Bu Warni menatap putranya dengan senyum penuh arti sebelum benar-benar melangkah pergi. Arga hanya menggeleng pelan, sementara wajah Nia memerah karena malu.
“Ibu jangan bercanda begitu,” gumam Arga.
“Bercanda atau tidak, Ibu tahu cara melihat hati orang,” sahut Bu Warni sambil terkekeh. “Sudah, temani Mbak Nia. Jangan pulang sebelum dia tenang.”
Tak lama kemudian, Bu Warni benar-benar pergi setelah dijemput suaminya.
Keheningan menyelimuti lorong ICU. Aroma antiseptik bercampur udara dingin membuat suasana semakin menyesakkan.
Nia menggenggam kantong berisi roti dan air mineral yang diberikan Arga.

“Terima kasih banyak, Pak. Tadi saya memang belum sempat makan.”
“Kalau Mbak sakit juga, nanti siapa yang menjaga Ibu?” jawab Arga lembut.
Nia mengangguk. Air matanya kembali menggenang.
“Saya benar-benar hampir menyerah tadi.”
“Jangan pernah bilang begitu.”
“Kalau bukan karena orang baik yang melunasi biaya operasi… saya bahkan sudah siap menjual ginjal saya.”
Arga hanya tersenyum tipis.
“Masih banyak orang baik di dunia.”
Nia menghela napas panjang.
“Semoga Allah membalas semua kebaikannya.”
Kalimat itu menusuk dada Arga. Ia hanya mengangguk tanpa mengatakan apa pun.
Tak lama kemudian, dokter keluar dari ruang operasi.
“Mbak Ghania?”
Nia langsung berdiri.
“Operasi berjalan lancar. Kondisi ibu Anda masih harus dipantau selama dua puluh empat jam ke depan, tetapi sejauh ini responsnya sangat baik.”
Nia menutup wajahnya sambil menangis.
“Alhamdulillah… Alhamdulillah…”
Ia hampir terjatuh karena lututnya lemas. Arga sigap menopangnya.
“Hati-hati.”
“Maaf… saya benar-benar lega.”
“Menangislah kalau memang ingin menangis.”
Untuk pertama kalinya sejak ayahnya meninggal beberapa tahun lalu, Nia merasa ada seseorang yang benar-benar membuatnya merasa aman.
Namun ia sama sekali tidak tahu siapa pria yang berdiri di sampingnya.
Malam semakin larut.
Arga mengantar Nia membeli makanan di kantin rumah sakit.
“Mbak harus makan.”
“Pak Arga juga.”
“Saya sudah.”
“Mbohong.”
Arga tertawa kecil.
“Apa kelihatan?”
“Kelihatan.”
Akhirnya mereka makan bersama di sudut kantin yang hampir kosong.
Nia baru menyadari kalau Arga sangat berbeda dengan kebanyakan pelanggan kaya yang pernah ditemuinya.
Ia tidak pernah membahas mobil mewah.
Tidak pernah memamerkan uang.
Bahkan lebih banyak bertanya tentang kondisi ibunya.
“Pak Arga kerja apa?”
“Saya membantu usaha keluarga.”
“Usaha apa?”
“Perkebunan.”
“Perkebunan teh?”
“Iya.”
“Pasti capek ya.”
“Lumayan.”
Arga sengaja menyembunyikan fakta bahwa perkebunan yang dimaksud adalah salah satu perusahaan teh terbesar di Jawa Barat.
Sementara itu, di dealer mobil, suasana sedang panas.
Pagi harinya, seluruh karyawan dipanggil ke ruang rapat.
Pemilik dealer datang sendiri.
Semua orang heran karena beliau hampir tidak pernah muncul.
Rian duduk paling depan dengan percaya diri.
Ia yakin akan mendapat pujian karena berhasil melayani banyak pelanggan.
Namun wajah pemilik dealer justru sangat dingin.
“Siapa yang kemarin melayani pembeli Rolls-Royce dan Range Rover?”
Rian langsung berdiri.
“Saya, Pak.”
Pemilik dealer menatapnya beberapa detik.
“Bukan.”
Rian bingung.
“Pak?”
“Saya tanya sekali lagi. Siapa yang melayani?”
Rian mulai gugup.
“Ya… saya, Pak.”
“Bohong.”
Ruangan langsung sunyi.
Pemilik dealer melemparkan sebuah rekaman CCTV ke layar besar.
Terlihat jelas bagaimana Rian mengusir Arga karena mengira pria itu hanya pengemis.
Kemudian terlihat Nia datang membawa minuman, mempersilakan Arga duduk, dan melayaninya dengan sopan.
Semua karyawan langsung pucat.
“Pelanggan itu menghubungi saya semalam.”
Suara pemilik dealer terdengar berat.
“Beliau mengatakan hanya ada satu orang yang memperlakukannya sebagai manusia.”
Tatapan semua orang langsung mengarah kepada kursi Nia yang kosong.
“Beliau meminta saya memberikan posisi terbaik kepada Mbak Ghania.”
Rian mulai berkeringat.
“Tapi… Pak…”
“Diam.”
Pemilik dealer menggebrak meja.
“Tahukah kalian siapa pelanggan itu?”
Semua menggeleng.
“Beliau adalah Arga Prasetya.”
Nama itu membuat beberapa manajer langsung membelalak.
“Direktur utama Prasetya Agro Group.”
Ruangan mendadak hening total.
“Perusahaan keluarganya memasok teh premium ke lebih dari dua puluh negara.”
Suara napas para karyawan terdengar bersamaan.
Rian hampir kehilangan keseimbangan.
“Beliau memang sengaja berpakaian sederhana ketika survei sebelum membeli kendaraan operasional perusahaan.”
Pemilik dealer menatap tajam seluruh ruangan.
“Dan kalian gagal menghormati pelanggan hanya karena penampilannya.”
Rian buru-buru berdiri.
“Pak… saya bisa jelaskan…”
“Tidak perlu.”
“Kami hanya salah paham.”
“Kamu menghina pelanggan.”
“Tapi…”
“Mulai hari ini kamu diberhentikan.”
“Pak!”
“Security.”
Dua petugas keamanan langsung masuk.
Rian memohon sambil menangis.
“Pak… saya punya anak… saya salah…”
Pemilik dealer tidak bergeming.
“Kesalahanmu bukan karena tidak mengenali orang kaya.”
Beliau berhenti sejenak.
“Kesalahanmu adalah merendahkan orang yang kamu anggap miskin.”
Kalimat itu membuat seluruh ruangan tertunduk.
Sementara itu, Nia sama sekali belum mengetahui semua kejadian tersebut.
Ia masih setia menjaga ibunya.
Menjelang siang, seorang pria tua datang ke rumah sakit.
Ia mengenakan batik sederhana.
“Permisi. Apakah ini keluarga Ibu Maryam?”
“Iya, Pak.”
“Saya Notaris Herman.”
Nia bingung.
“Notaris?”
“Saya datang karena ada amanat yang harus saya sampaikan.”
Nia semakin heran.
“Saya tidak mengerti.”
Notaris itu mengeluarkan sebuah map cokelat.
“Beberapa bulan lalu, almarhum ayah Anda datang menemui saya.”
Air mata Nia langsung menetes.
“Ayah?”
“Beliau menitipkan dokumen ini jika suatu hari sesuatu terjadi kepada keluarga.”
Tangan Nia bergetar ketika membuka map tersebut.
Di dalamnya terdapat sertifikat sebidang tanah di daerah Ciwidey.
“Ini…”
“Tanah itu belum pernah dijual.”
“Tapi kami hidup susah selama ini…”
“Ayah Anda melarang siapa pun menjualnya.”
“Kenapa?”
“Karena beliau percaya suatu hari akan datang orang yang benar-benar pantas mengelolanya.”
Nia tidak memahami maksud kalimat itu.
Saat itulah Arga yang baru kembali membeli obat menghentikan langkahnya.
Matanya langsung terpaku pada nama yang tertulis di sertifikat tersebut.
Tanah itu berada tepat di samping perkebunan utama keluarganya.
Bahkan selama bertahun-tahun perusahaan Arga berusaha membelinya.
Namun pemiliknya selalu menolak.
Arga tidak pernah menyangka pemilik tanah tersebut ternyata adalah keluarga Nia.
Notaris Herman melanjutkan.
“Masih ada satu surat.”
Nia membukanya perlahan.
Tulisan tangan ayahnya memenuhi lembaran kertas.
“Nia, kalau suatu hari kamu membaca surat ini, berarti Ayah sudah tidak ada. Ayah hanya ingin kamu percaya bahwa harga diri jauh lebih mahal daripada harta. Jangan pernah menjual tanah itu kepada orang yang hanya mengejar keuntungan. Berikan hanya kepada orang yang menghargai manusia lebih dahulu daripada uang.”
Nia menangis semakin keras.
Arga memejamkan mata.
Entah mengapa, dadanya terasa sesak.
Ia teringat bagaimana dirinya sendiri memilih menyembunyikan identitas demi melihat siapa yang benar-benar memperlakukan sesama manusia dengan tulus.
Ternyata ayah Nia memiliki prinsip yang sama.
Beberapa hari kemudian kondisi Bu Maryam jauh membaik.
Ia akhirnya sadar sepenuhnya.
Saat pertama kali membuka mata, hal pertama yang ia cari adalah putrinya.
“Nia…”
“Ibu…”
Keduanya berpelukan sambil menangis.
Bu Maryam kemudian menoleh kepada Arga.
“Ini… siapa?”
Nia tersenyum.
“Orang yang sejak hari pertama selalu membantu kita.”
Bu Maryam menggenggam tangan Arga.
“Terima kasih sudah menemani anak saya.”
Arga hanya menjawab pelan.
“Saya tidak melakukan apa-apa, Bu.”
Bu Maryam tersenyum seolah mengetahui sesuatu yang tidak diketahui putrinya.
“Kadang orang yang berkata begitu justru yang paling banyak berbuat.”
Seminggu kemudian, Nia kembali bekerja.
Seluruh karyawan terkejut ketika melihat namanya kini terpasang di pintu ruang supervisor penjualan.
Ia resmi dipromosikan.
Rian yang datang mengambil sisa barang-barangnya hanya bisa menundukkan kepala.
Saat berpapasan, Nia tidak membalas dengan kebencian.
“Semoga Mas dapat pekerjaan yang lebih baik.”
Rian terdiam.
Ia baru sadar bahwa orang yang pernah ia hina justru memiliki hati paling besar.
Di sisi lain, Arga berdiri di balkon kantornya memandang hamparan kebun teh yang menghijau.
Asistennya mendekat.
“Pak, apakah identitas Bapak masih akan disembunyikan?”
Arga tersenyum.
“Belum saatnya.”
“Padahal Mbak Ghania sudah berkali-kali mencari orang yang membayar operasi ibunya.”
“Biarkan saja.”
“Tapi bagaimana kalau nanti beliau tahu?”
Arga menatap langit sore.
“Kalau memang kami berjodoh dipertemukan, dia akan mengenal saya bukan karena kartu kredit hitam atau perusahaan ini.”
Ia tersenyum pelan.
“Melainkan karena hati yang sama-sama diajarkan untuk menghargai manusia.”
Tanpa mereka sadari, takdir mulai menyusun jalannya sendiri.
Tanah warisan ayah Nia, rahasia yang disimpan Arga, dan pertemuan sederhana di sebuah dealer mobil hanyalah awal dari kisah yang akan mengubah hidup mereka berdua untuk selamanya.
