Suamiku memberiku sebuah syal ungu lavender yang selalu kupakai ke mana pun aku pergi. Suatu hari syal itu tertinggal di dalam bus.

Semua kebohongan yang selama ini kusangka sudah cukup besar, ternyata baru saja mulai memperlihatkan wajah aslinya.

Arman menatapku beberapa detik. Wajahnya tetap tenang, tetapi urat di pelipisnya berdenyut. Ponsel hitam yang tadi disembunyikannya kini tergenggam erat di belakang tubuh.

“Kamu dengar apa?” tanyanya.

Aku ingin berteriak. Ingin menamparnya. Ingin memaksanya menjelaskan siapa perempuan itu, siapa anak yang memanggilnya Papa, dan apa yang akan terjadi kepadaku pada hari Sabtu.

Namun suara gadis penjahit itu terngiang kembali.

Jangan tanya apa pun.

Aku memaksa bibirku membentuk senyum tipis.

“Dengar apa? Aku cuma mau pakai kamar mandi.”

Tatapan Arman menyusuri wajahku seolah sedang mencari celah dalam kebohonganku. Selama tujuh tahun menikah, baru kali itu aku sadar betapa dinginnya mata suamiku ketika dia tidak sedang berpura-pura mencintaiku.

Dia mengangkat ponsel hitam itu.

“Ponsel pelanggan. Tadi malam terbawa.”

Aku mengangguk, lalu berbalik menuju kamar.

Tanganku gemetar hebat ketika meraih gagang pintu. Aku hampir menjatuhkan diri begitu berhasil masuk. Namun sebelum menutup pintu, aku melihat Arman masih berdiri di lorong, mengamatiku.

Aku tahu satu hal dengan pasti.

Kalau dia menyadari aku telah mendengar percakapannya, aku mungkin tidak akan sempat bertemu hari Sabtu.

Pukul tujuh pagi, Arman berpamitan seperti biasa. Dia mencium keningku, bahkan sempat bertanya apakah aku ingin sarapan bersama akhir pekan nanti.

“Sabtu kamu jadi menunjukkan rumah di daerah Puncak itu, kan?” tanyanya sambil mengenakan jam tangan.

Aku menatap wajahnya.

Rumah yang dimaksud berada di kawasan sepi, jauh dari permukiman. Seorang calon pembeli menghubungiku dua hari sebelumnya melalui nomor baru dan bersikeras ingin melihat rumah itu pada Sabtu sore.

“Iya,” jawabku. “Katanya hanya sempat hari Sabtu.”

Arman tersenyum kecil.

“Hati-hati di jalan.”

Begitu mobilnya keluar dari halaman, aku mengunci pintu dan berlari ke kamar Alya.

Putriku yang berusia enam belas tahun sedang bersiap ke sekolah. Dia terkejut melihat wajahku.

“Bu, Ibu kenapa?”

Aku menutup pintu, lalu memegang kedua bahunya.

“Alya, dengarkan Ibu. Mulai sekarang, jangan percaya siapa pun yang datang mengatasnamakan Ibu. Jangan pulang sendirian. Setelah sekolah, langsung ke rumah Tante Mira.”

Wajahnya berubah pucat.

“Ada apa, Bu?”

Aku ingin melindunginya dari semua ini, tetapi ketakutan terbesar seorang ibu bukanlah membuat anaknya khawatir. Ketakutan terbesar seorang ibu adalah terlambat mengatakan kebenaran.

Aku menceritakan apa yang kudengar dari kamar mandi. Tidak semuanya, tetapi cukup untuk membuat Alya memahami bahayanya.

Matanya berkaca-kaca.

“Om Arman mau mencelakai Ibu?”

Aku tidak menjawab langsung.

“Kalau Sabtu nanti terjadi sesuatu pada Ibu, periksa syal ungu itu. Setelah itu hubungi polisi.”

Alya menggenggam tanganku.

“Kita lapor sekarang saja.”

“Belum ada bukti kuat. Dia bisa menyangkal semuanya.”

“Lalu Ibu mau menunggu sampai dia benar-benar melakukan sesuatu?”

Pertanyaan itu membuat dadaku sesak.

Aku memeluknya erat.

“Ibu tidak akan menunggu. Ibu akan mencari bukti.”

Setelah memastikan Alya pergi bersama sopir sekolah, aku membawa syal itu ke tempat yang disebut gadis muda tadi malam. Penjahit kecil tersebut berada di antara toko kelontong dan tempat fotokopi. Papan namanya sudah pudar, tetapi pintunya terbuka.

Gadis itu sedang menyusun gulungan kain.

Saat melihatku, dia tidak tampak terkejut.

“Ibu datang juga.”

“Siapa namamu?”

“Lila.”

Aku meletakkan syal di atas meja.

“Apa yang ada di dalamnya?”

Lila mengambil gunting kecil, lalu membuka jahitan di balik label. Dari sana dia mengeluarkan alat hitam sebesar kuku.

“Pelacak lokasi.”

Walaupun sudah menduganya, mendengar jawaban itu tetap membuat lututku lemas.

“Kenapa kamu tahu?”

Lila menarik kursi untukku.

“Karena saya yang menjahitkannya.”

Dia bercerita bahwa tiga hari sebelum ulang tahun pernikahanku, Arman datang membawa syal tersebut. Dia meminta alat pelacak dimasukkan ke bawah label dan membayar lima kali lipat dari harga biasa. Arman mengaku istrinya sering tersesat karena memiliki masalah ingatan.

“Ayah saya yang menerima pesanan itu,” kata Lila. “Tapi saya curiga karena alatnya bukan pelacak biasa. Alat ini bisa mengirim lokasi terus-menerus dan merekam suara dalam jarak dekat.”

“Kenapa kamu tidak langsung memperingatkanku?”

“Saya tidak tahu siapa Ibu. Sampai kemarin saya melihat foto Ibu.”

Lila mengambil ponselnya, lalu menunjukkan tangkapan layar sebuah percakapan. Di dalam grup pesan rahasia itu terdapat fotoku, alamat rumah yang akan kutunjukkan pada Sabtu, dan nomor polisi mobilku.

Salah satu pesan berbunyi, Pastikan dia membawa mobil sendiri. Setelah melewati tikungan kedua, buat seolah remnya gagal.

Napas terasa berhenti di tenggorokanku.

“Dari mana kamu mendapat ini?”

Wajah Lila mengeras.

“Adik saya bekerja di bengkel tempat mobil Ibu dibawa. Dia mendengar dua mekanik membicarakan seseorang yang membayar mereka untuk merusak selang rem. Dia memotret percakapan di ponsel salah satu mekanik.”

Aku teringat Arman yang bersikeras mobilku bermasalah dan harus segera dibawa ke bengkel. Aku tidak pernah merasakan gangguan pada rem. Sekarang semuanya masuk akal.

“Tapi kenapa kamu mau membantu saya?”

Lila menunduk. Untuk pertama kalinya, ketegaran di wajahnya retak.

“Dua tahun lalu, kakak perempuan saya meninggal dalam kecelakaan. Mobilnya kehilangan kendali di jalan pegunungan. Polisi menyebutnya kecelakaan biasa.”

Dia memperbesar foto profil salah satu anggota grup.

“Orang ini adalah suami kakak saya.”

Aku menatap gambar seorang pria bertubuh besar bernama Beni.

“Dia bekerja sama dengan suami Ibu. Kakak saya memiliki usaha konveksi dan asuransi jiwa cukup besar. Setelah dia meninggal, Beni mengambil semuanya. Enam bulan kemudian, dia menjadi rekan bisnis Pak Arman.”

Ruangan itu mendadak terasa sempit.

Suamiku bukan hanya berselingkuh.

Dia terlibat dalam kematian seseorang.

“Kenapa polisi tidak menangkap mereka?”

“Kami tidak punya bukti. Adik saya takut kehilangan pekerjaan. Ayah saya sakit. Kami hanya bisa menunggu sampai mereka membuat kesalahan.”

Lila menatapku lurus.

“Dan sekarang mereka membuat kesalahan itu.”

Kami pergi ke kantor polisi siang itu. Awalnya seorang petugas menganggap bukti kami belum cukup untuk membuktikan rencana pembunuhan. Namun setelah Lila menunjukkan percakapan, informasi bengkel, serta nama Beni yang pernah diselidiki dalam kasus kematian kakaknya, kami dibawa menemui seorang penyidik bernama Komisaris Damar.

Damar meminta kami tidak mengubah rencana Sabtu.

“Kami harus menangkap mereka saat melakukan tindakan,” katanya. “Kalau Ibu membatalkan pertemuan, mereka akan menghilangkan jejak.”

“Apa saya harus tetap pergi ke rumah itu?”

“Kami akan mengawasi dari jarak aman. Mobil Ibu akan diganti dengan kendaraan yang sudah diperiksa. Pelacak di syal tetap aktif supaya mereka yakin rencana berjalan.”

Aku menyetujui rencana itu, tetapi ada satu hal yang terus menggangguku.

Perempuan dan anak dalam ponsel Arman.

Sore hari, dengan bantuan nomor dari ponsel hitam yang sempat kulihat, polisi menemukan identitas perempuan tersebut. Namanya Rani. Dia tinggal di sebuah apartemen di Jakarta Selatan bersama putranya yang berusia lima tahun, Dimas.

Aku meminta bertemu dengannya.

Damar menolak pada awalnya, tetapi akhirnya mengizinkan dengan pengawasan petugas.

Rani membuka pintu dengan wajah bingung. Dia cantik, lebih muda dariku, dan tampak kelelahan. Begitu melihat cincin nikah di jariku, warna wajahnya menghilang.

“Kamu istrinya?” tanyanya.

“Aku istrinya selama tujuh tahun.”

Rani bersandar pada dinding.

“Tapi Arman bilang istrinya meninggal tiga tahun lalu.”

Aku hampir tertawa karena sakitnya terlalu besar untuk ditangisi.

Dimas keluar dari kamar sambil membawa mobil-mobilan.

“Papa mana, Ma?”

Rani menyuruhnya kembali masuk, lalu menutup pintu kamar.

Dia kemudian memperlihatkan percakapannya dengan Arman. Selama dua tahun terakhir, Arman berjanji akan menikahinya. Dia mengatakan sedang menunggu proses pencairan warisan milik istrinya yang sudah meninggal. Beberapa minggu sebelumnya, Arman mengabarkan bahwa mereka akan segera pindah ke rumah besar setelah Sabtu.

“Dia bilang transaksi bisnisnya selesai Sabtu malam,” ujar Rani.

“Bukan transaksi bisnis,” jawabku. “Dia berencana membunuhku.”

Rani menutup mulutnya. Air matanya mengalir.

“Aku nggak tahu. Demi Tuhan, aku nggak tahu.”

Aku percaya kepadanya. Bukan karena aku ingin, tetapi karena ketakutannya terlalu nyata untuk dipalsukan.

Rani kemudian memberikan bukti lain. Arman pernah memintanya membuka rekening baru atas nama Dimas. Dia mengatakan akan mentransfer uang dalam jumlah besar setelah Sabtu. Polisi menduga rekening itu akan digunakan untuk memindahkan uang hasil penjualan asetku sebelum Arman melarikan diri.

Malam Jumat, Arman pulang membawa bunga.

Dia memelukku dari belakang ketika aku sedang memasak.

“Besok setelah kamu selesai bekerja, kita makan malam di luar,” katanya.

Aku menahan tubuhku agar tidak menjauh.

“Boleh.”

“Aku ingin kita mulai memperbaiki semuanya.”

Kata-katanya terdengar begitu lembut hingga aku hampir meragukan kenyataan. Inilah laki-laki yang pernah menemaniku menjaga Alya ketika demam. Laki-laki yang menangis saat ayahku meninggal. Laki-laki yang dulu bekerja siang malam ketika usaha kami nyaris bangkrut.

Namun mungkin manusia tidak berubah dalam satu malam. Mereka hanya perlahan berhenti melawan bagian terburuk dalam dirinya.

Sabtu sore, aku mengenakan syal ungu itu.

Arman berdiri di ambang pintu, memperhatikanku dengan senyum puas.

“Cocok sekali.”

Aku menatapnya untuk terakhir kali sebagai suamiku.

“Terima kasih sudah memberikannya.”

Aku berangkat menggunakan mobil yang telah disiapkan polisi. Beberapa petugas menyamar dan mengikuti dari kejauhan. Di tikungan kedua menuju rumah kosong itu, sebuah mobil bak terbuka muncul dari belakang. Mobil itu menempel sangat dekat, lalu mencoba memaksaku keluar jalur.

Aku mengikuti arahan Damar melalui alat komunikasi kecil di telingaku. Aku memperlambat kendaraan.

Mobil bak itu menyalip, berhenti melintang, dan dua pria turun. Salah satunya Beni.

Mereka menghampiri mobilku sambil membawa batang besi, tetapi sebelum sempat membuka pintu, polisi keluar dari beberapa kendaraan yang bersembunyi di balik pepohonan.

“Polisi! Jangan bergerak!”

Beni mencoba melarikan diri ke arah hutan, tetapi berhasil ditangkap. Pria satunya menyerah sambil mengangkat tangan.

Di ponsel Beni ditemukan pesan terakhir dari Arman.

Pastikan tidak ada saksi. Ambil syalnya setelah selesai.

Polisi menangkap Arman di sebuah restoran tempat dia menunggu kabar kematianku sambil duduk bersama Rani. Perempuan itu sengaja datang mengikuti arahan penyidik dan merekam seluruh percakapan mereka.

Ketika Arman melihatku masuk bersama polisi, wajahnya kehilangan seluruh warna.

“Kamu seharusnya sudah…”

Dia berhenti sebelum menyelesaikan kalimatnya.

“Sudah apa?” tanyaku. “Sudah meninggal?”

Arman menatap Rani dengan marah.

“Kamu menjebakku.”

Rani menggeleng sambil menangis.

“Tidak. Kamu menjebak kami semua.”

Penyelidikan selama beberapa bulan membongkar lebih banyak kejahatan. Arman dan Beni tidak hanya merencanakan kematianku. Mereka juga terlibat dalam kecelakaan kakak Lila, manipulasi asuransi, pemalsuan dokumen, dan penggelapan uang dari beberapa usaha kecil.

Namun kejutan terbesar muncul ketika polisi memeriksa dokumen keuangan Arman.

Dia ternyata tidak membutuhkan uangku untuk hidup bersama Rani.

Usahanya telah bangkrut hampir setahun sebelumnya. Dia berutang kepada banyak orang dan menggunakan nama perusahaanku sebagai jaminan tanpa sepengetahuanku. Kalau aku meninggal, dia akan menerima asuransi, menjual rumah, lalu melarikan diri ke luar negeri.

Rani dan Dimas juga akan ditinggalkan.

Pada hari persidangan, Arman menatapku dari kursi terdakwa.

“Aku pernah benar-benar mencintaimu,” katanya saat diberi kesempatan berbicara.

Aku memandang laki-laki yang selama tujuh tahun tidur di sampingku.

“Mungkin,” jawabku. “Tapi cinta yang tidak disertai rasa hormat hanya menjadi alasan bagi seseorang untuk terus menyakiti.”

Dia dijatuhi hukuman panjang. Beni menerima hukuman lebih berat setelah terbukti terlibat dalam kematian istrinya sendiri.

Beberapa bulan kemudian, aku mengunjungi penjahit milik keluarga Lila. Ayahnya sedang memotong kain, sementara adiknya telah berhenti dari bengkel dan membantu mengurus usaha.

Aku membawa syal ungu itu dalam kantong plastik.

“Aku tidak ingin menyimpannya,” kataku.

Lila menerima syal tersebut, lalu bertanya, “Mau diapakan?”

“Ubah menjadi sesuatu yang lain.”

Seminggu kemudian, dia menyerahkan dua boneka kain kecil berbentuk kupu-kupu. Satu kuberikan kepada Alya. Satu lagi kusimpan di meja kerjaku.

Aku tidak ingin syal itu terus menjadi simbol pengkhianatan.

Aku ingin mengingat bahwa benda yang pernah dipakai untuk mengawasi dan menghancurkanku justru menjadi jalan yang menyelamatkan hidupku.

Setahun setelah kejadian itu, aku kembali ke halte tempat syal tersebut tertinggal. Kota masih sama. Bus datang dan pergi. Orang-orang berjalan terburu-buru membawa urusannya masing-masing.

Lila pernah bertanya apakah aku menyesal telah mempercayai Arman selama bertahun-tahun.

Aku menjawab tidak.

Kepercayaan bukanlah kesalahan.

Kesalahan ada pada orang yang memilih mengkhianatinya.

Hari itu Alya menggandeng tanganku saat kami menyeberang jalan. Di tasnya tergantung kupu-kupu kain berwarna ungu lavender.

“Bu,” katanya, “kalau syal itu nggak tertinggal di bus, apa yang akan terjadi?”

Aku menatap putriku, lalu tersenyum.

“Mungkin Ibu tetap menemukan kebenarannya.”

“Bagaimana?”

Aku meremas tangannya dengan lembut.

“Karena kebohongan bisa bersembunyi di tempat paling rapi, tapi selalu ada satu jahitan yang akhirnya terbuka.”

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang