Rina tidak membuang waktu. Sore itu juga kami kembali ke apartemen bersama seorang tukang kunci yang sudah lebih dulu dihubungi. Karena sertifikat kepemilikan apartemen sepenuhnya atas nama saya, proses penggantian seluruh sistem smart lock berjalan tanpa hambatan. PIN baru hanya diketahui oleh saya. Sidik jari lama selain milik saya dihapus dari sistem. Saat pintu tertutup kembali, untuk pertama kalinya sejak semalam saya merasa rumah itu kembali bernapas.
“Jangan sentuh apa pun selain yang diperlukan,” kata Rina. “Biarkan semua tetap seperti ini sampai proses dokumentasi selesai.”

Kami memanggil notaris dan seorang petugas yang biasa membantu pendokumentasian barang bukti. Semua isi apartemen difoto ulang secara rinci. Setiap bingkai foto Clara, pakaian yang memenuhi lemari saya, kosmetik, hingga memo di pintu kulkas dicatat satu per satu.
Sebelum pulang, saya hanya mengambil laptop, beberapa dokumen penting, dan album foto keluarga yang masih tersimpan di gudang kecil. Selebihnya saya biarkan.
Malam itu Danu mulai menelepon tanpa henti.
Dua puluh tiga panggilan tidak saya angkat.
Kemudian pesan masuk bertubi-tubi.
“Kamu di mana?”
“Kenapa rumah tidak bisa dibuka?”
“PIN siapa yang ganti?”
“Ada masalah apa?”
Saya hanya membalas satu kalimat.
“Kita bertemu besok di kantor pengacaraku.”
Tidak lebih.
Keesokan paginya saya datang lebih dulu ke kantor Rina. Beberapa menit kemudian Danu masuk dengan wajah kesal.
“Apa-apaan ini, Kirana?” bentaknya. “Rumah tidak bisa dimasuki!”
“Itu rumah saya.”
“Kita suami istri!”
“Sertifikatnya atas nama siapa?”
Ia terdiam beberapa detik.
Rina mendorong beberapa map ke hadapan Danu.
“Silakan lihat.”
Danu membuka halaman pertama. Wajahnya mulai berubah ketika melihat foto-foto yang saya ambil semalam.
Foto Clara memenuhi ruang tamu.
Foto memo cinta.
Foto pakaian.
Foto rekening bank.
Mutasi transfer.
Semua tersusun rapi berdasarkan tanggal.
“Kamu salah paham,” katanya lirih.
“Salah paham yang mana?” tanya saya tenang. “Transfer lima juta setiap bulan selama dua tahun? Atau transfer empat ratus juta untuk modal usaha?”
“Itu pinjaman.”
“Surat pinjamannya mana?”
Danu tidak menjawab.
Rina membuka map lain.
“Saudara Danu, sesuai data bank, sebagian besar dana dalam rekening bersama berasal dari klien saya. Penggunaan dana tersebut tanpa persetujuan merupakan persoalan serius yang akan kami bawa ke pengadilan.”
Danu mulai gelisah.
“Aku bisa jelaskan…”
“Silakan.”
Ia menarik napas panjang.
“Clara sedang kesulitan hidup.”
“Lalu kamu memakai uang istrimu?”
“Aku hanya ingin membantu.”
“Dua tahun?” saya menatap matanya. “Membantu sambil tinggal bersama di apartemenku?”
Wajahnya memucat.
Ia tahu tidak ada lagi yang bisa disembunyikan.
Pertemuan itu berakhir tanpa kesepakatan.
Sore harinya gugatan cerai resmi didaftarkan.
Seminggu kemudian saya mendatangi Clara Florist bersama Rina.
Tokonya cukup besar.
Dekorasinya mewah.
Papan nama baru terlihat mengilap.
Beberapa pelanggan sedang memilih bunga.
Begitu melihat saya, Clara langsung mengenali wajah saya dari foto pernikahan yang dulu pernah ia singkirkan.
“Kak Kirana…”
Saya tersenyum tipis.
“Saya hanya ingin berbicara.”
Kami duduk di ruang belakang.
Clara tampak gugup.
“Mas Danu bilang kalian sudah lama pisah rumah.”
“Saya masih tinggal bersama sampai tiga hari lalu.”
Wajah Clara langsung berubah.
“Dia bilang apartemen itu miliknya.”
“Itu juga bohong.”
Saya mengeluarkan salinan sertifikat.
Kemudian mutasi rekening.
Lalu foto-foto apartemen.
Clara membaca semuanya sambil gemetar.
“Dia bilang modal toko berasal dari tabungannya sendiri…”
“Saya yang membayarnya.”
Air mata Clara mulai jatuh.
“Dia bilang kalian tidak punya anak karena Kakak tidak mau.”
Saya menggeleng pelan.
“Dua kali saya keguguran. Saat itu dia sedang bersama siapa, saya juga baru tahu sekarang.”
Ruangan mendadak sunyi.
Untuk pertama kalinya saya melihat Clara bukan sebagai musuh, melainkan perempuan lain yang juga ditipu oleh laki-laki yang sama.
“Aku tidak tahu…” bisiknya.
“Sekarang kamu tahu.”
Saya berdiri hendak pergi.
Namun Clara memanggil saya.
“Tunggu.”
Ia membuka laci meja dan menyerahkan sebuah map cokelat.
“Semua bukti transfer dari Danu ada di sini. Ada chat, bukti pembelian, bahkan surat perjanjian sewa ruko.”
Saya menatapnya.
“Kenapa kamu memberikannya?”
“Aku tidak mau terus hidup di atas uang perempuan lain.”
Seminggu berikutnya Clara menutup tokonya sementara dan bersedia menjadi saksi di persidangan.
Ketika Danu mengetahui hal itu, ia marah besar.
Ia mendatangi toko bunga sambil berteriak.
“Kamu mengkhianatiku!”
Clara hanya menjawab pelan.
“Aku baru sadar selama ini yang kamu cintai bukan aku. Kamu hanya mencintai uang.”
Video pertengkaran itu direkam oleh pegawai toko dan menjadi pembicaraan di media sosial.
Nama Danu mulai dikenal di kantor tempatnya bekerja.
Perusahaannya memanggilnya untuk pemeriksaan etik karena ia diketahui menggunakan fasilitas kantor untuk kepentingan pribadi saat menemui Clara selama jam kerja.
Beberapa minggu kemudian sidang pertama dimulai.
Hakim mendengarkan seluruh keterangan dengan saksama.
Bukti demi bukti diajukan.
Mutasi bank.
Sertifikat apartemen.
Foto-foto.
Kesaksian notaris.
Kesaksian Clara.
Bahkan rekaman CCTV apartemen yang menunjukkan Clara keluar masuk menggunakan akses yang diberikan Danu.
Di tengah sidang, Danu masih mencoba membela diri.
“Apartemen itu rumah tangga kami.”
Hakim bertanya singkat.
“Siapa pemilik sah berdasarkan sertifikat?”
Saya mengangkat salinan dokumen.
Hakim mengangguk.
Tidak ada lagi yang perlu diperdebatkan.
Persidangan berlangsung beberapa bulan.
Selama itu saya tetap bekerja seperti biasa.
Tidak sedikit orang yang bertanya mengapa saya tampak begitu tenang.
Jawabannya sederhana.
Karena saya sudah menangis habis-habisan jauh sebelum mengetahui pengkhianatan itu.
Yang tersisa sekarang hanyalah keberanian untuk menyelesaikan semuanya.
Hari putusan akhirnya tiba.
Pengadilan mengabulkan gugatan cerai.
Apartemen dinyatakan sebagai harta pribadi saya.
Danu diwajibkan mengembalikan seluruh dana yang diambil dari rekening bersama berikut ganti rugi.
Hakim juga menyatakan sebagian aset usaha yang dibangun menggunakan dana tersebut harus dijual untuk mengembalikan kerugian.
Danu menundukkan kepala.
Ia keluar ruang sidang tanpa sepatah kata.
Saya mengira semuanya selesai.
Ternyata belum.
Tiga bulan kemudian saya menerima telepon dari nomor yang tidak dikenal.
“Kak Kirana?”
Suara di seberang terdengar sangat pelan.
“Saya Clara.”
“Ada apa?”
“Mas Danu mengalami kecelakaan.”
Saya terdiam.
“Dia meminta bertemu sekali saja.”
Saya sempat ragu.
Namun akhirnya saya datang ke rumah sakit.
Danu terbaring dengan kaki diperban.
Wajahnya jauh lebih tua dibanding beberapa bulan lalu.
“Aku kalah,” katanya lirih.
Saya tidak menjawab.
“Aku kehilangan pekerjaan.”
Saya tetap diam.
“Clara pergi.”
Ia menatap langit-langit kamar.
“Lalu aku sadar… selama ini aku sudah kehilangan orang yang paling tulus jauh sebelum semuanya hancur.”
Saya memandangnya beberapa saat.
“Danu.”
Ia menoleh.
“Aku memaafkanmu.”
Matanya langsung berkaca-kaca.
“Tapi memaafkan bukan berarti kembali.”
Air matanya jatuh tanpa suara.
Saya berdiri, menganggukkan kepala pelan, lalu keluar dari kamar itu.
Itu adalah pertemuan terakhir kami.
Enam bulan kemudian apartemen saya kembali seperti semula.
Foto pernikahan lama tidak saya pasang lagi.
Di tempat itu kini tergantung sebuah lukisan sederhana bergambar matahari terbit.
Saya mengganti seluruh warna kamar menjadi putih dan krem.
Lemari kembali rapi.
Parfum melati sudah lama hilang.
Suatu sore, ketika sedang menikmati secangkir kopi di balkon, saya menerima pesan dari bank.
Dana hasil putusan pengadilan telah masuk seluruhnya ke rekening saya.
Tidak lama kemudian, Rina mengirim pesan singkat.
“Selamat. Akhirnya selesai.”
Saya tersenyum.
Bukan karena uang itu kembali.
Melainkan karena saya akhirnya menyadari satu hal yang selama ini terlupakan.
Rumah bukanlah tempat yang dipenuhi foto-foto indah.
Rumah adalah tempat di mana harga diri tidak pernah dipaksa tinggal bersama pengkhianatan.
Dan sejak hari itu, apartemen itu benar-benar kembali menjadi rumah saya.
