Aku menatap matanya langsung dengan dingin dan mengucapkan satu kalimat yang membuatnya terdiam seketika, “Rumah ini kubeli dengan uang warisan orang tuaku sebelum aku menikah dengan Marco, dan sertifikat tanahnya tidak pernah menjadi bagian dari harta gono-gini.”
Suasana di ruang tamu yang tadinya riuh mendadak sunyi mencekam. Ibu mertuaku, Bu Siti, yang sedari tadi berteriak histeris, langsung terpekik kecil dan mundur dua langkah seolah-olah tersengat listrik. Wajahnya yang tebal dengan makeup mendadak pucat pasi. Dua belas kerabat yang duduk di sofa mewah—dari sepupu, paman, hingga ipar yang selama ini hidup menumpang tanpa tahu malu—saling berpandangan dengan cemas. Mereka mengira aku akan terus menjadi wanita bodoh yang bisa diinjak-injak selamanya.

Marco, yang baru saja masuk ke rumah bersama selingkuhannya, Rani, langsung membentakku dengan suara tinggi. “Dewi! Jangan main-main kamu! Ini rumah keluarga besar kita! Kamu tidak punya hak mengusir mereka begitu saja!” teriak Marco, mencoba menunjukkan kuasanya di depan wanita mudanya.
Aku tersenyum tipis, senyuman yang membuat Marco justru merasa tidak nyaman. Aku melangkah pelan mendekati meja kaca di tengah ruangan, mengambil sebuah map biru tebal, lalu melemparkannya tepat di hadapan Marco.
“Baca ini baik-baik sebelum kamu berteriak, Marco,” kataku dengan suara tenang namun tegas. “Selama lima belas tahun aku diam bukan karena aku takut, tapi karena aku menunggu waktu yang tepat. Hari ini, saat perceraian kita resmi disahkan oleh pengadilan, dan hari ini pula yayasan sosial itu resmi menerima donasi hak kepemilikan penuh atas tanah dan bangunan ini.”
Rani, dengan gaya centilnya, mendekati Marco dan berbisik manja, “Yang, suruh dia pergi saja. Wanita gila ini pasti cuma gertak sambal. Mana mungkin ada orang waras yang membuang rumah semahal ini.”
Namun, ucapan Rani terpotong ketika bel gerbang berbunyi nyaring. Tak lama kemudian, lima orang petugas kepolisian bersama tiga orang juru sita pengadilan melangkah masuk ke dalam rumah. Mereka membawa dokumen resmi berkop negara.
Pimpinan petugas juru sita melangkah ke depan dan berkata dengan suara formal, “Selamat siang. Kami datang atas perintah pengadilan dan pihak yayasan sosial. Berdasarkan surat keputusan sah, mulai hari ini pukul dua belas siang, seluruh penghuni yang tidak memiliki hak legal atas properti ini harus segera mengosongkan tempat. Waktu yang diberikan adalah tiga hari untuk memindahkan barang-barang pribadi.”
Kepanikan seketika meledak. Para kerabat Marco mulai berteriak histeris. Ada yang menangis meratap di lantai, ada yang memaki-maki diriku, dan ada pula yang mencoba memohon-mohon kepada petugas. Bu Siti jatuh bersimpuh di kaki petugas, memohon agar diizinkan tinggal lebih lama. Namun, hukum tetaplah hukum. Properti itu sudah sah berpindah tangan secara legal.
Selama bertahun-tahun, keluarga besar Marco memperlakukannya seperti hotel gratis. Mereka tidak pernah bekerja, tidak pernah membayar tagihan listrik atau air, bahkan merusak perabotan rumah tangga tanpa rasa bersalah. Setiap kali aku menegur, Marco selalu membela mereka dan mengatakan bahwa aku egois karena tidak mau berbagi dengan keluarganya yang susah. Padahal, kesusahan mereka adalah akibat dari kemalasan mereka sendiri yang dibiarkan oleh Marco.
Dua anakku, Keenan yang berusia empat belas tahun dan Kirana yang berusia sepuluh tahun, berjalan mendekatiku dari lantai atas. Mereka membawa koper kecil masing-masing. Tidak ada air mata kesedihan di wajah mereka, melainkan kelegaan yang luar biasa.
Keenan, dengan kedewasaan yang melebihi usianya, menggenggam tanganku erat-erat. “Ibu, kami bangga pada Ibu. Kami sudah lelah melihat rumah ini diperlakukan seperti pasar oleh mereka. Kami siap hidup sederhana asalkan kita bersama-sama.”
Aku memeluk kedua anakku dengan penuh kasih sayang. Keputusan besar ini tidak aku ambil secara gegabah. Jauh sebelum aku mengajukan gugatan cerai, aku sudah memindahkan seluruh tabungan pribadi anak-anak ke rekening aman, mengamankan aset-aset sah milikku di luar kota, dan merancang yayasan sosial impian almarhum ayahku. Mansion mewah di pusat Jakarta ini memang megah di luar, tapi di dalamnya hanya ada kepalsuan, pengkhianatan, dan racun dari keluarga Marco.
Marco berdiri terpaku di sudut ruangan. Wajahnya kehilangan seluruh warna kesombongannya. Selama ini dia merasa sangat hebat karena memiliki istri yang kaya, penurut, dan sabar, sekaligus bisa memelihara keluarganya di rumah mewah tanpa harus mengeluarkan uang sepeser pun. Kini, dalam waktu satu hari, semuanya runtuh. Rani, wanita yang selama ini mengejarnya karena harta dan kemewahan rumah tersebut, mulai menunjukkan wajah aslinya.
“Marco, apa-apaan ini?!” bentak Rani dengan nada suara yang meninggi, melepaskan rangkulannya dari lengan Marco. “Kamu bilang rumah ini milik keluargamu dan akan jadi milik kita nanti! Kalau begini caranya, aku tidak mau urus kamu lagi! Buang-buang waktu saja!”
Rani langsung berbalik badan dan melangkah pergi keluar rumah tanpa menoleh lagi, meninggalkan Marco yang berdiri bagaikan orang bodoh di tengah kerabatnya yang sedang menangis meraung-raung.
Tiga hari kemudian, proses pengosongan rumah selesai. Aku dan anak-anakku resmi pindah ke sebuah rumah minimalis yang asri di kawasan pinggiran kota, tempat yang tenang, bersih, dan dipenuhi oleh udara segar serta cinta yang tulus. Rumah itu kubeli menggunakan hasil penjualan investasi pribadiku sebelum menikah, murni keringatku sendiri.
Sementara itu, nasib keluarga Marco sangat mengenaskan. Kerabatnya yang selama ini menumpang hidup kini harus kembali ke kampung halaman mereka dengan membawa malu besar, karena seluruh desa tahu bahwa mereka diusir dari rumah mewah akibat keserakahan mereka sendiri. Bu Siti jatuh sakit karena syok berat dan harus dirawat di rumah sakit umum tanpa ada yang merawat dengan layak, sebab Marco kini terjerilit utang menumpuk akibat gaya hidup mewahnya yang palsu.
Marco beberapa kali mencoba menghubungiku, memohon agar aku mau kembali atau setidaknya membantunya melunasi utang-utangnya. Namun, nomornya sudah lama ku-block dari ponselku. Aku tidak menyimpan kebencian yang mendalam, karena memaafkan bukan berarti harus membiarkan diri kita terus disakiti.
Beberapa bulan berlalu, mansion mewah tersebut kini telah bertransformasi sepenuhnya. Suara tangisan keputusasaan dan makian keserakahan telah berganti menjadi suara tawa ceria anak-anak yatim piatu yang berlari di halaman rumput yang luas, serta senyuman hangat para lansia yang menikmati masa tua mereka dengan damai di panti jompo yang layak.
Setiap kali aku melewati gedung yayasan itu dan melihat plang nama yang didedikasikan untuk almarhum orang tuaku, sebuah ketenangan yang luar biasa merayap di dadaku. Melepaskan bukan berarti kalah. Terkadang, dengan merelakan apa yang tampak berharga di mata dunia, kita justru sedang membebaskan diri dari penjara yang paling menyiksa, dan membuka pintu menuju awal kehidupan yang benar-benar bersih dan bermakna.
