Pak Darma belum sempat menjawab ketika tiga sepeda motor dan sebuah mobil bak terbuka memasuki jalan kecil menuju rumah. Debu beterbangan. Beberapa pria bertubuh besar turun dengan wajah garang. Di belakang mereka, Mas Eko keluar dari mobilnya sambil tersenyum tipis, seolah kemenangan sudah berada di depan mata.
“Ini dia rumah yang kumaksud,” katanya lantang. “Kosongkan sekarang juga.”
Mila memelukku semakin erat. Tubuh kecilnya gemetar. Aku bisa merasakan napasnya yang tidak beraturan.
Pak Darma berdiri selangkah di depanku.

“Jangan ada yang berani masuk sebelum kepala desa datang.”
Salah satu pria itu tertawa mengejek.
“Kepala desa? Kami datang bukan untuk rapat. Kami datang mengambil hak keluarga.”
Belum sempat mereka melangkah ke halaman, terdengar suara peluit panjang dari arah jalan utama. Beberapa warga Desa Sukamulya berdatangan membawa senter dan cangkul. Di belakang mereka muncul Kepala Desa, Pak Hendra, ditemani dua anggota Bhabinkamtibmas yang sedang berpatroli di desa.
“Ada apa ini?” suara Pak Hendra tegas.
Mas Eko langsung mengubah raut wajahnya.
“Pak, ini urusan keluarga. Perempuan ini menempati tanah milik adik saya.”
Pak Darma menyerahkan map cokelat itu kepada kepala desa. Sertifikat asli dibuka di hadapan semua orang.
Pak Hendra membaca pelan, lalu mengangguk.
“Atas nama Rina Andayani. Proses balik nama dilakukan tiga tahun lalu di hadapan notaris. Semua sah.”
Wajah Mas Eko berubah kaku.
“Pasti palsu!”
“Kalau merasa palsu, silakan tempuh jalur hukum. Bukan mengintimidasi seorang janda bersama anak kecil.”
Suasana mendadak hening.
Orang-orang yang dibawa Mas Eko saling berpandangan. Mereka mulai merasa urusan ini tidak sesederhana yang dijanjikan.
Mas Eko masih berusaha mempertahankan harga dirinya.
“Kalau begitu, rumah di Karawang juga milik adikku. Aku berhak menjualnya.”
Ucapan itu membuat Pak Darma menatapnya lama.
“Kamu yakin ingin membahas rumah itu di depan semua orang?”
“Apa maksudmu?”
Pak Darma mengeluarkan sebuah map lain yang sejak tadi tidak pernah ia buka.
“Aku diminta Andi menyimpan semua bukti.”
Mas Eko tampak mulai gelisah.
Di dalam map itu terdapat salinan bukti pembayaran cicilan rumah selama delapan tahun. Hampir seluruh pembayaran berasal dari rekening Andi dan rekeningku. Tidak ada satu pun nama Mas Eko.
Lalu muncul sebuah surat kuasa yang ditandatangani Andi beberapa bulan sebelum meninggal. Isinya menyatakan bahwa apabila terjadi sengketa, seluruh bukti pembayaran harus diserahkan kepada pihak berwenang.
Pak Hendra menarik napas panjang.
“Mas Eko, apakah pembeli rumah lama tahu bahwa rumah itu masih menjadi objek warisan yang belum selesai prosesnya?”
Mas Eko tidak menjawab.
“Apakah istri almarhum pernah menandatangani surat penjualan?”
Aku menggeleng.
“Tidak pernah.”
Pak Hendra menatap Mas Eko.
“Kalau begitu, justru Anda yang berada dalam posisi sulit.”
Untuk pertama kalinya sejak datang, wajah Mas Eko benar-benar kehilangan warna.
Orang-orang yang dibawanya mulai mundur beberapa langkah.
“Mas, kami pulang saja,” bisik salah seorang.
“Diam!”
Namun tidak ada lagi yang mau mendekat.
Mereka satu per satu naik kembali ke motor dan pergi meninggalkan halaman.
Mas Eko menggertakkan gigi.
“Kalian semua menyesal sudah mempermalukanku.”
Ia masuk ke mobil lalu pergi dengan kecepatan tinggi.
Aku mengira semuanya telah selesai.
Ternyata aku salah.
Malam itu Pak Darma akhirnya menjelaskan syarat membuka loker di bank Garut.
“Andi menitipkan pesan,” katanya pelan. “Loker hanya bisa dibuka kalau Mila sendiri hadir saat ulang tahunnya yang kedelapan. Dia ingin uang itu benar-benar digunakan untuk masa depan anaknya, bukan untuk kepentingan orang lain.”
“Isinya apa, Pak?”
“Saya tidak tahu. Saya hanya memegang surat ini.”
Beliau menyerahkan sebuah amplop kecil berisi kunci dan surat dari bank.
Aku menggenggamnya erat.
Setidaknya Andi masih memikirkan masa depan putri kami bahkan ketika dirinya tahu ajal sudah dekat.
Hari-hari berikutnya kami mulai menjalani hidup dengan tenang.
Kebun sayur semakin subur.
Ayam-ayam bertambah banyak.
Pak Darma mengajariku cara menanam tomat, cabai, dan mentimun agar hasil panennya lebih baik.
Aku mulai dikenal di pasar karena sayurku selalu segar.
Mila kembali ceria. Ia berangkat ke sekolah dasar desa setiap pagi sambil membawa bekal sederhana. Senyumnya perlahan kembali seperti sebelum ayahnya jatuh sakit.
Aku mulai percaya bahwa luka bisa sembuh.
Sampai suatu sore sebuah mobil polisi berhenti di depan rumah.
Dadaku langsung berdebar.
Seorang penyidik turun bersama seorang pria berjas.
“Apakah Ibu Rina?”
“Iya.”
“Kami ingin meminta keterangan mengenai penjualan rumah di Karawang.”
Aku membeku.
Ternyata pembeli rumah tersebut melaporkan adanya dugaan penipuan setelah mengetahui status rumah yang sebenarnya.
Aku diminta datang ke Karawang minggu berikutnya.
Sesampainya di kantor polisi, aku kembali bertemu Mas Eko.
Penampilannya jauh berbeda.
Rambutnya berantakan.
Matanya cekung.
Ia tidak lagi mengenakan rantai emas.
Penyidik mulai memeriksa semua dokumen.
Pembeli rumah menjelaskan bahwa ia telah mentransfer uang tiga ratus lima puluh juta rupiah langsung ke rekening Mas Eko.
Namun ketika diminta menyerahkan dokumen persetujuan ahli waris, Mas Eko selalu beralasan.
Semua bukti perlahan mengarah kepadanya.
Di tengah pemeriksaan, penyidik berkata,
“Saudara Eko, berdasarkan bukti sementara, ada dugaan pemalsuan dokumen dan penjualan aset tanpa hak.”
Mas Eko hanya tertunduk.
Aku memandangnya tanpa rasa puas.
Yang kurasakan justru sedih.
Aku teringat Andi.
Betapa sering ia membantu kakaknya.
Betapa sering ia menutupi kesalahan-kesalahannya.
Namun semua kebaikan itu dibalas dengan pengkhianatan.
Beberapa bulan kemudian proses hukum selesai.
Pembeli rumah mendapatkan kembali sebagian besar uangnya dari aset yang berhasil disita.
Rumah di Karawang tidak mungkin kembali karena sudah berubah menjadi bangunan baru setelah sengketa diselesaikan melalui jalur perdata.
Aku tidak mendapatkan rumah itu lagi.
Namun aku juga tidak menginginkannya.
Rumah kecil di Sukamulya telah menjadi tempat yang benar-benar kami sebut rumah.
Waktu berlalu.
Hari ulang tahun Mila yang kedelapan akhirnya tiba.
Kami pergi ke sebuah bank kecil di Garut.
Petugas membawa kami ke ruang penyimpanan.
Mila memasukkan kunci kecil yang selama ini kusimpan.
Loker itu terbuka perlahan.
Di dalamnya terdapat sebuah kotak kayu.
Saat membukanya, aku langsung menangis.
Ada sebuah buku tabungan dengan saldo seratus lima puluh juta rupiah.
Ada polis asuransi jiwa atas nama Andi.
Ada kalung sederhana yang dulu kupakai saat menikah namun ternyata diam-diam disimpan Andi setelah aku menjual perhiasan lain untuk biaya pengobatannya.
Dan ada satu surat terakhir.
Tulisan tangan Andi masih sama.
“Rina, kalau kamu membaca surat ini berarti Mila sudah cukup besar untuk mengerti arti perjuangan. Jangan gunakan uang ini untuk hidup mewah. Pakailah agar Mila bisa sekolah setinggi mungkin. Rumah sederhana tidak pernah membuat seseorang miskin. Yang membuat seseorang miskin adalah kehilangan kejujuran. Aku mungkin tidak bisa menemani kalian tumbuh, tetapi aku berharap setiap keputusan yang kuambil sebelum pergi bisa menjadi pelindung bagi kalian. Jangan membenci Mas Eko. Kebencian hanya akan membuat hidupmu seberat penyakit yang dulu kupikul. Maafkan dia jika suatu hari dia benar-benar menyesal.”
Aku memeluk Mila sambil menangis.
“Ayah benar-benar sayang sama kita ya, Bu?” bisiknya.
Aku mengangguk.
“Iya. Ayahmu mencintai kita sampai napas terakhirnya.”
Dua tahun kemudian, kebun kecil itu berkembang menjadi lahan pertanian organik yang memasok sayuran ke beberapa restoran di Garut. Warga desa ikut bekerja bersama kami. Pak Darma menjadi pengelola utama, sementara aku mengurus penjualan dan keuangan.
Suatu pagi, ketika matahari baru terbit, seorang pria kurus berdiri di depan pagar.
Pakainya lusuh.
Rambutnya memutih.
Aku hampir tidak mengenalinya.
“Rina…” suaranya lirih.
Itu Mas Eko.
Tidak ada lagi mobil mewah.
Tidak ada lagi jam mahal.
Ia kehilangan hampir seluruh hartanya setelah terlilit utang dan menjalani hukuman atas perbuatannya.
Matanya dipenuhi penyesalan.
“Aku tidak datang meminta tanah. Aku hanya ingin meminta maaf.”
Aku terdiam.
Ia menundukkan kepala sangat dalam.
“Aku iri kepada Andi sepanjang hidupku. Dia selalu bekerja keras. Aku selalu mencari jalan mudah. Aku baru sadar ketika semuanya hilang.”
Mila yang kini mulai beranjak besar berdiri di sampingku.
Ia menatap pria itu tanpa rasa takut.
Aku teringat pesan terakhir Andi.
Aku menarik napas panjang.
“Kesalahanmu tidak bisa dihapus begitu saja. Tapi kalau kamu benar-benar ingin berubah, mulailah dengan bekerja jujur.”
Pak Darma menyerahkan sebuah cangkul kepada Mas Eko.
“Kalau mau makan hari ini, bantu kami membersihkan kebun.”
Mas Eko menerima cangkul itu dengan kedua tangan.
Hari itu, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia bekerja di bawah terik matahari tanpa mengeluh.
Aku memandang langit yang cerah.
Aku percaya Andi sedang tersenyum.
Rumah yang dulu dibangun dengan keringat memang telah hilang. Namun cinta, pengorbanan, dan kejujuran yang ia tinggalkan justru tumbuh menjadi sesuatu yang jauh lebih besar. Harta bisa dirampas, rumah bisa dijual, tetapi kasih seorang ayah yang dipersiapkan dengan tulus bahkan sebelum ajal menjemput akan selalu menemukan jalan untuk melindungi keluarganya.
