Teriak ibu sang jutawan, “Jangan sakiti aku lagi!” Putranya masuk, dan kemarahannya membekukan darah kekasihnya

Makan malam itu terasa seperti sebuah pengadilan yang tak berkesudahan bagi sang ibu. Di atas meja panjang berbahan kayu mahoni yang memantulkan cahaya lampu kristal, terhidang berbagai macam sajian mewah yang namanya saja tak sanggup ia ucapkan secara benar. Ada kaviar hitam legam, potongan daging wagyu yang dimasak dengan tingkat kematangan sempurna, dan saus truffle yang aromanya begitu tajam memenuhi seluruh penjuru ruangan. Namun, bagi sang ibu, semua makanan mahal itu terasa hambar bagai mengunyah serbuk gergaji. Tenggorokannya seolah menyempit, menolak setiap suapan yang dipaksakan masuk. Di seberangnya, Valeria duduk dengan keanggunan yang menipu. Wanita muda itu memotong daging di piringnya dengan gerakan perlahan yang nyaris berirama, seolah ia sedang membedah mangsanya dengan penuh perhitungan.

Alejandro bercerita dengan penuh antusias tentang proyek perluasan pelabuhan terbarunya di Jakarta, tentang bagaimana kapal-kapal kargo raksasa akan berlabuh dan membawa keuntungan berlipat ganda. Sang ibu hanya mampu tersenyum tipis, menatap putranya dengan rasa bangga yang berbaur dengan kepedihan yang asing. Ia mengingat dengan jelas tangan kecil dan dekil yang dulu selalu menggenggam erat jemarinya saat mereka berlari menembus hujan deras di pasar kumuh, berjuang menyelamatkan dagangan sayur mereka agar tidak membusuk. Kini, tangan putranya itu mengenakan jam tangan yang harganya bisa digunakan untuk membeli sebuah desa kecil. Perubahan itu terjadi begitu cepat, membuat sang ibu merasa tertinggal di dunianya yang lama.

Tiba-tiba, suara Alejandro memecah lamunannya, meminta ibunya untuk mencicipi hidangan laut yang diterbangkan langsung dari Hokkaido. Belum sempat sang ibu merespons, Valeria menyela dengan tawa kecil yang terdengar merdu namun memiliki ketajaman seperti gemerincing kaca yang pecah. Dengan nada suara yang sengaja dibuat lembut dan penuh perhatian, Valeria menyarankan agar sang ibu tidak memakan hidangan tersebut karena perutnya yang terbiasa dengan makanan jalanan yang murah pasti akan kaget dan jatuh sakit. Kalimat itu diucapkan dengan senyuman manis, memanipulasi keadaan seolah ia adalah calon menantu yang sangat peduli. Alejandro, yang dibutakan oleh cinta dan rasa lelah setelah seharian bekerja keras, hanya mengangguk setuju dan meminta pelayan menyiapkan sup hangat yang lebih sederhana untuk ibunya.

Sang ibu menundukkan wajahnya, menyembunyikan rasa malu yang membakar pipinya. Lucia, pelayan setia yang berdiri tak jauh dari meja, melangkah maju dalam diam untuk menukar piring sang ibu. Saat tangan kedua wanita itu bersentuhan sekilas, sang ibu merasakan sebuah kehangatan yang menjalar pelan, sebuah empati bisu dari sesama manusia yang memahami arti penderitaan tanpa perlu bertukar satu patah kata pun. Mata Lucia menatap tajam ke arah Valeria saat ia membalikkan badan, menyimpan sebuah kemarahan yang tertahan.

Tidak lama kemudian, keharmonisan palsu di ruang makan itu terganggu oleh dering telepon seluler Alejandro. Nada dering khusus yang menandakan panggilan darurat dari dewan direksi perusahaannya. Wajah Alejandro menegang sejenak saat melihat layar ponselnya. Ia meminta maaf kepada kedua wanita di meja tersebut, menjelaskan bahwa ada krisis mendesak di pelabuhan yang mengharuskannya menerima telepon di ruang kerja yang kedap suara. Ia berjanji hanya akan pergi selama sepuluh menit. Setelah mengecup kening ibunya dengan penuh kasih sayang dan memberikan ciuman ringan di pipi Valeria, Alejandro bergegas meninggalkan ruang makan dan menaiki tangga marmer yang melengkung indah.

Begitu suara langkah kaki Alejandro menghilang di balik pintu kayu ek yang tebal di lantai atas, atmosfer di ruang makan itu berubah drastis dalam hitungan detik. Udara yang semula dipenuhi kehangatan palsu kini terasa membeku, seolah seluruh oksigen di ruangan itu ditarik keluar secara paksa. Valeria meletakkan pisau dan garpunya dengan suara dentingan yang nyaring. Senyum manis dan sorot mata lembutnya lenyap tak berbekas, digantikan oleh raut wajah datar yang dingin, sinis, dan mematikan. Ia menatap sang ibu lekat-lekat, menyandarkan punggungnya ke kursi dengan keangkuhan seorang ratu yang sedang menatap seorang pengemis kotor yang menyusup ke istananya.

Tanpa basa-basi, Valeria mulai melepaskan racunnya. Ia mencemooh sang ibu, mempertanyakan sampai kapan wanita paruh baya itu akan terus memainkan drama sebagai sosok ibu yang malang dan tak berdaya. Suara Valeria tidak meninggi, ia berbicara dengan intonasi rendah dan mendesis, namun setiap kata yang keluar dari mulutnya bagaikan belati yang dihunus langsung ke ulu hati sang ibu. Valeria menuduh sang ibu sengaja memakai gaun merah anggur itu dengan cara yang canggung untuk memancing rasa kasihan Alejandro, sebuah trik manipulatif murahan untuk mengikat sang putra agar tidak pernah meninggalkannya.

Mata sang ibu mulai berkaca-kaca. Dengan suara bergetar yang menahan tangis, ia mencoba membela diri. Ia bersumpah bahwa ia tidak pernah memiliki niat seburuk itu, bahwa satu-satunya hal yang ia inginkan di dunia ini hanyalah melihat Alejandro bahagia dengan kehidupannya yang baru. Namun pembelaan itu justru membuat Valeria semakin muak. Wanita muda itu berdiri perlahan dari kursinya, melangkah mengitari meja makan yang panjang dengan gerakan elegan namun mengancam. Ketukan hak sepatu tingginya di atas lantai pualam terdengar seperti detak waktu yang menghitung mundur menuju sebuah kehancuran.

Valeria berhenti tepat di belakang kursi sang ibu. Ia membungkukkan badannya, mendekatkan bibirnya ke telinga wanita yang sedang gemetar ketakutan itu. Dengan nada yang dipenuhi kebencian, Valeria menegaskan bahwa Alejandro kini adalah miliknya sepenuhnya. Ia mengingatkan sang ibu bahwa masa depan perusahaan raksasa Alejandro berada di tangan keluarganya, bahwa tanpa koneksi politik dan kekayaan ayahnya, Alejandro hanyalah seorang pria ambisius yang tidak akan bisa menembus proyek-proyek besar pemerintah. Valeria menyebut sang ibu sebagai parasit dari masa lalu yang menjijikkan, sebuah noda kotor yang merusak reputasi sempurna yang sedang dibangun oleh Alejandro di kalangan kelas atas.

Pertahanan sang ibu mulai runtuh. Air mata yang sejak tadi mati-matian ditahannya akhirnya jatuh menetes, membasahi kain gaun merah anggur yang mahal tersebut. Setiap hinaan yang dilontarkan Valeria berhasil membangkitkan trauma dan rasa rendah diri yang selama ini ia kubur dalam-dalam demi memastikan putranya bisa melangkah maju tanpa beban. Dalam hatinya, ia mulai mempercayai kata-kata Valeria. Mungkin ia memang tidak pantas berada di rumah megah ini. Mungkin keberadaannya memang hanya akan menjadi penghalang bagi kesuksesan Alejandro.

Melihat lawannya mulai hancur, Valeria merasa di atas angin. Ia ingin memberikan satu pelajaran terakhir yang tidak akan pernah dilupakan oleh wanita tua itu. Dengan kasar, tangan Valeria mencengkeram bahu sang ibu. Kukunya yang panjang dan dicat dengan warna merah menyala menancap kuat menembus kain gaun, memberikan rasa sakit yang nyata pada kulit rentan sang ibu. Sang ibu meringis kesakitan, memohon agar Valeria melepaskannya. Namun alih-alih melepaskan, Valeria justru meraih gelas kristal yang berisi anggur merah di atas meja dan dengan sengaja menyiramkan isinya ke dada dan pangkuan sang ibu. Cairan merah pekat itu meresap seketika ke dalam kain, menetes ke lantai, tampak begitu mengerikan seolah-olah sang ibu sedang terluka parah dan bersimbah darah.

Valeria tertawa mengejek, suaranya dipenuhi kemenangan yang kejam. Ia menyuruh sang ibu untuk melihat betapa bodoh dan canggungnya dirinya, bahkan tidak mampu duduk diam tanpa merusak barang mahal di rumah itu. Valeria kemudian mendorong bahu sang ibu dengan keras hingga wanita paruh baya itu kehilangan keseimbangan. Sang ibu terjerembap dari kursinya, jatuh tersungkur ke atas lantai pualam yang dingin. Rasa sakit menjalar di lutut dan sikunya, namun rasa terhina di dalam dadanya jauh lebih menyiksa. Ia merasa begitu tak berharga, hancur, dan direndahkan ke titik yang paling dalam.

Dalam keputusasaan yang meluap tak tertahankan, sang ibu menangis tersedu-sedu. Ia meringkuk di lantai yang basah oleh tumpahan anggur, menutupi wajahnya dengan kedua tangan yang kasar dan berkapalan. Di titik inilah penderitaannya memuncak, memaksanya berteriak memohon belas kasihan.

Teriak ibu sang jutawan, “Jangan sakiti aku lagi!”

Putranya masuk, dan kemarahannya membekukan darah kekasihnya.

Ibu sang jutawan jatuh berlutut, wajahnya berkerut karena ketakutan yang luar biasa.

“Tolong, hentikan,” mohonnya di tengah air mata.

Kekasihnya menatapnya dengan penuh penghinaan, menikmati kekuasaan, berpikir bahwa dia bisa menghancurkannya di depan semua orang—tidak tahu bahwa setiap kata, setiap air mata, didengar oleh seseorang yang tidak mengenal pengampunan.

Dan ketika sang jutawan masuk, tatapannya membuat dinding-dinding bergetar—begitu pula kekasihnya.

Keheningan di mansion itu seperti makhluk yang bernyawa—berat dan mencekam. Alejandro berdiri di ambang pintu ganda ruang makan yang terbuka lebar. Ponselnya masih menyala di tangannya. Valeria, yang tidak menyadari apa yang sebenarnya terjadi, terkesiap mundur. Senyum kemenangannya luntur seketika dari wajah cantiknya, digantikan oleh kepucatan yang luar biasa hingga ia benar-benar terlihat seperti patung marmer tanpa nyawa.

Valeria sama sekali tidak tahu bahwa mansion modern ini dilengkapi dengan sistem keamanan cerdas dan interkom tersembunyi yang saling terhubung. Ia juga tidak menyadari bahwa Lucia, sang pelayan yang telah merawat Alejandro sejak kecil, diam-diam telah mengaktifkan mode siaran dari ruang makan langsung ke layar di ruang kerja Alejandro sesaat setelah pria itu pergi. Semua yang terjadi selama sepuluh menit terakhir—setiap hinaan, setiap ancaman, suara cairan yang disiramkan, hingga suara tubuh yang terjatuh ke lantai—telah disaksikan dan didengar oleh Alejandro tanpa terlewat satu detik pun.

Dengan suara yang bergetar karena panik, Valeria mencoba merangkai dusta. Ia melangkah mendekati Alejandro, berusaha menyentuh lengannya sambil mengatakan bahwa ibunya tiba-tiba tersandung dan menumpahkan minumannya sendiri, bahwa ia baru saja hendak membantu wanita tua itu berdiri. Namun, Alejandro menepis tangan Valeria dengan kasar.

Ia melangkah melewati wanita itu seolah Valeria hanyalah angin lalu yang menjijikkan. Alejandro langsung berlutut di lantai yang basah, tidak peduli setelan jas pesanan khususnya ikut kotor terkena noda anggur. Ia merengkuh tubuh ibunya yang gemetar hebat ke dalam pelukan yang hangat dan erat. Dengan kelembutan yang luar biasa, tangan besarnya membelai rambut ibunya, membisikkan kata-kata penenang dan permohonan maaf yang diucapkan berulang kali. Alejandro mengutuk dirinya sendiri karena terlalu buta dan sibuk hingga membiarkan seorang monster menyusup masuk dan menyakiti satu-satunya orang yang paling ia cintai di dunia ini.

Setelah memastikan ibunya duduk dengan nyaman di kursi, Alejandro berdiri tegak dan memutar tubuhnya menghadap Valeria. Sorot mata Alejandro kini berubah, bukan lagi mata seorang pria yang sedang jatuh cinta, melainkan tatapan seekor pemangsa puncak yang siap mencabik-cabik musuhnya tanpa ampun. Valeria melangkah mundur, kakinya gemetar menahan bobot tubuhnya sendiri saat melihat amarah yang begitu gelap memancar dari wajah kekasihnya.

Valeria mulai menangis dan memohon, mencoba menggunakan senjata terakhirnya. Ia kembali membawa nama ayahnya, mengingatkan Alejandro tentang kontrak kerja sama besar yang akan segera ditandatangani, tentang bagaimana keluarga mereka berdua akan menguasai bisnis pelayaran jika mereka menikah. Ia mencoba meyakinkan Alejandro bahwa semua ini hanyalah kesalahpahaman karena tekanan pekerjaan, bahwa ia mencintai Alejandro dan ingin yang terbaik untuk pria itu.

Alejandro tertawa pelan, sebuah tawa yang sangat dingin dan tidak mengandung setitik pun kegembiraan. Ia berjalan mendekati Valeria, memaksa wanita itu mundur hingga punggungnya menabrak dinding ruang makan yang dingin. Dengan suara yang rendah namun sarat akan otoritas yang mutlak, Alejandro menghancurkan ilusi kekuasaan Valeria hingga tak bersisa. Ia memberitahu wanita itu bahwa kerajaannya tidak dibangun dengan bersembunyi di balik kekuasaan orang lain. Proyek di Jakarta telah mendapatkan persetujuan dan pendanaan penuh secara independen berbulan-bulan yang lalu. Keterlibatan ayah Valeria hanyalah sebuah formalitas, sebuah bentuk penghormatan basa-basi yang diberikan Alejandro karena ia dulu berniat menjadikan Valeria sebagai istrinya.

Namun kini, semuanya telah berakhir. Alejandro menyatakan dengan tegas bahwa tidak akan ada pernikahan, tidak akan ada kerja sama bisnis dalam bentuk apa pun, dan dipastikan keluarga Valeria akan masuk ke dalam daftar hitam di setiap proyek perusahaannya. Valeria menangis histeris, menyadari bahwa ia baru saja menghancurkan masa depannya sendiri karena kesombongannya. Kartu truf yang selalu ia banggakan ternyata tidak lebih dari sekadar kertas kosong di hadapan pria yang membangun segalanya dari nol.

Alejandro memanggil Lucia dengan suara lantang, memerintahkan pelayan setia itu untuk memanggil pihak keamanan. Ia memberi Valeria waktu tepat lima menit untuk melangkah keluar dari gerbang utama mansion itu tanpa membawa apa pun selain pakaian yang melekat di tubuhnya. Jika Valeria menolak, ia tidak akan segan-segan menyeretnya keluar secara paksa. Dengan harga diri yang hancur berkeping-keping, Valeria berjalan gontai meninggalkan ruangan, diikuti oleh tatapan tajam Lucia yang memastikan wanita beracun itu benar-benar pergi selamanya.

Setelah pintu utama ditutup, keheningan yang tenang perlahan kembali memenuhi ruang makan. Alejandro kembali berlutut di hadapan ibunya. Ia menggenggam kedua tangan wanita tua yang kasar dan dipenuhi kapalan itu, menciumnya dengan penuh takzim. Ia menatap mata ibunya lekat-lekat dan mengatakan sebuah rahasia yang selama ini ia simpan. Alejandro menjelaskan bahwa mansion raksasa dan segala kemewahan ini bukanlah miliknya. Ia telah membelinya dan mendaftarkan semuanya atas nama ibunya. Ini adalah rumah sang ibu, hadiah kecil untuk menebus jutaan tetes keringat dan air mata yang telah dikorbankan wanita itu di masa lalu. Ia meminta ibunya untuk tidak lagi memakai gaun-gaun aneh atau berpura-pura menjadi seseorang yang bukan dirinya, karena di rumah ini, sang ibu adalah satu-satunya ratu yang sesungguhnya.

Air mata haru mengalir deras membasahi pipi sang ibu, namun kali ini bukan air mata ketakutan, melainkan air mata kelegaan dan kebahagiaan yang tak terlukiskan. Segala keraguan dan rasa rendah dirinya sirna tak berbekas, tergantikan oleh rasa hangat yang memenuhi rongga dadanya. Malam itu, mereka tidak melanjutkan makan malam mewah dengan hidangan bergaya Prancis. Alejandro meminta Lucia untuk memasakkan nasi goreng kampung dengan telur mata sapi yang sederhana, hidangan kesukaannya saat mereka masih hidup dalam kemiskinan. Di ruang makan yang luar biasa besar itu, kini hanya ada mereka berdua, ditemani tawa hangat dan cerita-cerita nostalgia yang menyentuh hati. Mansion yang megah dan dingin itu perlahan-lahan mulai terasa seperti sebuah rumah sejati, mengingatkan mereka bahwa cinta sejati dan kesetiaan sebuah keluarga tidak akan pernah bisa diukur, dibeli, apalagi dihancurkan oleh kesombongan siapa pun di dunia ini.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang