“Apa?”
Suara Nia terdengar terlalu keras hingga seorang perawat yang lewat menoleh ke arah mereka. Wajah gadis itu langsung memerah. Ia buru-buru menutup mulut dengan telapak tangan, sementara Arga menahan tawa.
“Saya cuma bilang, panggil apa saja,” ujar Arga dengan wajah polos. “Kenapa kaget begitu?”
“Tadi bukan cuma itu,” protes Nia pelan.
“Memangnya saya bilang apa?”
Nia menyipitkan mata, tetapi akhirnya menunduk karena tidak sanggup menatap wajah Arga terlalu lama. Pria itu tampak santai, padahal telinganya sendiri memerah.
Belum sempat Nia membalas, pintu ruang ICU terbuka. Seorang dokter keluar sambil membawa map biru. Nia spontan berdiri sampai botol air di tangannya jatuh menggelinding.
“Keluarga Ibu Sulastri?”

“Saya, Dok. Saya anaknya.”
Dokter itu melepas masker dan mengembuskan napas perlahan.
“Operasinya berjalan cukup baik. Sumbatan di pembuluh darah sudah ditangani, tapi kondisi pasien masih belum stabil sepenuhnya. Dua puluh empat jam ke depan sangat menentukan.”
Lutut Nia langsung lemas. Arga cepat menahan lengannya sebelum ia jatuh.
“Boleh saya lihat Ibu, Dok?”
“Sebentar saja. Jangan membuat pasien terlalu emosional.”
Nia mengangguk berkali-kali. Tangannya masih mencengkeram lengan Arga ketika dokter melangkah pergi. Baru setelah menyadarinya, ia segera melepaskan genggamannya.
“Maaf.”
“Gak apa-apa. Masuklah. Saya tunggu di sini.”
Nia mengenakan pakaian pelindung yang diberikan perawat, lalu masuk ke ruang ICU. Dari balik kaca, Arga melihat gadis itu berdiri di sisi ranjang ibunya. Tubuh Bu Sulastri tampak kecil di antara selang dan mesin monitor. Nia menggenggam tangannya, membisikkan sesuatu sambil menangis tanpa suara.
Pemandangan itu membuat dada Arga terasa sesak.
Dua tahun lalu, ia juga berdiri di ruangan seperti itu ketika Abahnya terkena stroke. Saat itu, uang bukan masalah. Rumah sakit terbaik, dokter paling berpengalaman, dan obat termahal sudah tersedia. Namun semua itu tetap tidak mampu menjamin keselamatan seseorang.
Abahnya memang selamat, tetapi sejak saat itu separuh tubuhnya melemah. Arga meninggalkan sebagian besar urusan perusahaan di Jakarta dan lebih banyak menghabiskan waktu mengelola perkebunan keluarga di Puncak. Banyak orang mengira ia sekadar anak pemilik kebun yang memilih hidup sederhana. Tidak ada yang tahu bahwa ia adalah pemegang saham utama kelompok usaha Warni Agro, perusahaan yang membawahi perkebunan, hotel, dan jaringan distribusi pangan di beberapa kota.
Ia sengaja menyembunyikan identitasnya ketika datang ke dealer kemarin. Bukan untuk menguji siapa pun, melainkan karena ia memang baru turun dari kebun dan tidak sempat mengganti pakaian. Semua sales menghindarinya, kecuali Nia.
Gadis itu tidak hanya melayani dengan sabar. Ketika seorang supervisor mengejek penampilan Arga, Nia justru membelanya meski akhirnya dimarahi. Arga masih ingat ucapan Nia saat menyerahkan brosur.
“Orang membeli mobil bukan dari bajunya, Pak. Selama datang dengan niat baik, semua pelanggan berhak dilayani.”
Kalimat sederhana itu terus terngiang di kepala Arga.
Setelah hampir sepuluh menit, Nia keluar dari ruang ICU. Matanya semakin sembap, tetapi ada sedikit kelegaan di wajahnya.
“Ibu tadi buka mata sebentar,” katanya lirih. “Dia dengar suara saya.”
“Alhamdulillah.”
Nia baru hendak duduk ketika dari ujung lorong terdengar suara langkah tergesa. Seorang pria berjas abu-abu datang bersama wanita muda bersepatu hak tinggi. Begitu melihat mereka, wajah Nia mendadak pucat.
“Pak Dimas,” gumamnya.
Pria itu adalah kepala cabang dealer tempat Nia bekerja. Di sebelahnya berdiri Rara, sales senior yang sejak awal paling sering meremehkan Nia.
“Nia, jadi benar kamu di sini,” kata Dimas tanpa basa-basi. “Kenapa ponselmu mati?”
“Baterainya habis, Pak. Ibu saya baru selesai operasi.”
“Saya sudah tahu. Tapi kamu tetap harus bertanggung jawab atas masalah di kantor.”
Nia menegang. “Masalah apa?”
Rara menyilangkan tangan di dada. “Jangan pura-pura gak tahu. Uang tanda jadi dari pelanggan kemarin hilang. Dua puluh juta rupiah. Terakhir kamu yang pegang berkas transaksinya.”
Nia terpaku.
“Saya gak pernah pegang uang tunai, Mbak. Pelanggan itu transfer langsung ke rekening perusahaan.”
“Buktinya tidak masuk,” sahut Rara. “Dan di sistem, nomor rekening yang dikirim ke pelanggan berasal dari akunmu.”
“Itu gak mungkin.”
Dimas mengeluarkan beberapa lembar kertas dari map. “Ini tangkapan layar percakapannya. Nomor rekening pribadi atas nama Sulastri.”
Nia menatap kertas itu dengan tangan gemetar. Nama pemilik rekening memang nama ibunya, tetapi nomor rekeningnya bukan milik mereka.
“Saya gak pernah mengirim ini.”
“Cukup,” potong Dimas. “Manajemen sudah memutuskan untuk memberhentikanmu sementara. Kalau uangnya tidak kembali hari ini, kami akan lapor polisi.”
Wajah Nia kehilangan warna.
“Pak, saya bersumpah saya tidak mengambil uang itu. Saya bahkan gak punya uang untuk operasi Ibu.”
“Itu justru motifmu,” ujar Rara tajam. “Semua orang tahu kamu sedang butuh uang.”
Arga bangkit dari kursinya. Tatapannya yang semula hangat berubah dingin.
“Boleh saya lihat bukti transfernya?”
Dimas menatapnya dari atas ke bawah. “Anda siapa?”
“Saya pelanggan yang dilayani Nia kemarin.”
“Oh, pelanggan yang beli mobil secara tunai itu?” Rara tersenyum tipis. “Maaf, Pak, ini urusan internal.”
“Kalau transaksi terjadi saat saya berada di dealer, mungkin saya bisa membantu.”
Dimas ragu, tetapi akhirnya menyerahkan salinan bukti transaksi. Arga mengamati nomor rekening, waktu pengiriman pesan, dan detail perangkat yang tercetak dari sistem internal.
“Pesan ini dikirim pukul sembilan lewat dua belas,” ujar Arga. “Saat itu Nia sedang menemani saya melakukan test drive. Ponselnya tertinggal di meja karena baterainya sedang diisi.”
Rara langsung menyela, “Dia bisa saja mengaturnya sebelumnya.”
Arga mengeluarkan ponselnya dan membuka rekaman kamera dasbor dari mobil test drive. Di layar terlihat Nia duduk di kursi penumpang sejak pukul sembilan kurang lima hingga hampir pukul sepuluh.
“Kalau pesan dikirim dari akun internal dealer, berarti seseorang memakai komputernya saat dia pergi.”
Dimas mulai tampak tidak nyaman. “Tetap saja rekening itu atas nama ibunya.”
“Nama bisa dipakai siapa saja saat membuka rekening digital dengan identitas palsu. Cek nomor identitas pemiliknya.”
Rara mendengus. “Bapak ini sok tahu sekali.”
Arga menatapnya tenang. “Saya memang cukup tahu soal audit digital.”
Ia lalu menelepon seseorang.
“Rizal, cek nomor rekening yang saya kirim. Saya perlu data pembukaan rekening dan aliran dananya. Segera.”
Dimas tertawa kecil. “Data bank tidak bisa diperiksa sembarangan.”
“Benar. Karena itu saya minta tim hukum perusahaan saya menghubungi pihak bank secara resmi.”
“Perusahaan apa?”
Sebelum Arga menjawab, suara berat terdengar dari belakang mereka.
“Warni Agro Group.”
Semua orang menoleh. Seorang lelaki berusia sekitar enam puluh tahun berdiri di samping Bu Warni. Ia berjalan menggunakan tongkat, didampingi sopir dan seorang pria berkemeja hitam.
Arga segera menghampirinya.
“Abah, kenapa turun sendiri? Harusnya tunggu di mobil.”
Abah tersenyum tipis. “Abah penasaran sama calon menantu yang bikin anak Abah mendadak rajin ke rumah sakit.”
Nia menahan napas. Dimas dan Rara saling berpandangan.
Bu Warni menghampiri Nia lalu merangkul bahunya. “Ini suami Ibu. Namanya Pak Haryono Warni.”
Dimas tampak semakin pucat. Nama itu bukan nama asing. Warni Agro adalah salah satu pelanggan korporat terbesar dealer tersebut. Mereka baru saja mengajukan pembelian puluhan kendaraan operasional untuk perkebunan dan distribusi.
Pak Haryono menatap Dimas.
“Kamu kepala cabangnya?”
“Iya, Pak.”
“Saya ingin tahu kenapa calon menantu saya dituduh mencuri tanpa penyelidikan yang benar.”
“Calon menantu?” Nia berbisik, hampir tidak percaya.
Arga menutup wajahnya sebentar. “Abah juga mulai.”
Namun situasi tidak sempat menjadi ringan. Ponsel Arga berdering. Ia mengangkatnya dan mendengarkan beberapa saat.
“Terima kasih, Rizal. Kirim semua dokumennya.”
Ia mematikan sambungan, lalu menatap Rara.
“Rekening itu dibuka tiga hari lalu menggunakan foto KTP Bu Sulastri yang tersimpan dalam berkas pengajuan bantuan karyawan. Alamat surelnya milik seseorang bernama Rara Prameswari.”
Wajah Rara seketika kaku.
“Itu fitnah.”
“Dana dua puluh juta tersebut kemudian dipindahkan ke dompet digital yang terdaftar dengan nomor ponselmu.”
Dimas mundur satu langkah dari Rara. “Rara, apa ini?”
“Saya bisa jelaskan.”
“Jelaskan apa?” suara Nia pecah. “Kenapa nama Ibu saya dipakai?”
Rara menatap Nia dengan kebencian yang selama ini disembunyikannya.
“Karena kamu selalu berlagak suci. Pelanggan lebih suka dilayani kamu. Kemarin kamu bahkan mendapatkan pembeli mobil termahal, sementara saya yang sudah lima tahun bekerja gak pernah dapat komisi sebesar itu.”
“Jadi kamu menjebak saya?”
“Saya cuma mau kamu dikeluarkan. Saya gak tahu keadaan akan sampai begini.”
Dimas langsung mengambil ponselnya.
“Saya akan hubungi polisi.”
Rara panik. Ia berusaha merebut ponsel Dimas, tetapi pria berkemeja hitam yang datang bersama Pak Haryono menahannya. Lorong rumah sakit mendadak gaduh.
Nia berdiri mematung. Air matanya kembali jatuh, tetapi kali ini bukan karena ketakutan. Ia menatap Arga seolah baru pertama kali melihatnya.
“Bapak sebenarnya siapa?”
Arga menghela napas panjang. “Nama saya tetap Arga. Saya memang bekerja di kebun. Hanya saja kebunnya milik keluarga saya.”
“Dan biaya operasi Ibu?”
Arga terdiam.
Bu Warni menepuk bahu putranya. “Sudah, Ga. Jangan biarkan gadis itu terus menebak.”
Nia menatapnya tajam. “Jadi benar kamu?”
Arga mengangguk perlahan.
“Kenapa kamu bohong?”
“Saya gak bohong. Saya hanya gak bilang.”
“Itu sama saja.”
Nia berbalik dan berjalan menjauh. Arga segera mengejarnya hingga ke tangga darurat.
“Nia, tunggu.”
“Jangan panggil saya begitu seolah kita dekat.”
Arga berhenti beberapa langkah di belakangnya.
“Saya minta maaf.”
Nia berbalik. Wajahnya dipenuhi air mata.
“Kamu tahu bagaimana rasanya merasa berutang nyawa kepada orang yang bahkan gak kita kenal? Saya tadi bilang siap jadi pembantu, siap kerja tanpa dibayar. Kamu dengar semuanya dan diam saja.”
“Saya tidak mau kamu merasa berutang.”
“Tapi sekarang saya justru merasa dipermainkan.”
“Saya takut kalau kamu tahu, kamu akan menjauh.”
“Kita baru kenal sehari, Arga.”
“Kadang satu hari cukup untuk tahu seseorang punya hati yang baik.”
Nia terdiam.
Arga mendekat satu langkah, tetapi tetap menjaga jarak.
“Saya membayar operasi Ibu bukan supaya kamu membalas apa pun. Bukan supaya kamu mau sama saya. Kemarin kamu memperlakukan saya seperti manusia ketika semua orang menilai dari penampilan. Hari ini saya hanya melakukan hal yang sama. Saya melihat kamu sedang kesulitan, dan saya punya kemampuan untuk membantu.”
“Uangnya terlalu besar.”
“Bagi saya mungkin besar, tetapi nyawa Ibu kamu jauh lebih besar.”
Tangis Nia pecah. Ia menutup wajah dengan kedua tangan.
“Saya gak tahu harus bagaimana.”
“Gak perlu melakukan apa-apa. Fokus rawat Ibu kamu. Setelah beliau sembuh, kalau kamu masih marah, kamu boleh pergi dan gak pernah menemui saya lagi.”
Nia perlahan menurunkan tangannya.
“Kalau saya mau mengembalikan uangnya?”
“Boleh.”
Nia tampak terkejut.
“Tapi bukan dengan jadi pembantu atau bekerja tanpa dibayar,” lanjut Arga. “Kembalikan dengan cara membantu orang lain saat kamu sudah mampu. Itu cukup.”
Untuk beberapa saat, hanya terdengar suara pendingin udara dan langkah perawat dari balik pintu.
Nia menatap Arga lama sekali.
“Kenapa kamu bisa bicara seperti orang bijak, tapi menggoda orang seperti anak SMA?”
Arga tersenyum lega. “Berarti kamu sudah gak terlalu marah?”
“Saya masih marah.”
“Sedikit atau banyak?”
“Banyak.”
“Kalau begitu saya punya waktu lama untuk minta maaf.”
Sebelum Nia sempat menjawab, seorang perawat membuka pintu tangga darurat.
“Mbak Nia, Ibu Anda sadar dan meminta bertemu.”
Mereka bergegas kembali ke ICU. Bu Sulastri sudah dipindahkan ke ruang perawatan intensif biasa. Meski wajahnya pucat, matanya terbuka. Nia langsung menggenggam tangannya.
“Ibu.”
Bu Sulastri tersenyum lemah. Pandangannya beralih kepada Arga, Bu Warni, dan Pak Haryono.
“Ini siapa?”
Nia hendak menjawab, tetapi Bu Warni lebih cepat.
“Calon keluarga, Bu.”
“Ibu!” Arga dan Nia berseru bersamaan.
Semua orang tertawa kecil, termasuk Bu Sulastri. Namun tiba-tiba perempuan itu menatap wajah Pak Haryono dengan saksama. Senyumnya perlahan menghilang.
“Pak Haryono?”
Pak Haryono membeku.
“Bu Sulastri?”
Nia menatap mereka bergantian. “Ibu kenal?”
Bu Sulastri menarik napas panjang. “Dulu, sebelum menikah dengan Abahmu, Ibu bekerja sebagai buruh pemetik teh di kebun keluarga mereka.”
Arga terkejut. “Di kebun kami?”
Bu Sulastri mengangguk.
“Waktu itu terjadi longsor besar. Pak Haryono hampir tertimbun. Abahmu yang menyelamatkannya, tapi setelah itu kaki Abahmu terluka parah dan tidak bisa kembali bekerja di kebun.”
Pak Haryono menunduk. Matanya berkaca-kaca.
“Saya mencari kalian bertahun-tahun,” katanya lirih. “Setelah kecelakaan itu, mandor bilang kalian pindah tanpa alamat.”
“Abah Nia gak pernah mau menerima bantuan,” jawab Bu Sulastri. “Katanya menolong orang gak boleh dihitung sebagai utang.”
Pak Haryono menggenggam tongkatnya erat-erat.
“Jadi ayahmu adalah Jatmiko.”
Nia mengangguk pelan.
Pak Haryono menatap Arga, lalu Bu Warni. Wajahnya dipenuhi keharuan.
“Dulu ayah Nia menyelamatkan hidup Abah. Sekarang kamu menyelamatkan istrinya tanpa tahu siapa mereka.”
Arga menatap Nia. Gadis itu juga menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
Pak Haryono tersenyum.
“Mungkin memang ada kebaikan yang tidak pernah benar-benar hilang. Ia hanya berputar, mencari jalan pulang kepada orang yang tepat.”
Enam bulan kemudian, Bu Sulastri sudah kembali berjalan meski harus menjalani terapi rutin. Nia tidak kembali ke dealer. Pak Haryono menawarinya pekerjaan di yayasan kesehatan milik keluarga Warni, tetapi ia menolak jabatan tinggi dan memilih menjadi pendamping pasien tidak mampu.
Setiap bulan, ia mengurus bantuan operasi bagi keluarga yang tidak memiliki biaya. Di meja kerjanya terdapat sebuah kotak kecil bertuliskan Kebaikan Tidak Harus Dibayar, Cukup Diteruskan.
Sementara itu, Arga tetap datang hampir setiap hari dengan pakaian sederhana dan sepatu penuh tanah.
Suatu sore, ia membawa sebungkus roti yang sama seperti di rumah sakit.
Nia membelahnya menjadi dua.
“Kita makan separuh-separuh?” tanyanya.
Arga menggeleng. “Saya sudah kenyang.”
Nia tersenyum curiga. “Jangan bilang mau menyuapi saya lagi.”
“Boleh?”
“Gak boleh.”
“Kalau saya melamar dulu?”
Nia terdiam. Arga mengeluarkan kotak cincin kecil dari saku jaketnya.
“Saya pernah bilang, orang baik yang masih bujang bisa saja melamar tiba-tiba.”
Nia menutup mulut, antara tertawa dan menangis.
“Jadi selama ini Bu Warni sudah merencanakan semuanya?”
“Tidak. Tapi sepertinya Ibu selalu lebih cepat daripada takdir.”
Nia memandang cincin itu, lalu menatap Arga.
“Saya belum bisa membayar utang operasi Ibu.”
Arga menggeleng.
“Itu bukan utang.”
“Kalau begitu, saya punya satu syarat.”
“Apa?”
“Jangan pernah lagi menyembunyikan hal sebesar itu dari saya.”
Arga mengangguk serius. “Saya janji.”
Nia mengulurkan tangannya.
“Dan satu lagi.”
“Apa?”
“Setelah menikah nanti, kamu tetap harus kerja di kebun. Jangan mentang-mentang kaya, lalu malas.”
Arga tertawa lepas.
“Siap, Sayang.”
Nia memukul lengannya pelan, tetapi tidak menarik tangannya ketika Arga memasangkan cincin.
Di balik pintu, Bu Warni, Pak Haryono, dan Bu Sulastri diam-diam mengintip. Bu Warni menyeka air mata sambil tersenyum puas.
“Benar kan kata saya,” bisiknya. “Roti rumah sakit itu memang pembuka jalan lamaran.”
Pak Haryono menggeleng sambil tertawa.
Di dalam ruangan, Nia menyandarkan kepala di bahu Arga. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun hidup dalam kecemasan, ia merasa tidak lagi sendirian.
Ia akhirnya mengerti bahwa pertolongan yang tulus tidak selalu meminta balasan. Terkadang, ia datang dari seseorang yang pernah diremehkan dunia, lalu memilih menggunakan kekuatannya untuk menjaga orang lain tetap berdiri.
Dan terkadang, kebaikan yang dilakukan orang tua bertahun-tahun lalu, pulang dalam bentuk cinta yang sama sekali tidak pernah mereka duga.
