Mita memandangi dua garis merah di alat uji kehamilan itu tanpa mampu berkedip. Napasnya memburu. Jemarinya yang gemetar hampir membuat benda kecil itu terjatuh untuk kedua kalinya.
“Testpack siapa ini?” bisiknya lagi, kali ini lebih lirih.
Ia membalik alat itu berkali-kali, berharap menemukan jawaban yang tertulis di sana. Tidak ada apa pun selain merek dan tanggal kedaluwarsa. Yang membuat dadanya semakin sesak adalah tempat ia menemukannya. Benda itu keluar dari saku celana kerja Mas Angga.
Pikirannya langsung dipenuhi berbagai kemungkinan.

“Mungkin ini milik teman kantor yang tidak sengaja tertukar.”
“Tapi kenapa harus ada di saku celananya?”
“Atau…”
Ia menepis pikirannya sendiri. Air matanya hampir jatuh. Selama ini ia merasa menjadi perempuan yang tersakiti karena suaminya dingin dan tidak pernah memberinya perhatian. Namun sekarang, untuk pertama kalinya, ia merasakan ketakutan yang berbeda. Bagaimana jika selama ini Mas Angga memang menyimpan rahasia lain?
Mita buru-buru memasukkan testpack itu ke dalam kantong celemeknya ketika mendengar suara motor berhenti di depan rumah.
“Tukang galon, Bu!”
Ia mengembuskan napas lega. Setelah menerima galon, ia kembali menatap benda itu. Akhirnya ia menyimpannya di dalam laci dapur. Ia memutuskan menunggu malam. Ia ingin mendengar penjelasan langsung dari suaminya.
Sepanjang hari, pikirannya kacau.
Pesan dari Mas Satya kembali berdatangan.
“Aku kangen.”
“Kapan kita ketemu lagi?”
“Jangan lupa senyum ya.”
Biasanya setiap pesan itu mampu membuat bibirnya tersenyum. Kali ini tidak. Ia hanya membaca tanpa membalas.
Sore harinya, Santi datang mengembalikan kotak bekal milik Sifa.
“Mit, kamu baik-baik saja?” tanyanya.
Mita memaksakan senyum.
“Iya.”
“Kamu bohong. Mukamu pucat banget.”
Mita sempat ragu. Namun akhirnya ia mengajak Santi masuk ke dapur.
“Aku nemu ini.”
Santi membelalakkan mata saat melihat testpack itu.
“Ya Allah…”
“Menurutmu ini punya siapa?”
Santi menggeleng pelan.
“Aku nggak tahu. Tapi jangan buru-buru nuduh Angga.”
“Terus aku harus gimana?”
“Tanya baik-baik.”
Mita mengangguk, walau hatinya sama sekali tidak tenang.
Malam itu terasa jauh lebih sunyi daripada biasanya.
Sifa sudah tertidur lebih dulu.
Mas Angga baru pulang hampir pukul sembilan malam. Wajahnya tampak lelah. Ia duduk di ruang makan sambil melepas jam tangannya.
“Ada makan malam?” tanyanya singkat.
“Ada.”
Mita menghangatkan sayur tanpa mengatakan apa pun.
Mereka makan dalam diam.
Setelah piring terakhir dipindahkan ke wastafel, Mita akhirnya memberanikan diri.
“Mas.”
“Hm?”
“Aku nemu sesuatu.”
Mas Angga mengangkat wajah.
“Apa?”
Mita mengeluarkan testpack itu dari saku bajunya lalu meletakkannya di meja.
“Ini.”
Tatapan Mas Angga langsung berubah.
Ia tidak terlihat marah.
Tidak juga panik.
Hanya terdiam cukup lama.
“Dari mana kamu dapat ini?”
“Dari saku celana kerja Mas.”
Mas Angga memejamkan mata beberapa detik.
“Mita… sebelum kamu berpikir macam-macam, dengarkan penjelasanku.”
“Jadi memang benar ini milik perempuan lain?”
“Bukan.”
“Kalau bukan, kenapa ada di saku Mas?”
Mas Angga menarik napas panjang.
“Tadi siang aku sengaja mau cerita.”
“Cerita apa?”
“Beberapa hari lalu Rina dari kantor pingsan.”
“Rina?”
“Dia hamil. Tapi dia belum berani kasih tahu suaminya karena rumah tangganya sedang bermasalah. Dia beli testpack cadangan. Salah satunya tertinggal di ruang rapat. Aku yang memungutnya.”
“Kenapa Mas bawa pulang?”
“Aku mau balikin. Tapi lupa.”
Mita menatap suaminya lekat-lekat.
Penjelasan itu terdengar masuk akal.
Namun entah mengapa hatinya belum sepenuhnya percaya.
“Kalau cuma begitu, kenapa Mas kelihatan gugup?”
Mas Angga tersenyum tipis.
“Karena aku tahu kamu pasti salah paham.”
Mita tidak mampu berkata-kata.
Beberapa menit kemudian Mas Angga masuk ke kamar.
Mita masih berdiri di ruang makan, memikirkan semuanya.
Saat itulah ponselnya kembali berbunyi.
Mas Satya.
“Aku tunggu besok.”
Mita menatap layar itu lama.
Entah mengapa, untuk pertama kalinya, pesan itu terasa mengganggu.
Keesokan paginya, saat Mas Angga berangkat bekerja, Mita tanpa sengaja melihat map cokelat tertinggal di atas meja.
Ia hendak mengejar suaminya, tetapi mobil sudah pergi.
Karena penasaran, ia membuka map itu.
Di dalamnya terdapat beberapa lembar hasil pemeriksaan rumah sakit.
Namanya tercetak jelas.
ANGGA PRATAMA.
Diagnosis: gangguan ginjal kronis stadium awal.
Mata Mita membelalak.
Tangannya gemetar.
Di halaman berikutnya terdapat rincian biaya pengobatan yang tidak sedikit.
Lalu sebuah surat konsultasi psikolog.
Kalimat yang paling membuat dadanya sesak adalah catatan dokter.
“Pasien memilih tidak memberi tahu istrinya terlebih dahulu agar tidak menambah beban keluarga.”
Air mata Mita jatuh.
Selama ini ia mengira Mas Angga tidak mencintainya.
Ternyata lelaki itu sedang berjuang sendirian melawan penyakitnya.
Ia membuka lembar terakhir.
Di sana ada daftar pengeluaran.
Biaya sekolah Sifa.
Cicilan rumah.
Tabungan pendidikan.
Biaya obat.
Tidak ada satu pun pengeluaran untuk dirinya sendiri.
Mita terduduk di lantai.
Ingatannya berputar cepat.
Mas Angga sering menolak makan enak.
Sering pulang larut.
Sering tampak lelah.
Ia mengira suaminya tidak peduli.
Padahal mungkin lelaki itu sedang bekerja lembur demi biaya pengobatan dan masa depan mereka.
Hari itu Mita menangis sejadi-jadinya.
Bukan karena testpack.
Bukan karena kebohongannya hampir terbongkar.
Melainkan karena untuk pertama kalinya ia menyadari bahwa selama ini ia terlalu sibuk mencari perhatian dari orang lain hingga tidak pernah benar-benar melihat perjuangan suaminya sendiri.
Siang harinya, telepon dari Mas Satya kembali masuk.
“Aku sudah pesan kamar. Datang ya.”
Mita memandang nama itu lama.
Tanpa ragu, ia menekan tombol blokir.
Seketika nomor itu menghilang dari layar.
Dadanya terasa ringan sekaligus sesak.
Ia tahu satu keputusan tidak akan menghapus semua kesalahan yang telah ia lakukan.
Namun setidaknya ia bisa menghentikan semuanya mulai hari ini.
Malam itu, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun menikah, Mita duduk di samping Mas Angga sebelum lelaki itu tertidur.
“Mas…”
“Hm?”
“Aku boleh tanya sesuatu?”
“Apa?”
“Kalau aku pernah mengecewakan Mas… apa Mas masih bisa memaafkan aku?”
Mas Angga memandangnya cukup lama.
“Kamu kenapa?”
Air mata Mita kembali jatuh.
“Aku cuma sadar… mungkin selama ini aku terlalu banyak mengeluh dan terlalu sedikit memahami.”
Mas Angga mengusap pelan kepalanya.
“Rumah tangga itu bukan soal siapa yang paling benar, Mit. Tapi siapa yang masih mau pulang dan memperbaiki.”
Kalimat sederhana itu menghantam hati Mita jauh lebih keras daripada kemarahan apa pun.
Ia menangis dalam pelukan suaminya.
Tanpa berani mengungkapkan seluruh dosa yang selama ini ia sembunyikan.
Namun malam itu ia berjanji pada dirinya sendiri.
Tidak ada lagi kebohongan.
Tidak ada lagi kehidupan ganda.
Karena ia akhirnya mengerti, kehancuran sebuah keluarga tidak selalu dimulai dari kebencian. Sering kali semuanya berawal dari satu kebohongan kecil yang terus dibiarkan tumbuh, sampai menutupi cinta yang sebenarnya masih ada.
