Sebelum berangkat ke universitas di kota besar, ayahku sudah duduk di ruang tamu dengan kaki bersilang, secangkir kopi hitam pekat di tangannya.

Suasana di lorong kampus mendadak terasa begitu sunyi, seolah detak jarum jam pun berhenti berputar. Marco dan kedua teman sekamarku mematung di tempat, mata mereka bergantian menatapku dan sepasang paruh baya yang berdiri di hadapanku. Jam tangan mewah yang melingkar di pergelangan tangan Ayah serta koper kulit bermerek di tangan Ibu seakan menampar realitas kebohongan yang kubangun selama sebulan terakhir.

Aku menelan ludah dengan susah payah. Karung berisi barang-barang usang yang kupanggul terasa semakin berat, seolah ikut menanggung beban rasa malu yang mendadak menghantam ubun-ubun.

“Nilo…” Suara Marco terdengar pelan, nyaris seperti berbisik. Ada nada kecewa dan kebingungan yang tertahan di sana. “Jadi… semua ini apa?”

Sebelum aku sempat membuka mulut untuk membela diri, Ayah melangkah mendekat. Wajahnya yang tegas tampak menahan amarah, namun di balik kerutan di keningnya, tersirat secercah geli yang dipaksakan. Ayah merampas formulir lomba pidato dari tanganku, melirik sekilas judulnya, lalu mendengus pelan.

“Hebat. Anakku bukan cuma mahir berhemat, tapi juga berbakat menjadi sutradara teater keliling,” ucap Ayah sarkastik. Ia kemudian menoleh ke arah Marco dan teman-temanku, lalu membungkuk sedikit dengan sopan. “Maafkan anak saya, Nak. Dia memang suka mencari sensasi hidup yang terlalu dramatis. Sebagai permintaan maaf, silakan nikmati makan malam di restoran terbaik malam ini, semuanya saya yang tanggung.”

Ketiga temanku masih terpaku. Mahasiswa berkacamata itu menatapku dengan tatapan tak percaya. “Jadi… kamu bukan dari desa terpencil? Kamu bukan anak petani yang menjual motor untuk kuliah?”

Aku tersenyum kaku, menggaruk tengkukku yang tidak gatal. “Ehm… petani sih, tapi petani modern dengan traktor otomatis dan ribuan hektar perkebunan?” jawabku pelan, mencoba menyelamatkan harga diri yang sudah hancur berkeping-keping.

Ibu menghela napas panjang, lalu berjalan mendekat dan menjewer telingaku pelan. “Sudah, jangan bikin malu keluarga. Cepat kembalikan semua barang-barang pinjaman itu ke pasar loak. Kita makan siang sekarang. Perut Ibu lapar.”

Hari itu, penyamaran legendarisku sebagai mahasiswa termiskin resmi berakhir di hadapan publik kampus. Berita tentang “Anak Konglomerat yang Nyamar Jadi Pengemis” menyebar lebih cepat dari api yang membakar jerami. Dalam waktu kurang dari dua jam, seluruh universitas sudah tahu siapa aku sebenarnya.

Alih-alih dijauhi karena merasa dibohongi, Marco dan kawan-kawan justru tertawa terbahak-bahak saat kami makan di restoran mewah. Mereka bahkan menjulukiku “Aktor Terbaik Abad Ini”. Namun, di balik tawa mereka, ada satu hal yang membuatku tidak bisa tenang: taruhan dengan Ayah.

Malam harinya, di kamar hotel tempat Ayah dan Ibu menginap, aku duduk di atas karpet empuk sambil menunduk lesu. Di hadapanku, Ayah sedang menyesap teh hangat sambil membaca dokumen bisnis, sementara Ibu sibuk merapikan pakaianku yang lain.

“Nah, Tuan Aktor,” ucap Ayah tanpa melepaskan pandangannya dari kertas. “Berdasarkan investigasi kecil-kecilan yang Ayah lakukan tadi pagi, selama sebulan ini kamu tidak mengeluarkan uang sepeser pun dari kartu bank yang Ayah berikan. Kamu makan dari hasil belas kasihan teman-temanmu, memakai barang-barang bekas, dan hampir memenangkan lomba pidato kemiskinan.”

Aku mendongak, mencoba memasang wajah memelas. “Itu artinya aku berhasil menghemat uang saku, kan, Yah? Sesuai perjanjian, setelah lulus nanti Ayah harus mengembalikannya seribu kali lipat!”

Ayah meletakkan dokumennya, lalu tersenyum penuh kemenangan. Senyum yang sangat kukenal, senyum yang selalu mendahului kekalahanku.

“Benar. Kamu berhasil menghemat uang saku bulan pertama,” kata Ayah tenang. “Tapi, apakah kamu ingat syarat kedua dalam kontrak yang kamu tandatangani dengan sidik jari itu?”

Aku mengerutkan kening, mencoba mengingat setiap detail kontrak di malam itu.

“Setiap bentuk bantuan material, makanan gratis, sumbangan barang, atau fasilitas yang kamu dapatkan dengan cara ‘berbohong’ dan memanfaatkan kebaikan orang lain, dinilai setara dengan nominal pasar yang berlaku, dan dikategorikan sebagai utang,” lanjut Ayah sambil menyodorkan selembar kertas rincian pengeluaran yang sudah dicetak oleh asistennya.

Mataku membelalak lebar saat membaca angka-angka di kertas itu.

Satu mangkuk ayam goreng dari Marco.

Puluhan kotak mi instan.

Paket perlengkapan mandi.

Belum lagi nilai sosial dari makanan kantin yang dibayarkan orang lain.

Totalnya… jika dikalikan dengan nilai utang dalam kontrak…

“Yah… ini gila!” suaraku hampir pekikan. “Utangku malah jauh lebih besar daripada uang saku sebulan penuh!”

Ayah tertawa kecil, suara baritonnya menggema di kamar hotel yang mewah itu. “Dunia bisnis tidak pernah memberikan keuntungan gratis, Nak. Kamu pikir menjadi kaya itu sekadar menahan lapar dan memakai baju lusuh? Kekayaan sejati dibangun atas dasar kepercayaan, integritas, dan kerja keras, bukan dari hasil menipu empati orang lain.”

Ibu yang berdiri di sampingku hanya bisa menggelengkan kepala sambil tersenyum geli. “Sudah, nikmati saja prosesnya. Makanya jangan suka bertaruh dengan Ayahmu.”

Keesokan paginya, aku kembali ke kampus dengan status baru. Bukan lagi sebagai mahasiswa miskin yang dikasihani, melainkan sebagai bahan lelucon hangat satu angkatan. Namun, di balik rasa malu itu, aku belajar satu pelajaran berharga yang tidak akan pernah kudapatkan di bangku SMA.

Aku mengumpulkan Marco dan kedua teman sekamarku di kafe dekat kampus. Tanpa basa-basi, aku mengeluarkan kartu bank milikku, memesan makanan paling mahal di menu tersebut, dan mentraktir mereka bertiga sampai puas.

Marco menatapku curiga. “Wah, jangan-jangan ini jebakan lagi? Kamu mau pura-pura bangkrut lagi?”

Aku tertawa lebar sambil merangkul pundaknya. “Tenang saja, Bro. Kali ini murni dari keringatku sendiri… atau lebih tepatnya, dari hasil kerja paksa menebus utang kepada Ayah.”

Kami tertawa bersama di bawah terik matahari kota besar. Di dalam dompetku, kartu bank dari Ayah masih tersimpan rapi, bukan lagi sebagai alat untuk memenangkan taruhan bodoh, melainkan sebagai pengingat bahwa jalan menuju kesuksesan tidak pernah bisa ditempuh dengan jalan pintas atau kebohongan. Dan di akhir pekan nanti, aku berencana menelepon Ayah, bukan untuk meminta tambahan uang saku, melainkan untuk menawarkan proposal bisnis pertamaku di universitas.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang