Dadaku masih bergemuruh hebat, menyisakan rasa panas yang membakar setiap jengkal urat nadiku saat mobil yang kuendarai melesat membelah jalanan kota yang padat. Bayangan wajah Ratih yang biasanya menunduk patuh dan menerima segala perlakuanku kini berganti dengan suara dinginnya yang menantang lewat sambungan telepon. Kalimat-kalimat tajam yang ia lontarkan tadi seolah berputar-putar di dalam kepalaku, mencabik-cabik ego seorang suami yang selama ini merasa memegang kendali penuh atas rumah tangga. Terlebih lagi, amukan sang ibu di rumah tadi masih menyisakan rasa nyeri di kulit kepala dan sesak di dada. Rambutku rasanya seperti mau copot ditarik oleh wanita yang telah melahirkanku itu, hanya karena kemarahan beliau tumpah akibat ulah istri yang dianggapnya tidak tahu diri.
Selama bertahun-tahun pernikahan kami, aku selalu memposisikan diriku di tengah pusaran tuntutan Mama dan kepatuhan semu Ratih. Ibu selalu mendoktrinku bahwa wanita dari latar belakang keluarga miskin tidak akan pernah tahu cara menghargai uang hasil kerja keras suami, sehingga seluruh gajiku harus diserahkan bulat-bulat ke tangan beliau. Ratih yang pendiam dan sabar selalu mengalah, menerima jatah bulanan sekadarnya tanpa pernah protes, bahkan ketika ia hanya dibelikan daster murahan di pasar tradisional. Namun, siapa sangka di balik kesabaran semu itu, tersimpan letupan bom waktu yang kini meledak di media sosial. Status WhatsApp yang diunggahnya tadi pagi berhasil merontokkan harga diriku di hadapan keluarga besar dan para tetangga, membuatku terlihat sebagai pria tak berdaya yang diinjak-injak oleh istrinya sendiri.

Aku semakin menginjak pedal gas dalam-dalam, mengabaikan klakson dari kendaraan lain yang terkejut melihat ulahku menyalip secara ugal-ugalan. Tujuanku hanya satu: kontrakan kecil tempat Ratih melarikan diri, tempat di mana ia berani merajut kemandirian palsu setelah meninggalkan rumah kami. Sesampainya di depan gerbang kontrakan sederhana bercat kusam itu, aku membanting setir ke pinggir jalan hingga ban mobil berdecit nyaring. Dengan langkah tergesa dan ampunan yang sudah lenyap dari kepalaku, aku melompat keluar, menghampiri pintu kayu bercat hijau tua yang tertutup rapat. Tanpa membuang waktu, aku langsung menggedornya dengan kepalan tangan berkali-kali, disertai teriakan penuh emosi yang memecah kesunyian sore hari.
“Ratih! Buka pintunya! Jangan jadi pengecut kamu!” teriakku kalap sambil terus memukul daun pintu.
Tak lama kemudian, kunci di dalam berputar, dan pintu itu terbuka perlahan. Ratih berdiri di hadapanku dengan mengenakan pakaian sederhana yang sama sekali tidak menunjukkan rasa takut. Wajahnya tenang, terlampau tenang untuk ukuran seorang istri yang suaminya datang membawa amarah meluap-luap. Tatapan matanya yang dulu selalu memancarkan kehangatan dan cinta kini terasa dingin, kosong, seolah-olah sosok di hadapannya bukanlah suaminya sendiri. Pemandangan itu justru semakin memancing urat amarahku. Tanpa basa-basi, aku langsung mencengkeram pergelangan tangannya dengan kuat, berniat menyeretnya keluar menuju mobil.
“Ikut aku sekarang! Kamu sudah keterlaluan! Mau jadi istri durhaka, hah?” bentakku tepat di depan wajahnya.
Namun, di luar dugaan, Ratih sama sekali tidak bergeming. Dengan sebuah gerakan yang tegas dan bertenaga, ia menghempaskan tanganku hingga cengkeramanku terlepas. Aku tertegun sejenak, menatap telapak tanganku sendiri dengan perasaan tidak percaya. Wanita yang biasanya gemetar jika aku meninggikan suara kini berani menepis tanganku di tempat umum.
“Jangan sentuh aku dengan tangan kotor itu, Bayu,” ucap Ratih dengan suara rendah namun tajam menusuk ulu hati. “Perjalanan kita sudah selesai. Aku bukan lagi istrimu yang bisa kamu perlakukan sesuka hati demi menyenangkan ibumu.”
“Jangan ngawur kamu!” geramku sambil melangkah maju, berniat melayangkan tangan untuk memberinya pelajaran agar ia tahu daratan. “Kamu pikir kamu siapa bisa bicara seperti itu? Tanpa aku dan keluargamu, kamu tidak akan bisa hidup layak!”
Sebelum tanganku sempat mendarat di pipinya, sebuah suara asing yang tegas menghentikan gerakanku dari dalam ruangan.
“Silakan pukul dia, dan Anda akan berurusan langsung dengan pihak berwajib atas tindakan kekerasan dalam rumah tangga, sekaligus menghadapi gugatan perdata yang akan meruntuhkan seluruh karier Anda.”
Aku menoleh kaget. Dari balik pintu, seorang pria paruh baya berpenampilan rapi dengan setelan jas sederhana melangkah keluar, didampingi oleh seorang wanita muda berambut pendek yang membawa tumpukan dokumen tebal. Aku mengerjap, mencoba mengenali siapa tamu asing yang ikut campur urusan rumah tangganya ini. Ratih melangkah mundur selangkah, berdiri di samping pria paruh baya tersebut dengan kepala tegak.
“Kenalkan, Bayu. Ini Pak Hartono, pengacara sekaligus paman jauhku yang selama ini sengaja tidak pernah kusertakan dalam cerita hidupku di rumah kalian,” suara Ratih terdengar begitu mantap, mengalir tanpa keraguan sedikit pun. “Selama tujuh tahun aku diam bukan karena aku bodoh atau tidak punya harga diri. Aku diam karena aku masih menghargai pernikahan yang kubangun dengan ketulusan. Tapi ternyata, ketulusan itu dibalas dengan penghinaan keluarga kalian setiap hari.”
“Apa-apaan ini, Ra? Kamu membawa pengacara hanya untuk melawan suamimu sendiri?” tanyaku dengan nada tinggi, meski ada secercah rasa gentar yang mulai merayap di dadaku melihat tumpukan dokumen di tangan wanita di sebelah pengacara itu.
“Suami?” Pak Hartono tersenyum sinis, melipat kedua tangannya di dada. “Atau lebih tepatnya seorang pria yang menumpang hidup dari hasil kerja keras istrinya sambil terus mendewakan ibunya yang serakah? Nak Bayu, sepertinya Anda lupa siapa sebenarnya yang membiayai cicilan mobil yang Anda kendarai ke sini, dan siapa yang selama ini diam-diam menabung dari hasil kerja sampingan Ratih di luar gaji utamanya yang selalu Anda serahkan utuh ke ibu Anda.”
Seketika tubuhku terasa lemas, darahku seolah berhenti mengalir. Mataku membelalak menatap lembaran-lembaran kertas yang kini dibentangkan oleh wanita di samping sang pengacara. Di atas kertas-kertas bermaterai itu tertera rincian rekening koran, bukti transfer, serta akta kepemilikan aset yang selama ini kukira dibeli dari hasil keringatku sendiri. Seluruh tabungan, bahkan sertifikat tanah kecil yang diandalkan keluargaku di kampung, ternyata dibeli menggunakan rekening pribadi Ratih dari hasil bisnis online yang dirintisnya secara diam-diam di tengah malam ketika aku tertidur lelap. Ratih sama sekali bukan wanita miskin tanpa daya seperti yang selalu didengungkan oleh mamaku; justru dialah selama ini yang menjadi penopang finansial tersembunyi di balik gaya hidup keluarga kami yang sok kaya.
“Kamu… kamu membohongiku selama ini?” suaraku bergetar hebat, rasa marah dan malu bercampur aduk menjadi satu menghantam batok kepalaku.
“Aku tidak pernah membohongimu, Bayu. Kamu dan Ibumu yang terlalu sombong untuk melihat kenyataan,” balas Ratih dingin, menatapku lurus tanpa secercah rasa iba. “Status yang kulihatkan di media sosial tadi pagi bukanlah bentuk pelampiasan orang putus asa, melainkan pengumuman resmi bahwa gugatan cerai kita sudah didaftarkan di pengadilan agama pagi ini. Mobil yang kamu kendarai ke sini adalah milikku, dan kunci cadangannya sudah diamankan.”
Sebelum aku sempat merespons atau melayangkan protes lebih jauh, dua orang petugas keamanan lingkungan setempat tiba-tiba muncul di belakangku, meminta dengan sopan agar aku segera meninggalkan area kontrakan tersebut demi menghindari keributan. Aku menoleh ke sekeliling, mendapati beberapa tetangga mulai keluar dari rumah mereka untuk menyaksikan kejatuhanku. Harga diriku hancur berkeping-keping dalam hitungan detik. Tanpa mampu berkata-kata lagi, dengan langkah sempoyongan dan kepala yang masih berdenyut nyeri akibat amukan Mama tadi pagi, aku berjalan mundur menuju mobil Honda Brio putih milik Ratih yang kini bukan lagi milikku.
Di dalam mobil, saat aku menyandarkan kepala ke setir yang dingin, kesadaran pahit itu akhirnya menamparku dengan telak. Aku telah kehilangan segalanya—istri yang tulus, rumah tangga yang utuh, dan kebanggaan palsu yang selama ini dipupuk oleh keangkuhan seorang ibu. Di luar jendela, Ratih berdiri berdampingan dengan keluarganya, menatap kepergianku bukan dengan air mata kepedihan, melainkan dengan senyum kelegaan seorang perempuan yang akhirnya berhasil membebaskan diri dari sangkar emas penuh racun.
