Selama tiga tahun, sang pangeran mencari calon istri yang sempurna dan membuat setiap wanita muda melewati sebuah bingkai misterius. Namun ketika wanita yang selama ini menjadi bahan tertawaan semua orang melangkah masuk ke dalamnya, sesuatu terjadi yang sama sekali tidak pernah diduga siapa pun… 😧

Wanita muda itu berdiri tenang di dalam bingkai kayu yang selama tiga tahun menjadi misteri terbesar di kerajaan. Semua mata tertuju kepadanya. Beberapa orang masih menahan tawa, yakin bahwa dalam beberapa detik sang pangeran akan kembali mengucapkan kata yang sama seperti kepada ratusan peserta sebelumnya.

“Berikutnya.”

Namun satu detik berlalu.

Lima detik.

Sepuluh detik.

Sang pangeran tidak mengatakan apa pun.

Tatapannya justru berubah. Wajah yang selama bertahun-tahun selalu tampak datar kini memperlihatkan keterkejutan yang sulit disembunyikan.

Seluruh aula menjadi sunyi.

Bahkan sang raja ikut berdiri dari singgasananya.

“Apa yang kau lihat?” tanya raja perlahan.

Pangeran tidak langsung menjawab. Ia melangkah mendekati bingkai itu, mengamatinya dari berbagai sisi, lalu menatap wanita tersebut.

“Siapa namamu?”

Wanita itu membungkuk hormat.

“Nama saya Ayu Larasati, Yang Mulia.”

“Dari keluarga bangsawan mana?”

“Saya bukan bangsawan. Ayah saya seorang guru sekolah negeri, sedangkan ibu saya memiliki usaha katering kecil di Bandung.”

Bisik-bisik kembali memenuhi aula.

“Bukan bangsawan?”

“Bagaimana mungkin dia bisa lolos seleksi?”

“Tidak mungkin.”

Pangeran tetap memandang Ayu tanpa menghiraukan suara-suara itu.

“Aku ingin berbicara denganmu setelah seleksi selesai.”

Semua orang terdiam. Selama tiga tahun, tidak pernah sekalipun sang pangeran meminta seorang peserta tetap tinggal.

Hari itu juga, kabar tersebut menyebar ke seluruh negeri.

Orang-orang mulai bertanya-tanya tentang bingkai misterius itu.

Sebagian percaya bahwa bingkai tersebut adalah alat sihir.

Sebagian lagi mengatakan bahwa bingkai itu mampu memperlihatkan masa depan.

Tidak ada seorang pun yang mengetahui jawabannya.

Malam harinya, Ayu dipersilakan memasuki taman istana yang diterangi lampu-lampu gantung. Sang pangeran sudah menunggunya seorang diri.

“Aku ingin bertanya sesuatu.”

“Silakan, Yang Mulia.”

“Ketika semua orang menertawakanmu tadi, apa yang kau rasakan?”

Ayu tersenyum tipis.

“Tentu saja sakit.”

“Lalu mengapa kau tetap tersenyum?”

“Karena saya tidak datang ke sini untuk mendapatkan pengakuan mereka.”

“Kalau begitu, untuk apa?”

“Saya datang karena menerima undangan kerajaan. Saya hanya ingin menghormatinya. Kalau pun saya tidak dipilih, hidup saya akan tetap berjalan seperti biasa.”

Pangeran mengangguk pelan.

“Jawabanmu sama seperti yang kulihat.”

Ayu terlihat bingung.

“Apa maksud Yang Mulia?”

Pangeran memandang bingkai kayu yang kini terlihat dari kejauhan.

“Bingkai itu dibuat oleh seorang pengrajin tua yang juga ahli psikologi perilaku.”

Ayu mengernyit.

“Itu bukan benda ajaib?”

“Bukan.”

Pangeran tersenyum.

“Selama ini semua orang mengira aku sedang mencari wanita dengan bentuk tubuh tertentu. Padahal bukan itu tujuannya.”

“Lalu?”

“Bingkai itu sengaja dibuat sedikit lebih sempit dari ukuran rata-rata. Hampir semua peserta yang masuk langsung panik. Mereka menarik napas agar terlihat lebih kurus. Ada yang memaksakan tubuhnya hingga terluka. Ada yang menyalahkan pelayan karena menganggap bingkainya rusak. Ada pula yang menangis karena takut dianggap gemuk.”

Ayu mendengarkan dengan saksama.

“Tetapi kau berbeda.”

“Saya?”

“Kau hanya menarik napas sekali, lalu berdiri dengan tenang. Ketika sadar tubuhmu tidak muat sepenuhnya, kau tidak marah, tidak malu, tidak mencoba memaksakan diri. Kau hanya menerima keadaan dengan tenang.”

Ayu tersenyum kecil.

“Karena memang begitu kenyataannya.”

“Itulah yang selama ini kucari.”

Hari-hari berikutnya, sang pangeran mulai mengenal Ayu lebih dekat.

Ia sengaja menyamar sebagai pria biasa agar bisa melihat kehidupan Ayu tanpa protokol kerajaan.

Ia mendapati Ayu bangun sebelum matahari terbit untuk membantu ibunya memasak.

Setelah itu, Ayu mengajar anak-anak kurang mampu secara sukarela di sebuah rumah baca kecil.

Sore harinya, ia membantu ayahnya menyusun buku-buku perpustakaan sekolah.

Tidak ada kemewahan.

Tidak ada pelayan.

Tidak ada kehidupan istana.

Namun ada kebahagiaan sederhana yang membuat sang pangeran merasa damai.

Suatu hari mereka berjalan di sebuah pasar tradisional.

Seorang nenek tua tiba-tiba terjatuh karena membawa terlalu banyak barang.

Tanpa berpikir panjang, Ayu berlari menghampiri.

“Nenek tidak apa-apa?”

Ia membantu mengangkat belanjaan, mengantar sang nenek sampai ke rumahnya, bahkan memperbaiki sandal nenek yang putus.

Pangeran hanya memperhatikan dari kejauhan.

Tidak ada kamera.

Tidak ada orang penting yang melihat.

Ayu melakukan semuanya tanpa berharap dipuji.

Saat itulah sang pangeran semakin yakin.

Namun keputusan itu tidak disambut baik oleh semua orang.

Beberapa keluarga bangsawan mulai merasa terancam.

Mereka telah menghabiskan banyak uang selama bertahun-tahun demi mempersiapkan putri-putri mereka.

Kini semua harapan itu hancur karena seorang wanita biasa.

Seorang bangsawan bernama Surya diam-diam menyusun rencana.

Ia menyuap beberapa orang untuk menyebarkan fitnah.

Keesokan harinya, seluruh media kerajaan dipenuhi berita.

“Ayu menggunakan ilmu hitam.”

“Bingkai itu sudah diatur.”

“Pangeran telah dibohongi.”

Media sosial dipenuhi komentar kasar.

Foto-foto lama Ayu diedit agar tampak memalukan.

Keluarganya diteror.

Rumah kecil mereka dilempari batu pada malam hari.

Raja yang melihat situasi itu mulai ragu.

“Anakku, mungkin sebaiknya kau mempertimbangkan lagi keputusanmu.”

Namun pangeran menjawab dengan tenang.

“Ayah, selama tiga tahun aku menolak ratusan wanita karena aku tidak ingin salah memilih. Sekarang setelah akhirnya aku menemukan orang yang tepat, apakah aku harus menyerah hanya karena fitnah?”

Raja terdiam.

Beberapa hari kemudian, pangeran mengadakan sidang terbuka.

Seluruh pejabat kerajaan hadir.

Semua orang mengira Ayu akan membela diri.

Namun Ayu justru berkata pelan.

“Saya tidak ingin membalas kebencian dengan kebencian. Kalau memang saya dianggap tidak layak, saya akan pulang.”

Pangeran berdiri.

“Tidak.”

Ia lalu memerintahkan para pengawal membawa bingkai misterius ke tengah aula.

“Hari ini semua orang akan mengetahui rahasianya.”

Seorang profesor dari universitas terbaik di Indonesia dipanggil ke istana.

Beliau menjelaskan bahwa bingkai tersebut dirancang berdasarkan penelitian tentang respons manusia terhadap tekanan sosial.

Ukurannya memang sengaja dibuat agar tidak sempurna bagi hampir semua orang.

Yang diuji bukan tubuh seseorang, melainkan reaksinya ketika merasa dinilai.

Profesor itu kemudian memperlihatkan rekaman tersembunyi selama tiga tahun.

Semua peserta tampak bereaksi berbeda.

Ada yang menghina pelayan.

Ada yang menyalahkan penjahit.

Ada yang memaki karena merasa dipermalukan.

Ada yang menangis histeris.

Hanya Ayu yang tetap tenang sejak awal hingga akhir.

Seluruh aula terdiam.

Orang-orang yang sebelumnya menertawakannya mulai menundukkan kepala.

Namun kejutan sebenarnya belum berakhir.

Pangeran mengeluarkan sebuah map tua.

“Ini adalah surat terakhir ibuku sebelum beliau wafat.”

Semua orang terkejut.

Pangeran membacanya perlahan.

“Jangan pernah memilih pasangan berdasarkan wajah, harta, ataupun pujian orang lain. Pilihlah seseorang yang tetap menjadi dirinya sendiri ketika seluruh dunia mencoba membuatnya merasa tidak berharga.”

Suasana aula menjadi sangat sunyi.

Pangeran menatap Ayu.

“Selama tiga tahun aku menggunakan bingkai itu bukan untuk mencari wanita paling cantik. Aku menggunakannya untuk menemukan seseorang yang tidak kehilangan harga dirinya saat dihina.”

Ayu menahan air mata.

“Tetapi saya bukan wanita sempurna.”

Pangeran tersenyum.

“Aku juga bukan pria yang sempurna.”

Raja perlahan turun dari singgasananya.

Ia menghampiri Ayu lalu menggenggam kedua tangannya.

“Hari ini aku belajar bahwa seorang ratu tidak dilahirkan dari garis keturunan, melainkan dari karakter.”

Sebulan kemudian, pesta pernikahan kerajaan berlangsung sederhana dibandingkan tradisi sebelumnya.

Atas permintaan Ayu, sebagian besar anggaran pesta dialihkan menjadi beasiswa bagi ribuan anak dari keluarga kurang mampu.

Keputusan itu membuat banyak orang terkejut.

Media yang dulu mencemoohnya kini memuji kebijaksanaannya.

Namun Ayu hanya berkata singkat kepada para wartawan.

“Kalau pujian membuat kita lupa diri, bedanya kita dengan orang yang dulu menghina hanya tinggal arahnya saja.”

Beberapa tahun kemudian, kerajaan berkembang pesat.

Program pendidikan, kesehatan, dan pemberdayaan masyarakat menjadi prioritas utama.

Rakyat mulai menyebut Ayu sebagai Ratu Hati Rakyat.

Suatu sore, seorang gadis kecil bertubuh gemuk datang mengunjungi istana.

Dengan ragu ia bertanya kepada sang ratu.

“Yang Mulia… apakah saya bisa menjadi seseorang yang hebat walaupun banyak orang bilang saya tidak cantik?”

Ayu tersenyum hangat.

Ia mengajak gadis itu menuju gudang istana.

Di sana masih berdiri bingkai kayu yang dahulu mengubah hidupnya.

Ayu meletakkan tangannya di atas bingkai itu.

“Dulu aku mengira benda ini mengujiku. Ternyata bukan. Yang mengujiku adalah cara aku memandang diriku sendiri.”

Gadis kecil itu memandangnya penuh harap.

Ayu melanjutkan dengan suara lembut.

“Orang lain boleh melihat bentuk tubuhmu. Mereka boleh menilai wajahmu. Mereka bahkan boleh menertawakanmu. Tetapi jangan pernah biarkan mereka menentukan nilai dirimu. Karena harga diri tidak pernah diukur dari ukuran tubuh, melainkan dari keberanian untuk tetap menjadi diri sendiri.”

Di luar istana, matahari mulai tenggelam di balik langit Jakarta yang keemasan. Bingkai kayu itu tetap berdiri dalam diam, bukan lagi sebagai alat seleksi, melainkan sebagai pengingat bahwa manusia yang paling kuat bukanlah mereka yang selalu dipuji, melainkan mereka yang tetap berjalan tegak ketika seluruh dunia memilih untuk menertawakan mereka.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang