IBU MERTUA MENGUNCI MENANTUNYA YANG HAMIL 38 MINGGU LALU KABUR LIBURAN KE BALI MEMAKAI UANGNYA. TUJUH HARI KEMUDIAN DIA PULANG TERSENYUM, TAPI RUMAHNYA SUDAH DIJUAL!

Reno menunjuk ke barisan tanda tangan di sudut bawah dokumen. Nama yang tertera di sana bukan hanya Rian dan Ibu Maya, melainkan nama seorang pria asing berinisial D.K. yang dikenal sebagai pengembang properti papan atas di Bandung. Nisa langsung tegang saat menyadari bahwa seluruh aset peninggalan ayahnya telah dipindahkan secara diam-diam melalui akta kuasa mutlak palsu yang dibuat sebelum mereka menikah. Belum sempat Nisa memproses keterkejutan itu, suara tangisan bayi yang melengking tinggi memecah kesunyian ruang persalinan. Perawat keluar dengan senyum kelelahan sambil menggendong seorang bayi perempuan mungil yang sehat, tetapi Nisa tidak sempat merayakan kelegaan itu karena rasa sakit di tubuhnya bercampur dengan gelombang amarah yang membakar dada.

Tiga hari berselang, Rian dan Ibu Maya mendarat kembali di Bandara Soekarno-Hatta dengan wajah segar dan tawa lebar setelah menikmati liburan mewah di Seminyak, Bali, menggunakan kartu kredit dan tabungan hasil pembobolan rekening pribadi Nisa. Mereka langsung menaiki taksi menuju Bandung dengan keyakinan penuh bahwa Nisa masih meringkuk ketakutan di dalam kamar terkunci, kelaparan, dan tidak berdaya. Setibanya di gerbang rumah besar berlantai dua itu, Ibu Maya tersenyum sinis sambil menepuk lengan anaknya. Sebentar lagi Nisa akan menyerahkan semua hak asuh anak dan menandatangani surat pelepasan sisa aset, karena tidak ada jalan keluar lain bagi perempuan yang diisolasi tanpa ponsel dan uang.

Namun, langkah mereka mendadak terhenti ketika melihat gerbang utama terbuka lebar dan sebuah papan besar bertuliskan properti ini dalam pengawasan hukum berdiri kokoh di halaman depan. Rian berlari panik membuka pintu rumah yang kini sudah diganti kuncinya oleh pihak kepolisian, sementara perabotan di dalam tampak berantakan karena sebagian besar barang mewah telah disita untuk penyelidikan awal. Ibu Maya berteriak histeris memanggil Bik Marni, tetapi asisten rumah tangga itu muncul dari arah dapur didampingi oleh dua orang petugas kepolisian berseragam lengkap. Belum sempat Rian melontarkan kemarahannya, pintu kamar utama yang dulu mengurung Nisa terbuka dengan suara derit pelan. Nisa berdiri di ambang pintu dengan balutan pakaian rapi, menggendong bayi mungil mereka dalam dekapan hangat, didampingi oleh pengacara Reno dan seorang penyidik senior dari kepolisian resor Bandung. Wajah Rian memucat seketika, sementara Ibu Maya terperanjat mundur hingga hampir terjatuh di atas lantai marmer.

Nisa melangkah maju dengan tatapan mata yang dingin dan penuh ketegasan, sama sekali tidak menyisakan sedikit pun sosok istri tertindas yang mereka tinggalkan seminggu lalu. Nisa melayangkan dokumen berlapis stempel resmi ke hadapan mantan suaminya, memperlihatkan surat penahanan atas tuduhan penggelapan dana korporasi, pemalsuan dokumen autentik, serta percobaan penelantaran anak dalam kondisi darurat medis. Rian mencoba membela diri dengan berteriak bahwa rumah itu adalah hak keluarganya, namun Reno langsung membungkam argumen tersebut dengan menunjukkan bukti rekaman suara percakapan Rian dan Ibu Maya saat merencanakan penguncian ilegal serta surat kepemilikan mutlak yayasan yang sah milik keluarga besar mendiang ayah Nisa.

Polisi langsung memborgol kedua tangan Rian di tempat, sementara Ibu Maya terduduk lemas di lantai sambil meratap putus asa menyadari seluruh rencana licik mereka telah hancur lebur dalam sekejap. Nisa menatap tajam ke arah mertuanya yang kini tak berdaya, lalu membisikkan kalimat penutup yang membuat sekujur tubuh wanita tua itu gemetar ketakutan. Liburan kalian di Bali mungkin sangat menyenangkan, tetapi pertunjukan yang sebenarnya baru saja dimulai di ruang pengadilan. Nisa mencium kening buah hatinya yang tertidur pulas, melangkah keluar rumah meninggalkan kenangan pahit masa lalu, siap menatap masa depan baru yang dibangun di atas keadilan dan kekuatan dirinya sendiri.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang