Aku tetap berdiri di balik pilar ketika Julian dan wanita itu berjalan semakin dekat.
Untuk sesaat, aku yakin mereka akan melihatku. Jarak kami bahkan tidak sampai tiga meter. Aku bisa mencium aroma parfum perempuan itu, manis dan tajam, bercampur dengan bau kopi dan udara dingin dari pendingin ruangan bandara.
Julian tertawa kecil sambil merapikan kerah mantelnya.
“Aku sudah bilang, tak ada yang perlu dikhawatirkan,” katanya. “Mara terlalu percaya padaku.”
Mara.
Namaku terdengar begitu ringan di mulutnya, seolah aku bukan istrinya selama tujuh tahun, melainkan sekadar orang bodoh yang kebetulan menghalangi rencana mereka.
Perempuan itu menggandeng lengannya.
“Setelah semua selesai, kita langsung ke Jakarta?”

“Ya. Pengacara di sana sudah menyiapkan semuanya.”
Mereka melewatiku tanpa menoleh.
Aku tidak bergerak sampai punggung mereka menghilang di antara kerumunan.
Baru setelah itu lututku terasa lemas.
Aku bersandar pada pilar, memejamkan mata, lalu memutar kembali rekaman di ponsel. Suara Julian terdengar jelas. Tidak ada musik yang menutupi percakapan. Tidak ada suara pengumuman yang memotong bagian penting.
Semuanya terekam.
Aku menyimpan salinannya ke penyimpanan awan, lalu mengirimkannya ke alamat surel lamaku yang tidak diketahui Julian.
Setelah itu, aku menghubungi satu-satunya orang yang pernah memintaku untuk tidak sepenuhnya percaya pada suamiku.
Namanya Arga.
Ia bukan teman dekat. Ia adalah pengacara yang dulu membantu ayahku mengurus pembelian rumah sebelum aku menikah. Setelah ayah meninggal, Arga tetap sesekali menghubungiku untuk memastikan dokumen warisan dan sertifikat rumah tersimpan dengan aman.
Julian tidak pernah menyukainya.
Katanya Arga terlalu ikut campur dalam urusan rumah tangga kami.
Kini aku mengerti alasannya.
Arga mengangkat telepon pada dering kedua.
“Mara?”
“Aku butuh bantuanmu.”
Suaraku terdengar jauh lebih tenang daripada perasaanku.
“Apa yang terjadi?”
“Aku baru saja mendengar suamiku merencanakan sesuatu. Tentang rekening, rumah, dan perceraian. Aku punya rekamannya.”
Hening beberapa detik.
“Jangan pulang dulu,” katanya tegas. “Jangan konfrontasi dia. Kirim rekamannya kepadaku sekarang.”
Aku menuruti perintahnya.
Lima menit kemudian, Arga menelepon kembali.
“Ini serius.”
“Aku tahu.”
“Dokumen apa yang pernah kau tandatangani?”
“Beberapa berkas perusahaan sekitar dua bulan lalu. Julian bilang itu persetujuan administratif.”
“Apakah kau masih punya salinannya?”
“Mungkin ada di ruang kerjanya.”
“Jangan cari sendiri malam ini. Kita bertemu di kantor saya. Sekarang.”
Aku meninggalkan bandara tanpa sempat melihat sahabatku berangkat. Aku hanya mengirimkan pesan singkat bahwa ada urusan keluarga mendadak. Kemudian aku memesan mobil menuju kantor Arga di pusat kota.
Di sepanjang perjalanan, ponselku bergetar.
Pesan dari Julian.
Aku akan pulang terlambat. Ada rapat dengan investor.
Aku menatap layar cukup lama.
Lalu membalas seperti biasa.
Baik. Jangan lupa makan.
Ia mengirimkan emoji hati.
Aku hampir tertawa.
Kantor Arga berada di lantai dua sebuah bangunan tua yang telah direnovasi menjadi ruang kerja modern. Saat aku tiba, ia sudah menungguku dengan dua cangkir teh hangat dan wajah serius.
“Ceritakan semuanya dari awal.”
Aku menceritakan apa yang kulihat dan kudengar. Tentang perempuan berambut cokelat. Tentang koper kulit. Tentang dokumen yang kutandatangani.
Arga mendengarkan tanpa menyela.
Setelah selesai, ia membuka laptop dan masuk ke sebuah portal hukum.
“Aku perlu memeriksa status rumahmu dan perubahan kepemilikan aset.”
Jari-jarinya bergerak cepat di atas papan ketik.
Beberapa menit kemudian, wajahnya mengeras.
“Ada pengajuan pengalihan hak atas rumahmu.”
Darahku terasa berhenti mengalir.
“Kepada siapa?”
“Perusahaan bernama Aurora Capital Nusantara.”
Aku mengernyit.
“Aku tidak pernah mendengar nama itu.”
Arga memutar layar laptop ke arahku.
Nama direktur perusahaan itu membuat dadaku sesak.
Selena Wijaya.
Aku mengenal nama itu.
Ia adalah kepala keuangan di perusahaan Julian. Wanita yang selalu disebutnya sebagai rekan kerja yang sangat kompeten. Wanita yang sering menelepon larut malam. Wanita yang beberapa kali ikut makan malam bersama kami dan tersenyum manis sambil memujiku sebagai istri yang sangat mendukung suami.
Wanita yang baru saja dicium Julian di bandara.
“Pengalihan ini belum final,” kata Arga. “Masih ada masa verifikasi. Tapi ada tanda tangan digital milikmu.”
“Aku tidak pernah mengajukannya.”
“Mungkin tanda tangan itu berasal dari dokumen yang kau tandatangani.”
Aku menggenggam cangkir teh begitu kuat hingga jemariku memutih.
“Bisakah kita menghentikannya?”
“Bisa. Tapi kita harus bergerak hati-hati. Kalau Julian tahu kau sudah sadar, dia mungkin mempercepat langkahnya atau menghilangkan bukti.”
Aku mengangguk.
“Lalu apa yang harus kulakukan?”
“Pulang. Bersikap normal. Cari tahu apa yang dia rencanakan tanpa membuatnya curiga. Sementara itu aku akan mengajukan pembekuan sementara dan melaporkan indikasi pemalsuan dokumen.”
Aku menatapnya.
“Kalau aku pulang, berarti aku harus tidur di samping orang yang mencoba menghancurkan hidupku.”
Arga menarik napas pelan.
“Aku tahu.”
“Tidak, kau tidak tahu.”
Suaraku mulai pecah.
“Tujuh tahun, Ga. Aku membangun hidup bersamanya selama tujuh tahun. Aku menjual sebagian saham warisan ayahku untuk membantu bisnisnya. Aku percaya ketika dia bilang semua kerja keras itu demi masa depan kami.”
Arga tidak mencoba menenangkanku dengan kata-kata kosong.
Ia hanya berkata, “Kalau kau ingin menyelamatkan apa yang tersisa, malam ini kau harus menjadi lebih kuat daripada rasa sakitmu.”
Aku pulang hampir pukul sebelas.
Lampu ruang tamu menyala. Julian duduk di sofa sambil menatap televisi, seolah tidak terjadi apa-apa. Koper kulitnya terletak di samping meja.
Ia tersenyum ketika melihatku.
“Kau dari mana?”
“Mengantar Nisa ke bandara, lalu mampir makan.”
Julian berdiri dan mencium keningku.
Sentuhannya membuat kulitku merinding.
“Harimu menyenangkan?”
“Biasa saja.”
Ia menatapku sejenak, seolah mencari sesuatu di wajahku.
Aku tersenyum.
“Bagaimana rapat investornya?”
“Lancar. Mungkin sebentar lagi kita akan mendapatkan pendanaan besar.”
“Kabar bagus.”
Aku melepas sepatu dan berjalan menuju dapur.
Dari belakang, Julian berkata, “Mara, besok pagi aku butuh tanda tanganmu lagi.”
Aku berhenti, tetapi tidak menoleh.
“Untuk apa?”
“Hanya pembaruan dokumen perusahaan.”
Aku mengambil segelas air.
“Taruh saja di meja. Nanti kubaca.”
Nada suaranya berubah sedikit.
“Tidak perlu dibaca terlalu detail. Isinya sama seperti sebelumnya.”
Aku menatapnya sambil tersenyum lembut.
“Kalau sama, berarti tidak masalah kalau kubaca.”
Untuk pertama kalinya, ada keraguan di matanya.
Namun hanya sesaat.
“Tentu,” katanya. “Baca saja.”
Malam itu, Julian tidur nyenyak.
Aku tidak.
Ketika napasnya sudah teratur, aku bangun perlahan dan menuju ruang kerjanya. Pintu tidak terkunci. Di atas meja ada map hitam dengan namaku tercetak di bagian depan.
Aku membuka lembar pertama.
Itu adalah surat persetujuan pengalihan saham milikku di perusahaan gabungan kami. Nilainya tidak kecil. Jika aku menandatanganinya, hampir seluruh aset bisnis yang terdaftar atas namaku akan berpindah ke perusahaan milik Selena.
Di lembar terakhir, terdapat klausul yang menyatakan bahwa aku telah menerima kompensasi tunai.
Padahal tidak ada kompensasi apa pun.
Aku memotret setiap halaman.
Kemudian aku membuka laci meja.
Di dalamnya ada dua paspor, uang tunai dalam jumlah besar, dan tiket penerbangan dari Jakarta menuju Singapura untuk tiga hari lagi.
Dua nama tercetak di sana.
Julian Pratama.
Selena Wijaya.
Aku juga menemukan salinan perjanjian perceraian yang telah disiapkan. Menurut dokumen itu, aku digambarkan sebagai istri yang tidak stabil secara emosional dan sering mengancam suami. Bahkan ada surat keterangan psikologis dengan namaku.
Palsu.
Aku kembali ke kamar sebelum Julian terbangun.
Pagi harinya, aku memasak sarapan seperti biasa.
Julian duduk di meja sambil memeriksa ponselnya.
“Kau sempat melihat dokumennya?”
“Sudah.”
Ia menatapku.
“Lalu?”
“Ada beberapa bagian yang tidak kupahami.”
“Bagian mana?”
“Hampir semuanya.”
Julian tertawa kecil.
“Kau selalu terlalu khawatir.”
Ia meraih tanganku.
“Percayalah padaku.”
Kalimat itu terdengar menjijikkan sekarang.
Aku menarik tangan secara halus dan berpura-pura mengambil kopi.
“Nanti sore kita bahas.”
Wajahnya mengeras sedikit.
“Dokumen itu harus ditandatangani hari ini.”
“Kenapa terburu-buru?”
“Investor menunggu.”
Aku mengangkat bahu.
“Kalau begitu suruh pengacaranya menjelaskan padaku.”
Julian menatapku cukup lama.
Kemudian ia tersenyum.
“Tentu.”
Namun setelah ia pergi, aku tahu ia mulai curiga.
Siang itu, Arga mengabariku bahwa proses pengalihan rumah berhasil dibekukan sementara. Ia juga menemukan transaksi mencurigakan dari rekening perusahaan menuju rekening luar negeri yang terkait dengan Selena.
Bukti mulai terkumpul.
Tapi masalah terbesar datang sore hari.
Saat aku sedang bekerja di rumah, dua polisi datang bersama seorang petugas bank.
Mereka mengatakan ada laporan bahwa aku mencoba melakukan penarikan ilegal dari rekening perusahaan.
Aku langsung tahu itu ulah Julian.
Ia sedang mencoba membuatku terlihat bersalah sebelum aku sempat menyerangnya.
Aku menelepon Arga.
Dalam waktu dua puluh menit, ia tiba dan menunjukkan bukti bahwa akses rekening itu dilakukan dari alamat IP kantor Julian. Polisi akhirnya pergi tanpa membawaku, tetapi mereka menyita beberapa dokumen untuk penyelidikan.
Malamnya, Julian pulang dengan wajah khawatir yang dibuat-buat.
“Aku dengar polisi datang.”
Aku menatapnya dari sofa.
“Cepat sekali kau mendengarnya.”
“Orang kantor memberi tahu.”
Ia duduk di sampingku.
“Mara, apa kau melakukan sesuatu pada rekening perusahaan?”
Aku menatap matanya.
Untuk sesaat, aku ingin mengatakan bahwa aku tahu semuanya.
Namun aku menahan diri.
“Aku seharusnya bertanya hal yang sama kepadamu.”
Julian diam.
Kemudian ia tertawa pelan.
“Kau sedang stres.”
Ia mengeluarkan ponsel.
“Aku sudah membuat janji dengan seorang dokter. Mungkin kau perlu istirahat.”
Aku memahami maksudnya.
Surat keterangan palsu itu bukan sekadar dokumen. Ia sedang membangun cerita bahwa aku tidak waras.
Aku berdiri.
“Aku lelah. Aku mau tidur.”
Keesokan harinya, Julian mengatakan bahwa kami harus menghadiri makan malam perusahaan di sebuah hotel di Jakarta. Ia ingin aku terlihat mendukungnya di depan investor.
Aku setuju.
Bukan karena aku ingin membantunya.
Karena Arga mengatakan acara itu adalah kesempatan terbaik untuk membuat Julian dan Selena mengungkapkan diri di depan banyak saksi.
Ballroom hotel penuh dengan pebisnis, pengacara, dan calon investor. Selena hadir dengan gaun hitam elegan. Ketika melihatku, ia tersenyum seolah kami sahabat.
“Mara, senang sekali melihatmu.”
Aku membalas senyumannya.
“Begitu juga aku.”
Julian berdiri di panggung dan berbicara tentang loyalitas, kepercayaan, dan masa depan perusahaan. Setiap kata terdengar seperti penghinaan.
Setelah pidatonya selesai, ia mengangkat gelas.
“Malam ini menandai awal babak baru bagi perusahaan kami.”
Saat itulah aku berdiri.
“Benar,” kataku cukup keras hingga semua orang menoleh. “Babak baru memang akan dimulai malam ini.”
Julian memucat.
Aku berjalan menuju panggung sambil membawa sebuah tablet.
“Mara, duduklah,” bisiknya.
Aku tidak berhenti.
Aku menyerahkan tablet itu kepada teknisi dan meminta layar besar menampilkan berkas yang telah kusiapkan.
Rekaman percakapan di bandara terdengar memenuhi ballroom.
Semuanya sudah siap.
Perempuan bodoh itu akan kehilangan semuanya.
Begitu transfer selesai, dia tidak punya uang dan tidak punya akses apa pun.
Wajah Selena berubah pucat.
Julian mencoba merebut mikrofon.
“Ini manipulasi!”
Lalu layar menampilkan dokumen pengalihan rumah, transaksi rekening luar negeri, tiket penerbangan, dan surat keterangan psikologis palsu.
Kerumunan mulai berbisik.
Dua petugas polisi masuk dari pintu belakang bersama penyidik keuangan.
Julian menatapku dengan penuh kebencian.
“Kau menjebakku.”
Aku berdiri tepat di depannya.
“Tidak. Aku hanya membiarkanmu menyelesaikan jebakanmu sendiri.”
Selena mencoba pergi, tetapi dua petugas menghentikannya.
Julian meraih lenganku.
“Kita bisa menyelesaikan ini. Kita masih suami istri.”
Aku melepaskan tangannya.
“Tidak lagi.”
Ia menatapku panik.
“Rumah itu setengah milikku.”
Aku tersenyum.
“Tidak pernah.”
Wajahnya membeku.
Aku menjelaskan bahwa sebelum menikah, ayahku telah memasukkan rumah itu ke dalam perwalian keluarga. Namaku memang tercantum sebagai penghuni dan pengelola, tetapi hak kepemilikan tidak pernah bisa dialihkan tanpa persetujuan wali hukum.
Wali hukum itu adalah Arga.
Semua dokumen yang Julian buat tidak hanya ilegal.
Semuanya juga tidak berlaku.
Namun kejutan terakhir belum selesai.
Arga melangkah maju dan menyerahkan sebuah map kepada polisi.
Di dalamnya ada bukti bahwa Selena sebenarnya bukan hanya selingkuhan Julian.
Ia adalah orang yang sejak awal mendanai perusahaan palsu yang digunakan untuk menampung aset curian. Dan uang itu bukan miliknya.
Uang itu berasal dari perusahaan lama ayah Selena sendiri, yang telah ia gelapkan selama bertahun-tahun.
Julian menoleh kepadanya.
“Kau bilang uang itu milikmu.”
Selena menatapnya dengan wajah kosong.
“Aku bilang kita akan kaya.”
“Kau memanfaatkanku?”
Selena tertawa getir.
“Jangan berpura-pura menjadi korban. Kau menikahi Mara juga karena uangnya.”
Untuk pertama kalinya, Julian terlihat benar-benar hancur.
Bukan karena kehilangan aku.
Karena ia sadar bahwa perempuan yang dia pilih untuk mengkhianatiku ternyata juga sedang mengkhianatinya.
Tiga bulan kemudian, Julian dan Selena resmi menjadi tersangka dalam kasus penipuan, pemalsuan dokumen, dan penggelapan dana. Perusahaan mereka bangkrut. Semua rekening dibekukan.
Aku tidak mendapatkan kembali seluruh uang yang telah kuinvestasikan.
Namun rumah ayahku tetap aman.
Pada suatu sore, aku duduk di teras sambil memandangi bekas goresan pada pagar kayu yang dulu dibuat ayah ketika sedang memperbaikinya. Selama bertahun-tahun, aku menganggap goresan itu sebagai cacat.
Kini aku melihatnya sebagai bukti bahwa sesuatu yang dibangun dengan cinta tidak mudah dirampas oleh orang yang datang dengan kebohongan.
Arga berdiri di sampingku dan menyerahkan secangkir teh.
“Menyesal tidak menghentikan mereka di bandara?”
Aku menggeleng.
“Kalau aku keluar saat itu, mereka akan berbohong.”
“Dan sekarang?”
Aku memandang rumah itu.
“Sekarang mereka tidak punya tempat untuk bersembunyi.”
Ponselku bergetar.
Sebuah pesan dari nomor tak dikenal masuk.
Itu Julian.
Aku tahu aku sudah salah. Beri aku kesempatan untuk menjelaskan.
Aku membaca pesan itu sekali.
Kemudian menghapusnya.
Bukan karena aku sudah tidak merasakan apa-apa.
Tetapi karena aku akhirnya memahami satu hal.
Pengkhianatan memang bisa menghancurkan kepercayaan.
Namun terkadang, saat seseorang berusaha mengambil segalanya dari hidup kita, mereka justru memaksa kita menemukan kembali sesuatu yang jauh lebih berharga.
Diri kita sendiri.
