Bau terasi itu menempel di rambutku jauh lebih lama daripada yang seharusnya. Bukan karena aku tidak tahu cara membersihkannya, melainkan karena yang menempel sebenarnya bukan cuma cairan asin itu, melainkan penghinaan yang dituangkan langsung ke kepalaku oleh lelaki yang sembilan tahun terakhir kupanggil suami.

Bau terasi itu tidak benar-benar hilang meski rambutku sudah dibilas berkali-kali. Aromanya masih terasa di ujung hidung, bercampur dengan rasa panas dari cabai yang mengenai kulit kepala dan leherku. Namun aku tahu, yang paling sulit dibersihkan bukanlah baunya.

Melainkan rasa dipermalukan oleh lelaki yang selama sembilan tahun kupanggil suami.

Ayah menatapku cukup lama. Rambutku basah, kebaya krem yang kupakai sejak pagi menempel di tubuh, dan kedua tanganku masih gemetar meski sudah kusembunyikan di balik punggung.

“Siapa yang melakukan ini?” tanya Ayah.

Suaranya tidak keras.

Justru karena terlalu tenang, Raka langsung kehilangan senyum.

“Yah, jangan dibesar-besarkan. Kami cuma sedang emosi.”

Ayah menoleh kepadanya.

“Saya tidak bertanya apakah kalian sedang emosi.”

Raka menelan ludah. Karin, perempuan hamil yang berdiri di sampingnya, mengusap perut sambil mendengus kecil. Wajahnya menunjukkan kejengkelan, seolah kedatangan keluargaku adalah gangguan yang tak sopan di rumahnya sendiri.

“Raka yang menyiramkannya,” jawabku.

Hanya itu.

Tidak ada jeritan. Tidak ada tangisan dramatis. Suaraku terdengar datar, seolah yang sedang kubicarakan bukan diriku, melainkan perempuan lain yang baru saja kusaksikan dihancurkan.

Kakak sulungku, Bagas, melangkah maju. Tangannya sudah mengepal sejak masuk, tetapi Ibu segera menarik lengannya.

“Jangan sentuh siapa pun,” kata Ibu.

Kalimat itu ditujukan kepada Bagas, tetapi matanya tetap tertuju kepada Raka.

“Kita tidak datang untuk membuat keributan. Kita datang untuk membawa Mira pulang.”

Karin tertawa pendek.

“Membawa dia pulang? Silakan. Memangnya ada yang menahan?”

Aku memandangnya. Perempuan itu mengenakan gaun longgar berwarna merah muda. Perutnya tampak besar. Wajahnya cantik, dirias rapi, seolah dia sedang menghadiri acara keluarga, bukan memasuki rumah perempuan lain dan merebut hidupnya.

Di pergelangan tangannya ada gelang emas yang kukenal.

Gelang itu milikku.

Hadiah dari Ibu pada ulang tahunku yang ketiga puluh.

Aku pernah mencarinya selama berhari-hari. Raka mengatakan mungkin aku lupa menyimpannya. Bahkan sempat menuduhku ceroboh dan terlalu sibuk mengurus toko kue sampai tidak becus menjaga barang sendiri.

Mataku berhenti di gelang itu agak lama.

Karin menyadarinya. Dia buru-buru menyilangkan tangan di depan perut.

“Cantik, ya?” katanya sambil tersenyum. “Mas Raka yang kasih.”

Ibu mendekatinya.

Bukan untuk menampar.

Ibu hanya memegang pergelangan tangannya, mengangkat sedikit, lalu memeriksa pengait gelang tersebut. Di bagian dalamnya terukir dua huruf kecil, M dan S. Mira dan Sulastri. Namaku dan nama Ibu.

“Gelang ini milik anak saya,” ujar Ibu.

Karin menarik tangannya kasar.

“Jangan pegang-pegang saya. Saya sedang hamil.”

“Kehamilan tidak membuat barang curian berubah menjadi hadiah,” sahut Bagas.

Raka buru-buru berdiri di depan Karin.

“Itu cuma gelang. Nanti saya ganti.”

Entah mengapa kalimat itulah yang membuat sesuatu dalam diriku patah.

Bukan saat dia menyiramkan sambal terasi ke kepalaku.

Bukan ketika dia menyuruhku meminta maaf kepada selingkuhannya karena dianggap membuat perempuan itu terkejut.

Melainkan ketika dia berkata bahwa gelang itu bisa diganti.

Selama sembilan tahun menikah, rupanya semua yang berasal dariku memang dianggap bisa diganti. Perhiasan, waktu, uang, martabat, bahkan tempatku di dalam rumah.

Aku berjalan ke kamar.

Raka mencoba menghalangi.

“Mau ke mana?”

“Mengambil barang-barangku.”

“Kita belum selesai bicara.”

Aku memandangnya tanpa berkedip.

“Aku sudah selesai.”

Bagas dan adikku, Ardi, mengikutiku masuk. Mereka membawa dua koper dari gudang. Tidak banyak barang yang kuambil. Beberapa pakaian, dokumen pribadi, kotak perhiasan kosong, obat-obatan Ibu yang sempat kutitipkan, serta satu kotak kayu peninggalan Nenek.

Ketika membuka lemari, aku menemukan bagian kosong yang cukup lebar. Pakaian Karin sudah tergantung di sana. Warnanya terang, penuh pita dan renda. Di rak bawah ada sandal rumah baru, perlengkapan bayi, dua kotak vitamin kehamilan, serta sebuah bingkai foto hasil pemeriksaan ultrasonografi.

Berarti Karin bukan baru datang hari itu.

Dia sudah tinggal di rumahku.

Mungkin ketika aku menjaga Ibu di rumah sakit selama tiga malam, perempuan itu tidur di tempat tidurku. Mungkin menggunakan handukku. Mungkin duduk di depan meja riasku sambil memakai gelang pemberian Ibu.

Aku melihat foto pernikahanku dengan Raka yang masih tergantung di dinding.

Aku mencabutnya dari bingkai.

Bagas mengira aku ingin membawa foto itu.

Aku merobek bagian yang menampilkan wajah Raka, menyisakan fotoku sendiri, lalu memasukkannya ke dalam koper.

“Yang ini masih bisa diselamatkan,” kataku.

Bagas tertawa kecil meski matanya merah.

Di ruang tamu, Paman Darto sedang menelepon seseorang. Belakangan aku tahu dia menghubungi ketua RT dan dua tetangga sebagai saksi. Bukan untuk mempermalukan Raka, melainkan karena rumah itu bukan hasil kerja kerasnya seperti yang selama ini dia ceritakan kepada semua orang.

Tanahnya dibeli Ayah sebelum aku menikah.

Bangunannya didirikan dari uang hasil penjualan sawah milik Ibu. Sertifikat dan akta hibah dibuat atas namaku. Raka hanya membayar sebagian renovasi dapur serta cicilan beberapa perabot.

Namun selama bertahun-tahun, dia selalu bicara seolah rumah itu dibangun sepenuhnya dari keringatnya.

“Apa-apaan ini?” Raka membentak ketika ketua RT datang. “Ini rumah saya.”

Ayah membuka map cokelat yang dibawa Paman Darto.

Sertifikat tanah.

Akta hibah.

Bukti transfer biaya pembangunan.

Semuanya diletakkan satu per satu di meja, tepat di samping mangkuk bekas sambal terasi.

“Rumah ini atas nama Mira,” kata Ayah. “Kami tidak pernah mengungkitnya karena menganggap kalian keluarga. Tetapi malam ini, menantu saya membawa perempuan lain tinggal di rumah anak saya, mengambil barang miliknya, lalu mempermalukannya.”

Raka mulai pucat.

Karin tidak lagi tersenyum.

“Kalau rumah ini milik Mbak Mira, kenapa Mas Raka bilang sudah dibeli atas nama dia?” tanyanya.

Tidak ada yang menjawab.

Raka meliriknya sekilas dengan tatapan campuran kesal dan takut. Untuk pertama kalinya, aku melihat retakan di antara mereka.

Ayah menarik napas.

“Saya beri waktu satu jam untuk mengemas barang kalian.”

“Tidak bisa begitu,” seru Raka. “Saya suaminya. Saya punya hak tinggal di sini.”

“Kau punya hak memperjuangkannya lewat jalur hukum,” jawab Paman Darto. “Malam ini Mira ikut keluarganya. Rumah ini dikosongkan sementara dan kuncinya diganti. Ketua RT sudah mendengar semuanya.”

Raka menunjukku.

“Ini semua rencanamu, ya? Kamu sengaja memanggil mereka untuk mengusir saya.”

Aku hampir tertawa.

Dia menyiramkan terasi ke kepalaku, lalu merasa menjadi korban karena aku memanggil keluargaku.

“Rencanaku tadi hanya pulang lebih cepat dari rumah sakit,” kataku. “Ternyata itu sudah cukup untuk menghancurkan semua kebohonganmu.”

Karin tiba-tiba berdiri.

“Aku tidak mau pergi. Aku hamil dan tidak punya tempat tinggal.”

Ibu menatapnya. Ada sedikit rasa iba di wajah Ibu, tetapi bukan kelembutan yang bisa dimanfaatkan.

“Kamu masih punya orang tua?”

Karin terdiam.

“Punya,” jawabnya pelan.

“Hubungi mereka.”

“Mereka tidak tahu aku bersama laki-laki beristri.”

“Sekarang mereka akan tahu.”

Air mata Karin mulai mengalir. Dia berbalik kepada Raka.

“Mas, kamu bilang Mira akan segera kamu ceraikan. Kamu bilang rumah ini milikmu. Kamu bilang tabunganmu cukup untuk membiayai aku dan bayi kita.”

Raka menarik lengannya.

“Kita bicarakan nanti.”

“Tabungan yang mana?”

“Karin, diam dulu.”

“Yang mana, Mas?”

Aku berhenti di dekat pintu. Selama ini seluruh penghasilan kami masuk ke rekening bersama. Aku mengelola toko kue dari rumah, sedangkan Raka bekerja sebagai kepala pemasaran di perusahaan bahan bangunan.

Setidaknya, itulah yang kuketahui.

“Rekening bersama kita tinggal berapa?” tanyaku.

Raka tidak menoleh.

Aku membuka aplikasi bank.

Kata sandinya sudah diubah.

Satu jam kemudian, aku duduk di mobil Ayah sambil memegang koper. Saat kendaraan meninggalkan halaman, aku menyadari sesuatu yang aneh.

Aku tidak merasa sedang pergi dari rumah.

Aku merasa sedang keluar dari ruang hukuman.

Tiga hari berikutnya terasa kotor. Aku mandi terlalu lama dan menggosok kulit kepala sampai perih. Kadang saat makan, tenggorokanku mendadak mual karena teringat tawa Karin.

Namun pada hari keempat, rasa malu itu berubah menjadi kemarahan yang lebih tenang.

Aku mendatangi bank bersama Bagas. Karena namaku tercantum sebagai pemilik rekening bersama, petugas bisa mencetak seluruh riwayat transaksi setelah identitasku diverifikasi.

Saat melihat lembar demi lembar mutasi rekening, tanganku kembali gemetar.

Selama enam bulan terakhir, Raka memindahkan uang sedikit demi sedikit ke rekening pribadinya. Totalnya hampir tiga ratus juta rupiah. Ada pembayaran sewa apartemen, pembelian perhiasan, biaya klinik kehamilan, uang muka mobil, dan transfer rutin kepada Karin.

Yang lebih mengejutkan, gaji Raka sudah tidak pernah masuk selama empat bulan.

“Dia sudah tidak bekerja,” kata Bagas.

Sore itu, Paman Darto menghubungi seorang kenalan di perusahaan tempat Raka bekerja. Dari sanalah kami mengetahui bahwa Raka telah diberhentikan karena diduga menggelembungkan biaya promosi dan memakai uang klien untuk kepentingan pribadi. Perusahaan masih melakukan audit internal dan sedang mempertimbangkan laporan pidana.

Selama berbulan-bulan, Raka hidup dari uangku sambil berpura-pura menjadi lelaki mapan di depan Karin.

Seminggu setelah aku meninggalkan rumah, Karin datang ke rumah orang tuaku sendirian.

Wajahnya pucat tanpa riasan. Gelangku dibungkus tisu di tangannya.

Begitu bertemu denganku, dia langsung menangis.

“Mas Raka pergi.”

Aku tidak mempersilahkannya masuk, tetapi Ibu membuka pintu lebih lebar.

“Bicaralah di dalam,” kata Ibu. “Tetangga tidak perlu mendengar semuanya.”

Karin duduk di ujung sofa sambil memeluk tasnya.

“Sejak malam kami keluar dari rumah, dia bilang mau mencari kontrakan. Dua hari lalu dia menghilang. Nomornya tidak aktif. Uang tabunganku juga habis.”

Aku menatapnya datar.

“Kenapa kamu datang kepadaku?”

Karin mengeluarkan sebuah map bening. Di dalamnya ada bukti transfer, tangkapan layar percakapan, salinan identitas Raka, dan beberapa dokumen pinjaman daring.

“Aku menemukan ini di tasnya. Dia memakai data kamu untuk mengajukan pinjaman. Ada tanda tangan yang sepertinya dipalsukan.”

Bagas mengambil dokumen itu dan memeriksanya.

Karin menunduk.

“Aku tahu aku salah. Aku tahu dia masih punya istri, tetapi dia bilang kalian sudah berpisah kamar sejak lama. Katanya kamu menolak bercerai karena ingin mengambil hartanya. Dia bilang rumah itu miliknya.”

“Dan kamu percaya?”

Karin menangis semakin keras.

“Aku ingin percaya.”

Kalimat itu membuatku terdiam.

Mungkin begitulah kebohongan bekerja. Bukan selalu karena terdengar masuk akal, tetapi karena sesuai dengan hal yang ingin kita percayai.

Berkat dokumen dari Karin, pengacara keluarga kami bergerak cepat. Aku melaporkan kekerasan dalam rumah tangga, pemalsuan tanda tangan, dan pengalihan dana tanpa persetujuan. Perusahaan lama Raka akhirnya ikut membuat laporan setelah audit menemukan kerugian yang jauh lebih besar dari dugaan awal.

Dua minggu kemudian, polisi menangkap Raka di sebuah penginapan murah di pinggiran Surabaya. Dia hanya membawa dua ponsel, satu tas pakaian, dan sisa uang beberapa juta rupiah.

Namun kejutan terbesar datang bukan dari polisi.

Melainkan dari sebuah klinik kesuburan yang pernah kami datangi lima tahun sebelumnya.

Pengacaraku meminta seluruh riwayat pemeriksaan karena Raka terus menjadikan ketidakmampuanku memiliki anak sebagai alasan perselingkuhan. Dokter yang dulu menangani kami memintaku datang langsung.

Di ruang konsultasi, dokter membuka arsip lama.

“Ibu Mira, waktu itu kami sudah menjelaskan bahwa kondisi rahim dan sel telur Ibu dalam batas normal.”

Aku mengangguk perlahan.

“Tetapi suami saya bilang hasil pemeriksaan menunjukkan masalah ada pada saya.”

Dokter menatapku dengan alis berkerut.

“Bukan begitu hasilnya. Pemeriksaan menunjukkan jumlah dan pergerakan sperma Pak Raka sangat rendah. Peluang terjadinya kehamilan alami sangat kecil. Kami menyarankan pemeriksaan lanjutan, tetapi beliau menolak.”

Dunia terasa berhenti.

Selama bertahun-tahun, aku meminum obat, menjalani terapi, menahan sindiran keluarga Raka, dan menyalahkan tubuhku sendiri.

Padahal dia sudah mengetahui kebenarannya.

“Apakah salinan hasil ini pernah diberikan?” tanyaku.

“Diberikan kepada Pak Raka karena beliau meminta mengambil seluruh dokumen. Kami juga mengirimkannya ke alamat surel yang beliau tulis pada formulir.”

Alamat surel itu bukan milikku.

Raka telah mengganti satu huruf dari alamatku.

Aku keluar dari klinik dengan langkah goyah. Ibu memelukku di tempat parkir, dan untuk pertama kalinya sejak kejadian terasi itu, aku menangis sejadi-jadinya.

Bukan karena ingin memiliki anak.

Melainkan karena selama lima tahun aku dibuat membenci diriku sendiri demi melindungi harga diri seorang lelaki.

Beberapa bulan kemudian, Karin melahirkan seorang bayi laki-laki. Atas permintaan keluarganya, tes DNA dilakukan setelah Raka menolak mengakui kewajiban apa pun dari dalam tahanan.

Hasilnya membuat semua orang terdiam.

Bayi itu bukan anak Raka.

Karin akhirnya mengaku pernah bertemu mantan kekasihnya beberapa minggu sebelum dekat dengan Raka. Dia tidak tahu pasti siapa ayah bayinya, tetapi memilih mempercayai Raka karena lelaki itu menjanjikan rumah, pernikahan, dan hidup berkecukupan.

Raka kehilangan satu-satunya kebohongan yang selama ini dibanggakannya.

Sidang perceraian berlangsung singkat. Bukti perselingkuhan, kekerasan, pemalsuan dokumen, dan penggelapan dana terlalu jelas untuk dibantah. Rumah tetap menjadi milikku. Sebagian uang tidak bisa kembali, tetapi aku tak lagi merasa miskin.

Yang hilang hanyalah uang.

Yang kembali adalah diriku sendiri.

Enam bulan setelah perceraian, aku membuka toko kue yang lebih besar di rumah lama. Ayah membantu memperbaiki teras. Ibu memilih warna dinding. Bagas memasang papan nama baru di depan gerbang.

Rumah Mira.

Pada hari pembukaan, banyak tetangga datang. Ketua RT membeli dua kotak lapis legit. Anak-anak berlarian di halaman. Dapur yang dulu menjadi tempat penghinaan kini dipenuhi aroma mentega, vanila, dan roti hangat.

Di dinding dekat kasir, kupasang kembali foto pernikahan yang sudah kurobek. Hanya ada diriku di sana, tersenyum dengan kebaya putih.

Bagas memandangnya.

“Kenapa masih disimpan?”

Aku tersenyum.

“Untuk mengingatkan bahwa dari sesuatu yang rusak, masih ada bagian yang layak diselamatkan.”

Sore itu, seorang kurir datang membawa paket kecil tanpa nama pengirim. Di dalamnya terdapat gelang emas milikku dan secarik kertas.

Maaf karena pernah ikut menghancurkan hidupmu. Terima kasih karena tidak membiarkanku menghancurkan hidup anakku juga.

Aku tahu surat itu dari Karin.

Ibu mengambil gelang tersebut lalu memasangkannya kembali ke pergelangan tanganku.

“Pas,” katanya pelan.

Aku menatap ukiran M dan S di bagian dalamnya.

Bau terasi itu akhirnya benar-benar hilang bukan saat aku keramas berkali-kali, bukan ketika Raka ditangkap, dan bukan pula saat hakim mengesahkan perceraian kami.

Bau itu hilang pada sore sederhana ketika aku berdiri di dapur rumahku sendiri, mendengar oven berbunyi, dan menyadari bahwa hidupku tidak berakhir ketika seorang lelaki mencoba mempermalukanku.

Kadang kehancuran bukanlah akhir.

Kadang itu hanya cara hidup merobohkan dinding penjara agar kita akhirnya melihat pintu keluar.

Raka pernah menyiramkan terasi ke kepalaku demi membuat perempuan lain tertawa. Namun pada akhirnya, bukan keluargaku yang membalasnya dengan kekerasan. Mereka hanya membantuku membuka semua pintu yang selama ini dia kunci dengan kebohongan.

Dan hukuman terberat bagi Raka bukan kehilangan rumah, pekerjaan, atau kebebasannya.

Hukuman terberatnya adalah melihat dua perempuan yang pernah dia adu satu sama lain akhirnya berdiri tanpa dirinya, sementara seluruh kehidupan yang dia bangun dari kebohongan runtuh hanya karena aku pulang sepuluh menit lebih cepat.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang