Shaci mengangguk, aku peluk dan aku gendong putriku ke kamarnya, sudah waktunya tidur, aku mengelus rambut ikalnya dengan bibir bergetar aku bacakan buku dongeng kesukaanya.

Pintu rumah baru saja terbuka ketika Bintang melangkah masuk tanpa permisi. Wajahnya masih dipenuhi kesombongan yang sama seperti semalam, seolah semua yang telah terjadi hanyalah pertengkaran biasa yang akan selesai begitu saja. Di belakangnya berdiri Bulan dengan gaun longgar yang menutupi perutnya, sementara ibu mereka berjalan paling depan dengan dagu terangkat tinggi.

Namun kali ini keadaan berbeda.

Tatapan Bintang langsung berhenti pada sosok Aruna yang berdiri tenang di tengah ruang tamu. Wanita itu menyilangkan tangan di depan dada, memancarkan wibawa yang membuat suasana seketika berubah dingin. Pak Raditya berdiri di sampingnya sambil membawa map hitam tebal.

“Akhirnya datang juga,” ujar Aruna datar.

Bintang mengernyit. “Siapa kamu ikut campur urusan rumah tangga kami?”

“Aku kakak Mentari.”

“Oh.” Bintang tersenyum sinis. “Kalau begitu lebih bagus. Tolong nasihati adikmu supaya berhenti keras kepala.”

Aruna justru tertawa pelan.

“Keras kepala?” katanya. “Yang selingkuh siapa? Yang menghamili perempuan lain siapa? Yang datang ke rumah istri sambil membawa selingkuhan dan ibunya siapa?”

Wajah Bintang mulai memerah.

“Jangan ikut menghakimi sebelum tahu semuanya.”

“Aku sudah tahu lebih dari cukup.”

Ibu mertua melangkah maju. “Kami datang baik-baik. Mentari harus menerima kenyataan. Bulan mengandung cucu kami.”

Pak Raditya membuka mapnya.

“Maaf, Bu,” katanya sopan. “Sebelum membahas hal lain, izinkan saya menjelaskan status hukum rumah ini.”

Bintang mencibir.

“Aku juga tinggal di sini bertahun-tahun.”

“Itu benar,” jawab Pak Raditya tenang. “Tetapi kepemilikan rumah sepenuhnya atas nama Ibu Mentari sebagai harta warisan. Tidak pernah berubah menjadi harta bersama karena tidak ada proses pengalihan hak.”

Ucapan itu membuat senyum Bintang perlahan menghilang.

“Itu… tidak mungkin.”

Pak Raditya mengeluarkan salinan sertifikat.

“Silakan diperiksa.”

Bintang merebut dokumen itu. Tangannya gemetar ketika membaca nama pemilik yang tercetak jelas.

Mentari Ardiansyah.

Bukan dirinya.

Bukan mereka berdua.

Hanya Mentari.

“Kamu pasti memalsukan ini!” bentaknya.

Aruna menggeleng.

“Dokumen negara tidak bisa dipalsukan semudah itu.”

Bulan mulai terlihat gelisah.

“Tapi… Bintang bilang rumah ini milik bersama…”

Aruna menoleh tajam.

“Berarti dia juga berbohong kepadamu.”

Bulan memandang Bintang dengan tatapan bingung.

“Kamu bilang setelah menikah denganku nanti kita akan tinggal di sini.”

Bintang tidak menjawab.

Suasana semakin tegang ketika suara langkah kaki kecil terdengar dari tangga.

“Mama…”

Shaci berdiri sambil memeluk boneka kelincinya. Matanya masih sembab karena baru bangun tidur.

“Ayah datang lagi?”

Mentari segera menghampiri putrinya.

“Iya, Sayang.”

Shaci menatap Bulan cukup lama.

“Tante yang kemarin bikin Mama nangis?”

Ruangan mendadak sunyi.

Bintang mencoba tersenyum.

“Shaci, sini sama Ayah.”

Anak kecil itu justru memeluk kaki Mentari.

“Aku nggak mau.”

Jawaban polos itu terasa lebih menyakitkan daripada tamparan.

Bintang mengepalkan tangan.

“Mentari! Kamu menghasut anakku!”

Mentari menggeleng pelan.

“Aku tidak pernah mengajarinya membenci ayahnya.”

Aruna maju satu langkah.

“Anak sekecil itu tidak bisa berpura-pura. Dia hanya bereaksi terhadap apa yang dia lihat.”

Shaci menatap ayahnya dengan mata berkaca-kaca.

“Ayah… kenapa Ayah bawa tante lain? Mama sering nangis.”

Kalimat sederhana itu membuat Bulan menundukkan kepala.

Untuk pertama kalinya sejak datang, ia tampak benar-benar kehilangan keberanian.

“Aku…” bibirnya bergetar.

Bintang buru-buru memotong.

“Sudah! Anak kecil tidak mengerti apa-apa.”

“Tidak,” suara Bulan lirih. “Justru dia yang paling jujur.”

Semua orang menoleh.

Bulan menarik napas panjang.

“Aku mau bicara.”

Bintang memegang lengannya.

“Jangan macam-macam.”

Namun Bulan melepaskan tangan itu.

“Aku capek bohong.”

Ia memandang Mentari dengan mata berkaca-kaca.

“Maaf.”

Mentari tetap diam.

“Aku memang salah. Tapi ada satu hal yang harus kamu tahu.”

Bintang mulai panik.

“Bulan, cukup.”

“Aku nggak bisa terus diam.”

Ia mengusap air mata.

“Waktu pertama kenal, Bintang bilang dia duda.”

Mentari membeku.

“Apa?”

“Iya. Dia bilang sudah pisah rumah selama bertahun-tahun. Katanya kalian cuma tinggal menunggu surat cerai.”

Tatapan Mentari perlahan beralih kepada Bintang.

Tatapan yang dingin.

Yang benar-benar dingin.

“Jadi…”

Bulan mengangguk sambil menangis.

“Aku baru tahu dia masih tinggal serumah denganmu ketika tanpa sengaja melihat foto keluarga kalian di media sosial.”

“Kenapa kamu tetap bertahan?” tanya Aruna.

Bulan memejamkan mata.

“Karena saat itu aku sudah hamil.”

Ruangan kembali sunyi.

Mentari tidak merasakan kemenangan.

Yang ia rasakan hanyalah betapa banyak kebohongan yang telah dibangun laki-laki yang dulu ia cintai.

Bintang berteriak marah.

“Kalian semua memojokkanku!”

Pak Raditya kembali membuka map.

“Masih ada satu hal.”

Ia mengeluarkan beberapa lembar hasil cetak transaksi rekening.

“Wah…”

Aruna tersenyum tipis.

“Wajahmu berubah.”

Mentari mengernyit.

“Dokumen apa itu?”

Pak Raditya menyerahkannya.

“Enam bulan terakhir, ada puluhan transfer dari rekening keluarga ke rekening pribadi Saudara Bintang.”

Mentari membaca satu per satu.

Nominalnya tidak kecil.

Ada yang lima puluh juta.

Seratus juta.

Bahkan dua ratus juta rupiah.

“Aku… tidak pernah menyetujui ini.”

Pak Raditya mengangguk.

“Karena persetujuan itu dipalsukan.”

Bintang memucat.

“Tidak…”

“Seluruh rekaman CCTV bank dan tanda tangan sudah kami minta untuk proses penyelidikan.”

Mentari merasa lututnya hampir lemas.

Selama ini ia percaya penuh kepada suaminya. Bahkan kartu akses rekening perusahaan keluarga pun pernah ia titipkan karena merasa mereka adalah pasangan yang saling menjaga.

Ternyata kepercayaan itu justru digunakan untuk mengkhianatinya.

Ibu mertua mulai panik.

“Bintang… kamu bilang uang itu buat investasi.”

Bintang tidak sanggup menjawab.

Aruna menatap mereka bergantian.

“Sekarang semuanya mulai terbuka.”

Suara mobil polisi tiba-tiba terdengar dari luar.

Bintang terkejut.

“Kalian lapor polisi?”

Pak Raditya mengangguk.

“Bukan karena perselingkuhan.”

“Lalu?”

“Karena dugaan pemalsuan dokumen dan penyalahgunaan dana.”

Dua orang penyidik masuk dengan sopan.

Mereka meminta Bintang ikut memberikan keterangan.

Bintang berusaha melawan.

“Aku suaminya!”

“Sementara.”

Satu kata dari Mentari membuat semua orang terdiam.

Untuk pertama kalinya sejak kejadian itu, ia berdiri tanpa gemetar.

“Aku memang pernah mencintaimu sepenuh hati.”

Matanya mulai basah.

“Aku rela berhenti bekerja supaya bisa menemanimu membangun keluarga. Aku percaya ketika kamu bilang kita akan menua bersama.”

Ia menarik napas panjang.

“Tapi hari ini aku sadar. Yang kucintai hanyalah bayangan tentang dirimu. Bukan dirimu yang sebenarnya.”

Bintang mencoba mendekat.

“Tari, dengarkan aku…”

Mentari mundur.

“Jangan panggil aku seperti dulu.”

Shaci menggenggam tangan ibunya.

Mentari menatap putrinya lalu tersenyum lembut.

“Inilah alasan aku masih berdiri.”

Bintang akhirnya dibawa keluar rumah untuk dimintai keterangan.

Ibu mertuanya terduduk lemas di sofa.

Sementara Bulan menangis tanpa suara.

Sebelum pergi, ia menghampiri Mentari.

“Aku tidak meminta maaf supaya dimaafkan.”

Mentari menatapnya.

“Aku hanya ingin kamu tahu… aku benar-benar tidak tahu siapa dia sebenarnya.”

Mentari mengangguk pelan.

“Aku percaya.”

Bulan menangis semakin keras.

“Aku akan membesarkan anak ini sendiri. Aku tidak ingin dia tumbuh dengan kebohongan.”

Mentari mengusap pundaknya sebentar.

“Semoga kamu menjadi ibu yang lebih kuat daripada aku dulu.”

Beberapa bulan kemudian, proses perceraian berjalan tanpa banyak drama. Pengadilan memberikan hak asuh Shaci kepada Mentari. Rumah tetap menjadi miliknya. Seluruh penyelidikan mengenai penyalahgunaan dana juga terus berjalan.

Mentari kembali bekerja membantu mengelola perusahaan keluarga bersama Aruna.

Perlahan ia menemukan kembali dirinya yang pernah hilang.

Suatu sore, ketika ia menjemput Shaci di sekolah, putrinya berlari sambil membawa gambar hasil mewarnai.

“Lihat, Mama.”

Di atas kertas itu tergambar seorang ibu dan anak yang sedang bergandengan tangan di bawah matahari besar.

“Mana ayah?” tanya Mentari pelan.

Shaci tersenyum polos.

“Bu Guru bilang gambar keluarga boleh yang paling bikin kita merasa aman.”

Air mata Mentari hampir jatuh.

Ia memeluk putrinya erat.

Dalam perjalanan pulang, teleponnya berdering.

Nomor tak dikenal.

“Halo?”

Suara di seberang sana membuat napasnya terhenti.

“Selamat sore, Bu Mentari. Kami dari rumah sakit.”

Jantungnya berdetak lebih cepat.

“Kami menghubungi Ibu karena ada seseorang yang mencantumkan nama Ibu sebagai kontak darurat.”

“Siapa?”

“Saudara Bintang.”

Mentari memejamkan mata.

Petugas itu melanjutkan dengan suara hati-hati.

“Beliau mengalami kecelakaan lalu lintas saat berusaha mengejar kendaraan yang membawa seorang perempuan.”

Mentari terdiam cukup lama.

“Perempuan itu siapa?”

“Menurut saksi, perempuan tersebut pergi meninggalkan beliau sambil membawa seluruh barang berharganya.”

Mentari menatap langit sore yang mulai berubah jingga.

Takdir memang selalu punya cara sendiri untuk mengembalikan setiap pilihan kepada pemiliknya.

Ia menutup telepon perlahan.

Shaci menggenggam tangannya.

“Mama, kita pulang?”

Mentari tersenyum hangat.

“Iya, Sayang. Kita pulang.”

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, langkahnya terasa ringan. Ia akhirnya mengerti bahwa kemenangan terbesar bukanlah melihat orang yang pernah menyakitinya menerima balasan, melainkan mampu berjalan pergi tanpa lagi membawa kebencian di dalam hati. Di saat itulah ia benar-benar mendapatkan kembali dirinya sendiri.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang