Nia terkekeh mendengar kata-kata Arga. Jika kemarin dia akan tersanjung, baper, lalu wajahnya merona. Sekarang dia sudah bisa menjaga hatinya agar tidak mudah terbang. Dia tahu diri dan sadar diri. Siapa dia dan siapa Arga.

Nia menundukkan kepala. Air matanya terus mengalir tanpa bisa ditahan. Harga dirinya terasa runtuh saat harus mengucapkan kalimat itu di depan orang lain.

“Saya bayarnya pakai tenaga, boleh, Mas?” suaranya bergetar. “Saya bisa cuci piring, cuci baju, nyapu, ngepel juga bisa. Tolong ya, Mas.”

Arga tidak langsung menjawab. Dadanya justru terasa sesak. Selama ini dia hidup di lingkungan yang membuat uang seolah mampu menyelesaikan segalanya. Namun, untuk pertama kalinya dia melihat seseorang yang bahkan ketika ditolong masih berusaha menjaga harga dirinya.

“Nia,” ucapnya pelan. “Aku tidak pernah menganggap kamu orang yang harus membayar bantuan dengan tenaga.”

“Tapi aku tidak mau punya utang.”

“Kalau begitu anggap saja pinjaman. Tidak ada bunga. Tidak ada batas waktu.”

Nia menggeleng.

“Aku takut tidak bisa mengembalikannya.”

Arga tersenyum tipis.

“Aku percaya kamu.”

Kalimat sederhana itu membuat Nia kembali menangis.

Bu Maryam memegang tangan putrinya.

“Terima saja, Nak. Kadang Allah mengirim pertolongan lewat orang lain.”

Nia akhirnya mengangguk pelan.

Arga mengeluarkan sejumlah uang dari dompetnya, lalu menghitungnya dengan cepat.

“Ini cukup untuk melunasi kontrakan tiga bulan sekaligus tambah satu bulan ke depan.”

Belum sempat Nia menerima uang itu, suara langkah kaki kembali terdengar.

Bu Sugi muncul lagi dengan wajah jutek.

“Sudah dapat uang belum? Kalau belum, angkat barang kalian sekarang juga.”

Arga menghampiri perempuan itu.

“Selamat sore, Bu.”

Bu Sugi menatap Arga dari atas sampai bawah. Pakaiannya sederhana, tetapi jam tangan yang dikenakan Arga membuat mata Bu Sugi langsung berubah.

“Ada apa?”

“Saya yang akan membayar semua tunggakan mereka.”

Mata Bu Sugi membesar.

“Serius?”

Arga menyerahkan uang tunai.

“Hitung saja.”

Bu Sugi buru-buru menghitung lembar demi lembar uang itu.

“Pas.”

Arga mengangguk.

“Tolong buatkan tanda terima.”

Bu Sugi terlihat sedikit gugup.

“Ah… tidak usah lah. Saya percaya.”

“Saya yang tidak percaya.”

Ucapan Arga membuat wajah Bu Sugi memerah.

Terpaksa perempuan itu masuk ke rumah mengambil kuitansi.

Saat itulah Arga melihat beberapa tetangga mulai memperhatikan keributan mereka.

Beberapa berbisik-bisik.

“Itu anak Bu Maryam yang kerja di showroom, kan?”

“Cowoknya ganteng sekali.”

“Kayaknya orang kaya.”

Nia semakin tidak enak hati.

“Maaf ya, Mas. Jadi merepotkan.”

“Kalau kamu terus minta maaf, berarti aku harus sering-sering datang supaya dengar kamu ngomong selain kata maaf.”

Nia spontan tertawa kecil.

Baru kali itu Arga merasa lega melihat senyum Nia kembali muncul.

Tak lama kemudian Bu Sugi keluar membawa kuitansi.

“Semuanya lunas.”

Arga menerima kuitansi itu lalu menyerahkannya kepada Nia.

“Simpan baik-baik.”

“Terima kasih, Mas.”

“Tapi aku punya satu syarat.”

Nia langsung menegang.

“Syarat apa?”

“Kamu harus berhenti menganggap dirimu rendah.”

Nia terdiam.

“Karena menurutku, orang yang menjaga ibunya sampai rela tidak tidur berhari-hari jauh lebih kaya daripada banyak orang yang punya uang.”

Ucapan itu membuat Bu Maryam ikut menitikkan air mata.

Sejak hari itu kehidupan mereka perlahan berubah.

Bu Maryam sudah cukup sehat untuk kembali melakukan aktivitas ringan di rumah.

Nia kembali bekerja di showroom.

Sementara Arga semakin sering datang.

Kadang hanya mengantar makan siang.

Kadang pura-pura ingin melihat mobil baru.

Kadang hanya datang lima menit lalu pergi lagi.

Seluruh karyawan showroom mulai menggoda Nia.

“Wah, langganan VIP datang lagi.”

“Kayaknya bukan beli mobil deh. Mau lihat sales-nya.”

Nia hanya bisa tersipu.

Namun, dia tetap menjaga jarak.

Baginya, dunia mereka terlalu berbeda.

Suatu sore, saat showroom hampir tutup, Arga datang lagi.

“Ayo makan.”

“Aku masih kerja.”

“Aku tunggu.”

“Aku pulangnya naik angkot.”

“Aku ikut naik angkot.”

Nia tertawa.

“Mas Arga jangan bercanda.”

“Aku serius.”

Dan benar saja.

Hari itu Arga benar-benar ikut naik angkutan umum.

Semua penumpang menoleh heran melihat pria berpenampilan rapi itu duduk berdesakan.

Nia berkali-kali meminta maaf.

“Mas turun saja. Nanti bajunya kusut.”

“Baju bisa disetrika.”

“Sepatunya kotor.”

“Bisa dicuci.”

“Mas capek.”

“Enggak. Yang capek itu kamu. Setiap hari begini.”

Untuk pertama kalinya Nia merasa ada seseorang yang benar-benar ingin memahami hidupnya.

Beberapa hari kemudian Arga mengajak Nia makan malam.

“Aku tidak bisa.”

“Kenapa?”

“Takut salah paham.”

“Aku memang ingin kamu paham.”

Nia mengangkat alis.

“Aku suka sama kamu.”

Kalimat itu membuat suasana mendadak sunyi.

Nia menggenggam tasnya erat.

“Mas jangan bercanda.”

“Aku tidak pernah bercanda soal ini.”

“Mas tahu siapa aku?”

“Tahu.”

“Aku anak orang miskin.”

“Iya.”

“Ibuku cuma buruh cuci.”

“Iya.”

“Aku cuma sales.”

“Iya.”

“Terus kenapa masih suka?”

Arga tersenyum.

“Karena aku jatuh cinta sama Nia. Bukan sama rekening keluarganya.”

Air mata Nia kembali jatuh.

“Aku takut.”

“Takut apa?”

“Orang tua Mas tidak setuju.”

Arga menghela napas.

“Kalau begitu, besok ikut aku.”

“Kemana?”

“Ketemu ibu.”

Nia langsung menggeleng cepat.

“Tidak mau.”

“Kenapa?”

“Aku malu.”

“Kamu tidak perlu malu.”

“Aku tetap malu.”

Arga akhirnya tertawa.

“Kamu lucu.”

Esok paginya, tanpa diduga, sebuah mobil berhenti di depan kontrakan Bu Maryam.

Seorang perempuan elegan turun dari dalam mobil.

Dialah Bu Ratih, ibu Arga.

Nia yang sedang menyapu halaman langsung panik.

“Bu…”

Bu Ratih menghampiri sambil tersenyum hangat.

“Boleh saya masuk?”

“Tentu… tentu, Bu.”

Rumah kontrakan kecil itu mendadak terasa sempit.

Bu Maryam berkali-kali meminta maaf karena hanya bisa menyuguhi teh hangat dan pisang goreng.

Namun, Bu Ratih justru memakannya dengan lahap.

“Enak sekali.”

Nia masih gelisah.

Dia yakin sebentar lagi akan mendengar kalimat yang selama ini dia takutkan.

Maaf, kamu tidak pantas untuk anak saya.

Namun, yang terjadi justru sebaliknya.

Bu Ratih menggenggam tangan Nia.

“Terima kasih.”

Nia bingung.

“Terima kasih karena sudah membuat Arga berubah.”

“Maksud Ibu?”

“Sejak ayahnya meninggal, Arga kehilangan semangat. Dia bekerja hanya karena kewajiban. Dia tidak pernah benar-benar tertawa. Tapi sejak mengenal kamu, dia pulang ke rumah sambil senyum-senyum sendiri.”

Nia tidak mampu berkata apa-apa.

“Saya tidak datang untuk menghakimi kamu.”

“Lalu?”

“Saya datang sebagai seorang ibu.”

Bu Ratih menarik napas panjang.

“Kalau suatu hari nanti kalian memang berjodoh, saya tidak akan menghalangi.”

Nia menutup mulutnya menahan tangis.

Namun kebahagiaan itu ternyata tidak berlangsung lama.

Dua hari kemudian, Arga dipanggil ke kantor pusat perusahaan keluarganya.

Di ruang rapat sudah duduk pamannya, Om Hendra, beserta beberapa pemegang saham.

“Mulai bulan depan kamu dijodohkan dengan putri rekan bisnis keluarga.”

Arga mengernyit.

“Apa?”

“Ini keputusan keluarga.”

“Aku menolak.”

Om Hendra tersenyum dingin.

“Kalau menolak, kamu juga kehilangan jabatan sebagai direktur operasional.”

Arga berdiri.

“Aku tidak peduli.”

“Kamu juga akan kehilangan hak atas seluruh saham warisan ayahmu.”

Ruangan mendadak hening.

Arga mengepalkan tangan.

“Ayah tidak pernah mengajarkan aku menjual kebahagiaan demi bisnis.”

Om Hendra menyandarkan tubuhnya.

“Kamu pikir perusahaan ini berdiri dengan cinta?”

Arga menatap seluruh ruangan.

“Kalau perusahaan harus dibangun dengan mengorbankan hidup orang lain, lebih baik aku keluar.”

Dia melepaskan kartu identitas perusahaan, meletakkannya di atas meja, lalu berjalan keluar tanpa menoleh lagi.

Sore itu dia mendatangi rumah kontrakan Nia.

Nia terkejut melihat wajah Arga yang pucat.

“Ada apa?”

“Aku sudah bukan direktur lagi.”

“Apa?”

“Aku memilih kamu.”

Nia membeku.

“Mas… jangan bercanda.”

“Aku kehilangan jabatan hari ini.”

Air mata Nia langsung mengalir.

“Kenapa melakukan itu?”

“Karena aku ingin membangun hidup bersama seseorang yang mencintaiku apa adanya. Bukan karena hartaku.”

Nia memeluk Arga tanpa sadar.

Untuk pertama kalinya, dia tidak lagi memikirkan perbedaan status.

Yang dia lihat hanyalah seorang laki-laki yang rela kehilangan segalanya demi mempertahankan perasaannya.

Dari balik jendela, Bu Maryam dan Bu Ratih yang kebetulan baru datang saling berpandangan.

Keduanya tersenyum sambil menahan haru.

Bu Ratih berbisik pelan,

“Ternyata benar. Kekayaan paling besar bukan ada di rekening seseorang, melainkan pada hati yang tetap memilih mencintai ketika semua alasan untuk pergi justru lebih menguntungkan.”

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang