Katanya, idola kampus tidak pernah menerima hadiah pengakuan cinta.

Rasanya seluruh udara di lapangan basket menghilang.

Tanganku gemetar hebat. Ponsel yang masih menampilkan notifikasi transfer sepuluh juta rupiah hampir terlepas dari genggaman. Ratusan pasang mata memandang kami dengan rasa penasaran, sementara Miguel Reyes tetap berdiri di depanku dengan ekspresi tenang seolah baru saja mengatakan sesuatu yang sangat biasa.

“Jawab,” ulangnya pelan. “Atau memang sejak awal yang kamu incar cuma uangku?”

Aku membuka mulut, tetapi tidak ada suara yang keluar.

Kalau aku berkata jujur, aku pasti akan menjadi bahan tertawaan seluruh kampus.

Kalau aku terus berbohong, aku yakin pria ini tidak akan mudah dibodohi lagi.

Carlo yang berdiri di samping Miguel mengangkat kedua alisnya.

“Bro… jangan bilang akhirnya lo nemu cewek yang bikin lo penasaran.”

Miguel tidak menjawab.

Tatapannya tetap tertuju kepadaku.

Aku menarik napas panjang.

“Oke…”

Suaraku nyaris tak terdengar.

“Aku bohong.”

Keramaian mendadak sunyi.

“Aku memang nggak benar-benar nembak Kakak.”

Carlo membelalak.

Beberapa mahasiswa mulai berbisik.

Aku menunduk sambil menggenggam erat tali tasku.

“Aku cuma… butuh uang buat bayar uang kuliah.”

Tidak ada yang tertawa.

Tidak ada yang menyela.

Aku melanjutkan dengan suara bergetar.

“Ibuku cuma penjual nasi kecil di Yogyakarta. Ayah sudah meninggal waktu aku SMA. Adikku baru masuk sekolah. Aku dapat beasiswa sebagian, tapi tetap kurang buat bayar UKT.”

Aku mengeluarkan ponsel dan memperlihatkan bukti pembayaran kuliah.

“Uang pertama yang Kakak transfer semuanya masuk ke pembayaran ini.”

Aku membuka riwayat transaksi.

“Lalu uang kedua buat biaya makan beberapa minggu.”

Aku menunduk semakin dalam.

“Aku tahu aku salah. Sangat salah.”

“Butuh waktu berhari-hari buat ngumpulin keberanian bohong sama Kakak lagi.”

“Kalau Kakak mau lapor ke kampus, aku terima.”

Sunyi.

Aku menunggu dimarahi.

Atau minimal diminta mengembalikan semua uang.

Namun yang terdengar justru helaan napas pelan.

Miguel mengambil ponselku.

Ia melihat riwayat transaksi selama beberapa detik.

Saldo yang tersisa bahkan belum mencapai seratus ribu rupiah.

Ia mengembalikan ponsel itu tanpa berkata apa-apa.

“Kamu bohong tiga kali.”

“Iya.”

“Tapi kamu tidak pernah memakai uang itu untuk beli barang mewah.”

Aku menggeleng.

“Mana berani.”

Ia kembali menatapku.

“Kamu tahu kenapa aku selalu membayar hadiah orang?”

Aku menggeleng lagi.

“Dulu, waktu semester satu, ada mahasiswi yang menjual kamera milik ayahnya hanya untuk membelikanku jam tangan.”

Semua orang di sekitar mulai mendengarkan.

Miguel berbicara pelan.

“Aku menolak perasaannya.”

“Beberapa minggu kemudian aku baru tahu kamera itu adalah peninggalan terakhir ayahnya.”

“Aku merasa bersalah.”

“Sejak hari itu aku memutuskan, kalau ada orang yang memberiku hadiah, aku akan mengganti seluruh nilainya.”

Ia tersenyum tipis.

“Bukan karena aku kaya.”

“Tapi karena aku tidak ingin ada orang yang rugi hanya karena menyukaiku.”

Aku menunduk.

Rasa bersalah di dadaku semakin berat.

“Tapi kamu berbeda.”

Aku mengangkat kepala.

Miguel menatap lurus ke arahku.

“Sejak pertama kali aku lihat gelang dua puluh ribuan itu, aku sudah tahu kamu berbohong.”

Aku membeku.

“Ha?”

Carlo ikut terkejut.

“Loh, terus kenapa lo transfer?”

Miguel terkekeh kecil.

“Karena aku penasaran.”

Ia menatapku lagi.

“Orang yang sanggup mengarang cerita soal gelang spiritual edisi terbatas biasanya ada dua kemungkinan.”

“Penipu profesional.”

“Atau orang yang benar-benar sedang terdesak.”

“Aku sengaja membiarkanmu.”

Jantungku berdegup semakin cepat.

“Transfer kedua juga sama.”

“Transfer ketiga juga.”

Ia mengangkat botol minuman olahraga yang tadi kuberikan.

“Aku ingin tahu kapan kamu akan berhenti.”

Aku tidak sanggup berkata apa-apa.

“Ternyata hari ini.”

Aku menggigit bibir.

“Maaf…”

Miguel tersenyum.

“Akhirnya kamu memilih jujur.”

Aku mengira semuanya selesai.

Namun tiba-tiba ia mengeluarkan sesuatu dari saku jersey-nya.

Gantungan kunci berbentuk anjing.

Yang kuberikan beberapa hari lalu.

Ia juga mengangkat tangan kirinya.

Gelang merah murahan itu masih melingkar di pergelangan tangannya.

Aku terbelalak.

“Kakak…”

“Masih dipakai?”

Ia mengangguk santai.

“Aku tidak pernah membuang hadiah.”

Seluruh lapangan langsung riuh.

Carlo memegang kepalanya sendiri.

“Bro… itu gelang murah itu masih lo pakai?”

Miguel mengangkat bahu.

“Kenapa tidak?”

“Itu lucu.”

Aku merasa wajahku memanas.

“Kalau begitu… kenapa tadi Kakak bilang aku harus bertanggung jawab atas pengakuan cintaku?”

Ia mendekat selangkah.

Karena jaraknya terlalu dekat, aku bisa melihat bayangan wajahku di matanya.

“Karena sekarang giliranku yang ingin memastikan.”

“Memastikan apa?”

“Apa kamu benar-benar tidak menyukaiku sedikit pun.”

Aku membeku.

Jujur saja…

Sebelum semua ini, aku memang hanya melihatnya sebagai kesempatan mendapatkan uang.

Tetapi selama tiga pertemuan itu…

Aku melihat bagaimana ia memperlakukan semua orang dengan sopan.

Bagaimana ia tidak pernah memandang rendah siapa pun.

Bagaimana ia diam-diam tetap memakai gantungan kunci murah dan gelang yang bahkan hampir putus.

Entah sejak kapan, wajahnya mulai muncul di pikiranku setiap malam.

Aku menunduk.

“Aku…”

Belum sempat menjawab, suara tepuk tangan tiba-tiba terdengar.

Seorang dosen berusia sekitar lima puluh tahun berjalan mendekat.

Semua mahasiswa langsung memberi jalan.

“Itu Pak Arif…”

“Dekan Fakultas Hukum.”

Pak Arif tersenyum melihat Miguel.

“Jadi ini gadis yang kamu ceritakan?”

Aku langsung membeku.

Miguel… menceritakanku?

Pak Arif memandangku dengan ramah.

“Beberapa hari lalu Miguel datang ke ruanganku.”

“Dia bilang ada mahasiswi yang sangat cerdas.”

Aku semakin bingung.

“Aku?”

Miguel mengangguk.

“Dia mencari tahu datamu.”

Aku hampir pingsan.

Pak Arif melanjutkan.

“Dia juga meminta izin menggunakan dana beasiswa alumni untuk mahasiswa yang benar-benar membutuhkan.”

Aku menoleh ke arah Miguel.

“Apa?”

Miguel menghela napas.

“Aku sebenarnya ingin menghubungimu minggu depan.”

“Beasiswa itu anonim.”

“Tapi sekarang sepertinya tidak perlu dirahasiakan lagi.”

Air mataku langsung menggenang.

“Kenapa…”

“Karena kamu tidak meminta uang dengan mengemis.”

“Kamu menggunakan cara yang salah.”

“Tapi aku bisa melihat kamu sedang berjuang.”

Pak Arif mengangguk pelan.

“Nilai IPK-mu juga hampir sempurna.”

“Kamu memenuhi syarat.”

Aku benar-benar tidak mampu menahan air mata lagi.

Selama ini aku berpikir aku hanya sedang menipu orang kaya.

Ternyata sejak awal, pria itu justru sedang membantuku dengan caranya sendiri.

Aku membungkuk dalam-dalam.

“Maaf.”

“Terima kasih.”

Miguel mengangkat kepalaku perlahan.

“Sekarang jawab pertanyaanku.”

Seluruh lapangan kembali hening.

Aku mengusap air mata.

Lalu tersenyum malu.

“Kalau sekarang…”

“Aku memang mulai menyukai Kakak.”

Carlo langsung bersorak keras.

Mahasiswa lain ikut bertepuk tangan.

Namun Miguel hanya tersenyum tipis.

“Lumayan.”

Aku mengernyit.

“Lumayan?”

“Aku lebih suka jawaban yang jujur daripada pengakuan cinta yang sempurna.”

Ia mengeluarkan ponselnya.

Aku langsung refleks mundur.

“Senior… jangan transfer lagi.”

Ia tertawa pelan.

“Bukan transfer.”

Ia membuka aplikasi kontak.

“Beri nomor teleponmu.”

Aku menatapnya curiga.

“Untuk apa?”

“Supaya lain kali kalau kamu butuh bantuan, kamu tidak perlu membeli gelang dua puluh ribuan lalu menjualnya empat puluh delapan juta.”

Seluruh lapangan kembali dipenuhi tawa.

Wajahku memerah sampai ke telinga.

Aku akhirnya memasukkan nomor teleponku.

Sebelum pergi, Miguel menoleh sambil mengangkat gelang merah di pergelangan tangannya.

“Oh ya.”

“Kalau nanti kita benar-benar pacaran…”

“Aku tetap akan menyimpan gelang ini.”

“Kenapa?”

Ia tersenyum.

“Karena ini investasi dengan keuntungan paling buruk yang pernah kulakukan.”

Aku mengerutkan dahi.

“Maksudnya?”

“Aku sudah keluar enam puluh tiga juta rupiah.”

“Lalu yang kudapat…”

Ia menatapku beberapa detik sebelum melanjutkan dengan senyum yang hangat.

“Seorang pacar yang sejak awal bahkan tidak berniat mengejarku.”

Aku spontan tertawa di tengah air mata.

Untuk pertama kalinya sejak datang ke universitas itu, aku sadar bahwa hidup kadang memang mempertemukan dua orang dengan cara yang paling aneh.

Aku datang membawa kebohongan karena takut tidak bisa melanjutkan kuliah.

Dia datang membawa prinsip karena pernah menyesali masa lalunya.

Tidak ada satu pun dari kami yang menyangka bahwa sebuah gelang murah di pinggir jalan akan menjadi awal dari kisah yang mengubah hidup kami berdua.

Beberapa tahun kemudian, saat Miguel resmi dilantik sebagai pengacara dan aku lulus sebagai wisudawan terbaik fakultasku, gelang merah yang sudah mulai pudar itu masih melingkar di pergelangan tangannya.

Ketika seorang wartawan bertanya mengapa ia tidak pernah melepas gelang murahan itu, Miguel hanya tersenyum sambil menggenggam tanganku.

“Karena benda paling berharga dalam hidup saya bukanlah yang paling mahal.”

“Melainkan yang mengingatkan bahwa cinta yang paling tulus sering kali datang dengan cara yang sama sekali tidak masuk akal.”

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang