ANAK KANDUNG DITUKAR 16 TAHUN, KINI KEMBALI SEBAGAI ANGGOTA KELUARGA KAYA DAN BISA MENDENGAR SUARA HATI KUCING UNTUK MEMBONGKAR RAHASIA KELUARGA! 🐱💥

Wulan masih bergantung di luar jendela. Jemari ibunya menggenggam tangannya erat hingga memutih, sementara ayahnya ikut menarik bahunya dengan napas memburu. Dalam beberapa detik yang terasa begitu panjang, tubuh Wulan akhirnya berhasil ditarik kembali ke dalam rumah. Begitu kedua kakinya menyentuh lantai, ibunya langsung memeluknya sambil menangis tanpa mampu menyembunyikan rasa takut yang sejak tadi menyesakkan dada.

“Wulan, jangan lakukan itu lagi. Apa pun yang terjadi, Ibu tidak akan membiarkanmu pergi.”

Wulan mengangguk pelan. Ia sama sekali tidak mengerti mengapa semua orang tampak begitu panik. Bukankah Mochi tadi hanya menyuruhnya berpura-pura? Ia benar-benar bermaksud berpura-pura. Hanya saja tubuhnya kehilangan keseimbangan.

Bella berdiri beberapa langkah dari mereka dengan wajah yang semakin pucat. Air mata masih mengalir, tetapi kini tidak ada seorang pun yang benar-benar memperhatikannya.

Mochi melompat ke rak buku, menjilati kaki depannya dengan santai.

“Untung saja selamat. Anak ini benar-benar tidak punya rem. Lain kali aku harus berpikir dulu sebelum bercanda.”

Wulan mengusap pelan kepala Mochi ketika tidak ada yang melihat.

“Terima kasih.”

Mochi membeku.

“Dia… dia benar-benar mendengarku.”

Malam itu, suasana rumah besar keluarga Wibowo berubah canggung. Ibunya memaksa Wulan duduk di sampingnya saat makan malam. Ayah hanya sesekali melirik, seolah masih belum yakin menerima kenyataan bahwa gadis sederhana di hadapannya adalah darah dagingnya sendiri.

Bella terus berusaha mengambil perhatian.

“Ibu, besok Bella ada lomba piano.”

“Iya.”

“Ayah, Bella juga ingin ikut makan siang bersama klien.”

“Nanti kita lihat.”

Jawaban mereka terdengar singkat. Tidak seperti biasanya.

Mochi yang sedang menikmati ikan panggang mendengus dalam hati.

“Biasanya semua perhatian cuma buat Bella. Sekarang mulai berubah sedikit. Wah, pasti seru.”

Setelah makan malam selesai, seorang pelayan tua bernama Pak Surya datang menghampiri Wulan.

“Nona, kamar Anda sudah disiapkan.”

Saat melewati lorong, Wulan mendengar suara burung murai di taman.

“Gadis itu baik. Tapi rumah ini banyak bau kebohongan.”

Ia berhenti.

Pak Surya menoleh.

“Ada apa, Nona?”

“Tidak apa-apa.”

Sesampainya di kamar, Wulan baru menyadari bahwa kamarnya berada tepat di samping kamar Bella.

Mochi menyelinap masuk lewat balkon.

“Aku sengaja datang. Ada sesuatu yang harus kau tahu.”

Wulan langsung duduk bersila.

“Apa?”

“Keluarga ini tidak sesederhana yang kau kira.”

“Kenapa?”

“Aku sering tidur di ruang kerja Tuan Ardi.”

Ardi adalah nama ayahnya.

“Sudah bertahun-tahun aku mendengar percakapan mereka. Bella bukan anak jahat sejak lahir. Ada seseorang yang mengajarinya.”

“Siapa?”

“Aku belum tahu. Tapi setiap beberapa minggu sekali, ada seseorang yang datang diam-diam ke rumah.”

Belum sempat Mochi melanjutkan, terdengar suara langkah kaki.

Bella.

Mochi langsung bersembunyi di balik gorden.

Bella membuka pintu tanpa mengetuk.

“Kamu senang sekarang?”

Wulan menatapnya polos.

“Senang apa?”

“Semua perhatian mulai berpindah kepadamu.”

“Aku tidak tahu.”

Bella menggigit bibir.

“Kamu pikir aku akan membiarkanmu merebut semuanya?”

“Aku tidak merebut.”

Bella mendekat hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa sentimeter.

“Dengarkan baik-baik. Selama enam belas tahun aku hidup sebagai putri keluarga ini. Semua orang mengenalku. Semua aset, semua relasi, semua penghormatan adalah milikku.”

Wulan hanya berkedip.

“Kalau memang milikmu, kenapa takut?”

Kalimat sederhana itu membuat Bella terdiam.

Untuk pertama kalinya sejak Wulan datang, Bella tidak mampu menjawab.

Ia membanting pintu dan pergi.

Mochi keluar sambil tertawa.

“Wah, tanpa sadar kau mulai pintar.”

“Aku hanya bertanya.”

“Itulah masalahnya. Orang yang berbohong paling takut pada pertanyaan sederhana.”

Hari berikutnya, keluarga Wibowo mengadakan makan siang bersama beberapa kerabat besar. Kabar bahwa anak kandung mereka telah ditemukan menyebar sangat cepat.

Semua orang memandangi Wulan.

Ada yang tersenyum.

Ada yang berbisik.

Ada pula yang menatap sinis.

Seorang wanita paruh baya bernama Tante Mira tersenyum tipis.

“Kasihan sekali. Wajahnya cantik, tapi katanya agak lambat berpikir.”

Bella langsung menimpali.

“Iya, Tante. Wulan memang polos.”

Mochi yang tidur di bawah meja mendengus.

“Mulai lagi.”

Tiba-tiba seekor burung pipit hinggap di jendela.

“Perempuan itu bohong. Dia tadi pagi menyembunyikan gelang berlian di tas gadis baru.”

Jantung Wulan berdetak lebih cepat.

“Apa?”

Mochi ikut mendongak.

“Burung kecil tidak pernah berbohong.”

Belum lama kemudian, Bella berdiri.

“Ibu… gelang warisan Nenek hilang.”

Ruangan langsung gaduh.

Semua orang mulai mencari.

Bella menangis.

“Itu hadiah terakhir dari Nenek.”

Ayah segera memerintahkan seluruh pelayan memeriksa rumah.

Bella memandang Wulan.

“Kalau tidak salah tadi aku melihat Wulan memegang kotak perhiasan.”

Semua mata langsung mengarah kepadanya.

Pak Surya ragu-ragu.

“Maaf, Nona Wulan. Kami harus memeriksa tas Anda.”

Wulan mengangguk.

Beberapa detik kemudian…

Gelang berlian benar-benar ditemukan di dalam tasnya.

Ruangan mendadak sunyi.

Ayah memejamkan mata.

“Wulan…”

Bella menangis semakin keras.

“Aku tidak menyangka…”

Suara hati semua orang bercampur menjadi kekacauan di kepala Wulan.

Namun di antara semuanya, suara Mochi terdengar paling jelas.

“Tenang.”

“Burung pipit tadi melihat Bella memasukkan gelang itu.”

“Lihat langit-langit.”

Wulan mendongak.

Seekor cicak kecil sedang diam menempel.

“Aku lihat semuanya.”

Wulan mengangkat tangan.

“Ada saksi.”

Semua orang saling berpandangan bingung.

“Saksi?”

Wulan menunjuk cicak.

Semua orang mengira ia sedang bercanda.

Beberapa tamu bahkan mulai tertawa.

Bella tersenyum puas.

“Lihat? Dia memang…”

Belum selesai ia berbicara, Mochi tiba-tiba melompat ke arah vas bunga besar.

Brak.

Vas itu pecah.

Semua orang spontan menoleh.

Dalam kekacauan itu, seekor burung pipit masuk melalui jendela terbuka sambil membawa sesuatu yang berkilau.

Gelang kedua.

Ternyata gelang yang ditemukan di tas Wulan hanyalah tiruan.

Burung itu menjatuhkan gelang asli tepat di depan kaki Ibu.

Ibu membungkuk perlahan.

Wajahnya berubah.

“Itu… gelang asli.”

Bella kehilangan warna wajah.

Mochi menggeram pelan.

“Akhirnya ketahuan juga.”

Ibu menatap Bella dengan mata berkaca-kaca.

“Kalau gelang asli ada di sini… siapa yang memasukkan gelang palsu ke tas Wulan?”

Bella mundur selangkah.

“Aku… aku tidak tahu.”

Namun seekor burung gagak yang bertengger di pohon luar jendela berteriak keras.

“Aku lihat! Gadis itu! Gadis itu!”

Burung itu terus berkicau tanpa henti.

Wulan menunduk.

“Aku percaya burung.”

Ucapan itu membuat semua orang semakin bingung.

Tetapi kali ini Ibu tidak langsung mengabaikannya.

Ia mengingat bagaimana Bella sebelumnya juga menuduh Wulan tanpa bukti.

Ia mengingat bagaimana Mochi merusak CCTV tepat sebelum rekaman diperiksa.

Semua kejadian itu seperti kepingan puzzle yang perlahan mulai tersusun.

“Ibu ingin memeriksa rekaman CCTV bagian dalam rumah.”

Bella langsung panik.

“Kebetulan… kamera ruang tamu juga rusak.”

Pak Surya terkejut.

“Rusak? Padahal tadi pagi masih normal.”

Teknisi segera dipanggil.

Lima belas menit kemudian, hasil pemeriksaan keluar.

“Kabel kamera ini dipotong menggunakan gunting.”

Semua orang memandang Bella.

Tangannya mulai gemetar.

“Aku… aku tidak tahu.”

Namun tiba-tiba terdengar suara seorang wanita tua dari arah pintu.

“Kalau begitu biar saya yang menjelaskan.”

Semua orang menoleh.

Seorang mantan pengasuh keluarga masuk perlahan dengan tongkat.

Namanya Bu Rini.

Ia baru pulang dari luar kota setelah mendengar kabar Wulan telah ditemukan.

Begitu melihat Bella, wajah Bu Rini berubah sedih.

“Saya sudah diam terlalu lama.”

Ayah berdiri.

“Maksud Ibu?”

Enam belas tahun lalu, saat kedua bayi lahir di rumah sakit yang sama, Bu Rini pernah melihat seorang perawat menerima uang dari seorang wanita misterius. Bayi keluarga Wibowo sengaja ditukar demi menutupi sebuah kesepakatan besar. Selama bertahun-tahun ia takut mengungkapkan kebenaran karena terus diancam.

Namun ancaman itu belum berhenti.

Bu Rini mengeluarkan sebuah amplop tua.

Di dalamnya terdapat foto-foto, salinan transfer uang, dan sebuah surat yang selama ini disembunyikannya.

“Tapi pelakunya bukan Bella.”

Semua orang menahan napas.

“Yang menyuruh pertukaran bayi adalah seseorang yang sangat dekat dengan keluarga ini.”

Ayah membuka surat itu dengan tangan gemetar.

Begitu membaca nama yang tertulis, wajahnya seketika membeku.

“Tidak mungkin…”

Ibu merebut surat itu.

Air matanya langsung jatuh.

Nama yang tertulis adalah adik kandung ayah sendiri, Paman Hendro.

Pria yang selama ini menjadi penasihat keuangan keluarga.

Mochi mengembuskan napas panjang.

“Akhirnya bau busuk itu keluar juga.”

Tepat saat semua orang masih terpaku, terdengar suara mesin mobil berhenti di halaman.

Paman Hendro baru saja datang.

Ia tersenyum seperti biasa, sama sekali belum mengetahui bahwa rahasia yang disembunyikannya selama enam belas tahun kini telah terbongkar.

Wulan memandang pria itu dengan tenang.

Untuk pertama kalinya sejak memasuki rumah itu, ia tidak merasa bingung.

Ia hanya mendengar suara hati Mochi yang berbisik pelan.

“Permainan yang sebenarnya… baru saja dimulai.”

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang