PULANG SEBAGAI MILIARDER UNTUK MEMBALAS KEBAIKAN 3 BUKU TULIS, PRIA INI TERKEJUT MENGETAHUI ANAK KANDUNG SEDANG MEMAKSA IBU KANDUNGNYA MENANDATANGANI SURAT WARISAN!

Arya Perkasa berdiri membeku di depan jendela rumah bambu yang telah ia rindukan selama lebih dari dua puluh enam tahun. Nafasnya terasa berat ketika matanya menangkap pemandangan yang sama sekali tidak pernah ia bayangkan.

Mak Sumarni sedang berusaha menarik tangannya yang dicengkeram Hendra. Wajah perempuan tua itu pucat, tubuhnya gemetar, sementara dua anak lainnya hanya berdiri menyaksikan seolah semua yang terjadi adalah hal yang wajar.

Tanpa berkata apa pun, Arya membuka pintu rumah dengan keras.

Suara pintu yang menghantam dinding membuat seluruh ruangan mendadak sunyi.

“Apa yang sedang kalian lakukan kepada ibu?”

Suara itu dalam, tenang, tetapi mengandung wibawa yang membuat semua orang menoleh.

Hendra mengernyit.

“Siapa Anda?”

Arya tidak langsung menjawab. Ia berjalan mendekati Mak Sumarni, melepaskan tangan wanita tua itu dari cengkeraman Hendra, lalu berlutut.

Perlahan ia menggenggam kedua tangan yang mulai dipenuhi keriput itu.

“Mak…”

Mak Sumarni menatap wajah pria di depannya dengan bingung. Ia merasa sangat mengenal sorot mata itu, tetapi waktu telah mengubah wajah bocah kecil yang dulu sering ia temui di sekolah.

“Arya…”

Suara Mak Sumarni bergetar.

Air mata langsung mengalir tanpa bisa ditahan.

“Arya kecil?”

Arya mengangguk sambil tersenyum.

“Maaf… saya datang terlambat.”

Tangis Mak Sumarni pecah. Ia memeluk Arya seperti memeluk anaknya sendiri yang lama menghilang.

Tetangga yang memenuhi halaman ikut terdiam menyaksikan pertemuan yang begitu mengharukan.

Namun Hendra justru menyela.

“Kalau memang kenal ibu kami, urusan ini tetap bukan urusan Anda.”

Arya berdiri perlahan.

“Benar. Tapi memaksa seorang perempuan berusia enam puluh sembilan tahun menandatangani surat warisan adalah urusan siapa pun yang masih memiliki hati.”

Budi maju selangkah.

“Ini masalah keluarga.”

Arya menatap mereka satu per satu.

“Keluarga?”

Ia tersenyum tipis.

“Kalian bahkan tidak tahu berapa ember yang harus dipasang setiap kali hujan turun di rumah ini.”

Ketiganya saling berpandangan.

“Kalian tidak tahu ibu kalian harus berjalan hampir dua kilometer hanya untuk membeli beras karena tidak ada kendaraan.”

“Kalian juga tidak tahu beliau beberapa kali pingsan di kebun kopi karena tetap bekerja demi mempertahankan tanah yang sekarang ingin kalian jual.”

Ucapan itu membuat wajah Maya berubah.

“Siapa sebenarnya Anda?”

Arya mengeluarkan dompet kulit dari saku jasnya.

Di dalamnya tersimpan sebuah foto lama yang sudah menguning.

Foto seorang bocah kurus memegang tiga buku tulis baru bersama seorang wanita sederhana yang tersenyum hangat.

“Itu…” bisik Mak Sumarni.

Arya mengangguk.

“Tiga buku tulis ini mengubah hidup saya.”

Ia memandang Hendra.

“Empat hari Mak bekerja memilah biji kopi demi membeli tiga buku tulis, dua pensil, dan satu kotak pensil warna untuk anak yang bahkan bukan keluarganya.”

Arya menarik napas panjang.

“Kalau hari itu Mak tidak datang, saya mungkin sudah berhenti sekolah.”

Suasana berubah hening.

Arya lalu menyerahkan sebuah map hitam kepada asistennya.

Asisten itu mengeluarkan beberapa dokumen.

“Saya adalah pendiri Perkasa Infrastruktur Group.”

Nama perusahaan itu langsung membuat Hendra membelalak.

Ia mengenalnya.

Perusahaan konstruksi terbesar yang baru saja memenangkan proyek nasional bernilai puluhan triliun rupiah.

“Mustahil…” gumam Budi.

Arya melanjutkan.

“Dua puluh enam tahun lalu saya pergi membawa janji. Hari ini saya kembali untuk menepatinya.”

Ia menyerahkan sebuah sertifikat kepada Mak Sumarni.

“Rumah baru yang sedang dibangun di sebelah kebun kopi itu atas nama Mak.”

Mak Sumarni terkejut.

Arya tersenyum.

“Tanah ini tidak akan pernah dijual.”

Maya memotong.

“Tapi perusahaan resort sudah memberi penawaran delapan miliar.”

Arya menoleh.

“Kalau hanya uang, saya bisa membayar lebih.”

Semua orang terdiam.

“Saya membeli seluruh saham perusahaan resort itu tiga bulan lalu.”

Ucapan itu membuat Hendra kehilangan kata-kata.

“Apa?”

“Saya tahu mereka sedang mengincar tanah ini.”

Arya membuka dokumen berikutnya.

“Mulai hari ini proyek resort dibatalkan.”

Seluruh tetangga saling berbisik.

Arya melanjutkan dengan suara mantap.

“Di atas lahan ini akan dibangun pusat pelatihan pertanian modern, koperasi kopi, perpustakaan desa, dan beasiswa bagi anak-anak kurang mampu.”

Ia menatap Mak Sumarni.

“Semuanya memakai nama Ibu Sumarni.”

Air mata Mak Sumarni kembali jatuh.

“Arya… terlalu banyak…”

Arya menggeleng.

“Masih jauh dibanding tiga buku tulis itu.”

Namun persoalan belum selesai.

Hendra tiba-tiba mengambil map warisan dari meja.

“Ibu tetap harus membagi tanah ini kepada kami. Kami anak kandung.”

Arya tidak menjawab.

Seorang pria berkacamata memasuki rumah.

“Selamat sore.”

Ia memperlihatkan kartu identitas.

“Saya notaris yang diminta Pak Arya.”

Hendra mulai gugup.

Notaris itu mengeluarkan satu amplop cokelat yang tampak sudah lama disimpan.

“Sebelum wafat, almarhum Pak Darma menitipkan dokumen ini kepada kantor kami dengan syarat hanya dibuka apabila terjadi sengketa keluarga.”

Mak Sumarni terlihat terkejut.

“Ayah…”

Amplop dibuka.

Isinya surat tulisan tangan almarhum.

Suasana menjadi semakin sunyi ketika notaris mulai membacanya.

“Jika suatu hari anak-anakku kembali hanya karena tanah ini, berarti aku gagal mendidik mereka tentang arti keluarga.”

Tangis Mak Sumarni pecah.

Notaris melanjutkan.

“Aku tidak akan mewariskan tanah kepada anak yang melupakan ibunya. Tanah ini sepenuhnya menjadi milik istriku selama hidupnya.”

Hendra mengepalkan tangan.

Belum selesai.

Masih ada satu lembar lagi.

“Setelah istriku meninggal, tanah hanya boleh diwariskan kepada orang yang paling banyak merawatnya, tanpa memandang hubungan darah.”

Semua orang saling berpandangan.

Wajah Hendra berubah pucat.

Budi mulai berkeringat.

Maya menundukkan kepala.

Arya tidak mengatakan apa pun.

Beberapa tetangga justru bersuara.

“Selama lima tahun terakhir kami tidak pernah melihat kalian pulang.”

“Yang sering membantu Mak justru Bu Rina sebelah rumah.”

“Iya, bahkan kalau sakit yang mengantar ke puskesmas selalu tetangga.”

Ucapan mereka seperti tamparan keras.

Mak Sumarni perlahan berdiri.

“Aku tidak pernah ingin menghukum kalian.”

Ketiga anaknya menatap penuh harap.

“Tapi kalian sudah lama meninggalkan ibu kalian sebelum hari ini.”

Air mata Maya mulai mengalir.

“Ibu…”

Mak Sumarni menggeleng.

“Yang paling menyakitkan bukan karena kalian ingin tanah.”

Beliau menarik napas panjang.

“Yang paling menyakitkan karena kalian datang hanya saat tanah ini menjadi mahal.”

Tidak ada satu pun yang mampu membantah.

Arya kemudian mendekati Hendra.

“Saya tidak akan membawa perkara ini ke polisi.”

Hendra terkejut.

“Tapi mulai hari ini, kalian belajar lagi menjadi anak.”

Beberapa hari kemudian, pembangunan rumah baru dimulai.

Namun Mak Sumarni membuat keputusan yang mengejutkan semua orang.

Beliau menolak tinggal sendirian di rumah mewah yang telah disiapkan.

Sebagian bangunan diubah menjadi rumah singgah untuk para lansia yang hidup sendirian.

Sebagian lagi dijadikan perpustakaan kecil.

Di dinding ruang utama dipasang sebuah bingkai sederhana.

Bukan foto Arya sebagai miliarder.

Bukan pula gambar rumah baru.

Melainkan tiga buku tulis lusuh yang telah disimpan Arya selama dua puluh enam tahun.

Di bawahnya hanya tertulis satu kalimat.

“Terkadang masa depan seseorang dimulai dari kebaikan yang tampaknya sangat kecil.”

Setahun kemudian, pusat pelatihan kopi itu berhasil mengangkat ekonomi desa.

Puluhan anak menerima beasiswa.

Ratusan petani memperoleh penghasilan lebih baik.

Nama Mak Sumarni dikenal hingga berbagai daerah sebagai perempuan yang mengubah masa depan banyak orang tanpa pernah merasa dirinya istimewa.

Suatu sore, ketika matahari mulai tenggelam di balik Gunung Salak, Arya duduk menemani Mak Sumarni di beranda rumah.

“Mak, kalau waktu bisa diulang, apa yang paling ingin Mak ubah?”

Mak Sumarni tersenyum sambil memandang kebun kopi yang bergoyang diterpa angin.

“Tidak ada.”

“Kenapa?”

“Karena kalau dulu Mak memilih membeli beras daripada tiga buku tulis itu, mungkin hari ini desa ini tidak akan pernah berubah.”

Arya menundukkan kepala. Air matanya jatuh tanpa suara.

Saat itulah ia benar-benar memahami bahwa kekayaan terbesar bukanlah perusahaan yang ia bangun, melainkan hati seorang perempuan sederhana yang tetap memilih berbuat baik bahkan ketika dirinya sendiri hidup dalam kekurangan.

Dan di hadapan tiga buku tulis yang mulai memudar dimakan usia, semua kemewahan di dunia terasa begitu kecil dibandingkan satu kebaikan tulus yang dilakukan tanpa mengharapkan balasan.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang