Seorang ayah miliarder menemukan putri kecilnya bersembunyi di bawah meja di tengah pesta pernikahan mewahnya.

Aku tidak langsung menjawab.

Sofia memelukku semakin erat hingga wajah kecilnya tenggelam di bahuku. Aku mengusap rambutnya perlahan, berusaha menenangkan napas yang mulai tidak beraturan.

Pintu terbuka perlahan.

Cassandra berdiri di sana dengan gaun pengantin putih yang berkilau. Senyumnya masih sama, anggun dan tenang, seolah tidak ada apa pun yang terjadi.

“Astaga, ternyata kalian di sini.” Ia mendekat beberapa langkah. “Sofia, semua orang mencarimu.”

Aku menatap matanya tanpa berkedip.

“Kau yang menyuruhnya bersembunyi?”

Ekspresinya berubah sepersekian detik sebelum kembali tersenyum.

“Aku? Tentu tidak. Mungkin dia salah paham. Aku hanya bilang dia jangan berlari-lari karena tamu sudah banyak.”

Sofia langsung menggeleng dari balik pelukanku.

“Bukan begitu.”

Suara kecil itu terdengar jelas.

“Tante bilang Sofia harus sembunyi sampai pesta selesai.”

Cassandra tertawa pelan.

“Anak kecil sering berimajinasi.”

Kalimat itu justru membuatku semakin curiga.

Selama enam tahun menjadi ayah, Sofia memang pernah berbuat nakal, tetapi ia tidak pernah berbohong.

Aku berdiri sambil menggendong putriku.

“Cassandra. Map yang ada di kamarmu isinya apa?”

Untuk pertama kalinya wajahnya benar-benar kehilangan warna.

“Aku tidak tahu maksudmu.”

“Kalau begitu, tidak masalah kalau kita lihat bersama.”

Ia segera menggeleng.

“Itu dokumen pribadiku.”

Aku mengeluarkan ponsel.

“Rudi.”

Sahabat sekaligus pengacaraku langsung menjawab.

“Ada apa?”

“Naik ke kamar pengantin. Ambil map berwarna hitam yang ada di koper Cassandra. Jangan biarkan siapa pun masuk.”

Wajah Cassandra langsung berubah pucat.

“Kamu tidak berhak mengacak-acak barangku!”

“Aku pemilik resor ini.”

Suasana mendadak sunyi.

Beberapa menit kemudian Rudi kembali dengan napas terburu-buru sambil membawa sebuah map hitam.

“Aku menemukannya.”

Aku membuka map itu di depan Cassandra.

Lembar pertama membuat seluruh tubuhku membeku.

Bukan hanya dokumen pengalihan aset.

Ada surat kuasa.

Draft perubahan kepemilikan saham.

Perjanjian pranikah palsu yang memakai tanda tanganku.

Bahkan ada surat pengunduran diri beberapa direktur yang dipalsukan.

Namun itu belum semuanya.

Di bagian paling belakang terdapat sebuah foto.

Foto Cassandra sedang makan malam bersama seorang pria yang sangat kukenal.

Arga.

Sepupu jauhkulah yang beberapa tahun terakhir selalu mendesakku menjual sebagian saham perusahaan keluarga.

Di belakang foto tertulis tangan.

“Tiga bulan setelah menikah, semua selesai.”

Rudi menghela napas panjang.

“Mereka sudah menyiapkan semuanya.”

Cassandra mencoba merebut map itu.

“Kalian tidak mengerti!”

Aku menahan tangannya.

“Lalu jelaskan.”

Ia menarik napas dalam.

“Ya. Aku memang ingin memiliki perusahaanmu. Tapi bukankah semua orang mengejar kehidupan yang lebih baik?”

“Jadi itu alasanmu mendekati Sofia?”

Ia diam.

“Jadi semua perhatianmu selama ini hanya sandiwara?”

Matanya mulai berkaca-kaca, tetapi bukan karena menyesal.

Karena rencananya gagal.

Saat itulah seseorang berlari memasuki ruangan.

Arga.

“Cassandra! Jangan bicara apa-apa!”

Aku tersenyum tipis.

“Terlambat.”

Dua petugas keamanan yang sudah kupanggil lebih dulu langsung menghadang Arga.

Ia berusaha kabur, tetapi tidak berhasil.

Aku menyerahkan seluruh map kepada Rudi.

“Hubungi polisi.”

Cassandra mendadak berlutut.

“Tolong… jangan lakukan ini. Pernikahan tinggal beberapa menit lagi. Kita bisa bicara baik-baik.”

Aku menatap wanita yang selama hampir dua tahun berhasil membuatku percaya bahwa keluargaku akan utuh kembali.

Ternyata semua senyum itu hanya investasi.

Semua perhatian kepada putriku hanyalah alat.

Aku menggeleng pelan.

“Tidak ada lagi yang perlu dibicarakan.”

Aku menggendong Sofia keluar dari ruangan.

Di taman, ratusan tamu mulai gelisah karena upacara belum dimulai.

Saat aku berjalan menuju altar sambil menggendong Sofia, semua mata tertuju kepada kami.

Pembawa acara menghentikan musik.

Aku mengambil mikrofon.

“Terima kasih sudah datang malam ini.”

Suasana menjadi sangat hening.

“Dengan berat hati saya mengumumkan bahwa pernikahan ini dibatalkan.”

Suara riuh langsung memenuhi seluruh taman.

Beberapa tamu saling berbisik.

Sebagian berdiri.

Aku melanjutkan.

“Alasan pembatalan ini berkaitan dengan tindak penipuan dan pemalsuan dokumen yang sedang ditangani pihak berwenang.”

Pada saat yang sama, beberapa polisi memasuki area resepsi.

Mereka berjalan langsung menuju Cassandra dan Arga.

Tangisan Cassandra pecah.

Ia masih mencoba memanggil namaku.

Namun aku tidak menoleh lagi.

Malam itu pesta pernikahan berubah menjadi tempat penyelidikan.

Media segera memenuhi pintu masuk resor.

Berita tentang pembatalan pernikahan miliarder terbesar di Bali menjadi berita utama keesokan harinya.

Polisi kemudian menemukan bahwa Cassandra dan Arga telah menipu beberapa pengusaha lain dengan pola yang hampir sama.

Mereka hanya belum pernah berhasil karena selalu kehilangan target sebelum pernikahan.

Aku hampir menjadi korban pertama yang benar-benar jatuh.

Beberapa minggu setelah kasus itu selesai, aku sedang membereskan kamar Sofia.

Tanpa sengaja aku menemukan sebuah buku gambar.

Di halaman terakhir, ada gambar keluarga yang dibuat dengan krayon.

Aku.

Mama.

Sofia.

Tidak ada Cassandra.

Di sudut gambar tertulis dengan huruf yang masih berantakan.

“Kalau Mama masih ada, Mama pasti tahu siapa orang jahat.”

Dadaku terasa sesak.

Aku memeluk Sofia yang sedang bermain di lantai.

“Kenapa waktu itu Sofia membuka map Tante?”

Ia berpikir sebentar lalu menjawab polos.

“Soalnya boneka Sofia jatuh ke bawah tempat tidur.”

Aku tersenyum getir.

Kadang-kadang hidup memang berubah bukan karena penyelidikan yang rumit.

Melainkan karena seorang anak kecil yang hanya ingin mengambil boneka kesayangannya.

Enam bulan kemudian, perusahaan kami kembali stabil.

Aku mengubah seluruh struktur perlindungan aset dan menunjuk Rudi sebagai komisaris independen.

Tetapi perubahan terbesar bukan terjadi di kantor.

Melainkan di rumah.

Aku berhenti mencari seseorang untuk menggantikan almarhum istriku.

Aku sadar, tidak ada yang perlu digantikan.

Yang dibutuhkan Sofia bukan ibu baru secepat mungkin.

Melainkan seorang ayah yang benar-benar menepati janjinya.

Suatu sore kami mengunjungi makam istriku.

Sofia meletakkan bunga matahari kesukaan ibunya di depan nisan.

Ia menggenggam tanganku sambil tersenyum.

“Papa.”

“Ya?”

“Sekarang Mama pasti sudah tenang.”

Aku mengangguk pelan.

Empat tahun lalu aku pernah berjanji di samping ranjang rumah sakit bahwa aku akan melindungi putri kami apa pun yang terjadi.

Malam pernikahan yang gagal itu membuatku sadar bahwa aku hampir mengkhianati janji tersebut karena terlalu percaya pada seseorang yang baru kukenal.

Dan justru anak kecil yang ingin kulindungi itulah yang akhirnya menyelamatkan seluruh hidupku.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang