“Sayang, yuk pulang.” Suara Bintang terdengar agak pelan, seolah takut aku masih menyimpan curiga. Aku menarik napas, menoleh sekilas. “Aku bisa pulang sendiri, Mas. Kamu teruskan aja meetingnya.”

Mentari tidak pernah benar-benar tidur malam itu.

Saat jarum jam menunjukkan pukul dua dini hari, suara langkah Bintang akhirnya kembali terdengar dari luar kamar. Sangat pelan. Terlalu pelan untuk seseorang yang hanya mengambil minum. Begitu pintu terbuka, aroma parfum wanita yang samar langsung menusuk hidung Mentari. Bukan aroma yang sama dengan parfum yang biasa ia pakai. Wanginya lembut, manis, bercampur sedikit aroma vanila.

Bintang kembali berbaring, membelakanginya.

“Sudah tidur?” bisiknya pelan.

Mentari tetap memejamkan mata.

Tak ada jawaban.

Beberapa detik kemudian, napas pria itu mulai teratur. Atau mungkin hanya berpura-pura tidur, sama sepertinya.

Pagi itu Mentari bangun lebih dulu. Ia mengenakan blazer krem yang sudah hampir dua tahun tidak pernah disentuh. Rambutnya disanggul sederhana. Di depan cermin, ia memandangi bayangannya cukup lama.

Dulu semua orang mengenalnya sebagai perempuan paling disegani di perusahaan. Tegas, cerdas, dan berani mengambil keputusan besar. Setelah menikah dan melahirkan Shaci, ia memilih mundur demi keluarga. Semua itu atas permintaan Bintang.

“Aku ingin kamu menikmati masa menjadi ibu. Soal perusahaan, biar aku yang urus.”

Saat itu Mentari percaya.

Sekarang kalimat itu terdengar seperti jebakan yang dibungkus cinta.

Ketika ia turun ke ruang makan, Bintang sedang menyuapi Shaci sarapan.

“Wah… cantik sekali hari ini,” katanya sambil tersenyum.

Mentari hanya mengangguk.

“Aku berangkat dulu.”

“Nanti aku antar?”

“Nggak usah.”

“Tapi…”

“Aku bilang nggak usah.”

Bintang terdiam.

Mentari mencium kening putrinya lalu pergi tanpa menoleh lagi.

Sepanjang perjalanan menuju kantor, ingatan demi ingatan terus bermunculan. Gedung itu dulu berdiri berkat perjuangannya bersama ayahnya. Bahkan nama Bintang baru mulai dikenal setelah mereka menikah.

Begitu mobil memasuki area parkir khusus direksi, para satpam langsung berdiri tegak.

“Selamat pagi, Bu Mentari.”

“Selamat pagi.”

Beberapa karyawan yang melihatnya tampak saling berbisik.

“Bu Mentari balik kerja?”

“Akhirnya…”

“Kupikir beliau sudah resign permanen.”

Mentari hanya membalas dengan senyum tipis.

Ia sengaja tidak memberi tahu siapa pun bahwa hari ini adalah hari pertamanya kembali.

Sesampainya di lantai utama, suasana kantor mendadak sunyi.

Semua orang berdiri memberi salam.

“Selamat pagi, Bu.”

“Selamat pagi.”

Ia melangkah menuju ruangannya.

Ruangan itu masih sama.

Hanya saja ada beberapa dekorasi baru yang bukan pilihannya.

Di atas meja terdapat bingkai foto keluarga yang sedikit berdebu.

Mentari mengusapnya perlahan.

“Sudah lama ya…”

Belum lima belas menit ia duduk, seseorang mengetuk pintu.

“Masuk.”

Seorang wanita muda masuk sambil membawa map.

Tubuhnya tinggi, kulitnya putih bersih, rambut panjang bergelombang, wajahnya cantik dengan riasan tipis.

Begitu melihat Mentari, langkah wanita itu berhenti.

Wajahnya langsung pucat.

“I… Ibu Mentari…”

Mentari mengenalinya.

Bulan.

Wanita itu buru-buru menunduk.

“Maaf… saya kira Pak Bintang sudah datang.”

Mentari tersenyum ramah.

“Oh, kamu Bulan?”

“Iya, Bu.”

“Masuk saja.”

Bulan terlihat gugup.

Tangannya bahkan sedikit gemetar saat meletakkan dokumen.

“Saya… saya cuma mau taruh laporan.”

Mentari sengaja memperhatikannya.

Gadis itu memang cantik.

Masih sangat muda.

Sekitar dua puluh tiga tahun.

Namun yang membuat Mentari semakin yakin ada sesuatu bukan kecantikannya.

Melainkan cincin mungil berbentuk bulan sabit yang dikenakan Bulan.

Cincin yang sama persis seperti liontin kecil yang sempat ia temukan di koper Bintang beberapa minggu lalu.

Kebetulan?

Atau pasangan?

“Sekarang kamu jadi sekretaris Pak Bintang?”

“Iya… Bu.”

“Katanya anak magang.”

Bulan terdiam.

Wajahnya semakin pucat.

“Awalnya memang magang…”

“Oh.”

Mentari mengangguk pelan.

“Ternyata naik jabatan cepat juga.”

Bulan tidak menjawab.

Ia hanya meminta izin keluar.

Begitu pintu tertutup, Mentari langsung membuka sistem kepegawaian perusahaan.

Nama Bulan muncul.

Statusnya bukan lagi magang.

Tetapi karyawan tetap.

Tanggal pengangkatan?

Empat bulan lalu.

Yang membuat napas Mentari berhenti bukan itu.

Melainkan nama penandatangan surat pengangkatannya.

Bintang Pratama.

Padahal berdasarkan aturan perusahaan, pengangkatan karyawan tetap harus mendapat persetujuan dua direktur.

Tanda tangan Mentari tidak ada.

Artinya…

Dokumen itu diproses tanpa seizinnya.

Ia langsung menghubungi bagian HRD.

“Lina, bisa ke ruangan saya sebentar?”

Lima menit kemudian Lina datang.

Perempuan itu sudah bekerja sejak perusahaan masih berupa ruko kecil.

Melihat Mentari, matanya langsung berkaca-kaca.

“Bu… saya kangen.”

Mentari tersenyum.

“Aku juga.”

Setelah berbincang sebentar, Mentari langsung bertanya.

“Lina, sejak kapan Bulan jadi sekretaris Bintang?”

Lina tampak ragu.

“Bu…”

“Jawab saja.”

“Pak Bintang memang meminta kami merahasiakannya dari Ibu.”

Jantung Mentari berdetak lebih keras.

“Kenapa?”

“Saya juga nggak tahu.”

“Lalu?”

“Awalnya Bu Bulan ditempatkan di divisi pemasaran. Tapi tiga minggu kemudian langsung dipindah ke ruang Pak Bintang.”

Mentari terdiam.

“Sering lembur?”

Lina menunduk.

“Hampir setiap malam.”

“Berdua?”

“…iya.”

Ruangan mendadak sunyi.

Mentari menutup mata beberapa detik.

Bukan karena sedih.

Melainkan karena semua kepingan mulai tersusun.

Sore harinya, saat sebagian besar karyawan sudah pulang, Mentari memutuskan turun ke ruang arsip lama.

Ia ingin memastikan satu hal.

Di ruang server terdapat rekaman CCTV yang disimpan selama satu tahun.

Teknisi lama yang mengenalnya langsung membantu membuka akses.

“Bu mau lihat tanggal berapa?”

“Tiga minggu yang lalu. Hari Jumat.”

Video mulai diputar.

Mentari mempercepat rekaman.

Pukul delapan malam.

Sebagian besar lampu kantor sudah mati.

Pukul sembilan.

Masih ada dua orang.

Bintang.

Dan Bulan.

Mereka keluar dari ruang kerja bersama.

Bintang melepas jasnya lalu menyampirkannya ke bahu Bulan.

Mentari masih berusaha berpikir positif.

Mungkin hanya perhatian kepada bawahan.

Namun beberapa detik kemudian, Bulan terpeleset.

Bintang refleks memeluk pinggangnya.

Mereka saling menatap.

Lalu…

Bulan mengusap pipi Bintang dengan sangat lembut.

Tidak ada ciuman.

Tidak ada pelukan mesra.

Tetapi cara mereka saling memandang sudah cukup menjelaskan bahwa hubungan itu tidak lagi sekadar atasan dan bawahan.

Mentari menghentikan video.

Tangannya dingin.

Akhirnya…

Ia memiliki bukti.

Namun anehnya, air matanya tidak keluar.

Yang muncul justru ketenangan.

Terlalu tenang.

Malam itu ia pulang lebih lambat dari biasanya.

Bintang sudah menunggu di ruang makan.

“Wah, capek ya?”

Mentari tersenyum.

“Iya.”

“Gimana hari pertama?”

“Menyenangkan.”

Bintang tampak lega.

“Syukurlah.”

Mentari duduk sambil mengambil segelas air.

“Oh ya Mas…”

“Iya?”

“Tadi aku lihat CCTV kantor.”

Tangan Bintang yang sedang memegang sendok langsung berhenti.

“Ada apa?”

“Nggak ada.”

Mentari tersenyum lebih lebar.

“Cuma nostalgia.”

Bintang memaksakan tawa.

“Iya… memang banyak kenangan di kantor.”

Mentari menatap lurus ke matanya.

“Benar.”

Malam itu untuk pertama kalinya Bintang terlihat gelisah.

Ia beberapa kali mengecek ponselnya.

Setiap kali layar menyala, ia buru-buru membalikkan ponsel.

Mentari pura-pura tidak melihat.

Sampai akhirnya, saat Bintang masuk kamar mandi, ponselnya bergetar lagi.

Nama pengirim tidak muncul.

Hanya sebuah ikon bulan sabit.

Pesannya singkat.

“Aku takut. Istrimu sudah mulai curiga.”

Mentari tidak menyentuh ponsel itu.

Ia hanya menghafalkan isi pesannya.

Ketika Bintang keluar dari kamar mandi, ia langsung mengambil ponselnya dan wajahnya berubah pucat.

“Kenapa, Mas?”

“Nggak… cuma urusan kantor.”

Mentari mengangguk pelan.

“Semoga cepat selesai.”

Malam itu, setelah Bintang tertidur, Mentari membuka laptop pribadinya.

Ia menghubungi seseorang.

“Ayah, besok pagi aku ingin semua laporan audit internal lima tahun terakhir dikirim ke emailku.”

Ayahnya tidak banyak bertanya.

“Hari ini juga Ayah sudah merasa ada yang tidak beres.”

“Ayah sudah tahu?”

“Beberapa investor mulai mengeluh. Ada pengeluaran perusahaan yang nilainya tidak masuk akal.”

Mentari terdiam.

“Ayah sengaja diam karena mengira kamu sudah tahu.”

“Ternyata belum.”

“Tar…”

“Iya.”

“Hati-hati. Ayah sudah meminta tim audit menyelidiki diam-diam.”

“Ada apa sebenarnya?”

Suara ayahnya terdengar berat.

“Kalau dugaan Ayah benar… perselingkuhan bukan masalah terbesar dalam rumah tanggamu.”

Mentari menggenggam ponselnya semakin erat.

“Lalu?”

Ayahnya menarik napas panjang sebelum menjawab.

“Masalah sebenarnya adalah seseorang sedang menguras perusahaan yang dulu kamu bangun.”

Mentari mematung.

Untuk pertama kalinya sejak semua kecurigaan itu muncul, ia sadar bahwa Bulan mungkin bukan tujuan akhir.

Bulan bisa saja hanya umpan.

Karena di balik hubungan terlarang itu, ada permainan yang jauh lebih besar.

Dan permainan itu bukan hanya akan menghancurkan rumah tangganya.

Tetapi juga bisa meruntuhkan seluruh perusahaan yang selama ini menjadi warisan keluarganya.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang