Dua jam setelah menguburkan putriku, dokternya meneleponku dan berbisik: “Datanglah sendiri. Aku harus menunjukkan sesuatu kepadamu… dan jangan katakan ini kepada siapa pun, terutama menantumu.”

Dua jam setelah menguburkan putriku, dokter yang merawatnya menelepon dan berbisik, “Datanglah sendiri. Saya harus menunjukkan sesuatu kepada Ibu. Jangan beri tahu siapa pun, terutama Raka.”

Saat itu aku masih mengenakan pakaian hitam. Aroma bunga sedap malam dari pemakaman menempel di rambut, telapak tangan, dan tenggorokanku. Sejak pagi, orang-orang bergantian memelukku sambil mengucapkan kalimat yang sama.

Alya sudah tenang.

Tuhan lebih menyayanginya.

Dia berada di tempat yang lebih baik.

Namun tak satu pun dari kalimat itu mampu menenangkan firasat buruk yang menggerogoti dadaku.

Di pemakaman, Raka Pratama menangis paling keras. Menantuku itu berlutut di depan foto Alya, mencium bingkainya, lalu bersumpah akan mencintai istrinya sampai akhir hayat. Beberapa pelayat ikut menangis melihatnya.

Aku justru merasa mual.

Tangis Raka terlalu teratur. Suaranya pecah pada saat yang tepat. Ia selalu menunduk ketika kamera ponsel para pelayat mengarah kepadanya. Bahkan genggaman tangannya di lenganku terasa bukan seperti seseorang yang sedang mencari kekuatan, melainkan seseorang yang ingin memastikan aku tidak pergi ke mana-mana.

Alya baru berusia tiga puluh empat tahun. Ia seorang pengacara dan pendiri yayasan yang mendampingi perempuan korban kekerasan di Jawa Barat. Ia berlari setiap pagi, tidak merokok, dan hampir tidak pernah mengeluh sakit.

Namun laporan kematiannya menyatakan gagal jantung mendadak saat tidur.

Raka juga mengatakan bahwa Alya ingin segera dikremasi.

Itulah kebohongan pertama yang kusadari.

Sejak kecil, Alya takut pada api. Ketika berusia tujuh tahun, ia pernah terjebak di dapur saat tabung gas bocor. Sejak itu, bahkan lilin ulang tahun pun membuat tangannya gemetar.

Aku berhasil menunda kremasi dan memilih pemakaman sementara di kompleks keluarga. Raka menentang dengan keras, tetapi aku tidak memberinya pilihan.

Malam itu, pukul delapan lewat tiga puluh, aku tiba di klinik pribadi Dr. Bima Hartono di Menteng. Klinik sudah hampir kosong. Seorang resepsionis menunduk ketika melihatku, seolah takut wajahnya akan membocorkan sesuatu.

Dr. Bima menungguku di depan ruang praktik. Wajahnya pucat dan kemejanya kusut. Setelah aku masuk, ia segera mengunci pintu dan menurunkan tirai.

“Apa yang terjadi pada putri saya?” tanyaku.

Ia tidak langsung menjawab. Dari saku jasnya, ia mengeluarkan sebuah USB, lalu memasukkannya ke komputer.

Suara Alya terdengar dari pengeras suara.

Lemah. Ketakutan. Berbeda dari suara tegas yang biasa kudengar ketika ia berdebat di ruang sidang.

“Raka, tolong biarkan aku bicara dengan dokter.”

Kemudian suara menantuku muncul.

Dingin dan datar.

“Kamu tidak akan bicara dengan siapa pun. Kalau kamu mengatakan sesuatu kepada ibumu, aku akan memastikan dia melihatmu kehilangan semuanya sebelum mati.”

Napas Alya terdengar memburu.

“Kamu mengganti obat-obatku. Kamu sengaja membuatku bingung.”

“Kamu memang sudah tidak waras. Semua orang percaya kepadaku.”

Terdengar suara kursi bergeser, disusul benturan keras. Alya menahan jeritan. Rekaman berhenti beberapa detik kemudian.

Dr. Bima menatapku dengan mata penuh penyesalan.

“Alya merekamnya saat konsultasi terakhir. Dia meminta saya menyimpan rekaman ini dan tidak membukanya sampai dia menelepon. Dia tidak pernah menelepon.”

“Kenapa Anda tidak melapor?”

“Saya hendak melapor keesokan harinya. Tetapi pagi-pagi sekali, Raka menghubungi saya dan mengatakan Alya meninggal. Dia juga mengancam akan menuntut klinik karena memberikan obat yang salah.”

Dokter itu menyerahkan salinan catatan medis, resep, hasil pemeriksaan darah, dan daftar obat yang dikonsumsi Alya. Dua obat di antaranya tidak boleh diminum bersamaan karena dapat memicu gangguan irama jantung.

“Alya tidak pernah saya beri salah satu obat ini,” katanya. “Tapi Raka beberapa kali mengambil resep atas namanya.”

Aku membaca semua dokumen tanpa menangis. Di dalam diriku, kesedihan telah berubah bentuk. Bukan lagi lubang gelap, melainkan mata pisau yang dingin dan tajam.

Raka mengira aku hanya guru sekolah dasar yang sudah pensiun. Alya dan aku memang membiarkannya percaya begitu. Setelah suamiku meninggal, aku memilih hidup sederhana dan tidak pernah menceritakan pekerjaan lamaku.

Selama lebih dari tiga puluh tahun, aku adalah jaksa di Kejaksaan Agung yang menangani kejahatan keuangan, pencucian uang, serta korupsi lintas wilayah. Aku pernah menghadapi pengusaha yang memiliki pasukan pengacara dan pejabat yang merasa hukum dapat dibeli.

Raka menganggap ketenanganku sebagai kelemahan.

Malam itu ia akan belajar bahwa orang yang tenang sering kali hanya sedang menunggu bukti yang cukup.

Aku menyalin rekaman ke perangkat terenkripsi, lalu menelepon Julian Kurniawan, akuntan forensik yang pernah membantuku membongkar jaringan pencucian uang bernilai lebih dari satu triliun rupiah.

“Aku membutuhkan semua transaksi Yayasan Alya Rivas selama dua tahun terakhir,” kataku.

“Seberapa cepat?”

“Sebelum matahari terbit.”

Setelah itu aku menghubungi mantan rekanku, Komisaris Besar Arman Wiratama, yang kini memimpin unit kejahatan ekonomi. Aku juga meminta seorang ahli forensik mengajukan pemeriksaan ulang terhadap jenazah Alya.

Panggilan terakhir kutujukan kepada Raka.

Ia menjawab dengan suara lembut yang dibuat-buat.

“Ibu, bagaimana keadaan Ibu? Saya khawatir Ibu sendirian.”

“Aku menemukan folder milik Alya,” kataku. “Dokumen yayasan dan dana keluarga. Mungkin berguna untukmu.”

Suara napasnya berubah.

“Datanglah besok pukul sepuluh. Sendiri saja.”

“Baik, Raka.”

Pukul sembilan lewat lima puluh lima keesokan paginya, aku berdiri di depan rumah Alya di kawasan Pondok Indah. Rumah yang dahulu dipenuhi tanaman dan musik itu terasa seperti bangunan asing. Semua tirai tertutup. Mobil Raka terparkir di garasi, bersama sebuah sedan merah yang tidak kukenal.

Raka membuka pintu dengan kemeja putih dan celana hitam. Matanya sembap, tetapi kulit di sekitar matanya tidak bengkak. Ia pasti menghabiskan waktu cukup lama di depan cermin untuk menciptakan wajah seorang duda yang berduka.

“Ibu datang tepat waktu.”

“Aku selalu tepat waktu.”

Di ruang keluarga, seorang perempuan muda duduk sambil memegang secangkir kopi. Aku mengenalnya. Nadia Sasmita, bendahara yayasan Alya.

Raka tampak gugup ketika melihat arah pandanganku.

“Nadia datang untuk membantu mengurus dokumen.”

“Sehari setelah pemakaman istrimu?”

Nadia segera menunduk.

Raka mengulurkan tangan. “Foldernya mana?”

Aku meletakkan tas di atas meja, tetapi tidak membukanya.

“Jelaskan dulu kenapa ada transfer tiga miliar rupiah dari rekening yayasan ke perusahaan bernama Panca Artha Konsultan.”

Wajahnya mengeras selama sepersekian detik.

“Saya tidak tahu apa yang Ibu bicarakan.”

“Perusahaan itu didirikan enam bulan lalu. Direkturnya adalah adik Nadia. Alamat kantornya sebuah rumah kosong di Depok.”

Nadia menjatuhkan cangkirnya. Kopi tumpah ke karpet.

Raka menatapku tajam. “Siapa yang memberi tahu Ibu?”

“Pertanyaan yang benar adalah siapa yang akan lebih dulu memberikan kesaksian. Kamu atau Nadia?”

Raka berdiri begitu cepat hingga kursinya terdorong ke belakang.

“Ibu tidak mengerti urusan bisnis kami. Alya sakit. Dia sering lupa. Saya hanya mengambil alih agar yayasan tetap berjalan.”

“Kamu juga mengambil alih obat-obatnya?”

Wajahnya berubah pucat.

Aku mengeluarkan USB dari tas.

Raka menatap benda itu seolah melihat ular.

“Apa itu?”

“Suara terakhir Alya.”

Nadia menutup mulut. Raka melangkah mendekat, tetapi aku mundur.

“Berikan kepada saya.”

“Kenapa?”

“Itu milik istri saya.”

“Tidak. Itu bukti.”

Raka tiba-tiba menerjang. Ia meraih lenganku, tetapi sebelum sempat mengambil USB, pintu depan terbuka. Komisaris Besar Arman masuk bersama empat penyidik.

Raka melepaskanku.

“Apa-apaan ini?”

Arman menunjukkan surat perintah penggeledahan.

“Kami menyelidiki dugaan penggelapan dana, pemalsuan dokumen, dan kematian tidak wajar atas nama Alya Rivas.”

Raka tertawa pendek.

“Kalian tidak punya bukti pembunuhan.”

Aku menatapnya.

“Aku belum menyebut kata pembunuhan.”

Ruangan mendadak sunyi.

Raka menyadari kesalahannya, tetapi sudah terlambat.

Para penyidik menyita laptop, ponsel, dokumen yayasan, serta sejumlah botol obat dari kamar utama. Di dalam lemari terkunci, mereka menemukan stempel tanda tangan Alya dan beberapa formulir kosong yang sudah ditandatangani.

Nadia mulai menangis.

“Saya tidak tahu dia akan membunuh Alya,” katanya terbata-bata. “Raka bilang Alya akan dirawat di luar negeri. Dia bilang kami hanya perlu mengambil dana sebelum ibunya membekukan semua rekening.”

Raka menatapnya dengan kebencian.

“Diam, Nadia.”

Namun perempuan itu justru semakin panik.

“Dia menyuruh saya membeli obat dengan resep palsu. Katanya hanya akan membuat Alya lemah supaya mau menandatangani dokumen.”

Raka berusaha keluar melalui pintu belakang, tetapi dua penyidik sudah menunggunya.

Sebelum dibawa pergi, ia menoleh kepadaku.

“Kalian tetap tidak bisa membuktikan bahwa saya memberinya obat itu.”

Aku tidak menjawab.

Bukti terpenting belum ditemukan.

Tiga hari kemudian, hasil pemeriksaan forensik keluar. Di dalam tubuh Alya ditemukan kombinasi obat penenang dan obat jantung dalam dosis tinggi. Namun sidik jari pada botol telah dibersihkan. Jaksa masih membutuhkan bukti yang menghubungkan Raka secara langsung dengan saat kematian.

Lalu Julian menemukan sebuah transaksi kecil yang hampir terlewat.

Pada malam Alya meninggal, Raka membayar layanan penyimpanan digital sebesar sembilan puluh sembilan ribu rupiah menggunakan kartu yayasan. Akun itu terhubung ke kamera keamanan rumah.

Raka telah menghapus seluruh rekaman dari perangkat utama.

Namun ia tidak tahu bahwa sistem secara otomatis menyimpan salinan cadangan selama tujuh hari.

Dalam rekaman pukul dua lewat tiga belas pagi, terlihat Raka masuk ke kamar membawa segelas air dan dua tablet. Alya menolak. Raka menahan dagunya dan memaksanya menelan obat. Dua puluh menit kemudian, ia kembali untuk memeriksa denyut nadi istrinya.

Setelah memastikan Alya tidak bergerak, ia mengambil ponselnya dan menelepon Nadia.

Kalimat pertamanya terdengar jelas.

“Sudah selesai. Besok kita mulai memindahkan sisanya.”

Raka ditangkap atas tuduhan pembunuhan berencana, penggelapan, pemalsuan, dan pencucian uang. Nadia mendapatkan perlindungan saksi setelah mengakui keterlibatannya dalam pemalsuan dokumen.

Sebulan setelah penangkapan itu, aku kembali ke kantor Dr. Bima. Dokter tersebut menyerahkan sebuah amplop yang sebelumnya tersimpan di brankas Alya.

Di dalamnya terdapat surat dan sebuah video lain.

Alya muncul di layar dengan wajah pucat, tetapi matanya tetap kuat.

“Mama, kalau Mama menonton ini, mungkin aku sudah tidak bisa pulang.”

Aku menggenggam meja agar tidak jatuh.

“Aku tahu Mama akan menyalahkan diri sendiri. Jangan. Aku diam bukan karena aku tidak percaya kepada Mama. Aku diam karena Raka tahu siapa Mama sebenarnya. Dia mengancam akan mencelakai Mama dan perempuan-perempuan di yayasan.”

Alya menarik napas panjang.

“Aku sudah mengubah seluruh dokumen. Rumah, tabungan, dan kepemilikanku di yayasan tidak akan jatuh ke tangan Raka. Semuanya masuk ke dana perlindungan bagi perempuan yang ingin keluar dari hubungan berbahaya.”

Kemudian putriku tersenyum. Senyum yang kecil dan lelah.

“Mama pernah mengajariku bahwa keberanian bukan berarti tidak takut. Keberanian adalah tetap meninggalkan jejak saat kita takut.”

Layar menjadi gelap.

Untuk pertama kalinya sejak pemakaman, aku menangis.

Bukan hanya karena kehilangan putriku, tetapi karena akhirnya aku memahami bahwa Alya tidak menyerah. Bahkan di hari-hari terakhir hidupnya, ia masih memikirkan keselamatan orang lain.

Setahun kemudian, Yayasan Alya Rivas membuka rumah aman baru di Bandung. Di ruang utama, kami memasang sebuah foto Alya tanpa bunga berkabung atau bingkai hitam. Ia berdiri di bawah sinar matahari, mengenakan kemeja putih, tersenyum seperti seseorang yang yakin dunia masih dapat diperbaiki.

Pada hari peresmian, seorang perempuan muda menghampiriku sambil menggandeng anak perempuannya.

“Bu Elena,” katanya, “kalau bukan karena bantuan yayasan ini, mungkin saya tidak akan selamat.”

Aku menatap anak kecil di sampingnya, lalu kembali memandang foto Alya.

Raka pernah berpikir bahwa dengan menghentikan jantung putriku, ia telah membungkam suaranya.

Ia keliru.

Kematian Alya justru membuat suaranya terdengar lebih jauh daripada sebelumnya.

Dan setiap kali seorang perempuan melangkah keluar dari rumah aman itu menuju kehidupan baru, aku tahu putriku belum benar-benar pergi.

Ia hidup dalam keberanian orang-orang yang akhirnya berani berkata cukup.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang