Sales: “Maaf Mas, wajah di KTP beda banget sama Bapak…”

Rian masih tertawa terbahak-bahak, seolah baru saja memenangkan sebuah pertandingan besar.

Beberapa pelanggan yang sedang melihat-lihat mobil mulai menoleh. Suasana ruang serah terima yang tadinya tenang berubah menjadi canggung. Nia menggigit bibir bawahnya. Ia tidak suka melihat seseorang dipermalukan di depan banyak orang, tetapi keadaan memang membuatnya ikut ragu.

Arga menutup kembali ranselnya perlahan.

“Kalau memang Mbak Nia merasa transaksi ini harus dihentikan sementara, saya bisa mengerti,” ucapnya tenang.

“Nah, begitu dong! Akhirnya ngaku juga!” sela Rian sambil bertepuk tangan sinis.

Arga hanya menoleh sekilas.

“Saya tidak mengaku apa-apa. Saya hanya menghormati prosedur.”

Jawaban itu justru membuat Nia semakin bingung. Tidak ada nada panik. Tidak ada gelagat orang yang sedang berbohong. Yang ada justru ketenangan yang sulit dijelaskan.

Saat itulah ponsel Arga berdering.

Nama yang muncul di layar hanya satu kata.

Mandor.

“Permisi sebentar.”

Arga mengangkat telepon.

“Iya, Pak Hasan.”

Suara di seberang terdengar cukup keras hingga samar-samar terdengar oleh Nia yang berdiri tidak jauh.

“Pak, hujan mulai turun di blok utara. Truk ketiga terjebak lumpur. Pabrik minta keputusan sekarang.”

“Tahan dulu pengiriman dari blok lima. Pindahkan alat berat ke jalur timur. Jangan pakai jalan lama karena tanahnya labil. Saya datang sore ini.”

“Baik, Pak Arga.”

Telepon ditutup.

Rian langsung mencibir.

“Hebat juga aktingnya.”

Arga tidak menanggapi.

Nia mulai memperhatikan lebih saksama. Cara Arga memberi instruksi tadi terdengar sangat alami. Ia tidak membaca catatan, tidak berpikir lama, bahkan menyebut lokasi-lokasi yang sangat spesifik.

Namun sebelum ia sempat berkata apa-apa, Rian kembali menyerang.

“Kalau memang bos kebun teh, mana mobilnya? Mana asistennya? Mana sopirnya?”

Arga tersenyum tipis.

“Sedang dipakai mengangkut bibit.”

“Hah?”

“Saya lebih butuh kendaraan operasional di kebun daripada mengantar saya ke kota.”

Semua orang kembali saling berpandangan.

Jawaban itu terdengar masuk akal, tetapi tetap sulit dipercaya.

Tak lama kemudian, pintu showroom terbuka.

Seorang pria berusia sekitar lima puluh tahun mengenakan jas rapi masuk dengan langkah tergesa. Di belakangnya ada dua staf administrasi.

Semua sales langsung berdiri.

“Itu Pak Hendro…”

General Manager dealer.

Pak Hendro langsung mencari seseorang dengan pandangan matanya.

Begitu melihat Arga, wajahnya berubah lega.

“Pak Arga! Maaf sekali membuat Bapak menunggu.”

Seluruh ruangan mendadak sunyi.

Pak Hendro bahkan membungkukkan badan sedikit sebelum menjabat tangan Arga.

“Saya baru selesai rapat dengan kantor pusat. Saya kira Bapak datang satu jam lagi.”

Rian membeku.

Nia ikut terpaku.

Arga tersenyum ramah.

“Tidak apa-apa, Pak Hendro.”

Pak Hendro menoleh kepada seluruh karyawan.

“Kenapa unit Bapak belum diserahkan?”

Tidak ada yang menjawab.

Nia memberanikan diri maju.

“Maaf, Pak… kami hanya melakukan verifikasi identitas karena foto KTP berbeda dengan kondisi sekarang.”

Pak Hendro mengangguk pelan.

“Itu prosedur yang benar.”

Nia sedikit lega.

Namun kalimat berikutnya membuat seluruh ruangan semakin tegang.

“Tapi seharusnya kalian juga membaca data pelanggan secara lengkap.”

Pak Hendro mengambil tablet dari stafnya lalu membukanya.

“Nama pelanggan: Arga Dirgantara.”

“Status pelanggan: Corporate Priority.”

“Pemilik PT Dirgantara Agro Lestari.”

“Pemilik enam perkebunan teh.”

“Supplier ekspor ke tiga negara.”

“Dan…”

Pak Hendro berhenti sejenak.

“Beliau adalah salah satu investor yang ikut membangun dealer ini lima tahun lalu.”

Suasana langsung membeku.

Mulut Rian perlahan terbuka.

“Apa…”

Pak Hendro menatapnya tajam.

“Kamu sales yang menangani beliau?”

Rian menelan ludah.

“S-saya…”

“Atau justru kamu yang terus menghina beliau?”

Tidak ada jawaban.

Beberapa sales lain mulai menjauh dari Rian.

Arga menghela napas pelan.

“Pak Hendro, tidak usah dibesar-besarkan.”

“Tapi Pak…”

“Saya datang ke sini sebagai pelanggan biasa.”

Pak Hendro mengangguk hormat.

“Baik, Pak.”

Rian buru-buru mendekati Arga.

“Maaf, Pak… saya benar-benar tidak tahu…”

Arga menatapnya tenang.

“Memang kalau saya bukan orang kaya, saya pantas diperlakukan begitu?”

Kalimat sederhana itu membuat wajah Rian memucat.

Ia tidak mampu menjawab.

Arga melanjutkan.

“Sejak saya masuk showroom, saya dihina karena pakaian saya. Dituduh mencuri identitas. Disebut kurir. Disebut kacung.”

Suara Arga tetap tenang.

Justru ketenangan itu terasa jauh lebih menusuk.

“Saya tidak marah karena dihina.”

“Lalu karena apa, Pak?” tanya Pak Hendro pelan.

“Karena pelanggan lain yang mungkin benar-benar hanya seorang petani, sopir, atau buruh bisa saja menerima perlakuan yang sama setiap hari.”

Semua orang tertunduk.

Ucapan itu terasa seperti tamparan.

Nia perlahan mengangkat kepala.

“Pak Arga… saya minta maaf.”

Arga menoleh.

“Kenapa?”

“Saya ikut meragukan Bapak.”

Arga tersenyum kecil.

“Tidak.”

Nia terdiam.

“Yang Mbak lakukan tadi adalah memverifikasi identitas. Itu pekerjaan.”

“Lalu…”

“Bedanya, Mbak tetap menghormati saya.”

Nia merasa dadanya hangat.

Baru kali itu ia merasa ada pelanggan yang benar-benar memahami posisinya.

Pak Hendro segera memerintahkan seluruh proses serah terima dipercepat.

Kurang dari lima belas menit kemudian, semua dokumen selesai.

Arga menandatangani berkas dengan santai.

Tanda tangannya sama persis dengan yang ada di KTP.

Rian hanya bisa melihat dari kejauhan.

Ia sadar, semua tuduhannya runtuh dalam hitungan menit.

Namun kejutan belum selesai.

Saat Arga hendak menerima kunci mobil, ia malah mengembalikannya kepada Pak Hendro.

“Saya belum jadi membawa mobil ini hari ini.”

Semua orang kembali bingung.

“Kenapa, Pak?” tanya Pak Hendro.

“Saya ingin membatalkan pembelian.”

Pak Hendro terkejut.

“Apakah ada masalah pada unitnya?”

“Tidak.”

“Lalu?”

Arga tersenyum.

“Saya baru sadar sesuatu.”

Semua menunggu jawabannya.

“Saya menghabiskan uang miliaran untuk membangun kebun, pabrik, bahkan membantu membuka dealer ini.”

“Tapi saya belum pernah berinvestasi pada kualitas pelayanan.”

Ruangan kembali sunyi.

Arga melanjutkan.

“Saya ingin membeli bukan satu mobil.”

Semua terdiam.

“Saya ingin membeli dua puluh unit sekaligus untuk operasional perusahaan.”

Mata Pak Hendro membelalak.

“Dua… puluh?”

“Benar.”

Wajah seluruh staf langsung berubah cerah.

Tetapi Arga mengangkat satu jari.

“Dengan satu syarat.”

“Apa pun syaratnya, Pak,” jawab Pak Hendro cepat.

“Saya ingin Mbak Nia menjadi account manager perusahaan saya.”

Nia benar-benar terkejut.

“Saya?”

“Ya.”

“Kenapa saya?”

Arga tersenyum.

“Karena saat semua orang melihat pakaian saya, Mbak masih melihat saya sebagai manusia.”

Air mata Nia hampir jatuh.

Pak Hendro langsung mengangguk.

“Itu keputusan yang sangat layak.”

Sebulan kemudian, kerja sama antara dealer dan PT Dirgantara Agro Lestari resmi dimulai.

Dua puluh unit pertama dikirim ke perkebunan.

Disusul belasan unit lagi beberapa bulan kemudian.

Nia dipercaya menangani seluruh kebutuhan armada perusahaan. Kariernya melonjak pesat, bukan karena kedekatan dengan pemilik perusahaan, tetapi karena profesionalismenya selama bekerja.

Sementara itu, Rian menerima surat evaluasi.

Bukan karena gagal menjual mobil.

Melainkan karena terbukti berulang kali merendahkan pelanggan berdasarkan penampilan.

Enam bulan kemudian, kontraknya tidak diperpanjang.

Pada suatu sore, Arga kembali datang ke showroom.

Kali ini ia tetap mengenakan kemeja lusuh, sepatu bot penuh lumpur, dan jambang yang belum dicukur.

Seorang sales baru segera menghampirinya dengan senyum hangat.

“Selamat datang, Pak. Silakan duduk. Mau minum teh atau kopi?”

Arga tersenyum puas.

Ia tidak lagi perlu menunjukkan kartu nama, jabatan, ataupun saldo rekening.

Perubahan terbesar ternyata bukan pada dirinya.

Melainkan pada orang-orang yang akhirnya belajar bahwa harga diri seseorang tidak pernah bisa diukur dari pakaian yang dikenakannya, kendaraan yang ditumpanginya, ataupun wajahnya yang telah berubah dimakan kerasnya kehidupan. Kadang, orang yang tampak paling sederhana justru sedang membawa hasil kerja keras yang paling luar biasa.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang