Aku Hanya Punya $18 dan Tak Ada Seorang Pun yang Bisa Menjaga Putriku yang Berusia 8 Bulan, Jadi Aku Membawanya ke Tempat Kerja—Beberapa Jam Kemudian, Mantan Suamiku, Ibu Mertuaku, dan Manajerku Berusaha Merebutnya… Tapi Mereka Tak Pernah Menyangka Pemilik Restoran Itu Terbangun dengan Putriku Tertidur Nyenyak di Pelukannya

Selimut merah muda itu tergeletak kusut di lantai, tanpa Elodie di atasnya.

Untuk sesaat, Brielle tidak mampu bernapas. Suara piring beradu, dengung mesin pencuci, dan teriakan pesanan dari dapur seolah menghilang. Yang tersisa hanya detak jantungnya sendiri, keras dan kacau.

“Elodie?” panggilnya pelan.

Tak ada jawaban.

Ia memeriksa balik rak linen, kolong meja, bahkan keranjang cucian yang jelas terlalu sempit untuk tubuh seorang bayi. Tangannya mulai gemetar.

“Elodie!”

Kali ini suaranya memecah lorong servis restoran Harbor & Ash, restoran mewah di kawasan Menteng, Jakarta Pusat.

Beberapa karyawan menoleh, tetapi Rochelle Pierce, manajer restoran, justru berdiri dengan tangan terlipat di dada. Wajahnya tenang, nyaris puas.

“Jangan membuat keributan di depan tamu,” katanya dingin.

Brielle menatapnya. “Di mana anak saya?”

Rochelle mengangkat alis. “Kau berani bertanya seolah-olah ini kesalahan orang lain? Seorang ibu yang menyembunyikan bayinya di antara perlengkapan restoran tidak pantas menyebut dirinya bertanggung jawab.”

“Di mana Elodie?”

“Aku sudah menghubungi ayahnya.”

Wajah Brielle memucat.

“Tidak,” bisiknya.

Rochelle melanjutkan, cukup keras agar staf lain mendengar. “Darren dan ibunya sedang menuju ke sini. Mereka berhak tahu kau membawa bayi ke tempat kerja dan meninggalkannya sendirian.”

Brielle maju satu langkah. “Anda tidak berhak menelepon mereka.”

“Sebagai manajer, aku berhak melindungi reputasi restoran ini.”

“Sebagai manusia, Anda seharusnya memberi tahu saya di mana anak saya!”

Di ujung lorong, Brielle melihat pintu kayu gelap yang biasanya selalu terkunci kini terbuka sedikit. Pintu itu menuju ruang bawah tanah, tempat kantor pribadi pemilik restoran berada.

Tak ada karyawan yang boleh masuk tanpa izin.

Namun saat itu, aturan adalah hal terakhir yang dipikirkan Brielle.

Ia berlari menuruni tangga.

“Brielle, berhenti!” teriak Rochelle.

Brielle tidak menoleh.

Di bawah, cahaya lampu temaram menyusup dari celah pintu kantor. Dengan napas tersengal, Brielle mendorongnya.

Everett Calloway, pemilik restoran yang hampir tak pernah terlihat oleh staf, duduk di kursi kulit dekat jendela kecil. Jasnya tergantung di sandaran. Kemeja putihnya sedikit kusut.

Di dadanya, Elodie tertidur pulas dengan satu tangan mungil mencengkeram ujung kerahnya.

Brielle berhenti mendadak.

“Elodie…”

Everett membuka mata. Tatapannya tajam, tetapi suaranya rendah.

“Pelankan suara Anda. Dia baru saja tidur.”

Brielle bergegas mendekat. “Bagaimana dia bisa ada di sini?”

Everett memandang bayi itu, lalu ke pintu.

“Saya sedang beristirahat karena migrain. Sekitar dua puluh menit lalu, saya mendengar suara benda jatuh di lorong. Saat membuka pintu, saya melihat bayi ini merangkak di dekat tangga.”

Brielle merasa lututnya lemas.

“Elodie belum bisa merangkak sejauh itu.”

“Kalau begitu, seseorang membawanya ke sini.”

Rochelle muncul di ambang pintu bersama dua petugas keamanan. Napasnya berat, tetapi sikapnya tetap angkuh.

“Tuan Calloway, saya minta maaf atas kekacauan ini. Karyawan itu membawa anaknya diam-diam dan menyembunyikannya di ruang penyimpanan.”

Everett tidak langsung menjawab. Ia hanya membelai punggung Elodie perlahan.

“Siapa yang membuka pintu ruang bawah tanah?” tanyanya.

Rochelle terdiam sepersekian detik. “Mungkin pintunya tidak terkunci.”

“Pintu itu memakai kartu akses.”

“Saya tidak tahu, Pak.”

Everett menatapnya tajam. “Namun kartu akses Anda tercatat digunakan pukul lima lewat dua menit.”

Wajah Rochelle berubah.

Brielle menoleh cepat. “Anda membawa anak saya ke bawah?”

“Tentu tidak,” bantah Rochelle. “Saya hanya memeriksa kantor.”

“Tanpa izin saya?” tanya Everett.

Sebelum Rochelle menjawab, suara gaduh terdengar dari atas. Tak lama kemudian, Darren Cole turun bersama ibunya, Veronica.

Darren adalah mantan pasangan Brielle sekaligus ayah Elodie. Ia mengenakan kemeja mahal dan jam tangan berkilau, seolah datang ke pertemuan bisnis, bukan mencari anaknya.

Veronica langsung menunjuk Brielle.

“Aku sudah tahu ini akan terjadi,” katanya. “Sejak awal kau tidak mampu mengurus cucuku.”

Brielle merapatkan rahangnya. “Jangan mulai.”

Darren memandang Elodie di pelukan Everett. “Berikan anak saya.”

Everett tetap duduk.

“Anda siapa?”

“Saya ayahnya.”

“Bisa dibuktikan?”

Darren tampak tersinggung. “Tentu saja.”

“Kalau begitu, Anda juga pasti tahu bahwa tidak seorang pun boleh membawa bayi pergi tanpa persetujuan wali yang sah.”

Veronica mendengus. “Brielle bukan ibu yang layak. Dia meninggalkan bayi di gudang restoran.”

“Aku tidak meninggalkannya,” kata Brielle. “Aku memeriksanya setiap beberapa puluh menit. Aku tak punya pengasuh hari ini dan tak bisa kehilangan pekerjaan.”

“Jadi pekerjaan lebih penting daripada anakmu?” serang Darren.

Brielle menatapnya dengan mata berkaca-kaca. “Jangan bicara seolah-olah kau pernah membantuku.”

Darren menghela napas. “Aku memberimu uang.”

“Kau mengirim satu juta rupiah tiga bulan lalu. Harga susu Elodie saja lebih dari itu.”

“Itu karena kau mempersulitku bertemu dengannya.”

“Aku mempersulitmu? Kau selalu membatalkan kunjungan. Kau bahkan tidak datang saat Elodie dirawat karena demam tinggi.”

Veronica maju. “Cukup. Kami akan membawa Elodie malam ini.”

“Tidak,” kata Brielle.

“Kau tidak punya pilihan.”

Everett berdiri perlahan, masih menggendong Elodie. Bayi itu bergerak sedikit lalu kembali tenang.

“Di restoran saya,” katanya, “tidak ada siapa pun yang mengambil anak dari ibunya dengan ancaman.”

Rochelle menyela, “Pak, ini urusan keluarga mereka. Sebaiknya kita menyerahkan bayi itu kepada ayahnya agar restoran tidak terseret masalah.”

Everett menatap Rochelle. “Menarik.”

“Apa maksud Anda?”

“Sejak kapan Anda begitu peduli pada hak seorang ayah?”

Rochelle menelan ludah.

Everett berjalan ke meja, mengambil tablet, lalu menyentuh layar beberapa kali.

Rekaman kamera keamanan muncul.

Rochelle terlihat memasuki ruang linen pukul lima kurang lima menit. Ia menggendong Elodie yang baru terbangun, lalu berjalan menuju tangga bawah tanah. Di sana, ia meletakkan bayi itu di lorong, membuka pintu kantor Everett dengan kartu aksesnya, kemudian naik kembali.

Brielle menutup mulutnya.

Darren memalingkan wajah.

Veronica menatap Rochelle dengan marah. “Kau bilang semuanya akan terlihat seperti kelalaian!”

Ruangan mendadak hening.

Rochelle menoleh cepat. “Bu Veronica…”

Brielle menatap mereka bergantian. “Kalian merencanakan ini?”

Darren menatap ibunya. “Mama bilang hanya ingin mengumpulkan bukti bahwa Brielle tidak mampu mengurus Elodie.”

Veronica menjawab tanpa rasa bersalah. “Aku melakukan apa yang perlu dilakukan. Cucuku seharusnya tumbuh bersama keluarga yang stabil.”

“Keluarga stabil?” suara Brielle bergetar. “Kalian menaruh bayi delapan bulan sendirian di dekat tangga!”

“Ada kamera,” kata Rochelle cepat. “Dia tidak benar-benar dalam bahaya.”

Everett menatapnya dingin. “Anak itu bisa jatuh, tersedak, atau masuk ke ruangan mana pun. Anda menjadikannya alat untuk menghancurkan seorang ibu.”

Rochelle mulai panik. “Pak, saya bisa menjelaskan.”

“Jelaskan kepada polisi.”

Rochelle membeku.

Everett menekan tombol telepon internal dan meminta petugas keamanan menutup seluruh akses keluar. Salah satu staf telah menghubungi polisi setelah mendengar keributan.

Brielle masih tidak percaya. “Kenapa?” tanyanya kepada Darren. “Kenapa kau melakukan ini?”

Darren mengusap wajah. “Aku akan menikah bulan depan.”

Brielle menatapnya.

“Calon istriku ingin semuanya jelas,” lanjutnya. “Mama pikir kalau aku mendapatkan hak asuh Elodie, keluarga kami akan terlihat lebih… lengkap.”

Brielle tertawa kecil, tetapi suaranya pecah. “Jadi anakku hanya pelengkap citra keluargamu?”

“Jangan dipelintir.”

“Kau bahkan tidak tahu ukuran popoknya.”

Darren terdiam.

Brielle mengambil Elodie dari pelukan Everett. Begitu berpindah ke pelukan ibunya, Elodie terbangun, memandang wajah Brielle, lalu tersenyum seolah tidak pernah terjadi apa-apa.

Air mata Brielle akhirnya jatuh.

“Maafkan Mama,” bisiknya.

Everett memandang mereka beberapa saat. Ada sesuatu di wajahnya yang berubah, seolah pemandangan itu membuka luka lama.

Ketika polisi tiba, rekaman kamera diamankan. Rochelle dibawa untuk dimintai keterangan karena membahayakan anak dan menyalahgunakan akses perusahaan. Veronica dan Darren juga diminta datang ke kantor polisi sebagai bagian dari penyelidikan.

Sebelum pergi, Veronica masih sempat berkata, “Ini belum selesai. Kami akan mengajukan hak asuh.”

Brielle menatapnya tanpa gentar.

“Kali ini aku tidak akan takut.”

Setelah semua orang pergi, dapur telah sepi. Jam menunjukkan hampir pukul sebelas malam.

Brielle duduk di kursi lorong sambil memeluk Elodie. Seragamnya kusut. Kakinya sakit. Kepalanya berat karena ia belum makan sejak pagi.

Everett datang membawa semangkuk sup hangat dan sepotong roti.

“Makanlah.”

Brielle menggeleng. “Saya sudah dipecat, kan?”

“Menurut siapa?”

“Rochelle mengatakan…”

“Rochelle bukan lagi manajer restoran ini.”

Brielle terdiam.

Everett duduk di kursi seberangnya. “Anda memang melanggar aturan dengan membawa bayi ke tempat kerja tanpa izin.”

Brielle menunduk. “Saya tahu.”

“Namun aturan dibuat untuk menjaga keselamatan, bukan untuk menghukum orang yang sedang kehabisan pilihan.”

“Saya seharusnya memberi tahu seseorang.”

“Benar.”

“Saya takut kehilangan pekerjaan.”

Everett memandang Elodie yang memainkan kancing seragam ibunya. “Ketakutan sering membuat orang menyembunyikan masalah sampai masalah itu menjadi lebih besar.”

Brielle menerima mangkuk sup dengan tangan gemetar. “Terima kasih karena melindunginya.”

“Saya hanya kebetulan ada di sana.”

“Tidak semua orang akan menggendong bayi orang lain selama hampir satu jam.”

Everett tersenyum tipis. “Dia tidak memberi saya banyak pilihan. Begitu saya mengangkatnya, dia langsung tidur.”

Brielle ikut tersenyum, untuk pertama kalinya malam itu.

Beberapa detik kemudian Everett berkata, “Besok Anda tidak perlu masuk.”

Wajah Brielle kembali tegang.

“Bukan karena dipecat,” tambahnya. “Ambil cuti tiga hari dengan gaji penuh. Urus laporan polisi dan cari pengasuh.”

“Saya tidak mampu membayar pengasuh tetap.”

Everett mengangguk, seolah sudah menduga jawaban itu.

“Mulai bulan depan, Harbor & Ash akan menyediakan subsidi penitipan anak bagi karyawan. Saya juga punya ruang kosong di lantai dua yang bisa diubah menjadi ruang penitipan saat darurat.”

Brielle menatapnya tak percaya. “Anda melakukan semua itu karena kejadian hari ini?”

“Tidak sepenuhnya.”

Everett berdiri dan membuka laci mejanya. Ia mengeluarkan sebuah foto lama yang sudah pudar.

Dalam foto itu, seorang perempuan muda mengenakan seragam pelayan sambil menggendong bayi.

“Ibu saya,” katanya. “Dan bayi itu saya.”

Brielle memandang foto tersebut.

“Dulu dia bekerja di hotel kecil di Surabaya,” lanjut Everett. “Suatu hari pengasuhnya tidak datang. Dia membawa saya bekerja dan menyembunyikan saya di ruang laundry. Pemilik hotel menemukan kami.”

“Apa yang terjadi?”

“Dia memecat ibu saya saat itu juga.”

Brielle menahan napas.

“Kami kehilangan kamar kontrakan dua minggu kemudian. Ibu bekerja serabutan sampai jatuh sakit. Selama bertahun-tahun, saya selalu berpikir hidup kami mungkin berbeda jika malam itu seseorang bertanya kenapa dia membawa bayinya, bukan langsung menghakiminya.”

Everett mengambil kembali foto itu.

“Saya membangun restoran ini karena ibu saya mengajari saya bekerja keras. Namun tanpa sadar, saya menciptakan tempat yang sama kerasnya dengan hotel yang pernah menghancurkan hidupnya.”

Brielle menatapnya dengan mata basah.

“Jadi ketika Elodie tidur di pelukan saya,” lanjut Everett, “saya merasa seperti sedang memegang masa lalu yang diberi kesempatan kedua.”

Tiga bulan kemudian, pengadilan menolak permohonan hak asuh sementara yang diajukan Darren. Rekaman kamera, laporan polisi, serta catatan pembayaran tunjangan yang tidak teratur menjadi bukti bahwa upaya mereka bukan demi keselamatan Elodie, melainkan demi citra keluarga Darren.

Rochelle mendapat hukuman percobaan dan dilarang mendekati Brielle maupun Elodie. Veronica berhenti menghubungi mereka setelah pengacaranya memperingatkan bahwa tindakan berikutnya bisa memperburuk posisinya.

Harbor & Ash berubah.

Sebuah ruangan terang dibangun di lantai dua dengan tempat tidur bayi, mainan, meja ganti popok, serta pengasuh bersertifikat yang bertugas pada jam sibuk. Program itu tidak hanya membantu Brielle, tetapi juga tujuh karyawan lain yang selama ini diam-diam berjuang mengatur pekerjaan dan keluarga.

Brielle dipromosikan menjadi koordinator pelayanan setelah Everett mengetahui bahwa selama dua tahun ia selalu mendapat ulasan pelanggan terbaik.

Suatu malam, setahun setelah kejadian itu, restoran mengadakan perayaan kecil ulang tahun pertama ruang penitipan anak.

Elodie yang kini sudah bisa berjalan tertatih masuk ke ruang makan sambil membawa mainan kayu kesayangannya.

Begitu melihat Everett, ia langsung mengangkat kedua tangan.

Everett tertawa dan menggendongnya.

“Sepertinya dia masih ingat Anda,” kata Brielle.

Everett menggeleng. “Mungkin dia hanya ingat kursi saya nyaman untuk tidur.”

Elodie menyandarkan kepala di bahunya.

Brielle memandang mereka, lalu melihat papan kecil di dinding ruang penitipan.

Di sana tertulis satu kalimat sederhana.

Tak ada seorang pun seharusnya kehilangan masa depan hanya karena pada satu hari yang sulit, ia tidak memiliki pilihan yang mudah.

Brielle pernah mengira malam itu akan menjadi akhir dari pekerjaannya, rumahnya, dan haknya sebagai seorang ibu.

Ternyata pintu terlarang yang ia buka dalam kepanikan justru membawanya menuju kehidupan baru.

Dan seorang pria yang selama bertahun-tahun tak pernah bisa menyelamatkan ibunya sendiri akhirnya menemukan kesempatan untuk menyelamatkan ibu lain.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang