap bertahan di jalan yang kamu pilih?”
Pertanyaan itu seperti menghantam dada Maria.
Ia tidak langsung menjawab.
Selama ini ia memang sering mengatakan bahwa keputusannya bukan semata karena Fattah.
Namun jauh di lubuk hati, ia tahu perasaan terhadap laki-laki itu ikut menguatkan langkahnya.
Maria menunduk cukup lama.
Lalu perlahan mengangkat kepala.
“Iya.”
“Yakin?”
“Kalau saya jawab enggak, berarti dari awal niat saya salah.”
Fattah mengangguk pelan.
“Alhamdulillah.”
“Itu ujian ya?”
“Bukan. Saya cuma ingin memastikan kamu mencintai Allah lebih dulu daripada manusia.”
Kalimat itu terus terngiang di kepala Maria bahkan setelah ia pulang.
Malam itu ia menangis cukup lama di kamar.
Bukan karena sedih.
Melainkan karena baru sadar bahwa selama ini ia masih menggantungkan banyak hal pada manusia.
Padahal hati seharusnya bergantung kepada Tuhan.
Beberapa minggu kemudian, ujian yang sebenarnya datang.
Ibunya mengetahui bahwa Maria telah menjadi mualaf.
Telepon yang awalnya biasa berubah menjadi pertengkaran panjang.
“Kamu sadar apa yang kamu lakukan?”
“Sadar, Ma.”
“Kamu mengkhianati keluarga!”
“Bukan begitu…”
“Pulang sekarang juga!”
Maria menggigit bibir.
“Aku tetap anak Mama.”
“Kalau begitu tinggalkan agama barumu!”
Maria menutup mata.
Air matanya mengalir tanpa suara.
“Ma… maaf. Aku nggak bisa.”
Hubungan mereka menjadi renggang.
Beberapa saudara bahkan memutuskan memutus komunikasi.
Hari-hari yang biasanya penuh candaan berubah menjadi sunyi.
Joseph menjadi satu-satunya teman lama yang masih sering datang menemuinya.
Suatu malam mereka kembali duduk di kedai mi ayam yang sama.
Joseph menyeruput es teh sebelum berkata pelan.
“Berat?”
Maria mengangguk.
“Banget.”
“Nyyesel?”
Maria menggeleng.
“Capek iya. Nyesel enggak.”
Joseph tersenyum tipis.
“Berarti keputusan lo udah bener.”
Maria menatap sahabatnya.
“Lo kok bisa setenang ini?”
Joseph mengangkat bahu.
“Karena dari dulu yang gue jagain itu persahabatan kita. Bukan kesamaan agama.”
Maria menahan haru.
“Makasih.”
“Jangan lebay.”
“Peluk dong.”
“Ogah.”
“Tangan doang deh.”
“Males.”
Maria akhirnya mencubit lengan Joseph.
“Aduh!”
“Biar afdol.”
Tawa mereka kembali memenuhi kedai kecil itu.
Beberapa bulan berlalu.
Maria semakin lancar membaca Al-Qur’an.
Suatu hari Om Wisnu mengadakan acara kecil di rumahnya.
Beberapa tetangga berkumpul.
Maria diminta membaca surah pendek di depan semua orang.
Tangannya dingin.
Jantungnya berdebar.
Ia masih ingat bagaimana dulu dirinya bahkan tidak bisa membedakan huruf Ba dan Ta.
Sekarang…
Dengan suara yang masih sedikit bergetar, ia mulai membaca.
Semua orang mendengarkan dengan khusyuk.
Saat selesai, terdengar ucapan “Masya Allah” dari berbagai arah.
Maria hampir menangis.
Fattah menghampirinya setelah acara selesai.
“Kamu berkembang jauh.”
“Masih banyak salah.”
“Yang penting terus belajar.”
Maria tersenyum.
“Mas.”
“Iya?”
“Aku akhirnya hafal Ayat Kursi.”
Fattah ikut tersenyum.
“Alhamdulillah.”
“Tapi semoga nggak ada lagi yang kesurupan.”
Mereka berdua tertawa.
Beberapa bulan kemudian, sebuah kabar mengejutkan datang.
Fattah akan melanjutkan studi ke Timur Tengah selama beberapa tahun.
Seluruh jamaah ikut bahagia.
Namun Maria hanya bisa tersenyum sambil menahan sesuatu di dadanya.
Sebelum berangkat, Fattah menemuinya di halaman masjid.
“Ada yang ingin saya titip.”
“Apa?”
“Jangan berhenti belajar.”
Maria mengangguk.
“Insya Allah.”
“Dan jangan menunggu saya.”
Kalimat itu membuat napas Maria tercekat.
“Maksudnya?”
“Kita tidak pernah tahu takdir.”
Maria memaksakan senyum.
“Iya.”
Fattah pergi.
Tanpa janji.
Tanpa kepastian.
Tanpa kata-kata manis.
Untuk pertama kalinya Maria benar-benar mengerti arti ikhlas.
Ia tidak lagi datang ke masjid demi melihat seseorang.
Ia datang karena rindu kepada Tuhannya.
Waktu berjalan begitu cepat.
Dua tahun kemudian.
Maria kini menjadi relawan yang membantu membimbing para mualaf baru.
Setiap kali melihat seseorang terbata-bata membaca Iqro, ia selalu tersenyum.
“A… Ba… Ta…”
Suara seorang perempuan muda terdengar sangat gugup.
Maria duduk di sampingnya.
“Pelan-pelan aja.”
“Aku takut salah.”
“Dulu aku juga.”
“Serius?”
Maria tertawa kecil.
“Bahkan aku pernah panik karena dikira harus mengusir setan.”
Perempuan itu tertawa penasaran.
“Terus?”
Maria menggaruk kepala.
“Aku malah ngeruqyah orang pakai Iqro.”
Ruangan langsung dipenuhi tawa.
Namun setelah tawa itu reda, Maria berkata pelan.
“Yang Allah lihat bukan seberapa cepat kita bisa. Tapi seberapa tulus kita mau belajar.”
Beberapa orang mengangguk sambil menahan haru.
Sore itu, ketika matahari mulai tenggelam, sebuah mobil berhenti di depan masjid.
Seorang pria turun membawa koper besar.
Janggutnya sedikit lebih rapi.
Wajahnya lebih dewasa.
Maria yang sedang menyapu halaman mendongak.
Mereka saling berpandangan cukup lama.
“Assalamu’alaikum,” sapa pria itu.
“Wa’alaikumussalam.”
“Masih ingat saya?”
Maria tersenyum lebar.
“Mana mungkin lupa sama orang yang pernah bikin saya minum air kobokan dua kali.”
Fattah tertawa.
“Dan sekarang?”
Maria mengangkat mushaf Al-Qur’an yang sedang dipegangnya.
“Sekarang saya sudah bukan Maria yang dulu.”
Fattah memandangnya dengan bangga.
“Saya tahu.”
Di kejauhan, suara anak-anak yang sedang belajar mengeja huruf hijaiyah terdengar memenuhi serambi masjid.
“A… Ba… Ta…”
Maria memejamkan mata sejenak.
Ia tersenyum.
Perjalanannya ternyata memang berawal dari cinta.
Namun bukan cinta kepada manusia yang akhirnya mengubah hidupnya.
Melainkan cinta kepada kebenaran yang perlahan tumbuh, satu huruf demi satu huruf, hingga akhirnya memenuhi seluruh ruang di dalam hatinya.
