Aku meringkuk di atas kasur lipat berukuran sempit di sudut ruang tamu Daniel dan Sara. Udara malam Jakarta terasa pengap, bercampur dengan bau minyak angin dan aroma sup tahu sederhana yang baru saja mereka hangatkan. Di balik tirai kain usang yang memisahkan ruang tamu dengan dapur kecil mereka, aku bisa mendengar suara bisikan pelan. Suara itu begitu jujur, begitu penuh ketulusan, hingga membuat dadaku sesak seketika.
Daniel duduk di tepi meja kayu kecil, menunduk dalam-dalam sementara Sara mengusap punggung suaminya dengan lembut. Aku pura-pura tidur, menutup mataku rapat-rapat sementara air mata hangat meleleh tanpa bisa kutahan, membasahi pipiku yang kotor oleh debu jalanan.

Daniel, suamiku—oh maksudku, anakku—berbisik dengan suara parau yang menahan tangis. Sara, kita harus bagaimana lagi? Ibu sudah tidak punya apa-apa lagi. Tadi aku melihat sendiri keadaannya di jalanan, dia benar-benar hancur, tidak punya tempat tinggal, bahkan untuk makan saja tadi dia hampir pingsan. Kita tidak boleh membiarkan ibu hidup seperti ini di masa tuanya.
Sara mengangguk, sorot matanya memancarkan ketulusan yang belum pernah kulihat seumur hidupku, bahkan dari orang-orang kaya yang sering menjilatku demi proyek. Mas Daniel, cincin warisan mendiang ibumu memang sangat berarti bagimu, tapi itu satu-satunya barang berharga yang kita punya untuk dijual di toko emas. Kita bisa memakai uang penjualannya untuk menyewa petakan yang layak untuk ibu, setidaknya agar beliau punya tempat tidur yang bersih. Aku bisa mengambil pekerjaan lembur mencuci pakaian di dua rumah tetangga lagi setiap hari. Kita pasti bisa melaluinya bersama.
Mendengar kalimat itu, duniaku seakan runtuh. Inilah wanita yang dulu pernah kupermalukan di depan keluarga besar kami. Inilah menantu yang kuanggap tidak selevel, yang kubenci karena miskin dan tidak membawa harta apa pun saat dinikahi Daniel. Dan sekarang, ketika aku datang membawa kehancuran dan keputusasaan, wanita inilah—bersama anakku yang paling dianggap remeh—yang rela mengorbankan satu-satunya harta berharga demi menyambung hidupku.
Jessica dan Miguel, dua anak kesayanganku yang telah kubelikan segalanya, membuangku seperti sampah busuk hanya karena takut reputasi mereka tercemar. Sementara Daniel dan Sara, yang hidup dalam kekurangan dan hampir tidak bisa memenuhi kebutuhan mereka sendiri, justru berniat memberikan segalanya untuk seorang pengemis tua yang mereka kira adalah ibu kandung yang sedang jatuh miskin. Malam itu, di ruangan yang sempit dan pengap itu, aku bersumpah dalam hati. Ketiga anakku akan mendapatkan balasan yang setimpal atas apa yang telah mereka tunjukkan, tetapi Daniel dan Sara akan diangkat menjadi pemilik sah dari seluruh mahakarya yang telah kuperjuangkan selama tiga dekade.
Keesokan paginya, matahari pagi menyusup lewat celah-celah dinding kayu rumah Daniel. Aroma kopi tubruk murah menyambut penciumanku. Aku duduk di lantai ruang tamu, berpura-pura masih kebingungan dan ketakutan. Daniel mendekatiku dengan nampan berisi segelas teh hangat dan semangkuk bubur sederhana. Ibu, minumlah dulu. Jangan khawatir, kami akan merawat Ibu di sini. Walaupun rumah kami kecil, selalu ada tempat untuk seorang ibu, ucap Daniel sambil tersenyum tulus, menyembunyikan lingkaran hitam di bawah matanya karena kurang tidur semalam.
Sebelum aku sempat menjawab, sebuah suara deru mesin mobil mewah berukuran besar terdengar memecah keheningan gang sempit tempat tinggal Daniel. Suara itu begitu bising dan tidak biasa untuk ukuran perkampungan padat tersebut. Satu, dua, tiga mobil sedan hitam mengkilap berjejer rapi di depan jalan sempit itu. Para tetangga mulai mengintip dari balik jendela, berbisik-bisik penuh tanya.
Pintu mobil utama terbuka. Hartono, pengacara pribadi sekaligus orang kepercayaan keluargaku selama lebih dari dua puluh tahun, melangkah keluar dengan setelan jas rapi. Di belakangnya berdiri empat orang pengawal pribadi berbadan tegap dengan jas hitam. Suasana di sekitar rumah langsung berubah tegang. Sara yang sedang mencuci piring di belakang langsung berlari ke depan dengan wajah pucat ketakutan, mengira preman atau penagih utang datang mencari mereka.
Hartono berjalan cepat mendekati pintu kayu yang sudah reyot itu. Tanpa memedulikan tatapan kaget dari Daniel dan Sara, pengacara tua itu langsung berlutut di hadapanku—di lantai semen yang kotor dan berdebu.
Nyonya besar, maafkan saya terlambat melacak keberadaan Anda. Seluruh tim keamanan panik begitu Anda meninggalkan kantor semalam tanpa pengawalan, kata Hartono dengan suara gemetar penuh hormat.
Daniel dan Sara terperanjat mundur. Mereka saling berpandangan dengan mata terbelalak, tidak percaya dengan apa yang mereka saksikan. Daniel menatapku, lalu menatap Hartono, suaranya terbata-bata saat ia bertanya, Ibu… apa maksudnya ini? Siapa orang ini? Ibu… ibu sebenarnya siapa?
Aku perlahan berdiri. Debu di pakaian lamaku kubersihkan sekadarnya. Aku menatap anak bungsuku dengan senyuman paling hangat yang pernah kuberikan padanya seumur hidupku. Aku tidak lagi membungkuk. Wibawa dan ketegasan yang selama puluhan tahun memimpin korporasi raksasa kembali terpancar dari sorot mataku.
Maafkan Ibu, Daniel, Sara. Ibu telah berbohong kepada kalian semua, ucapku lembut sambil memegang tangan kasar Daniel yang penuh kapalan akibat bekerja keras.
Aku bukan pengemis miskin yang bangkrut. Aku adalah Linda Hartono, pemilik tunggal dari Grup Tekstil Nusantara, konglomerasi yang kalian kenal sebagai salah satu perusahaan terbesar di negeri ini. Kekayaanku bernilai triliunan rupiah, dan kalian berdua berdiri di atas tanah yang saat ini juga sudah kubeli atas nama kalian.
Sara menutup mulutnya dengan kedua tangan, air mata kembali tumpah, kali ini karena syok yang luar biasa. Daniel terduduk lemas di lantai, napasnya memburu. Ibu… jadi selama ini… semua berita di televisi tentang miliarder misterius itu adalah…
Benar, anakku. Aku sengaja menguji kalian semua. Aku ingin melihat ke mana hati anak-anakku berlabuh ketika harta dan kekuasaanku dicabut dari kehidupan mereka, kataku tegas, suaraku bergetar mengingat kepahitan semalam.
Jessica dan Miguel telah menunjukkan siapa diri mereka sebenarnya. Mereka mencintai uangku, bukan diriku. Mereka melihatku sebagai sumber kekayaan, bukan sebagai ibu yang telah melahirkan mereka. Dan karena itu, kemarin malam, tepat pukul dua belas malam, aku telah menandatangani surat keputusan hukum bersama Hartono.
Aku memberi isyarat kepada Hartono, dan sang pengacara langsung mengeluarkan sebuah map tebal berisi dokumen-dokumen resmi berstempel emas.
Hari ini, di hadapan saksi hukum, aku resmi mencoret nama Jessica dan Miguel dari seluruh daftar ahli warisku. Seluruh aset properti mewah di Menteng, apartemen di SCBD, saham perusahaan, rekening tabungan pribadi, dan seluruh aset kekayaanku senilai lebih dari lima triliun rupiah kualihkan sepenuhnya atas nama Daniel dan Sara. Mulai detik ini, kalian berdua adalah pewaris sah seluruh kerajaan bisnis keluarga kita.
Daniel menggelengkan kepala dengan cepat, air matanya tumpah deras. Ibu, jangan lakukan itu! Harta sebanyak itu… itu terlalu berat untuk kami. Kami tidak butuh kekayaan ibu, kami hanya ingin ibu sehat!
Justru karena kalian tidak mengharapkan apa pun dariku, kalian pantas mendapatkan segalanya, kataku sambil memeluk tubuh Daniel dan Sara erat-erat di tengah ruangan sempit itu. Cinta sejati tidak bisa dibeli dengan uang, dan kalian telah membuktikannya padaku ketika aku berada di titik terendah dalam hidupku.
Berita tentang keputusan radikal itu meledak di seluruh media nasional keesokan harinya. Skandal pencoretan nama dua anak konglomerat sombong menjadi tajuk utama di berbagai surat kabar dan portal berita daring. Jessica dan Miguel datang berlari ke rumah besar baruku dengan histeris, memohon ampun, berlutut di lantai marmer, dan menangis darah menyesali perbuatan keji mereka malam itu. Namun, pintu gerbang besi tinggi itu tertutup rapat untuk selamanya bagi mereka.
Aku duduk di teras rumah baruku yang megah, menyeruput teh hangat bersama Daniel dan Sara di sore hari. Di sekeliling kami, cucu-cucuku berlarian tertawa gembira di taman yang luas. Aku menatap langit Jakarta yang perlahan jingga, menyadari bahwa kehilangan segalanya untuk sesaat adalah harga yang sangat murah untuk menemukan cinta sejati yang selama ini tersembunyi di balik tumpukan uang dan kemunafikan dunia.
