Tama membalikkan badan dan terkejut mendapati Linda sudah berdiri di ambang pintu. Wajah ibunya tampak jauh lebih serius dari sebelumnya, matanya menyipit penuh kecurigaan.

Malam itu, Tama tidak tidur sedikit pun.

Ia hanya duduk di tepi ranjang sambil menggenggam ponsel Nara yang telah mati. Sesekali ia menekan tombol daya, seolah berharap layar itu menyala dan menampilkan pesan yang bisa menunjukkan ke mana istrinya pergi. Namun, ponsel itu tetap gelap, sama seperti kamar yang kini terasa asing tanpa kehadiran Nara.

Menjelang subuh, Tama akhirnya bangkit. Ia mengambil pengisi daya dari laci dan menyambungkannya ke ponsel tersebut. Beberapa menit kemudian, layar menyala. Tidak ada kata sandi. Nara tidak pernah menyembunyikan apa pun darinya.

Berbeda dengan Tama.

Tangannya gemetar ketika membuka aplikasi pesan. Percakapan terakhir Nara bukan dengan keluarganya, melainkan dengan seseorang bernama Dokter Rendra.

Tama mengernyit.

Pesan terakhir dikirim tiga hari lalu.

Dok, saya sudah memutuskan. Saya akan menjalani pemeriksaan lanjutan sendiri. Tolong jangan menghubungi suami saya. Dia tidak perlu tahu.

Jantung Tama seperti berhenti berdetak.

Ia menggulir percakapan itu ke atas. Semakin banyak pesan yang dibacanya, semakin pucat wajahnya.

Hasil pemeriksaan awal menunjukkan adanya kelainan yang perlu ditindaklanjuti. Kita belum bisa menyimpulkan sebelum biopsi. Saya sarankan Ibu datang secepatnya.

Tama menutup mulutnya dengan telapak tangan.

Selama ini, Nara ternyata sedang sakit.

Dan ia tidak tahu apa-apa.

Tiba-tiba ingatannya kembali pada beberapa bulan terakhir. Nara sering terlihat lelah, beberapa kali memegangi perutnya, dan pernah meminta ditemani ke rumah sakit. Namun, Tama selalu menolak dengan alasan pekerjaan.

“Kamu bisa pergi sendiri, kan? Aku ada rapat,” katanya saat itu.

Padahal hari itu ia tidak sedang rapat.

Ia sedang mengantar Amara mencari apartemen baru.

Dada Tama terasa dihantam benda berat. Ia berdiri terlalu cepat hingga botol parfum Nara terjatuh dari tangannya. Botol itu pecah di lantai, menyebarkan aroma yang selama ini memenuhi rumah mereka.

Aroma itu kini terasa seperti hukuman.

Tanpa berpikir panjang, Tama menelepon nomor Dokter Rendra dari ponselnya sendiri. Sambungan baru terangkat setelah tiga kali dering.

“Selamat pagi, dengan siapa?”

“Saya Tama. Suaminya Nara.”

Di seberang sana terdengar keheningan beberapa detik.

“Dokter tahu di mana istri saya?” tanya Tama cepat. “Saya menemukan pesan kalian. Tolong katakan dia ada di mana.”

“Maaf, Pak Tama. Saya terikat kerahasiaan pasien.”

“Saya suaminya!”

“Dan pasien saya secara khusus meminta agar informasi medisnya tidak disampaikan kepada Anda.”

Tama mencengkeram ponselnya erat-erat. “Saya cuma mau tahu dia baik-baik saja atau tidak.”

Dokter Rendra menghela napas.

“Saya hanya bisa mengatakan bahwa Ibu Nara belum datang untuk pemeriksaan lanjutan. Kami juga belum berhasil menghubunginya.”

Kalimat itu membuat lutut Tama melemas.

“Belum datang?”

“Tidak. Janji pemeriksaannya seharusnya kemarin pagi.”

Setelah sambungan terputus, Tama berdiri mematung. Ketakutannya berubah menjadi kepanikan nyata. Nara tidak datang ke rumah sakit, tidak membawa ponsel, dan tidak menghubungi siapa pun.

Untuk pertama kalinya, Tama sadar bahwa kepergian Nara bukan sekadar ancaman perceraian.

Nara benar-benar menghilang.

Pukul tujuh pagi, bel rumah berbunyi keras. Tama membuka pintu dan mendapati Linda berdiri bersama seorang pria paruh baya yang langsung dikenalnya.

Pak Hendra, ayah Nara.

Wajah Pak Hendra tampak tegang. Linda berdiri di sampingnya dengan sorot mata tajam.

“Sekarang jelaskan semuanya,” ucap Linda.

Tama menelan ludah. “Apa maksud Mama?”

Linda mengangkat sebuah tas tangan berwarna cokelat.

“Tas ini ditemukan petugas keamanan di terminal bus dua hari lalu. Di dalamnya ada dompet Nara, kartu identitas, dan tiket menuju Bandung. Petugas menghubungi Pak Hendra karena nomor beliau tercantum sebagai kontak darurat.”

Tama memandang tas itu dengan wajah kosong.

“Kenapa ponsel Nara ada di rumah ini?” tanya Pak Hendra. Suaranya rendah, tetapi penuh tekanan.

Tama tidak mampu menjawab.

Linda melangkah mendekat. “Kamu bilang ponselnya dicopet.”

“Ma, aku bisa jelasin.”

“Jelaskan sekarang!”

Bentakan Linda membuat Tama tersentak.

Ia menunduk. Semua kebohongan yang dibangunnya runtuh dalam satu pagi.

“Nara pergi setelah minta cerai,” katanya lirih.

Pak Hendra memejamkan mata sejenak, seolah sudah menduga sesuatu yang buruk.

“Kenapa dia minta cerai?” tanyanya.

Tama tidak menjawab.

Linda memperhatikan wajah putranya. “Ini ada hubungannya dengan Amara?”

Nama itu membuat Pak Hendra menoleh tajam.

Tama mengusap wajahnya kasar. “Aku memang dekat lagi sama Amara. Tapi aku nggak bermaksud menceraikan Nara. Aku cuma…”

“Kamu cuma apa?” potong Linda. “Kamu cuma menghancurkan perempuan yang sudah tiga tahun mempertahankan rumah tangganya sendirian?”

“Aku salah, Ma.”

“Bukan cuma salah.” Mata Linda berkaca-kaca. “Kamu kejam.”

Tama mengangkat kepala. Wajahnya hancur oleh rasa bersalah.

“Nara juga sedang sakit.”

Pak Hendra langsung berdiri. “Sakit apa?”

“Aku belum tahu. Ada kelainan dari hasil pemeriksaan awal. Dia seharusnya melakukan biopsi kemarin, tapi tidak datang.”

Wajah Pak Hendra seketika pucat.

Linda menutup mulutnya, menahan tangis.

Dalam waktu kurang dari satu jam, mereka menghubungi rumah sakit, kepolisian, pengelola terminal, dan semua orang yang mungkin tahu keberadaan Nara. Dari rekaman kamera pengawas terminal, terlihat Nara sempat naik ke dalam bus tujuan Bandung.

Namun, satu jam kemudian, ia turun di sebuah perhentian sebelum bus memasuki jalan tol.

Ia membawa satu koper kecil dan mengenakan mantel abu-abu.

Setelah itu, jejaknya hilang.

Tama berkali-kali memutar rekaman tersebut. Ada sesuatu dalam cara Nara berjalan yang membuat dadanya sesak. Langkah istrinya lambat, tubuhnya sedikit membungkuk, tetapi ia tidak menoleh sedikit pun.

Seolah tidak ada lagi yang ingin ia tinggalkan.

Sore harinya, Amara datang ke rumah setelah Tama meneleponnya berkali-kali.

Begitu masuk, ia langsung melihat Linda dan Pak Hendra di ruang tamu. Wajahnya berubah canggung.

“Ada apa ini?”

Linda berdiri. “Kamu tahu di mana Nara?”

Amara menggeleng cepat. “Saya nggak tahu.”

“Kemarin kamu datang ke sini. Untuk apa?”

Amara melirik Tama. “Kami cuma bicara.”

“Bicara tentang apa?”

Tama menyela. “Ma, jangan libatkan Amara.”

Linda menatap putranya dengan jijik. “Sampai sekarang kamu masih melindungi dia?”

“Aku nggak melindungi siapa pun.”

Amara tiba-tiba membuka tasnya dan mengeluarkan sebuah amplop putih.

“Nara menitipkan ini kepada saya.”

Semua orang membeku.

Tama merebut amplop itu. “Kapan?”

“Tiga hari lalu. Sebelum dia pergi.”

“Kenapa baru kamu kasih sekarang?”

Amara terdiam.

“Jawab!” bentak Tama.

Amara menatapnya dengan mata mulai berkaca-kaca. “Karena aku pikir kalau Nara benar-benar pergi, kamu akhirnya akan memilih aku.”

Keheningan langsung menyelimuti ruangan.

Tama memandang Amara seolah baru melihat wajahnya untuk pertama kali.

“Kamu tahu dia pergi?”

“Aku cuma tahu dia mau meninggalkan rumah ini. Aku nggak tahu dia pergi ke mana.”

Linda mengambil amplop itu dari tangan Tama, lalu membukanya. Di dalamnya terdapat surat gugatan cerai yang sudah ditandatangani Nara serta sepucuk surat pendek.

Mas Tama,

Saat kamu membaca surat ini, mungkin aku sudah jauh. Aku tidak pergi untuk membuatmu merasa bersalah. Aku pergi karena akhirnya aku mengerti bahwa mencintai seseorang tidak berarti harus kehilangan diri sendiri.

Aku sudah mencoba menjadi istri yang kamu inginkan. Aku belajar memasak makanan kesukaanmu, menunggu hingga larut, tersenyum kepada keluargamu, dan memaafkan setiap kali kamu pulang membawa aroma parfum perempuan lain.

Aku tahu tentang Amara sejak lama.

Aku hanya terus berpura-pura tidak tahu karena aku masih berharap suatu hari kamu akan melihatku.

Tapi harapan juga bisa menjadi luka bila dipelihara terlalu lama.

Jangan mencariku untuk meminta maaf. Carilah aku hanya jika kamu sudah siap menerima bahwa aku mungkin tidak akan kembali.

Linda tidak sanggup melanjutkan membaca. Surat itu berpindah ke tangan Pak Hendra.

Tama menatap Amara. “Kamu membaca surat ini?”

Amara menggeleng.

“Kenapa kamu menyimpannya?”

“Aku takut.”

“Takut kehilangan aku?”

Amara mengusap air matanya. “Iya.”

Tama tertawa pendek, tetapi suara itu terdengar pahit.

“Karena ketakutanmu, Nara bisa saja sedang sendirian dalam keadaan sakit.”

Amara mendekat. “Tama, aku nggak bermaksud…”

“Pergi.”

“Tama…”

“Pergi dari rumah ini dan jangan pernah temui aku lagi.”

Amara menatapnya beberapa saat, lalu berbalik meninggalkan rumah. Namun, sebelum mencapai pintu, Pak Hendra memanggilnya.

“Amara.”

Perempuan itu menoleh.

“Kamu mungkin merasa memenangkan hati Tama selama ini. Tapi yang sebenarnya kamu dapatkan hanyalah seorang laki-laki yang belum tahu cara menghargai kesetiaan.”

Amara menunduk dan pergi tanpa menjawab.

Malam itu, pencarian terus dilakukan. Tama mendatangi setiap penginapan dan rumah sakit di sekitar lokasi terakhir Nara terlihat. Ia menunjukkan foto istrinya kepada petugas, pedagang, pengemudi ojek, dan siapa pun yang bersedia melihat.

Tidak ada hasil.

Hari berganti.

Dua hari kemudian, seorang pengemudi ojek menghubungi Pak Hendra. Ia mengaku pernah mengantar seorang perempuan mirip Nara dari perhentian bus ke sebuah rumah singgah milik yayasan di daerah Bogor.

Tama, Linda, dan Pak Hendra langsung berangkat.

Rumah singgah itu berada di jalan kecil yang dikelilingi pepohonan. Seorang pengelola bernama Bu Sari menyambut mereka di teras.

Ketika Tama menunjukkan foto Nara, Bu Sari langsung mengenalinya.

“Dia datang tiga hari lalu,” ujar Bu Sari. “Tapi kemarin pagi dia pingsan. Sekarang dirawat di rumah sakit.”

Dunia Tama kembali terasa runtuh.

Mereka tiba di rumah sakit saat langit mulai gelap. Dari balik kaca ruang perawatan, Tama melihat Nara terbaring dengan wajah pucat. Selang infus terpasang di tangannya.

Pak Hendra lebih dulu masuk. Linda mengikutinya.

Namun, ketika Tama hendak melangkah, seorang dokter menahannya.

“Pasien meminta Anda tidak masuk.”

Tama menatap ke dalam ruangan. Nara sudah membuka mata. Pandangan mereka bertemu dari balik kaca.

Tama mengangkat tangan, memohon.

Nara hanya memandangnya sebentar, lalu memalingkan wajah.

Penolakan itu lebih menyakitkan daripada bentakan apa pun.

Beberapa jam kemudian, Pak Hendra keluar.

“Hasil pemeriksaan menunjukkan tumornya jinak,” katanya.

Tama menutup mata, hampir roboh karena lega.

“Tapi dia tetap harus menjalani operasi.”

“Aku mau mendampinginya.”

Pak Hendra menatapnya lama. “Nara tidak mau.”

“Pak, saya suaminya.”

“Di atas kertas, iya. Tapi selama tiga tahun terakhir, apakah kamu benar-benar menjadi suaminya?”

Tama tidak mampu menjawab.

Ia duduk di lorong rumah sakit hingga pagi. Saat matahari mulai muncul, Nara akhirnya meminta perawat memanggilnya.

Tama masuk dengan langkah ragu.

Nara terlihat jauh lebih kurus dibanding beberapa hari lalu. Namun, tatapan matanya tenang.

“Ra…”

“Duduklah, Mas.”

Tama duduk di kursi dekat ranjang.

“Aku sudah membaca suratmu.”

Nara mengangguk.

“Aku nggak akan membela diri. Aku salah. Aku menyakitimu, mengabaikanmu, dan membuatmu merasa tidak berharga.”

Air mata Tama mulai jatuh.

“Aku tahu permintaan maaf nggak cukup. Tapi aku akan berubah. Aku akan menunggu selama apa pun sampai kamu mau pulang.”

Nara menatapnya dengan mata berkaca-kaca.

“Mas, aku tidak pergi supaya kamu mengejarku.”

“Aku tahu.”

“Aku juga tidak ingin kamu berubah hanya karena takut kehilangan aku.”

“Aku benar-benar mencintaimu, Ra.”

Nara tersenyum tipis. Senyum yang membuat dada Tama semakin nyeri.

“Mungkin kamu mencintaiku sekarang. Tapi selama bertahun-tahun, kamu hanya mencintai keberadaanku saat aku sudah tidak ada.”

Tama menunduk.

Nara mengambil map dari meja samping ranjang dan menyerahkannya.

Itu adalah berkas perceraian.

“Aku akan tetap melanjutkan ini.”

Tama memandangnya dengan wajah hancur. “Nggak ada kesempatan sama sekali?”

“Ada.”

Mata Tama langsung terangkat.

“Kesempatan untuk menjadi manusia yang lebih baik. Bukan untuk mendapatkanku kembali, tapi untuk dirimu sendiri.”

Tama menangis tanpa suara.

Nara mengalihkan pandangannya ke jendela.

“Aku akan menjalani operasi minggu depan. Setelah pulih, aku akan pindah ke Yogyakarta. Bu Sari menawarkan pekerjaan di yayasannya. Aku ingin mulai hidup baru.”

“Sendirian?”

Nara menoleh kepadanya.

“Tidak. Aku akan hidup bersama diriku sendiri. Selama ini, aku terlalu sibuk mencintaimu sampai lupa menemani diriku.”

Beberapa bulan kemudian, perceraian mereka resmi diputuskan.

Tama menjual rumah yang pernah ia tempati bersama Nara. Bukan karena ingin melupakan, melainkan karena ia tidak sanggup terus hidup di tempat yang dipenuhi kenangan tentang kesalahannya.

Ia berhenti berhubungan dengan Amara dan mulai menjalani konseling. Untuk pertama kalinya, Tama belajar bahwa penyesalan bukanlah bukti cinta jika tidak disertai perubahan.

Setahun setelah perpisahan mereka, Tama datang ke Yogyakarta untuk menghadiri peresmian pusat pendampingan perempuan yang dibangun oleh yayasan tempat Nara bekerja.

Ia berdiri di antara para tamu, memandang Nara berbicara di atas panggung.

Nara tampak sehat. Rambutnya lebih pendek, senyumnya lebih lepas, dan matanya tidak lagi menyimpan kesedihan yang selama ini gagal dilihat Tama.

Di akhir acara, Nara menghampirinya.

“Terima kasih sudah datang.”

Tama tersenyum. “Kamu terlihat bahagia.”

“Aku memang bahagia.”

Untuk sesaat, Tama ingin mengatakan bahwa ia masih mencintainya. Namun, ia menahan diri.

“Aku bangga sama kamu, Ra.”

Nara mengangguk.

Sebelum berpisah, Nara menyerahkan sebuah amplop kecil.

Tama membukanya setelah Nara pergi. Di dalamnya ada foto pernikahan mereka yang dulu tidak pernah dipajang di rumah.

Di belakang foto itu, terdapat tulisan tangan Nara.

Aku tidak menyesali pernah mencintaimu. Tapi aku lebih bersyukur karena akhirnya belajar mencintai diriku sendiri.

Tama memandangi foto itu lama. Lalu untuk pertama kalinya, ia tersenyum tanpa berharap Nara kembali.

Ia akhirnya mengerti.

Tidak semua cinta yang tulus harus berakhir dengan memiliki.

Kadang, bentuk cinta paling dewasa adalah menerima bahwa seseorang bisa tumbuh lebih bahagia setelah meninggalkan kita.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang