Ilang minggu nang nagdurusa ang ina ng bilyonaryo—hanggang sa may isang tagalinis na babae na kumuha ng isang bagay mula sa kanyang ulo.

Malam itu, di dalam kamar mewah berukuran besar dengan perabotan kayu jati gelap di kawasan elit Menteng, Jakarta Pusat, udara terasa begitu padat dan menyesakkan. Aris Reyes, seorang kongkong besar yang terbiasa memegang kendali atas ribuan karyawan dan transaksi bernilai triliunan rupiah, merasa tidak berdaya untuk pertama kalinya dalam hidup seumur hidupnya. Di hadapannya, Ibu Margareta, wanita paruh baya yang telah melahirkannya dan membesarkannya seorang diri di tengah keterbatasan masa lalu sebelum kerajaan bisnis mereka berdiri, terbaring lemah di atas ranjang king-size. Wajah wanita itu sepucat kertas, butiran keringat dingin bercucuran di pelipisnya, sementara napasnya tersengal-sengal dalam ritme yang menyayat hati.

Serangan itu datang lagi, lebih kejam dari sebelumnya. Ibu Margareta mengerang pelan, jemarinya yang kurus mencengkeram seprai sutra dengan begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Aris menggenggam tangan ibunya yang terasa dingin seperti es, merasakan getaran ketakutan yang menjalar dari telapak tangan wanita itu ke dalam aliran darahnya sendiri. Selama berminggu-minggu, rumah megah ini telah disulap menjadi klinik pribadi. Para profesor kedokteran ternama dari Singapura, Jepang, Jerman, hingga Swiss telah datang bergantian membawa koper medis canggih mereka. Mereka melakukan MRI, CT scan, tes darah lengkap, hingga biopsi jaringan saraf. Namun, hasilnya selalu sama dan membuat frustrasi. Semua dokter itu menggelengkan kepala, saling bertukar pandang dengan ekspresi kebingungan yang dipoles profesionalisme. Bagi dunia medis modern, Ibu Margareta sangat sehat. Jantungnya kuat, tekanan darahnya stabil, dan otaknya bersih dari segala lesi atau tumor. Namun, wanita itu sekarat dalam kesakitan yang tidak memiliki nama di kamus kedokteran manapun.

Di ambang pintu kamar yang terbuka lebar, Siti berdiri membeku. Wanita paruh baya bertubuh kecil itu mengenakan seragam pembersih malam berwarna biru tua dengan rambut yang dicepol sederhana. Sudah enam minggu ia bekerja di rumah ini sebagai petugas kebersihan paruh waktu shift malam. Selama itu pula, Siti dikenal sebagai sosok yang sangat pendiam, hampir tidak pernah bersuara, selalu menunduk setiap kali berpapasan dengan Aris atau para tamu penting, dan bekerja dengan ketelitian yang luar biasa tanpa pernah mengeluh. Namun, malam ini, ada sesuatu yang berbeda di mata Siti. Pandangannya tidak memancarkan rasa ingin tahu yang hampa atau rasa takut pada kemewahan rumah megah tersebut. Pandangan itu adalah tatapan seorang saksi hidup yang mengenali sebuah tragedi kuno.

Ketika rintihan kesakitan Ibu Margareta berubah menjadi jerapan napas yang nyaris putus, Aris yang sudah kehilangan akal sehat menoleh tajam ke arah pintu. Matanya memerah karena kurang tidur dan keputusasaan yang membara.

Apa yang kau lihat? Cepat keluar dan panggil perawat kepala sekarang juga! bentak Aris dengan suara parau yang penuh amarah tertahan.

Siti melangkah maju perlahan, ragu-ragu, namun ada keteguhan yang aneh di balik gerakannya yang lambat. Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam sebelum bersuara dengan nada yang sangat pelan namun jelas menembus keheningan kamar.

Maafkan saya, Tuan Aris, bisik Siti, suaranya bergetar namun tegas. Saya tahu Tuan tidak akan percaya. Tapi saya pernah melihat ini sebelumnya. Di desa saya di lereng Gunung Merapi, Yogyakarta. Ada seorang tetua desa yang mengalami hal persis seperti ini. Dokter kota bilang itu migrain kronis atau tekanan psikologis. Tapi kenyataannya… itu bukan penyakit fisik.

Aris bangkit berdiri dari kursi di samping tempat tidur. Tubuhnya yang tinggi menjulang menatap tajam ke arah Siti, dipenuhi amarah bercampur kebingungan yang memuncak.

Kau mau bilang apa? Kau mau menggurui para spesialis bergelar profesor yang dibayar mahal daratan Eropa itu? Kau hanya seorang petugas kebersihan! Teriak Aris, nyaris kehilangan kendali.

Saya tidak sekolah tinggi, Tuan, jawab Siti tanpa sedikit pun rasa gentar atau tersinggung di wajahnya yang berkerut lelah. Tapi saya tahu apa yang tertanam di kepala nyonya besar. Ada sesuatu yang bukan berasal dari dunia medis di sana. Sesuatu yang sengaja ditaruh dan dibiarkan berakar. Jika Tuan terus menunggu dokter, nyawa nyonya besar tidak akan tertolong sampai pagi menjelang.

Peringatan itu menghantam dada Aris seperti hantaman palu besi. Ia melirik ibunya yang kini mulai kehilangan kesadaran, mata wanita itu terpejam rapat dengan tubuh yang melengkung menahan siksaan yang tak kasat mata. Aris tidak punya pilihan lain. Logikanya sebagai seorang rasionalis hancur berkeping-keping di hadapan penderitaan sang ibu.

Lakukan, desis Aris dengan suara gemetar, menatap lurus ke mata Siti. Tapi kalau sampai ibuku kenapa-napa, kau tahu akibatnya.

Siti mengangguk pelan tanpa rasa takut. Ia melangkah mendekati tempat tidur, meletakkan ember dan perlengkapan pembersihnya di lantai dekat sudut kamar. Ia tidak langsung menyentuh kepala Ibu Margareta. Sebaliknya, ia merogoh kantong seragamnya dan mengeluarkan sebuah botol kecil berukuran seukuran ibu jari yang berisi cairan bening berbau rempah yang tajam—minyak kelapa murni yang dicampur dengan perasan daun sirih hitam dan beberapa butir beras tua. Siti melafalkan sesuatu dengan suara yang sangat pelan, nyaris seperti desiran angin malam, dalam bahasa Jawa Kuno yang asing di telinga Aris.

Dengan gerakan yang sangat hati-hati, Siti membasahi kedua telapak tangannya dengan minyak tersebut, lalu merentangkan jemarinya membentuk cengkeraman lembut di atas kepala Ibu Margareta. Namun, ia tidak menyentuh rambut atau kulit kepala wanita itu secara langsung pada awalnya. Siti memusatkan perhatiannya sekitar satu sentimeter di atas ubun-ubun sang nyonya besar, menutup matanya, dan mulai bernapas dalam-dalam seirama dengan detak jantung wanita tua di hadapannya.

Aris berdiri terpaku di samping tempat tidur, menahan napas. Suhu udara di dalam kamar mendadak terasa turun beberapa derajat. Nyala lampu tidur di sisi ruangan berkedip pelan sebanyak dua kali, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang menari di dinding kamar bernuansa klasik tersebut. Aris merasakan bulu kuduknya meremang hebat, sebuah sensasi dingin yang merayap dari ujung kaki hingga ke tengkuknya.

Tiba-tiba, Siti membuka matanya. Pandangannya menjadi sangat tajam. Dengan gerakan yang sangat cepat dan presisi, tangan kanannya menukik turun dan mencengkeram dengan lembut namun kuat tepat di area pelipis kiri Ibu Margareta, tempat di mana rasa sakit paling parah berpusat. Siti menarik jarinya ke atas secara menyentak, seolah-olah ia sedang mencabut sehelai benang tak kasat mata yang tertanam di dalam daging tengkorak wanita itu.

Seketika itu juga, Ibu Margareta menjerit keras—sebuah jeritan melengking yang tidak terdengar seperti suara manusia biasa, melainkan gema yang memecah kesunyian malam di seluruh penjuru rumah mewah tersebut. Tubuhnya melenting ke atas dari tempat tidur, mata wanita itu terbuka lebar dengan bola mata yang nyaris sepenuhnya putih, sebelum akhirnya tubuhnya lemas terkulai dan kembali jatuh menimpa bantal dengan napas yang mendadak menjadi sangat teratur dan tenang.

Aris terbelalak, napasnya tercekat di tenggorokan. Ia melangkah maju dan memeriksa denyut nadi di leher ibunya. Stabil. Sangat tenang. Warna kulit ibunya yang tadinya pucat pasi perlahan-lahan kembali memancarkan rona kemerahan yang sehat. Wanita itu telah jatuh tertidur pulas, tidur pertama yang benar-benar nyenyak dan damai setelah berminggu-minggu disiksa kesakitan yang misterius.

Aris berbalik menatap Siti dengan sejuta pertanyaan yang bergemuruh di kepalanya. Namun, pemandangan yang ia saksikan membuat darahnya mendadak membeku. Di tangan kanan Siti, di antara ujung jemarinya yang terangkat, terdapat sebuah benda kecil yang tampak berkilau keperakan di bawah temaram lampu kamar. Benda itu berbentuk seperti jarum sulam tua yang terbuat dari logam kehitaman dengan ujung melengkung seperti kait, berukuran sekitar tiga sentimeter, dan basah oleh cairan merah gelap yang berbau anyir.

Apa… apa itu? suara Aris tercekat di kerongkongan, matanya terpaku pada benda kecil di tangan Siti.

Siti menghela napas panjang, wajahnya tampak jauh lebih tua dari usia aslinya, lelah dan menanggung beban berat. Ia menatap jarum logam berkarat itu dengan tatapan penuh duka.

Ini adalah paku sengkolo, Tuan, bisik Siti pelan. Benda ini tidak dikirim lewat rumah sakit atau racun makanan. Benda ini ditanam melalui energi jarak jauh oleh seseorang yang sangat membenci keluarga ini, seseorang yang memiliki dendam masa lalu yang belum terselesaikan sejak puluhan tahun lalu, jauh sebelum Tuan kaya raya seperti sekarang. Paku ini dikunci di dalam kepala nyonya besar agar ingatannya terkunci, dan perlahan-lahan merenggut hidupnya dari dalam.

Aris terhuyung ke belakang, punggungnya membentur dinding lemari kayu jati. Seluruh logika bisnis, kekuasaan, dan kekayaan yang ia miliki selama ini mendadak terasa begitu kerdil dan tak berdaya menghadapi kenyataan mistis yang baru saja terjadi di hadapannya.

Siapa… siapa yang berbuat ini? Siapa yang mengirim benda terkutuk ini ke rumahku? tanya Aris dengan suara bergetar penuh kemarahan yang bercampur rasa ngeri.

Siti menatap Aris lekat-lekat, lalu meletakkan jarum berdarah itu di atas sebuah piring kecil di atas meja nakas. Wanita paruh baya itu merapikan kembali seragamnya, menundukkan kepalanya dalam-dalam untuk kesekian kalinya, dan bersiap melangkah mundur menuju pintu keluar kamar.

Orang yang mengirimnya tidak perlu datang ke Jakarta, Tuan Aris, jawab Siti dengan suara tenang namun menghantui. Dan orang itu… saat ini sedang berdiri di hadapan Tuan setiap kali Tuan berkunjung ke perusahaan lama di Surabaya, atau mungkin… orang yang paling dipercaya di lingkaran terdekat Tuan saat ini, yang mengetahui persis hari lahir nyonya besar.

Sebelum Aris sempat membuka mulutnya untuk meminta penjelasan lebih lanjut, Siti sudah berbalik dan berjalan keluar dari kamar dengan langkah kaki yang begitu ringan, meninggalkan Aris seorang diri dalam keheningan malam Menteng. Di atas tempat tidur, Ibu Margareta mendengkur halus dalam tidur panjangnya yang damai, sementara Aris berdiri kaku menatap piring kecil di meja nakas, menyadari bahwa musuh terbesar dari kerajaan bisnis dan kekayaannya bukanlah para pesaing korporasi di dunia nyata, melainkan dendam masa lalu yang kini telah merayap masuk tepat ke jantung keluarganya sendiri.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang