PADA MALAM PERNIKAHAN KAMI, KETIKA AKU MENYINGKAP SELIMUT

Pintu kamar tidur utama tertutup rapat di belakang kami, mengunci seluruh kemegahan pesta pernikahan yang baru saja usai. Di luar, suara tawa dan denting gelas perlahan mereda, digantikan oleh keheningan malam Jakarta yang pekat. Aku berdiri kaku di tengah ruangan kamar bernuansa krem dan emas itu, mengenakan gaun pengantin putih yang terasa begitu berat di tubuhku yang gemetar. Ethan berdiri beberapa langkah di dariku, membelakangiku sambil melonggarkan dasinya dengan gerakan lambat yang menyiratkan kelelahan luar biasa. Udara di dalam ruangan terasa begitu padat, dipenuhi oleh ketegangan yang tidak kasat mata tetapi bisa dirasakan oleh kulit. Aku menelan ludah dengan susah payah, jemariku meremas ujung gaun sutra itu erat-erat, mencoba meyakinkan diri bahwa ini bukan mimpi buruk, melainkan awal dari hidup baru yang tak pernah berani kuimpikan.

Ethan berbalik perlahan. Menatapku dengan sorot mata yang sulit diartikan—ada campuran rasa bersalah, ketakutan, dan sebuah kerinduan yang amat dalam di sana. Tanpa berkata sepatah kata pun, ia melangkah mendekatiku, lalu dengan lembut meraih tanganku yang terasa dingin. Kulitnya yang hangat seolah mengirimkan aliran listrik kecil, membuat jantungku berdegup kencang bukan karena gairah seorang pengantin baru, melainkan karena firasat bahwa rahasia terbesar dari keluarga Hartono akan segera terbongkar malam ini. Ia menuntunku duduk di tepi ranjang berseprai satin putih yang mewah, lalu berlutut di hadapanku. Napasnya terdengar berat, dan saat ia menatap tepat ke dalam mataku, aku melihat air mata tertahan di ujung kelopak matanya yang lelah.

Mia, bisiknya dengan suara serak yang nyaris tak terdengar di atas dengungan AC sentral.

Aku hanya bisa mengangguk, terlalu takut untuk mengeluarkan suara. Ethan kemudian meraih ujung selimut tebal yang melipat rapi di dekat kaki tempat tidur. Dengan tangan yang sedikit bergetar, ia menarik selimut itu perlahan-lahan ke samping, menyingkap permukaan kasur di sisi kirinya yang selama ini tertutupi lipatan kain. Napasku seketika tercekat di tenggorokan, dan seluruh darahku terasa mengalir turun ke kaki. Di atas seprai putih bersih itu, tergeletak sebuah kotak kayu mahoni tua yang terbuka, dikelilingi oleh tumpukan dokumen medis berlogo rumah sakit internasional dan beberapa lembar foto lama yang menguning.

Tetapi bukan kotak atau dokumen itu yang membuatku gemetar hingga lututku lemas. Di dalam kotak itu, tersimpan sebuah liontin perak berbentuk malaikat kecil dengan ukiran inisial nama yang sangat aku kenal—liontin yang sama persis dengan milik ibuku, liontin yang hilang bersama hilangnya ibuku dua puluh tahun lalu ketika rumah kami terbakar habis di perkampungan kumuh pinggiran kota.

Mataku melebar, menatap Ethan dengan horor dan kebingungan yang bercampur aduk. Aku mencoba menarik tanganku dari genggamannya, tetapi ia memegangnya semakin erat, seolah takut aku akan lari menembus dinding malam itu juga.

Jangan takut, Mia, ucap Ethan lirih, air matanya akhirnya tumpah membasahi pipinya. Semua ini memang gila, dan aku tahu kamu berhak mengetahui kebenaran yang selama ini disembunyikan oleh keluargaku dengan sangat rapat.

Ia meraih sebuah map biru dari dalam kotak itu dan membukanya di hadapanku. Mataku menangkap deretan huruf pada surat keterangan adopsi dan catatan investigasi kepolisian masa lalu. Ayahku, Tuan Hartono yang disegani banyak orang, bukanlah pria suci seperti yang dilihat dunia luar, bisik Ethan dengan suara bergetar penuh kepedihan. Dua puluh tahun lalu, perusahaan keluarganya berada di ambang kehancuran total. Untuk menyelamatkan semuanya, mereka membutuhkan suntikan dana ilegal dari sindikat berbahaya yang dipimpin oleh seorang buronan besar. Dan untuk memastikan kerja sama itu terjadi, mereka membutuhkan tumbal. Mereka membutuhkan seorang anak dari keluarga miskin sebagai jaminan kesetiaan palsu, seorang anak yang sengaja dibuang agar jejak kejahatan mereka tidak pernah ditemukan. Anak itu adalah kamu, Mia.

Pernyataannya menghantam dadaku bagaikan hantaman palu godam. Aku merasa seisi ruangan berputar kencang. Aku? Bukan seorang pembantu yang beruntung? Melainkan anak korban dari keserakahan keluarga yang kini menerimaku sebagai menantu?

Tetapi, kenapa aku? Kenapa aku dijadikan menantu dan diberi mansion mewah ini? tanyaku dengan suara parau, air mata kini menderas membasahi pipiku, menghapus riasan pengantin yang mahal.

Ethan menarik napas panjang, menatapku dengan penuh penyesalan yang mendalam. Karena ayahku, sebelum meninggal dunia bulan lalu, akhirnya dihantui oleh rasa bersalah yang teramat sangat setelah mengetahui bahwa ibu kandungmu meninggal dalam kebakaran yang disengaja oleh orang suruhannya demi menutup kasus penculikanmu. Keluargaku kaya raya di atas penderitaan keluargamu, Mia. Mansion senilai tiga puluh miliar rupiah ini, seluruh saham perusahaan yang kini dialihkan atas namamu, dan pernikahan ini… semua itu bukanlah hadiah. Itu adalah bentuk pengembalian hak milik, sebuah penebusan dosa yang dipaksakan oleh undang-undang nurani ayahku sebelum ia menghembuskan napas terakhirnya.

Aku terdiam kaku. Otakku menolak untuk memproses semua informasi yang baru saja menerpa hidupku dalam hitungan menit. Selama ini aku mengira kemalangan hidupku adalah takdir, bahwa menjadi seorang pembantu adalah batas maksimal dari garis tangan seorang gadis miskin. Aku mengira kebaikan keluarga Hartono adalah sebuah keajaiban dongeng Cinderella di dunia nyata. Namun kenyataannya, aku sedang duduk di atas singgasana yang dibangun di atas abu penderitaan ibuku sendiri, dinikahi oleh pewaris sah dari keluarga penjahat yang merusak garis keturunanku.

Ethan merayap naik, duduk di sebelahku dan merengkuh bahuku yang bergetar hebat. Aku tidak memeluknya kembali; tubuhku terasa mati rasa. Aku melihat ketulusan di mata Ethan, aku tahu ia tidak bersalah atas dosa-dosa yang diperbuat oleh ayahnya di masa lalu. Ia bahkan menghabiskan bertahun-tahun mencari keberadaanku secara diam-diam sebelum akhirnya keluarganya menemukanku bekerja di rumah mereka sendiri tanpa sengaja. Pertemuan kami di taman malam itu bukanlah kebetulan, melainkan pencarian panjang seorang anak manusia yang ingin memohon maaf atas nama keluarganya yang berdosa besar.

Namun, di tengah kehancuran batinku, sebuah pikiran dingin melintas di benakku. Tiga puluh miliar rupiah. Kekayaan tak terbatas. Kuasa penuh atas Hartono Group yang kini sebagian besar sahamnya telah diam-diam dialihkan ke dalam rekening pribadiku berdasarkan surat wasiat sah yang ditandatangani oleh almarhum patriark keluarga Hartono seminggu sebelum kematiannya. Mereka pikir dengan memberikan semua harta itu, dosa-dosa masa lalu bisa dihapus begitu saja dengan selembar kain pengantin putih dan senyuman manis di depan para tamu undangan. Mereka pikir hati yang hancur bisa dibeli kembali dengan marmer mahal dan dinding-dinding kokoh mansion Menteng ini.

Aku perlahan melepaskan rangkulan Ethan. Mengusap air mata di pipiku dengan punggung tangan, lalu berdiri tegak di tengah kamar yang mewah itu. Udara dingin dari AC seolah menusuk tulangku, tetapi di dalam dadaku kini justru menyala sebuah api yang membara—api yang sama sekali berbeda dari rasa cinta atau kesedihan.

Ethan menatapku dengan cemas, mendongak dari tepi ranjang. Mia, apa yang kamu pikirkan? Tanyakan apa saja kepadaku, aku akan membantumu menghancurkan sisa-sisa keluargaku jika itu bisa membuatmu tenang.

Aku menatapnya tajam, sudut bibirku terangkat membentuk sebuah senyuman tipis yang dingin—senyuman yang persis seperti yang sering kulihat di wajah ayahnya ketika sedang menandatangani kontrak bisnis besar. Aku tidak butuh penghancuran, Ethan, suaraku terdengar tenang, begitu dingin hingga membuat bulu kuduknya merinding. Jika semua harta ini adalah hak milikku yang dirampas melalui darah dan air mata, maka aku akan menerimanya sampai titik darah penghabisan.

Ethan tertegun, wajahnya pucat pasi menyadari perubahan drastis pada diriku dalam kurun waktu beberapa detik saja.

Tetapi ada satu hal yang belum kamu ketahui, Ethan, lanjutku pelan sambil melangkah mendekati jendela besar yang menghadap ke halaman belakang mansion yang gelap gulita.

Apa maksudmu? tanya Ethan dengan suara bergetar, berdiri dari tempat tidurnya dan mendekatiku secara perlahan.

Surat wasiat yang ditandatangani oleh ayahmu minggu lalu bukan hanya mengalihkan harta dan perusahaan kepadaku, bisikku pelan sambil menolehkan kepala, menatap tepat ke dalam matanya yang ketakutan. Surat itu juga mencantumkan klausul rahasia bahwa jika terjadi sesuatu pada diriku dalam kurun waktu satu tahun pernikahan ini, seluruh aset keluarga Hartono secara otomatis jatuh sepenuhnya kepada yayasan amal independen yang aku dirikan secara diam-diam pagi tadi sebelum pemberkatan dimulai—tanpa menyisakan satu sen pun untukmu atau anggota keluarga Hartono lainnya.

Ethan terpaku di tempatnya, matanya membelalak lebar dalam keheningan malam yang mendadak terasa begitu mencekam. Ia menyadari bahwa malam ini, di balik selimut putih pernikahan kami, ia bukan sedang menikahi seorang pembantu miskin yang bisa ia kasihi dan lindungi untuk meredakan rasa bersalahnya, melainkan ia baru saja menyerahkan seluruh Kerajaan Hartono ke tangan seorang wanita yang telah bangkit dari abu masa lalunya untuk mengambil kembali apa yang memang menjadi miliknya.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang