Aku menyisir rambut di depan meja rias, kenapa jadi aku yang merasa was-was seperti ini harusnya aku santai saja dong.

Aku benar-benar tidak menyangka kalau orang yang setiap hari bersikap paling angkuh di lingkungan kami ternyata bekerja di bawah suamiku sendiri.

Sejak malam itu aku memutuskan untuk tetap diam. Bukan karena takut, tetapi karena aku ingin melihat sampai sejauh mana kesombongan Lidya dan Fian akan membawa mereka.

Keesokan paginya, seperti biasa aku menyapu halaman. Matahari masih hangat ketika sebuah mobil bak terbuka berhenti di depan rumah kontrakan mereka.

Beberapa barang elektronik baru diturunkan.

Kulkas dua pintu.

Televisi berukuran besar.

Mesin cuci terbaru.

Lidya langsung keluar rumah dengan wajah berbinar.

“Mas, taruh TV-nya pelan-pelan ya. Itu mahal!” katanya sengaja dikeraskan agar tetangga mendengar.

Yuk Sari yang sedang menyiram bunga hanya tersenyum tipis.

“Wah, belanja lagi ya?”

“Iya dong. Kalau rezeki lagi banyak ya harus dinikmati,” jawab Lidya sambil mengibaskan rambutnya.

Aku hanya melirik sekilas lalu kembali menyapu.

Melihat aku tidak bereaksi, wajah Lidya justru tampak kecewa.

Beberapa menit kemudian dia menghampiriku.

“Yuk Miska.”

“Iya?”

“Mas Gun kerja di mana sih?”

Aku pura-pura berpikir.

“Oh… kantor biasa.”

“Jabatannya?”

“Ya… kerja saja.”

Dia mengernyit.

“Kok dirahasiain?”

Aku tersenyum kecil.

“Bukan dirahasiakan. Memang tidak penting dibahas.”

Jawabanku membuat wajahnya langsung berubah.

Dia kembali masuk rumah dengan langkah kesal.

Sejak hari itu, hampir setiap pagi selalu ada saja yang dipamerkan.

Hari Senin tas baru.

Hari Selasa sepatu baru.

Hari Rabu parfum impor.

Hari Kamis jam tangan.

Hari Jumat makan steak.

Bahkan kalau membeli kopi sekalipun, Lidya sengaja memegang gelasnya sambil berdiri lama di depan rumah.

Ibu-ibu sebenarnya sudah hafal.

Mereka hanya saling pandang lalu menahan tawa.

Semakin tidak ada yang memperhatikan, semakin keras usaha Lidya untuk mencari perhatian.

Sementara itu, Mas Gun semakin sering pulang dengan wajah lelah.

Suatu malam dia membuka kancing kemejanya sambil menghela napas panjang.

“Capek sekali hari ini.”

“Kenapa?”

“Fian.”

Aku langsung menoleh.

“Memangnya kenapa?”

“Dia membuat laporan asal-asalan. Sudah dua kali aku suruh revisi.”

“Terus?”

“Dia malah bilang kalau sistem kantor yang salah.”

Aku tertawa kecil.

“Orangnya memang begitu.”

Mas Gun mengangguk pelan.

“Aku sebenarnya ingin membimbing dia. Tapi setiap diberi masukan selalu merasa paling benar.”

Aku hanya menuangkan teh hangat ke cangkirnya.

Dalam hati aku mulai merasa tidak enak.

Kalau sifat Fian seperti itu terus, cepat atau lambat pasti akan menjadi masalah besar.

Beberapa minggu berlalu.

Suasana kontrakan mulai berubah.

Suatu sore terdengar suara pertengkaran dari rumah sebelah.

“Kamu beli lagi?”

“Itu buat investasi!”

“Investasi apanya? Kartu kredit kita sudah penuh!”

Aku spontan berhenti menyiram tanaman.

Suara mereka semakin keras.

“Kamu bilang bonus kantor besar!”

“Itu bonus sekali saja!”

“Lalu cicilan mobil?”

“Aku pikir bisa ditutup bulan depan!”

Aku saling pandang dengan Yuk Sari yang juga mendengar semuanya.

Tidak ada yang berani mendekat.

Malam itu rumah mereka gelap lebih cepat dari biasanya.

Esok paginya Lidya keluar tanpa mengenakan gelang emas yang biasanya memenuhi kedua tangannya.

Kalung panjangnya juga hilang.

Hanya cincin kawin yang masih tersisa.

Yuk Kris berbisik pelan.

“Emasnya ke mana?”

Aku mengangkat bahu.

“Tidak tahu.”

Namun aku sebenarnya mulai mengerti.

Tidak semua yang berkilau berarti benar-benar dimiliki.

Beberapa hari kemudian Mas Gun pulang lebih awal.

“Ada rapat besar besok.”

“Rapat apa?”

“Direktur pusat datang.”

Aku mengangguk.

“Semoga lancar.”

Mas Gun tersenyum.

“Aku malah yang memimpin presentasi.”

Aku ikut senang.

Selama bertahun-tahun bekerja, suamiku memang dikenal jujur dan teliti.

Aku percaya hasil kerja kerasnya akan dihargai.

Keesokan harinya, sekitar pukul tujuh pagi, Fian sudah berdiri di depan rumah memakai jas baru.

Lidya berkali-kali merapikan dasinya.

“Mas harus tampil keren. Siapa tahu direktur langsung angkat jadi manajer.”

Aku yang kebetulan sedang menyiram bunga hanya tersenyum dalam hati.

Mereka tidak tahu bahwa presentasi hari itu justru dipimpin oleh Mas Gun.

Sore harinya…

Sebuah mobil hitam berhenti di depan rumah kami.

Dua pria berpakaian rapi turun.

Mereka membawa beberapa map.

Aku sempat bingung.

Mas Gun turun dari mobil bersama mereka.

“Silakan masuk Pak.”

“Istri Bapak di rumah?”

“Iya.”

Aku segera membukakan pintu.

Salah satu pria itu tersenyum ramah.

“Selamat sore, Bu Miska.”

“Selamat sore.”

“Kami dari kantor ingin mengucapkan selamat.”

Aku menoleh ke arah Mas Gun.

“Selamat?”

Mas Gun tertawa kecil.

“Hari ini resmi.”

Pria itu melanjutkan.

“Mulai bulan depan Pak Gunawan dipercaya menjadi General Manager untuk wilayah ini.”

Aku terdiam beberapa detik.

Air mataku hampir jatuh.

Selama bertahun-tahun aku melihat sendiri perjuangan suamiku.

Berangkat paling pagi.

Pulang paling malam.

Tidak pernah mengambil hak orang lain.

Tidak pernah menjilat atasan.

Semua akhirnya terbayar.

Tanpa kami sadari, beberapa tetangga mulai berkumpul di depan rumah.

Lidya juga keluar.

Wajahnya perlahan berubah pucat ketika melihat kedua petinggi kantor itu menyalami suamiku dengan penuh hormat.

“Selamat ya Pak GM.”

Kalimat itu terdengar jelas.

Fian baru saja turun dari motornya.

Begitu melihat kejadian itu, wajahnya langsung kehilangan warna.

Dia menatap Mas Gun dengan mata membelalak.

“Pak…”

Mas Gun tetap tersenyum sopan.

“Silakan masuk dulu kalau ada yang ingin dibicarakan besok di kantor.”

Tidak ada nada menyindir.

Tidak ada kesombongan.

Justru sikap tenangnya membuat Fian semakin malu.

Malam itu seluruh kompleks kontrakan membicarakan kenaikan jabatan Mas Gun.

Namun yang paling mengejutkan terjadi keesokan harinya.

Pagi-pagi sekali terdengar suara ketukan di pintu rumah.

Saat kubuka…

Lidya berdiri di depan.

Matanya sembab.

Tanpa memakai perhiasan.

Tanpa riasan tebal.

“Aku boleh masuk?”

Aku mengangguk.

Dia duduk sambil menundukkan kepala cukup lama.

Lalu tiba-tiba menangis.

“Aku capek.”

Aku mengambilkan segelas air putih.

“Minum dulu.”

Setelah tangisnya reda, dia mulai bercerita.

Semua barang mewah yang selama ini dipamerkan ternyata dibeli dengan cicilan.

Sebagian lagi pinjaman.

Bahkan beberapa emas yang dipakainya hanyalah emas berlapis.

Rumah yang katanya sedang dibangun sebenarnya baru sebatas pondasi.

Fian memaksa hidup mewah agar dianggap sukses oleh orang lain.

Mereka terus mengejar gengsi.

Padahal tabungan hampir habis.

“Kami takut dianggap gagal,” katanya lirih.

Aku memegang tangannya.

“Gagal itu bukan karena hidup sederhana.”

Dia kembali menangis.

“Aku iri sama Mbak.”

“Iri?”

“Mbak tidak pernah pamer. Tapi ternyata semuanya jauh lebih baik.”

Aku tersenyum pelan.

“Bukan lebih baik.”

“Lalu?”

“Kami cuma belajar cukup.”

Dia menatapku.

“Mas Gun bahkan tidak pernah tahu berapa banyak perhiasan yang aku punya.”

“Kenapa?”

“Karena yang lebih penting buat dia adalah kami bisa tidur tanpa utang.”

Lidya menutup wajahnya.

Hari itu mungkin pertama kalinya dia benar-benar merasa malu.

Seminggu kemudian, kabar mengejutkan datang dari kantor.

Fian dipindahkan ke cabang lain setelah beberapa kali melakukan kesalahan administrasi.

Bukan karena dendam Mas Gun.

Justru Mas Gun yang sempat membelanya agar tidak diberhentikan.

“Aku hanya ingin dia belajar,” kata Mas Gun ketika aku bertanya.

Aku semakin kagum pada suamiku.

Orang yang benar-benar kuat ternyata bukan yang bisa menjatuhkan orang lain.

Melainkan yang tetap berlaku adil meski pernah diremehkan.

Sebelum pindah, Fian dan Lidya datang berpamitan.

Fian menundukkan kepala.

“Maafkan saya, Pak.”

Mas Gun tersenyum sambil menjabat tangannya.

“Jangan ulangi kesalahan yang sama.”

“Saya akan ingat.”

Lidya memelukku erat.

“Terima kasih sudah tidak pernah membalas semua sikapku.”

Aku hanya tersenyum.

“Kadang orang baru bisa belajar setelah lelah berpura-pura.”

Mobil pengangkut barang mereka perlahan meninggalkan kompleks.

Tidak banyak barang yang tersisa.

Televisi besar sudah dijual.

Mesin cuci baru ikut hilang.

Sebagian perabot ternyata sudah digadaikan.

Aku berdiri di teras memandang jalan yang kembali sepi.

Mas Gun datang membawa dua gelas teh hangat.

“Melamun?”

Aku menggeleng.

“Cuma berpikir.”

“Tentang apa?”

“Ternyata benar ya, Mas.”

“Benar apa?”

“Orang yang benar-benar kaya tidak sibuk membuktikan dirinya kaya.”

Mas Gun tersenyum sambil menggenggam tanganku.

“Karena yang paling mahal bukan rumah, mobil, atau emas.”

“Apa?”

“Rasa cukup.”

Aku memandang deretan rumah kontrakan yang kini kembali tenang.

Hari itu aku menyadari satu hal yang akan selalu kuingat sepanjang hidup.

Kesombongan memang bisa membuat seseorang terlihat tinggi untuk sesaat, tetapi hanya kerendahan hati yang mampu membuat seseorang benar-benar dihormati.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang