Aku mematikan layar ponsel dan memandang putriku yang sedang tertidur pulas. Wajah mungilnya tampak damai, sama sekali tidak menyadari bahwa orang-orang yang seharusnya menjadi keluarganya justru sedang merencanakan cara merebut satu-satunya tempat yang bisa melindunginya.
Aku mengusap rambut halus di dahinya perlahan.
“Mulai hari ini, Ibu tidak akan membiarkan siapa pun mengambil hak kita.”
Pagi itu, rumah kembali ramai seperti tidak pernah terjadi apa-apa.
Ibu mertuaku mengetuk pintu kamar kecil tanpa sedikit pun rasa bersalah.
“Nadia, cepat keluar. Masak sarapan. Rina harus makan makanan bergizi supaya ASI-nya banyak.”
Aku membuka pintu sambil menggendong putriku.

“Aku masih dalam masa nifas.”
Beliau mendecakkan lidah.
“Memangnya cuma kamu yang pernah melahirkan? Dulu Ibu habis melahirkan Fajar, besoknya sudah mencuci baju sekeluarga.”
Aku hanya mengangguk pelan.
“Baik.”
Jawaban itu membuat beliau tersenyum puas.
Beliau mengira aku sudah kembali menjadi menantu penurut yang bisa ditekan sesuka hati.
Mereka tidak tahu bahwa sejak semalam, semua telah berubah.
Aku memasak sarapan tanpa sepatah kata pun. Saat semua orang makan dengan lahap di ruang makan, aku diam-diam mengirim seluruh rekaman suara yang sempat kuambil saat mereka berbicara di balkon kepada sahabatku, Maya.
Maya adalah seorang pengacara.
Beberapa menit kemudian, balasan masuk.
“Aku sudah dengar semuanya. Jangan tanda tangani apa pun. Jangan tinggalkan rumah. Siang ini aku datang.”
Aku menarik napas lega.
Belum sempat kusimpan ponsel, Fajar duduk di sampingku.
Wajahnya kini berubah lembut.
“Nad… maaf soal semalam.”
Aku menatapnya tanpa ekspresi.
“Aku terlalu emosi.”
Dia menggenggam tanganku.
“Kita kan suami istri. Masa gara-gara kamar saja sampai bertengkar?”
Aku hampir tertawa.
Baru beberapa jam lalu dia berencana mengancamku dengan perceraian.
Sekarang dia mulai memainkan sandiwara.
“Aku juga sudah pikir-pikir,” lanjutnya. “Rumah ini terlalu besar kalau hanya atas nama satu orang.”
Aku tetap diam.
“Kalau nanti sertifikatnya kita ubah jadi atas nama bersama, bukankah itu lebih menunjukkan kalau kita saling percaya?”
Aku perlahan menarik tanganku.
“Aku akan memikirkannya.”
Mendengar jawaban itu, matanya berbinar.
Dia yakin umpannya mulai berhasil.
Siang harinya, bel rumah berbunyi.
Rina membuka pintu.
Seorang perempuan berjas krem berdiri di depan dengan tas kerja hitam.
“Selamat siang. Saya Maya.”
“Ada perlu apa?”
“Saya teman Nadia.”
Rina langsung menghalangi pintu.
“Kakak iparku sedang istirahat.”
Dari dalam rumah aku berseru pelan.
“Maya, masuk saja.”
Wajah ibu mertuaku langsung berubah.
“Ada tamu segala. Memangnya rumah ini hotel?”
Maya tersenyum sopan.
“Saya hanya ingin menemui klien saya.”
Kata “klien” membuat Fajar mengernyit.
“Klien?”
Aku mengangguk.
“Benar.”
Kami masuk ke kamar kecil.
Begitu pintu tertutup, Maya langsung mengeluarkan beberapa dokumen.
“Aku sudah mengecek sertifikatmu. Rumah ini seratus persen harta bawaan sebelum menikah.”
“Kalau mereka mencoba memindahkan kepemilikan tanpa persetujuanmu, itu tidak sah.”
“Aku juga sudah menyimpan salinan rekaman suara semalam di beberapa tempat.”
Aku menghela napas panjang.
“Terima kasih.”
Maya menatapku serius.
“Kamu masih mau mempertahankan pernikahan ini?”
Aku terdiam.
Di luar pintu terdengar suara tawa Fajar dan keluarganya.
Tak satu pun dari mereka menanyakan keadaan putri kami.
Tak satu pun pernah menggendongnya.
Yang mereka pikirkan hanya rumah.
“Aku sudah selesai,” jawabku pelan.
“Kalau begitu, jangan ragu lagi.”
Sore harinya, sandiwara Fajar semakin menjadi.
Dia membelikan buah, susu, bahkan mainan kecil untuk putriku.
“Nad, aku sadar aku salah.”
“Aku ingin jadi ayah yang baik.”
Aku memandangnya.
“Benarkah?”
“Tentu.”
“Kalau begitu, mulai malam ini Rina dan ibumu pindah ke rumah kontrakan. Kamar utama kembali untuk anak kita.”
Senyumnya langsung membeku.
“Itu… tidak bisa.”
“Kenapa?”
“Rina sedang susah.”
Aku mengangguk pelan.
“Berarti bukan aku yang penting.”
Dia mulai kehilangan kesabaran.
“Jangan egois!”
Aku tersenyum tipis.
“Ternyata topengmu cepat sekali lepas.”
Malam berikutnya, semuanya terjadi lebih cepat daripada dugaanku.
Sekitar pukul sebelas malam, aku terbangun karena suara langkah kaki.
Seseorang sedang membuka lemari.
Aku mengintip dari balik pintu.
Fajar.
Dia sedang mengobrak-abrik seluruh kamar kecil.
Matanya mencari sesuatu.
“Sertifikatnya pasti disimpan di sini,” gumamnya.
Aku diam-diam merekam semua tindakannya.
Beberapa menit kemudian, ibu mertuaku ikut masuk.
“Ketemu?”
“Belum.”
“Cari lebih teliti.”
Rina bahkan ikut mengangkat kasur.
“Perempuan itu pasti menyembunyikannya.”
Aku baru muncul ketika mereka mulai membuka koperku.
“Apa yang kalian lakukan?”
Ketiganya terkejut.
Fajar buru-buru tersenyum.
“Aku cuma… membantu beres-beres.”
“Jam sebelas malam?”
Tak ada yang menjawab.
Aku mengangkat ponsel.
“Semuanya sudah terekam.”
Wajah mereka langsung pucat.
Keesokan paginya, sebuah mobil hitam berhenti di depan rumah.
Seorang pria paruh baya turun bersama dua staf.
Begitu melihatnya, ibu mertuaku langsung berdiri.
“Siapa lagi ini?”
Pria itu masuk tanpa banyak bicara.
“Nadia.”
Aku menghampirinya.
“Pak.”
Beliau adalah ayahku.
Beliau menatap keadaan rumah, lalu melihat cucunya yang sedang kugendong.
Wajahnya berubah muram.
“Jadi benar seperti yang kamu ceritakan.”
Fajar buru-buru tersenyum.
“Yah, Ayah datang.”
“Ayah?”
Suara pria itu dingin.
“Jangan panggil saya begitu.”
Seluruh ruangan mendadak sunyi.
“Aku bukan ayahmu.”
Beliau mengambil beberapa foto pakaian putriku yang masih berada di kamar lembap.
Beliau melihat jamur di dinding.
Kemudian menatap ranjang bayi yang berada di lorong.
“Cucuku tidur di sini?”
Tak seorang pun menjawab.
Ayahku mengangguk pelan.
“Baik.”
Beliau mengeluarkan sebuah map.
“Rumah ini dibeli atas nama Nadia tiga tahun sebelum pernikahan.”
“Semua bukti pembayaran ada.”
“Mulai hari ini, saya meminta seluruh penghuni yang tidak memiliki hak atas rumah ini untuk keluar.”
Ibu mertuaku berdiri sambil menunjuk wajah ayahku.
“Kami keluarga sah!”
“Anak saya juga keluarga sah,” jawab ayahku tenang.
“Tapi rumah ini bukan milik kalian.”
Fajar mencoba membela diri.
“Saya suaminya.”
“Masih.”
Satu kata itu membuat wajahnya berubah.
“Apa maksud Bapak?”
Aku maju satu langkah.
“Aku sudah mengajukan gugatan cerai pagi tadi.”
Ruangan seketika hening.
Fajar memandangku tidak percaya.
“Kamu serius?”
“Aku sangat serius.”
Rina langsung berteriak.
“Kak! Dia menggertak!”
Aku mengeluarkan satu amplop cokelat.
“Salinan gugatan.”
Wajah Fajar memucat.
Dia baru sadar aku tidak sedang marah sesaat.
Aku benar-benar pergi.
Belum selesai keterkejutannya, Maya datang bersama dua petugas kepolisian.
“Selamat siang.”
Salah satu petugas berbicara tegas.
“Kami menerima laporan dugaan percobaan penguasaan aset, intimidasi, dan masuk ke kamar pribadi tanpa izin.”
Ibu mertuaku langsung gemetar.
“Ini salah paham.”
Petugas memperlihatkan rekaman CCTV dari kamera kecil yang kupasang beberapa bulan sebelumnya di lorong rumah.
Terlihat jelas Rina menendang ranjang bayi.
Terlihat Fajar melempar barang-barangku.
Terlihat mereka bertiga mengacak-acak kamarku semalam.
Tak ada lagi yang bisa dibantah.
Fajar mendekat sambil memohon.
“Nad, maafkan aku.”
“Aku khilaf.”
“Aku melakukan semua ini karena ditekan Ibu.”
Aku memandang wajah laki-laki yang dulu sangat kucintai.
“Semalam kamu bilang tidak akan ada laki-laki yang mau menikahiku kalau kita bercerai.”
Dia menunduk.
“Aku…”
“Ternyata aku tidak membutuhkan laki-laki lain.”
“Aku hanya perlu menjauh dari laki-laki yang salah.”
Petugas memberi waktu satu jam kepada mereka untuk mengemasi barang-barang.
Selama satu jam itu, tak ada lagi suara tawa.
Yang terdengar hanya isak tangis ibu mertuaku dan keluhan Rina.
Saat koper terakhir dibawa keluar, Fajar menoleh untuk terakhir kalinya.
“Nadia… kalau suatu hari nanti kamu berubah pikiran…”
Aku memotong ucapannya.
“Tidak akan ada hari itu.”
Pintu rumah tertutup perlahan.
Aku menggendong putriku menuju kamar utama.
Sinar matahari sore masuk melalui jendela besar, menghangatkan seluruh ruangan.
Aku meletakkan ranjang bayinya tepat di dekat jendela.
Putriku membuka mata, lalu tersenyum kecil untuk pertama kalinya sejak lahir.
Air mataku jatuh tanpa bisa kutahan.
Ayahku berdiri di belakangku.
“Kamu menyesal?”
Aku menggeleng.
“Tidak.”
“Aku hanya menyesal tidak berani melindungi anakku lebih cepat.”
Beliau tersenyum lalu menepuk bahuku.
“Mulai hari ini, rumah ini benar-benar menjadi rumah.”
Aku memandang langit yang cerah di luar jendela.
Dulu aku mengira keharmonisan berarti selalu mengalah.
Baru sekarang aku mengerti bahwa keluarga yang sehat tidak pernah dibangun di atas pengorbanan satu orang.
Kadang, cara terbaik menjaga masa depan seorang anak bukanlah bertahan dalam hubungan yang salah, melainkan berani menutup pintu bagi mereka yang terus menginjak harga diri dan haknya.
