Setelah aku disebut TIDAK BERGUNA oleh anak kandungku sendiri, aku menjual semuanya dan menghilang

Malam itu, setelah rumah kembali sunyi dan hanya menyisakan suara dengkur halus dari kamar sebelah, aku mulai bergerak dalam gelap. Di usia tujuh puluh tahun, di saat sebagian besar orang seumuranku hanya duduk di kursi goyang sambil merajut, aku justru sedang menyusun rencana pelarian paling radikal dalam hidupku.

Aku melangkah perlahan menuju brankas tersembunyi di balik lemari buku tua mendiang suamiku. Tanganku sama sekali tidak gemetar. Kata-kata Lily tadi pagi masih terngiang-ngiang di kepalaku, membersihkan sisa-sisa keraguan terakhir yang masih bersisa. Kata tidak berguna itu seperti asam keras yang membakar habis ikatan darah yang selama ini kupertahankan mati-matian.

Di dalam brankas itu tersimpan seluruh aset sisa hidupku, hasil dari penjualan tanah warisan keluarga di Bandung dan tabungan investasi yang kumiliki selama bertahun-tahun. Selama ini, aku tidak pernah berniat menyentuhnya untuk kepentingan pribadi, karena aku merencanakannya sebagai warisan untuk Lily dan anak-anaknya. Namun malam ini, kepemilikan itu berpindah. Aku memasukkan seluruh lembaran surat berharga, dokumen kepemilikan properti, dan kartu rekening yang berisi seluruh tabunganku ke dalam koper kulit hitam berukuran sedang.

Pagi datang dengan cepat, membawa bias cahaya jingga menembus jendela kaca besar rumah di Menteng. Lily sudah duduk di meja makan sambil menyesap kopi hitamnya. Ia menatapku dengan tatapan biasa, tanpa ada rasa bersalah atas apa yang ia katakan kemarin.

“Ma, nanti siang tolong jangan lupa cuci baju anak-anak ya. Dan ingat, jangan pakai detergen yang kemarin, bikin kulit Leo gatal,” ucapnya tanpa menoleh saat aku melangkah mendekati meja makan.

Aku hanya tersenyum tipis. Sebuah senyuman yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. “Tentu, Lily,” jawabku tenang.

Setelah Lily pergi mengantar anak-anaknya ke sekolah, rumah kembali jatuh dalam keheningan yang sempurna. Ini adalah waktu yang kupilih. Aku tidak meninggalkan sepatah kata pun di atas meja, tidak ada catatan perpisahan yang melodramatis. Aku hanya memesan sebuah taksi online berjenis MPV hitam yang langsung berhenti di depan gerbang tinggi rumah bergaya kolonial itu.

Pengemudi taksi membantu memasukkan koperku ke bagasi. Sebelum pintu mobil ditutup, aku sempat memandang sekali lagi bangunan megah tempat aku menghabiskan separuh hidupku, tempat kebahagiaan dan kepedihan bertumpu. Rumah itu, atas namaku sepenuhnya. Dan hari ini, aku meninggalkan kuncinya tepat di atas meja ruang tamu, di sebelah vas bunga mawar yang mulai layu.

Perjalananku dimulai dari sebuah hotel butik tersembunyi di kawasan Kemang. Selama tiga hari pertama, aku tidak keluar kamar sama sekali. Aku mulai menghubungi seorang notaris kepercayaan mendiang suamiku, seorang pria paruh baya bernama Pak Hartono yang mengenalku sejak usiaku masih tiga puluh tahun. Aku memintanya untuk mengurus satu hal yang paling krusial: menjual seluruh aset properti yang kumiliki di Jakarta dengan sistem pembayaran tunai kilat, tanpa peduli jika harganya harus sedikit di bawah pasar demi kecepatan transaksi.

Sementara itu, di rumah Menteng, kepanikan pasti sedang melanda. Ponselku yang sengaja kuaktifkan dalam mode getar mulai menerima puluhan panggilan masuk dari Lily sejak sore hari ketiga.

“Ma, Mama di mana? Kenapa rumah terkunci dan kuncinya ada di meja?” suara Lily di pesan suara terdengar mulai bernada tinggi, bergeser dari rasa heran menjadi sedikit ketakutan. “Jangan bikin repot ya, Ma. Anak-anak nyariin nih. Cepat pulang.”

Aku mendengarkan pesan itu sambil menyeruput teh chamomile hangat di balkon kamar hotelku yang menghadap ke kolam renang. Tidak ada rasa iba di dadaku, yang ada hanyalah ketenangan yang sudah puluhan tahun tidak kutemukan. Hidup bersamanya telah mengikis harga diriku sebagai seorang wanita, dan kini, lembar demi lembar harga diri itu kembali tersusun rapi.

Dua minggu berlalu dalam senyap. Pak Hartono bergerak sangat cepat. Rumah mewah di Menteng itu berhasil dipindahtangankan kepada seorang investor properti asal Surabaya yang kebetulan sedang mencari rumah lama di kawasan elit Jakarta Pusat. Dana segar dalam jumlah yang fantastis langsung masuk ke rekening khusus yang baru kubuka atas nama identitas lamaku yang lain, sebuah nama keluarga ibuku yang tidak pernah digunakan Lily.

Total uang yang kudapatkan dari penjualan rumah dan seluruh tabunganku mencapai angka belasan miliar rupiah. Sebuah jumlah yang lebih than cukup untuk membuatku hidup tenang di sisa usia, tanpa harus bergantung pada belas kasihan siapa pun, apalagi anak kandung yang menganggapku sebagai beban menjijikkan.

Lily semakin panik. Dari pesan-pesan WhatsApp yang masuk, nadanya sudah berubah drastis. Tidak ada lagi perintah atau nada meremehkan. Yang tersisa hanyalah keputusasaan.

“Ma, kumohon pulanglah. Sertifikat rumah di mana? Bank bilang rumah itu sudah terjual. Mama tidak mungkin melakukan ini kan? Kami mau tinggal di mana sekarang? Tolong, Ma, jangan hukum kami seperti ini.”

Aku membalas satu pesan terakhir sebelum akhirnya memblokir nomor tersebut untuk selamanya. Kalimatku singkat namun telak: “Kamu bilang aku tidak berguna dan menjijikkan. Sekarang, nikmati hidup mandiri tanpa wanita tua yang memuakkan ini.”

Setelah urusan finansial dan administrasiku beres, aku mengambil penerbangan domestik menuju sebuah pulau kecil di timur Indonesia, tempat di mana lautnya berwarna biru jernih dan penduduknya hidup dalam kedamaian yang jauh dari hiruk-pikuk ibu kota. Aku menyewa sebuah vila kayu minimalis yang langsung menghadap ke hamparan pantai berpasir putih. Setiap pagi, aku duduk di teras sambil menikmati angin laut, menyeruput kopi, dan merawat bunga-bunga tropis yang kutanam sendiri di halaman depan.

Di sisi lain, Lily harus menghadapi kenyataan pahit yang tidak pernah ia bayangkan dalam mimpi buruknya yang paling mengerikan. Tanpa warisan, tanpa rumah tempat berlindung, dan tanpa tabungan ibunya yang selama ini ia anggap sebagai jaminan masa depan yang pasti, ia diusir dari rumah Menteng oleh pemilik barunya dalam waktu kurang dari sebulan. Ia harus membawa kedua anaknya kembali mengontrak di sebuah petak rumah susun sempit di pinggiran Jakarta, tempat di mana cicilan dan desakan hidup menghantamnya setiap hari tanpa ampun. Ia baru sadar bahwa kemewahan yang ia nikmati selama ini bukanlah karena kemampuannya, melainkan karena punggung renta seorang wanita tua yang selama ini ia caci maki di setiap kesempatan.

Namun aku sudah tidak peduli lagi dengan nasibnya. Di bawah langit senja pulau ini, aku merentangkan kedua tanganku menyambut angin laut yang hangat. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku merasa benar-benar hidup, bebas, dan utuh sebagai seorang wanita bernama Margareta Ellington, bukan sekadar seorang ibu yang dimanfaatkan lalu dibuang begitu saja. Uang itu memang kubawa pergi, tetapi yang jauh lebih berharga dari sekadar uang adalah harga diriku yang berhasil kutemukan kembali di ujung usia.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang